NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Batas Wilayah dan Dua Predator

​Sepeda ontel Kakek Danu berderit memecah keheningan jalanan desa yang mulai diselimuti kabut sore. Dara mengayuh pedal dengan ritme yang lambat dan mekanis. Otaknya masih mencerna rentetan kejadian yang menghantamnya hari ini layaknya ombak yang tiada henti.

​Dari tatapan posesif Indra Bagaskara di koridor, hingga kehangatan Bumi Arka yang menenangkannya di pekarangan belakang sekolah. Dua pemuda. Dua entitas yang jelas-jelas bukan manusia normal. Dan Dara berdiri tepat di titik buta pusaran mereka.

​Gadis itu menunduk, melirik sekilas ke arah telapak tangan kanannya yang mencengkeram setang sepeda. Segel gaib berbentuk kelopak bunga yang tercetak di kulitnya kini tersembunyi di balik sarung tangan rajut yang sengaja ia pakai. Meski tidak terlihat, Dara bisa merasakan denyut samar dari segel tersebut, seolah segel itu bernapas, menanti untuk kembali dipanggil.

​Pawang Rimba, batin Dara getir.

​Kata itu terdengar seperti gelar kebesaran dari sebuah buku dongeng, namun realitasnya terasa seperti kutukan yang mengikat lehernya ke tiang gantungan. Ibunya telah membuang identitas itu demi kehidupan yang fana di Jakarta, dan kini Dara harus memikul beban yang ditinggalkan oleh garis keturunannya.

​Begitu roda sepedanya memasuki halaman rumah Kakek Danu, Dara menyadari ada yang berbeda. Rumah panggung berarsitektur kolonial itu tampak sangat sepi. Tidak ada kepulan asap dari cerobong dapur, dan pintu depan tertutup rapat.

​Dara menyandarkan sepedanya di bawah pohon beringin, lalu menaiki anak tangga beranda. Ia menemukan sebuah amplop cokelat kusam terselip di celah pintu kayu. Dengan perasaan waswas, Dara membuka amplop itu. Isinya adalah secarik kertas dengan tulisan tangan bersambung yang kaku dan menggunakan ejaan lama.

​Nduk, Kakek harus pergi ke Lereng Utara sore ini juga. Segel yang kau buka semalam memicu gejolak di seluruh penjuru hutan. Kakek perlu menemui Tetua Rimba untuk mencari akar Pasak Bumi dan Daun Ruruhi—satu-satunya penawar jika tubuhmu tidak kuat menahan efek samping energi Pawang.

​Kakek mungkin baru akan pulang besok siang. Ingat pesan Kakek: Kunci semua pintu dan jendela sebelum magrib. Jangan keluar rumah, apa pun yang kau dengar. Makanan sudah Kakek siapkan di bawah tudung saji. Jaga dirimu.

​Dara meremas surat itu hingga kusut. Hatinya mencelos. Di saat ia paling membutuhkan penjelasan dan perlindungan, Kakek Danu justru harus pergi meninggalkannya sendirian di rumah besar yang diintai oleh monster-monster hutan ini.

​Gadis itu membuka pintu rumah dan masuk ke dalam. Udara di ruang tamu terasa pengap dan berbau kapur barus. Keheningan absolut rumah itu seolah menggemakan detak jantung Dara sendiri.

​Ia berjalan ke dapur, menemukan rantang berisi rendang daging dan sayur nangka. Namun, perutnya menolak untuk diisi. Alih-alih makan, Dara berjalan menuju jendela dapur yang menghadap langsung ke arah halaman belakang dan batas Hutan Marapi.

​Langit di luar mulai berubah warna menjadi ungu kelabu. Matahari hampir tenggelam, digantikan oleh bayang-bayang pepohonan pinus yang memanjang seperti cakar raksasa yang hendak mencengkeram rumahnya.

​Jangan keluar rumah, apa pun yang kau dengar. Peringatan kakeknya bergema di kepalanya.

