NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PERMAINAN DI BALIK TIRAI ISTANA

​Malam itu, aroma parfum Black Rose milik Cansu seolah tertinggal di udara, mencekik paru-paru Rhea meski sang Ibu Negara telah lama pergi. Di dalam kamar hotel yang luas itu, keheningan terasa lebih memekakkan telinga daripada suara ledakan. Rhea masih berdiri kaku di sudut ruangan, jemarinya meremas kemeja putih milik Ian hingga buku jarinya memutih.

​Ian, yang tadi sempat berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya di depan Cansu, kini ambruk kembali ke tepi ranjang. Ia menunduk, menyandarkan sikunya di lutut, sementara rambut hitamnya yang acak-acakan menutupi matanya yang memerah.

​"Tuan Muda..." suara Yusuf memecah kesunyian. Sang ajudan tampak sibuk mengelap keringat dingin di dahinya sendiri. "Nyonya Besar tidak akan membiarkan ini lewat begitu saja. Anda tahu bagaimana mata-matanya bekerja."

​Vier, yang baru saja masuk dengan napas memburu dan dasi yang sudah melilit tidak karuan di lehernya, langsung mendekati Rhea. "Rhea, kamu tidak apa-apa? Maaf, aku tidak bisa menahannya di lobi. Ibu punya seribu cara untuk masuk lewat pintu belakang jika dia mau."

​Rhea hanya menggeleng lemah. Pikirannya melayang pada tatapan Cansu tadi—tatapan yang tidak hanya berisi kemarahan, tapi juga sesuatu yang lebih gelap: sebuah peringatan bahwa Rhea baru saja melangkah masuk ke dalam sarang ular.

​"Vier," suara Ian terdengar rendah, serak, namun penuh otoritas. Ia mengangkat wajahnya, menatap adiknya dengan tatapan yang sangat lelah. "Bawa Rhea pulang. Gunakan mobil cadangan, jangan lewat gerbang utama hotel. Yusuf, bersihkan semua jejak di sini. Jangan ada satu pun helai rambut Rhea yang tertinggal."

​"Tapi Kak, bagaimana denganmu?" tanya Vier cemas.

​"Aku?" Ian menyunggingkan senyum pahit yang tampak menyakitkan di bawah lampu kamar yang temaram. "Aku sudah terbiasa hidup di dalam neraka yang dia buat. Pergilah."

​Keesokan paginya, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut berduka atas apa yang akan menimpa Rhea. Sebelum matahari benar-benar naik, rumor itu meledak seperti bom waktu yang baru saja dipicu.

​Rhea terbangun bukan karena alarm, melainkan karena getaran ponselnya yang tidak berhenti. Ratusan notifikasi dari grup kampus, media sosial, hingga berita headline nasional menampilkan foto buram dirinya yang sedang membantu Ian memakai kemeja di kamar hotel—diambil dari sudut yang sangat strategis oleh mata-mata Cansu.

​**[BREAKING NEWS: PUTRA MAHKOTA DININGRAT TERGAYUT SKANDAL PANAS DENGAN MAHASISWI KEDOKTERAN. DUGAAN KEHAMILAN DI LUAR NIKAH?]**

​Dunia Rhea seakan runtuh saat itu juga. Ia berlari keluar kamar, hanya untuk menemukan ayahnya berdiri di ruang tamu dengan wajah pucat dan surat pemutusan hubungan kerja di tangannya.

​"Rhea..." suara ayahnya bergetar. "Rumah sakit menelepon. Ayah tidak perlu datang lagi mulai hari ini. Mereka bilang... reputasi rumah sakit bisa hancur jika mempekerjakan ayah dari seorang wanita yang 'menjual diri' pada anak penguasa."

​"Ayah, itu tidak benar! Aku hanya menolongnya, Ian mabuk—"

​"Cukup!" Ayahnya jatuh terduduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Siapa kita, Rhea? Kita hanya debu. Berurusan dengan keluarga Diningrat adalah hukuman mati bagi orang seperti kita."

