NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Pria Kacamata Kotak

Sekarang sudah satu minggu berlalu sejak hari penangkapan Bram disiarkan di televisi. Sudah selama itu pula tidak ada pergerakan yang berhubungan dengan kasus obat palsu.

Semua elemen seperti hilang ditelan bumi. Membuat penyelidikan yang dilakukan BPOM tidak berjalan dengan lancar. Mereka terpaksa harus menghentikan semua upaya, dan hanya bisa menunggu petunjuk baru sembari terus memaksa Bram membuka mulutnya.

Di sisi lain, Clarissa juga kembali fokus dengan pekerjaan utamanya sebagai dokter SpJP. Dia menyerahkan urusan kasus obat palsu kepada BPOM sembari secara berkala ikut memantau perkembangannya. Dia bangun pagi, turun untuk sarapan.

Saat itu Bi Irah menunggunya di bawah tangga sambil membawa sesuatu di tangannya.

"Ada apa, Bi?"

"Itu Non... Tadi Sopir Bapak, Pak Usman, datang. Kasih undangan ini."

Clarissa terpaku sejenak menatap undangan di tangan Bi Irah sebelum mengambilnya.

Membacanya sekilas, ternyata itu adalah undangan pesta gala yang diadakan oleh papanya.

Ting!

Sebuah pesan masuk, dari Papa. "Jangan sampai tidak datang. Ajak sekalian suami kamu, jam 19.30 di hotel Mulia."

Clarissa mengernyit tanpa kata. Matanya menuju ke kamar tamu, di mana kebetulan Alvian baru keluar, menguap, menggaruk kepala dan perut bergantian khas orang bangun tidur.

"Pagi, istri."

Alvian tersenyum lebar dan langsung berjalan ke meja makan. Clarissa kembali terpaku, kali ini dia bertanya-tanya apakah harus mengajak Alvian atau tidak.

Yang benar saja. Dia juga harus datang?

Clarissa berdecak pelan, kemudian berjalan ke meja makan. Tidak langsung duduk, berdiri di samping Alvian, tetapi tidak bicara.

"Kenapa? Apa ada masalah?"

Pada akhirnya Clarissa menyodorkan kartu undangan itu kepada Alvian. Berkata, "Hotel Mulia, jam setengah delapan. Jangan sampai telat."

Alvian terima undangan itu dan membacanya. Tiga detik kemudian wajahnya berbinar. "Wah, pesta. Ini pertama kalinya sejak menikah kita datang ke pesta. Eh, tidak. Ini kedua, yang pertama di Bali, waktu seminar. Benar, kan, Istri?"

Clarissa hanya diam dan duduk menyantap sarapan. Beberapa suap nasi, dia meletakkan sendok di piring.

"Ini berbeda dengan makan malam waktu itu. Tidak ada dress code, jadi harus pilih baju sendiri. Apa kamu sudah punya bayangan mau pakai yang mana?"

Ini bukan kepedulian. Hanya saja jika Alvian memakai pakaian sembarangan, yang menjadi sorotan pasti dirinya dan juga keluarga besar Amartya. Setidaknya, itulah yang Clarissa gumamkan dalam hatinya.

"Baju ya... Di lemari memang ada beberapa setelan jas. Tapi tidak tahu mana yang cocok untuk pesta." Alvian menoleh ke Clarissa. "Bagaimana jika Istri yang bantu pilihkan? Selera Istri sudah pasti yang terbaik."

Clarissa sangat malas. Tetapi jika dia tidak mengawasi dengan ketat takutnya Alvian akan membuat nama Keluarga Amartya ditertawakan. Ini demi kepentingan keluarga, pikir Clarissa.

Setelah sarapan Clarissa ikut ke kamar Alvian, menguatkannya menunjukkan koleksi jas yang ada di lemarinya. Namun, begitu dikeluarkan, tidak ada satupun jas yang masuk dalam standar penilaiannya.

Sebagian kainnya sudah kusam, sebagian lagi modelnya ketinggalan zaman.

Clarissa pijat kening, mendesis pelan.

"Apa tidak ada yang lain?"

"..."

Alvian hanya diam membuat Clarissa kehabisan kata. Detik berikutnya, Clarissa buka HP, mengecek jadwalnya.

"Siang ini ada waktu, tidak? Aku bawa kamu ke butik, beli baju."

Alvian ikut membuka HP jadulnya, seolah-olah juga sedang melihat jadwal.

"Ada. Nanti jam makan siang aku minta Mbak Sari jaga klinik sebentar."