​Dara menatap hutan itu lekat-lekat. Insting ketakutannya sebagai manusia menyuruhnya untuk lari ke kamar, mengunci pintu, dan bersembunyi di bawah selimut hingga pagi tiba. Namun, darah Pawang di dalam nadinya berdesir, membisikkan sesuatu yang berbeda. Sebuah tarikan yang ganjil. Sebuah penolakan untuk terus menjadi mangsa yang buta dan tidak tahu apa-apa.

​"Jika aku terus bersembunyi, aku akan selamanya dihantui," gumam Dara pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar rapuh namun keras kepala di tengah dapur yang sunyi.

​Gadis itu mengambil keputusan gila yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

​Ia tidak akan lari. Ia akan melihat sendiri apa yang sebenarnya ada di luar sana sebelum kegelapan malam sepenuhnya turun. Ia harus tahu batas wilayah mana yang aman, dan jejak apa yang ditinggalkan oleh makhluk-makhluk itu.

​Dara mengenakan jaket tebalnya kembali, memakai sepatu bot karet milik Kakek Danu yang kebesaran, dan meraih sebuah senter logam bertenaga baterai besar dari laci dapur. Sebagai tindakan berjaga-jaga yang bodoh namun instingtif, ia juga menyelipkan sebilah pisau lipat ke dalam saku jaketnya.

​Dara memutar anak kunci pintu belakang. Klik.

​Hembusan angin senja yang sedingin es langsung menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah, lumut, dan getah pinus. Dara melangkah turun ke halaman belakang. Rumput gajah yang setinggi betis menyapu sepatu botnya, meninggalkan embun yang merembes dingin.

​Ia berjalan lurus menuju perbatasan hutan, titik di mana halaman rumahnya berakhir dan belantara Hutan Marapi dimulai. Tujuannya adalah pohon damar raksasa yang berada di dekat kamarnya—tempat di mana makhluk bermata emas itu berdiri dua malam lalu.

​Jantung Dara berdegup semakin kencang seiring dengan semakin dekatnya ia ke pepohonan gelap tersebut. Jarak pandangnya mulai terbatas karena kabut tipis mulai turun merayap dari atas tebing.

​Begitu ia tiba di bawah pohon damar itu, Dara menyalakan senternya. Cahaya kuning pucat menyorot batang pohon raksasa tersebut.

​Dara menahan napas.

​Batang pohon damar yang tebal dan sekeras batu itu hancur. Bukan hancur karena dipotong kapak, melainkan koyak oleh tiga garis vertikal yang sangat dalam. Kulit kayu terkelupas kasar, memperlihatkan daging kayu bagian dalam yang bergetah. Luka pada pohon itu berada di ketinggian sekitar dua setengah meter dari tanah—mengisyaratkan betapa masifnya ukuran makhluk yang meninggalkan bekas cakar tersebut.

​Dara mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh tepian luka kayu itu. Ada sisa hawa hangat yang sangat samar menguar dari getah pohon, sisa-sisa radiasi panas dari cakar sang Harimau Putih.

​Namun, bukan hanya itu yang membuat Dara merinding. Saat ia menundukkan sorot senternya ke tanah berlumpur di sekitar akar pohon, ia menemukan pemandangan yang membingungkan.

​Jejak kaki raksasa milik Indra masih ada di sana, terisi oleh genangan air hujan semalam. Namun, di sekeliling jejak tersebut, terdapat banyak sekali jejak kaki lain. Jejak yang lebih kecil dari milik Indra, namun jauh lebih besar dari ukuran anjing normal. Jejak-jejak itu memiliki bantalan yang berbeda, dengan ujung kuku yang menancap tajam ke dalam tanah.

​Dan jumlahnya bukan hanya satu. Ada setidaknya empat atau lima pasang jejak berbeda yang mengitari area itu secara tumpang tindih. Tanah di sana hancur dan berantakan, seolah baru saja terjadi pergumulan atau konfrontasi antara monster pembuat cakar di pohon dengan sekelompok makhluk yang jumlahnya lebih banyak.

​Kawanan, pikir Dara. Kepingan teka-teki dari peringatan Bumi Arka siang tadi mendadak terhubung. Hutan ini tidak suka pada orang asing... temanku dan aku berpatroli...