​Ponsel Rhea dirampas oleh ibunya yang menangis histeris, lalu pintu rumah dikunci rapat dari luar. Ia dikurung. Diisolasi dari dunia yang kini sedang berpesta merobek harga dirinya. Di kampus, ia sudah dicap sebagai 'pelacur politik'.

​Sementara itu, di kediaman utama Diningrat, suasana terasa seperti di dalam ruang sidang militer. Matahari menyinari taman belakang dengan indahnya, memantul pada air mancur marmer, namun di meja kayu klasik itu, hanya ada ketegangan.

​Presiden Diningrat duduk di kursi utama, tampak lebih tua sepuluh tahun dari usianya. Di sampingnya, Cansu duduk dengan keanggunan yang mematikan, menyesap teh melatinya seolah tidak terjadi apa-apa. Ian duduk di depan mereka, wajahnya dingin, tanpa ekspresi, seolah berita skandal itu hanyalah angin lalu.

​"Ayah sudah bilang," suara Presiden Diningrat memecah keheningan, berat dan penuh penekanan. "Jika kamu ingin menikah, bicaralah. Jangan diam-diam dan membuat rumor seperti ini. Apa tujuanmu, Ian? Ingin menjatuhkan reputasi Ayah?"

​Ian tetap diam, matanya menatap lurus ke arah Cansu yang sedang meletakkan cangkir tehnya dengan suara ting yang halus.

​"Putuskan gadis itu, Adrian," Cansu menyela, suaranya tenang namun mengandung racun. "Katakan pada publik jika itu hanya rumor tidak benar. Gadis itu... akan kuurus. Dia telah mencoba merusak reputasi anak Presiden demi menaikkan derajat keluarganya. Dia hanyalah parasit."

​Ian tiba-tiba menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki dengan gaya bos besar yang sangat dominan. Ia menatap mata Cansu—mata yang dulu pernah ia puja, namun kini ia benci.

​"Ibu tidak perlu risau," ucap Ian santai, menekankan kata 'Ibu' seolah itu adalah sebuah penghinaan. "Tidak ada kehamilan yang terjadi. Itu hanya bumbu media yang kalian buat sendiri, bukan? Untuk hubungan ku dengannya... aku akan membicarakannya nanti, agar kedua keluarga sama-sama enak."

​"Jalan keluarnya adalah nikahi gadis itu," sahut sang Presiden tiba-tiba. "Jika kamu memang memiliki hubungan, nikahi dia secara resmi agar masalah ini tidak menjerat keluarganya lebih jauh. Ayahnya baru saja dipecat, Ian. Jangan jadi pengecut."

​Cansu meletakkan sendok tehnya dengan kasar. "Tidak boleh! Ian menikahi gadis seperti itu hanya akan membuat kita terlihat lemah di mata lawan politik. Aku akan mencari perempuan yang setara untuknya. Putri perdana menteri lain, atau pengusaha sukses. Bukan anak dokter yang tidak punya apa-apa."

​"Lihatlah," Presiden menatap Ian dengan senyum tipis. "Ibumu sangat perhatian. Dia memikirkan masa depanmu, Ian. Akrablah dengan Cansu. Dia adalah ibu pengganti yang tepat untukmu dan Vier, bukan?"

​Ian membalas tatapan ayahnya, lalu perlahan beralih ke Cansu. Sebuah senyum miring muncul di wajahnya—senyum yang membuat bulu kuduk Cansu berdiri.

​"Terima kasih atas perhatiannya... Ibu," ucap Ian dengan nada yang menusuk. "Perhatian Anda... sungguh sangat tidak terlupakan."

​Sore itu juga, Ian melakukan pergerakan yang tidak diduga siapa pun. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah sederhana Rhea. Tanpa ajudan, tanpa pengawalan ketat di depannya.