"Deal. Nanti kamu datang ke rumah sakit. Setelah itu langsung ke butik."

"Siap,"

---

Jam dua belas siang, Alvian datang ke rumah sakit mengendarai motor beat karbu miliknya. Dia parkir di tempat khusus motor, sengaja taruh di paling ujung, dekat parkiran mobil, biar joknya tidak terbakar.

Dia cabut kunci, menyapa security, berniat masuk lewat pintu depan. Tapi saat itu terdengar suara, "Bruak" dari posisi motornya terparkir. Alvian celingukan, ternyata suara itu memang dari motornya yang jatuh disenggol orang.

"Tidak. My Bro." Alvian balik berlari.

"Sial! Motor butut siapa sih ini. Tidak bisa parkir ya?!"

Pria jas putih, kaca mata kotak, membanting pintu mobilnya dengan kesal. Toleh ke kanan-kiri, seperti mencari sasaran.

Saat itu Alvian sampai di sana. Tetapi tidak menghiraukan pria jas putih itu dan langsung menolong motornya yang terguling.

"..."

Ekspresi pria jas putih menjadi rumit. Matanya menatap Alvian tetapi tidak sanggup berkata-kata. Kesal, seolah mulutnya berbusa.

"Jadi... Kau... Motor butut ini punyamu?!"

Alvian mengangkat wajahnya, memandang pria jas putih dengan name-tag dr. Bayu. Namun dia tidak mengatakan apapun dan kembali fokus mendirikan motornya.

Saat itu security datang menghampiri mereka.

"Pak, usir dia dari sini. Bagaimana bisa motor butut masuk ke sini. Tidak tahu cara parkir, pula. Usir dia."

Security hanya bisa menggaruk kepala bingung. "Dokter, motor Mas ini sudah parkir di tempat parkir motor. Ini pasti hanya salah paham. Jadi kita ngomong baik-baik, ya."

"Gimana bisa ngomong baik-baik?! Lihat pintu mobil saya tergores!" bentak dr. Bayu.

Alvian melihat pintu mobil yang memang tergores. Tetapi itu juga bukan salah motornya karena sudah berada di tempat parkir yang benar. Terlebih, dia datang lebih awal sebelum mobil BMW hitam itu muncul. Jadi jika ada yang salah, itu salah si pengemudi mobil yang tidak bisa menjaga jarak dan buka pintu sembarangan.

"..."

"Apa kau lihat-lihat? Ini jelas salahmu ya. Motor bututmu ini tak seharusnya ada di sini." Dokter Bayu mencebik. Detik berikutnya sebuah panggilan masuk ke hp-nya. Menatap nama di layar, menjawabnya.

"Halo Tante. Iya, aku sudah di bawah. Tapi ada sedikit masalah di sini ... Tidak. Tidak perlu, aku akan ke atas sekarang."

Setelah mematikan panggilan telepon Dokter Bayu menunjuk Alvian dengan kesal. Memaki, kemudian pergi sambil terus mengomel.

"Awas kau. Jangan sampai muncul di hadapanku!"

"..."

Alvian mengedikkan bahu, begitu pula security yang bingung melihat kelakuan dr. Bayu.

"Ada-ada aja ya Mas. Sudah tahu salah sendiri, tapi masih salahin orang," kata Security.

Alvian menggosok body motornya, sambil menempelkan sticker yang lepas. "Memang wataknya seperti itu, Pak. Mau salah atau tidak, yang penting bisa marah dulu."

Mereka berdua tertawa. Alvian kemudian lanjut masuk ke rumah sakit untuk mencari Clarissa.

___

Seperti biasa Alvian mencari Clarissa di IGD. Namun saat itu Clarissa tidak di sana, dan rekan kerjanya bilang sedang berada di ruangan direktur. Papanya, dr. Hendra.

Alvian bergegas ke sana. Mengetuk pintu, lalu masuk. Hanya saja tidak menyangka ternyata di ruangan tersebut bukan hanya dr. Hendra dan Clarissa, tetapi juga ibu mertuanya, Bu Diany, dan dokter pria kacamata kotak pemilik mobil BMW hitam.

"Kau- ... Kenapa kau di sini?" Dokter Bayu seperti langsung tersulut dan memarahi Alvian. Sedangkan Alvian terlihat sangat tenang sembari mendekat dan duduk di samping Clarissa.

"Pa, Bu, Istri. Ada apa ini? Kok ramai sekali?"

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!