​Bumi bukanlah manusia. Jika klan Bagaskara adalah perwujudan dari raja hutan yang soliter, maka Bumi dan teman-temannya adalah perwujudan dari pemangsa komunal. Serigala hutan. Ajag.

​Dara melangkah mundur, kakinya tersandung akar pohon yang menonjol. Ia baru menyadari bahwa ia telah melewati garis imajiner yang memisahkan halaman rumah Kakek Danu dan wilayah hutan sepenuhnya.

​Tiba-tiba, suhu udara di sekitarnya anjlok secara drastis.

​Kabut yang tadinya hanya setinggi mata kaki kini bergulung-gulung naik menutupi pandangan hingga ke dada. Suasana senja yang redup seketika berubah menjadi gelap gulita. Hutan itu seolah menelan sisa-sisa cahaya matahari dengan paksa.

​KRETAK.

​Suara ranting patah yang sangat jelas terdengar dari arah jam tiga Dara.

​Dara memutar tubuhnya, menyorotkan senter ke arah suara. Hanya ada kabut dan pepohonan pinus.

​GRRR...

​Suara geraman rendah yang serak mengalun dari arah jam sembilan. Dara kembali memutar arah senternya dengan panik. Jantungnya kini memukul-mukul tulang rusuknya seolah ingin melompat keluar. Geraman itu berbeda dengan geraman Indra. Ini terdengar lebih parau, lapar, dan tidak memancarkan hawa panas sedikit pun.

​Dari balik rimbunnya semak pakis di depannya, dua pasang mata menyala dalam kegelapan. Warnanya kuning keruh. Kemudian, menyusul satu pasang mata lagi di sebelah kanannya. Dan satu lagi di sebelah kirinya.

​Dara telah dikepung.

​Siluet makhluk-makhluk itu mulai terlihat dari balik kabut. Mereka berukuran sebesar anak sapi, berjalan merangkak dengan empat kaki. Bulu mereka kusut masai, berwarna cokelat gelap hingga kehitaman. Taring-taring panjang menyembul dari rahang mereka yang meneteskan air liur. Ini bukanlah Ajag biasa; mereka adalah perwujudan dari sisi liar hutan yang tidak terikat pada aturan manusia mana pun. Mereka adalah siluman serigala hutan tingkat rendah yang mengendus aroma manis dari energi Pawang yang memancar dari tubuh Dara sejak semalam.

​Insting bertahan hidup Dara meneriakinya untuk berlari kembali ke rumah, namun kakinya seolah dipaku ke tanah. Segel di telapak tangannya mulai berdenyut menyakitkan, bereaksi terhadap ancaman maut di sekelilingnya.

​Salah satu monster Ajag liar itu melolong pelan, menundukkan kepalanya, bersiap untuk menerkam gadis malang di hadapannya.

​Dara memejamkan mata erat-erat, mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajah.

​SYIUUUUT! BUK!

​Suara benturan fisik yang luar biasa keras menggelegar, diikuti oleh pekikan melengking dari monster Ajag liar yang hendak menerkam Dara tadi.

​Dara membuka matanya dengan terengah-engah.

​Seseorang berdiri tepat di hadapannya, membelakangi Dara, menjadi perisai hidup antara dirinya dan monster-monster liar tersebut.

​Sosok itu mengenakan jaket varsity merah marun yang familier. Pemuda itu berdiri dengan kuda-kuda yang sangat rendah, kedua tangannya dibiarkan terbuka di sisi tubuh. Urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam, dan kuku-kukunya tampak memanjang beberapa sentimeter dengan ujung yang sangat runcing.

​"Bumi?" bisik Dara, suaranya parau karena terkejut.

​Bumi Arka menoleh sedikit ke arah belakang. Senyum ramah yang selalu ia perlihatkan di sekolah kini lenyap tak berbekas. Matanya yang berwarna cokelat terang kini berpendar dengan warna merah kecokelatan yang pekat, menyala dalam kegelapan layaknya bara api.

​"Mundur pelan-pelan ke arah halaman rumahmu, Dara," perintah Bumi. Suaranya lebih berat, menggeram di bagian pangkal tenggorokannya. Auranya tidak lagi memancarkan kehangatan matahari pagi, melainkan kehangatan api unggun liar yang siap membakar siapa saja yang mengancam teritorinya.