​Di depan rumah Rhea yang dikerubungi wartawan dari kejauhan, Ian turun. Ia melewati garis polisi yang dipasang ayahnya sendiri untuk menghindari media. Ia mengetuk pintu rumah Rhea dengan tegas.

​Saat pintu terbuka, Rhea berdiri di sana dengan mata sembab. Sebelum gadis itu sempat bicara, Ian langsung menggenggam tangannya di hadapan kilatan kamera wartawan yang mengintai dari kejauhan.

​"Ikut aku," bisik Ian.

​Di dalam mobil, Ian tidak bicara sampai mereka sampai di pinggir tebing yang sepi. Rhea meledak dalam tangis. "Kenapa kamu lakukan ini? Ayahku dipecat, aku dianggap sampah di kampus! Hidupku hancur, Ian!"

​Ian menepuk bahu Rhea, lalu menariknya ke dalam pelukan yang kaku namun protektif. "Maafkan aku, Rhea. Kamu terseret ke dalam perang yang tidak seharusnya kamu hadapi."

​"Apa maksudmu?"

​Ian menatap lurus ke jalanan di depan. "Aku akan melamarmu secara resmi besok. Aku akan mengklarifikasi bahwa kita sudah berpacaran selama dua tahun. Ini satu-satunya cara untuk mengembalikan reputasi keluargamu dan melindungi ayahmu."

​Rhea terbelalak. "Tapi itu bohong! Kita tidak—"

​"Dengar," Ian memegang kedua bahu Rhea, memaksa gadis itu menatap matanya yang kelam. "Ini adalah kontrak. Lima tahun. Setelah misiku selesai, kamu bebas. Aku akan memberikan apa pun yang kamu minta. Tapi sekarang, aku butuh kamu untuk berdiri di sampingku sebagai tunanganku. Bantu aku menghancurkan rencana wanita itu."

​"Siapa? Ibu tirimu?"

​Ian tidak menjawab, namun rahangnya yang mengeras sudah cukup menjadi jawaban. Di dalam kepalanya, Ian membayangkan wajah Cansu saat mendengar berita ini nanti. Sebuah serangan balik yang akan membuat sang Ibu Negara kehilangan ketenangannya.

​Benar saja, saat berita pertunangan resmi itu diumumkan lewat konferensi pers singkat oleh Yusuf, di kediaman utama, sebuah vas bunga kristal mahal melayang menghantam dinding ruang pribadi Cansu.

​PRANG!

​Cansu berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya memburu. Telapak tangannya berdarah karena ia sempat meremas pecahan kaca yang ia hantamkan ke meja.

​"Jalang kecil itu..." desis Cansu. Matanya yang elegan kini dipenuhi kegilaan. "Dia berani mengambil apa yang menjadi milikku. Dia berani masuk ke wilayahku."

​Nyonya Maya, asisten setianya, mendekat dengan cemas. "Nyonya, tangan Anda berdarah."

​"Biarkan saja!" Cansu berteriak. "Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan penghinaan yang Ian berikan padaku. Dia menggunakan gadis itu untuk meludah tepat di wajahku!"

​Cansu duduk di lantai di antara pecahan kaca, menatap foto Ian dan Rhea di layar televisi. Ia tahu ini bukan sekadar cinta. Ini adalah pernyataan perang. Dan jika Ian ingin bermain api, maka Cansu akan memastikan seluruh istana terbakar bersamanya.

​"Siapkan makan malam keluarga minggu depan," ucap Cansu dengan suara yang tiba-tiba tenang, namun sangat dingin. "Aku ingin menyambut calon menantuku dengan cara yang... sangat istimewa."

​Permainan baru saja dimulai, dan Rhea Candrakirana, mahasiswi kedokteran yang penakut, kini resmi menjadi bidak paling berbahaya di atas papan catur Diningrat.

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!