"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Keesokan paginya, suasana di kediaman Zelbarra terasa lebih tenang, meski ketegangan kemarin masih menyisakan sisa-sisa di benak Runa. Ia berdiri di depan cermin, merapikan kemeja kerjanya. Hari ini ia memutuskan untuk tetap masuk sekolah. Ia tidak ingin lari dari masalah, meski ia tahu pandangan rekan-rekannya pasti akan berubah.
Azel muncul di ambang pintu kamar mandi, sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Runa.
"Sudah kubilang, istirahat saja di rumah," ucap Azel datar.
"Aku nggak apa-apa, Zel. Anak-anak mau ujian minggu depan, aku nggak bisa tinggalin mereka," jawab Runa sambil mencoba memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Azel berjalan mendekat. Tanpa sepatah kata pun, ia mengambil tas Runa, membukanya, dan memeriksa isinya. Ia mengeluarkan botol air mineral yang hampir kosong dan menggantinya dengan botol baru yang sudah dicampur sedikit madu dan jahe—resep Mama Sofia untuk menghangatkan lambung.
"Air putih saja nggak cukup buat kamu yang gampang stres. Minum ini kalau ulu hatimu mulai terasa ditekan," perintah Azel. Ia juga menyelipkan sebuah bungkusan kecil berisi biskuit gandum. "Dan jangan tunggu lapar baru makan ini."
"Zel, aku bukan anak TK..."
"Kamu lebih merepotkan dari anak TK, Runa. Anak TK nggak akan diam saja kalau ada orang asing yang mengaku sebagai ayahnya," sindir Azel telak, membuat Runa bungkam seribu bahasa.
...----------------...
Saat Runa sampai di sekolah—kali ini diantar oleh supir keluarga Zelbarra—suasana lobi sekolah mendadak sunyi. Beberapa guru yang sedang mengobrol langsung terdiam dan menatap Runa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, rasa ingin tahu, tapi juga kecanggungan yang nyata.
Runa menarik napas dalam-dalam, menguatkan hati. Ia berjalan menuju ruang guru.
"Pagi, Bapak, Ibu," sapa Runa ramah seperti biasa.
Bu Ratna adalah yang pertama mendekat. "Runa... kamu beneran nggak apa-apa? Kemarin Pak Azel... maksud saya, pria yang bawa kamu itu... auranya seram sekali. Tapi cara dia jagain kamu, jujur kami semua iri."
Runa tersenyum tipis. "Maaf ya Bu soal keributan kemarin. Dia memang agak... protektif."
"Agak? Run, dia itu Dazello Zelbarra! Kami baru tahu setelah Pak Haris kasih pengumuman resmi kalau sekolah ini sekarang di bawah perlindungan penuh yayasan keluarganya," timpal guru lain dengan mata berbinar. "Kamu hebat banget bisa kenal orang sepenting itu."
Runa hanya mengangguk sopan. Ia merasa lega karena setidaknya tidak ada nada sinis yang ia takutkan. Namun, saat ia duduk di mejanya, ia menemukan sebuah memo kecil di atas tumpukan buku absennya.
'Arlan sudah tidak akan mengganggumu. Fokuslah mengajar. Aku akan menjemputmu jam 4 tepat. Habiskan air jahenya. – Azel'
Runa tersenyum sendiri membaca tulisan tangan Azel yang kaku tapi rapi.
Sore harinya, tepat jam empat, mobil Azel sudah terparkir di depan gerbang. Kali ini Azel tidak turun, tapi ia menurunkan kaca mobilnya sedikit saat melihat Runa keluar bersama Bu Ratna.
"Hati-hati ya, Runa. Salam buat 'walinya' yang ganteng itu," goda Bu Ratna sambil menyenggol bahu Runa.
Runa tertawa kecil dan masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, aroma parfum Azel yang menenangkan langsung menyambutnya. Azel tidak langsung menjalankan mobil. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Runa, membuat Runa refleks mundur.
"Zel, kenapa?"
Azel tidak menjawab. Ia hanya meraih sabuk pengaman Runa dan memasangkannya. Tangannya sempat menyentuh punggung tangan Runa, memastikan suhunya.
"Hangat. Bagus, berarti kamu nggak telat makan siang," gumam Azel.
"Aku habiskan semuanya, Zel. Kateringnya enak," lapor Runa bangga.
"Harus. Karena aku sudah bayar mahal supaya koki itu memastikan nutrisinya pas buat kamu." Azel menjalankan mobilnya perlahan. "Oh ya, besok akhir pekan. Mama minta kita ke villa di Puncak. Dia bilang kamu butuh udara segar setelah drama Arlan."
"Villa? Berdua saja?"
"Sama Mama dan Papa juga. Tapi aku sudah pesan satu paviliun khusus untuk kita. Aku tahu kamu nggak suka keramaian kalau lagi ingin istirahat," Azel melirik Runa sebentar. "Dan di sana nggak ada sinyal yang bagus buat Arlan atau siapapun mengganggumu."
Runa menyandarkan kepalanya di bahu Azel—kebiasaan baru yang mulai membuatnya ketagihan. "Zel... makasih ya. Ternyata jadi 'milik' CEO galak itu nggak seburuk yang aku bayangkan."
Azel mendengus, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Baru tahu? Makanya, jangan sering-sering denial. Itu bikin maag kamu makin parah."
Azel kembali meraih ponselnya saat mereka berhenti di lampu merah. Ia membuka aplikasi catatannya:
'Catatan: Dia mulai suka bersandar di bahuku. Mood-nya membaik. Persiapan villa: Pastikan ada selimut ekstra karena dia takut dingin, dan siapkan kembang api kecil karena dia pernah bilang ingin melihatnya dari dekat tanpa suara petir yang menakutkan.'
Azel menyimpan ponselnya, lalu menggenggam tangan Runa erat di sepanjang jalan pulang, merasa bahwa perlahan, kontrak yang awalnya penuh paksaan ini mulai berubah menjadi sesuatu yang ingin ia pertahankan selamanya.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