​Monster Ajag yang tadi terpental kini bangkit berdiri. Monster itu menggeram marah pada Bumi, namun tubuhnya bergetar. Tiga monster lainnya juga ikut merendahkan tubuh mereka, seolah menunjukkan rasa tunduk sekaligus takut yang sangat besar pada pemuda berjaket varsity itu.

​Bumi kembali menghadap ke depan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada makhluk-makhluk liar itu. Ia hanya menarik napas dalam-dalam, dadanya membusung, lalu ia mengeluarkan sebuah geraman pelan namun dipenuhi oleh frekuensi alfa yang mendominasi. Ggggggrrrrrhhh.

​Seolah disambar petir gaib, keempat monster Ajag liar itu langsung memundurkan langkah mereka secara serempak. Mereka menundukkan telinga mereka, berbalik arah dengan ekor yang dijepit di antara kedua kaki belakang, dan melesat menghilang ke dalam kabut hutan yang lebat.

​Suasana kembali sunyi. Hanya tersisa suara rintik gerimis yang mulai membasahi dedaunan.

​Bumi berdiri diam selama beberapa detik. Ia memejamkan mata, memutar-mutar lehernya hingga berbunyi gemeretak, lalu mengembuskan napas panjang. Pendar merah di matanya perlahan meredup, kembali menjadi sepasang mata cokelat pemuda SMA yang normal. Kuku-kukunya yang runcing memendek dan kembali seperti semula.

​Ia memutar tubuhnya, menatap Dara yang masih berdiri mematung sambil menggenggam senter logamnya erat-erat.

​"Aku sudah bilang, anak kota," tegur Bumi, nada suaranya kembali renyah namun terselip kelegaan yang luar biasa. "Hutan ini tidak ramah untuk orang asing yang berjalan-jalan sendirian setelah matahari terbenam. Kau benar-benar ingin menguji seberapa besar nyawamu?"

​Dara menelan ludah. Ia menurunkan senternya. Ketakutan masih mencengkeram dadanya, namun kehadiran Bumi memberikannya rasa aman yang ganjil.

​"Mereka... mereka itu apa, Bumi? Dan kau... kau juga makhluk seperti mereka?"

​Bumi berjalan mendekat, mengambil alih senter dari tangan Dara yang bergetar. Ia sengaja menyorotkan cahayanya ke tanah agar tidak menyilaukan mata Dara.

​"Mereka adalah sisa-sisa jiwa hutan yang tidak terikat oleh adat. Makhluk rendahan yang hanya tahu rasa lapar," jawab Bumi santai, meski matanya menatap Dara dengan intensitas tinggi. "Dan aku? Aku adalah penjaga perbatasan. Tugasku dan kawananku adalah memastikan makhluk-makhluk bodoh seperti mereka tidak melanggar teritori desa."

​Bumi melangkah lebih dekat lagi, jarak mereka kini hanya tersisa setengah meter. Ia bisa mencium aroma murni yang memancar dari darah Dara. Aroma yang membuat seluruh kawanan serigala di lereng gunung ini tak bisa tidur nyenyak sejak semalam.

​"Kau ceroboh sekali, Dara," Bumi mengangkat tangannya, berniat menyentuh bahu Dara untuk menenangkannya. "Hawa murni dari tubuhmu sejak kejadian semalam memanggil semua predator di lembah ini. Untung saja kawananku sedang berpatroli di sektor ini."

​Namun, sebelum jari-jari Bumi sempat menyentuh kain jaket Dara, sebuah perubahan suhu yang sangat ekstrem mendadak menghantam udara di sekitar mereka.

​Hawa dingin dari hujan rintik-rintik seketika menguap, digantikan oleh gelombang panas yang mencekik. Panas itu tidak datang secara perlahan, melainkan meledak seperti sebuah tungku peleburan baja yang pintunya dibuka paksa. Embun di dedaunan mendesis, menguap menjadi asap tipis.

​Tangan Bumi terhenti di udara. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Tubuhnya langsung menegang kaku, insting serigalanya bereaksi terhadap ancaman tertinggi yang berada di puncak rantai makanan.

​Dara terkesiap saat ia melihat napasnya tidak lagi mengeluarkan uap putih, karena udara di sekitarnya telah berubah menjadi sepanas gurun pasir.

​"Mundur ke belakangku, Dara," desis Bumi, suaranya berubah tajam, berbahaya, dan dipenuhi oleh kewaspadaan penuh. Matanya kembali berpendar merah kecokelatan, menatap tajam menembus kabut ke arah rimbunnya hutan di sebelah kanan rumah.

​Dari balik bayang-bayang kegelapan, terdengar suara langkah kaki yang berat. Setiap pijakan langkah itu seolah membuat tanah bergetar pelan.

​Sesosok siluet muncul dari balik kabut.

​Indra Bagaskara.

​Pemuda itu tidak mengenakan kemeja seragam seperti di sekolah. Ia hanya mengenakan kaus oblong hitam yang melekat ketat pada otot dadanya dan celana kargo berwarna gelap. Rambut hitamnya basah, tidak jelas apakah karena gerimis atau karena keringat akibat suhu tubuhnya sendiri.

​Mata cokelat keemasannya menyala terang dalam kegelapan, lebih terang dari lampu senter mana pun. Matanya mengunci tepat ke arah tangan Bumi yang tadi nyaris menyentuh Dara.

​Uap panas mengepul dari lengan dan leher Indra. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot lehernya menonjol tajam. Berbeda dengan wujud setengah monster yang Dara lihat semalam melalui mata batinnya, malam ini Indra sepenuhnya berwujud manusia. Namun aura intimidasi yang ia pancarkan jauh lebih mematikan. Ia adalah manifestasi murni dari murka Sang Harimau Putih.

​Indra menghentikan langkahnya sekitar lima meter dari Bumi dan Dara.

​"Singkirkan tanganmu dari dia, Anjing Liar," geram Indra. Suaranya sangat rendah, menggetarkan udara layaknya guntur yang tertahan.

​Bumi tidak mundur satu sentimeter pun. Pemuda berseragam varsity itu justru menyeringai sinis, memperlihatkan taring halusnya yang mulai memanjang. Ia membusungkan dadanya, menantang supremasi Indra secara terbuka.

​"Kau telat, Kucing Besar," balas Bumi dengan nada mengejek yang sangat provokatif. "Kalau kau memang sehebat yang keluargamu klaim, harusnya kau yang melindungi Pawang ini dari cecunguk hutan, bukan aku. Kau terlalu sibuk menahan dirimu sendiri agar tidak menerkamnya, kan?"

​Mata keemasan Indra menyipit. Hawa panas di udara kembali meningkat tajam, hingga membuat daun-daun pakis di dekat kaki Indra mengering dan melengkung layu. Tangan kanan pemuda itu terkepal kuat, dan Dara bisa melihat buku-buku jarinya mulai berubah menjadi cakar hitam legam.

​"Ini bukan urusan kawananmu, Bumi," desis Indra mematikan, melangkah satu tindak ke depan. "Dia berada di wilayahku. Dan energinya... adalah milikku."

​Dara mematung di antara kedua pemuda itu. Segel di telapak tangannya berdenyut dengan ritme yang menyakitkan, merespons pertemuan dua energi besar yang saling bertabrakan. Di depannya adalah Bumi, dengan hawa hangat yang membumi dan jiwa komunal yang siap melindunginya. Di hadapannya yang lain adalah Indra, dengan hawa panas membakar dan fiksasi mutlak yang mengklaimnya sebagai takdir yang tak bisa ditawar.

​Hujan rintik di Hutan Marapi seolah berhenti turun di area tersebut, menguap menjadi uap air yang mengaburkan pandangan. Perang dingin yang selama belasan tahun dijaga oleh Kakek Danu dan para tetua desa, kini perlahan-lahan mulai runtuh hanya karena kehadiran seorang gadis dari kota yang darahnya mampu menaklukkan kedua predator paling berbahaya di Nusantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!