Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Tidak Terjadi apa-apa
Setelah bisa keluar dari hotel, aku menghubungi Rania kalau tidak jadi menginap di hotel, buat jaga-jaga kalau dia nyamperin ke kamar dan mencariku yang tidak ada di kamar.
Aku juga tidak pulang ke rumah, tapi memutuskan ke kosan Dian yang ada di belakang kafe, untuk menenangkan diri yang masih gemetaran. Jujur aku masih shock, dengan apa yang baru aku alami.
Meski aku sering bergaul dengan lawan jenis, seperti Niko dan Dafa serta anak remaja yang suka nongkrong di warnet. Tapi, kami hanya sebatas ngobrol tanpa sentuhan fisik berlebihan, seperti pelukan yang di lakukan pria mabuk itu padaku.
Aku memilih Dian, karena Dian selain lebih dewasa, Dian juga bisa menjaga rahasia daripada Wini yang mulutnya suka keceplosan, saat bicara. Mungkin faktor usia juga, karena Dian lebih tua 2 tahun daripada aku.
"Minum dulu, biar tenang." sambut Dian, begitu aku sampai dan masuk ke dalam kosan.
Dalam perjalanan ke kosan Dian, aku sudah mengirim pesan ingin menumpang menginap semalam, dan berjanji akan menceritakan jika sudah bertemu dengan Dian langsung.
"Terimakasih, Ian." ucapku sambil mengambil segelas air putih, dan menghabiskan dalam sekali minum.
"Mau ganti pakaian, menggunakan pakaianku." tawar Dian, membuatku mengangguk.
Aku dan Dian memiliki tinggi yang hampir sama sekitar 165 cm, tapi badan Dian lebih seksi menurut orang-orang, dengan berat ideal 60 kg, sedang aku cenderung lebih kurus dengan berat badan 50 kg.
Sebuah daster tanpa lengan Dian pinjamkan padaku, Dian juga tidak langsung bertanya saat aku hanya diam. Dian membiarkan aku tenang terlebih dahulu dan siap bercerita.
Saat aku bercerita tentang apa yang aku alami, Dian juga tidak menyela. Dian dengan sabar jadi pendengar, apa yang aku rasakan.
Rasa takut saat tiba-tiba ada yang memelukku dan menggigit leherku. Rasa takut, saat aku sadar lelaki tadi mungkin aja terluka karena aku gigit tangannya dan aku benturkan kepalanya ke dinding.
"Aku takut jika di tuntut kasus kekerasan, karena telah melukainya. Bagaimana dong, ini?"
"Tenang, jika dia menuntut kamu. Kamu tuntut balik aja dia, dengan tuduhan pelecehan seksual!"
Aku tertawa mendengar saran Dian.
"kamu kok tertawa sih, Lin."
"Kamu harus ingat, di negara kita itu hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah."
"Emang lelaki itu orang kaya?"
"Ya, mana aku tahu. Mungkin juga iya, karena pengunjung hotel Smith biasanya orang tajir dari kalangan sultan." tebakku, karena setahuku hotel keluarga Smith, termasuk hotel bintang lima.
"Sekarang aku tanya kamu, emang kamu anak orang kaya, anak konglomerat? Bukan kan, bapakmu sopir, cuma ibumu nikah lagi dapat orang tajir. Siapa tahu lelaki itu juga kebetulan di sana, atau emang pegawai di sana."
"Tapi dari pakaiannya, sepertinya juga bukan pegawai di sana."
"Kamu perhatikan penampilannya, segala," ledek Dian, menertawakan aku.
Meski tak memperhatikannya, secara langsung. Tapi, bukannya cara penampilan seseorang biasanya mencerminkan orangnya, meski tidak bisa menjamin seratus persen sih.
"Sudah gak usah di pikirkan, lebih baik tidur sudah malam, besok aku harus kerja pagi. Kamu enak masuk siang." kata Dian yang langsung merebahkan tubuhnya, di tempat tidur single miliknya.
Aku menghela nafas dan ikut merebahkan tubuhku di samping Dian, di atas lantai yang sudah di alasi kasur lantai.
"Ahh, Dian gak punya laptop. Mau ke warnet atau pulang juga sudah malam." pikir ku sambil melirik jam dinding yang sudah menujukan pukul setengah dua belas malam.
Entah kenapa, aku kepikiran untuk meretas CCTV hotel dan mengambil video itu untuk aku simpan. Buat jaga!-jaga, siapa tahu bisa berguna buatku suatu saat nanti. Aku juga sedikit penasaran dengan wajah pria itu , yang tidak aku lihat dengan jelas wajahnya seperti apa
**
Aku meninggalkan kosan Dian, bersama Dian yang juga berangkat kerja. Aku memilih pulang untuk istirahat dan mandi.
Aku juga menyempatkan membuka laptop untuk meretas CCTV hotel, tapi sayang sudah tidak ada. Entah sudah diambil atau di hapus seseorang, tapi ini juga yang membuatku semakin penasaran sampai aku nekad menemui Rania.
Dengan alasan kado buatnya ke bawa lagi, aku temui Rania di rumah mewahnya sekaligus ingin tahu apa ada berita heboh semalam. Ya mungkin saja heboh, karena telah di temukan pria pingsan dan terluka di hotel.
"Maaf, aku kelupaan dan aku bawa pulang lagi, kadomu."
"Kaya sama siapa aja, sih. Sebenarnya yang paling aku harapkan kehadiran mu, bukan kadomu. Sudah lama sekali kita tidak bisa merayakan ulang tahun bersama."
"Semalam aku sudah datang ya, berarti sudah sesuai harapan dong."
"Datang cuma sebentar doang, seperti orang lewat cuma absen doang." ujarnya membuatku tertawa kecil.
"Gak usah tertawa, emang bener kan begitu. Giliran mau tiup lilin, aku cari gak ada. Eh gak tahunya sudah pulang, aja. Sampai gak nemuin mama, kan. kakak semalam."
"Hehehe sorry, semalam aku cuma ingin menghirup udara di luar. Eh temanku telpon, minta tolong gantiin jaga warnet." bohongku,
"Duit aja yang kamu cari, ulang tahun adikmu itu setahun sekali lo, kak."
Aku terkekeh melihat muka masam Rania yang sedang ngambek. "Sorry, gak enak nolak teman minta tolong, bukan masalah uangnya. Tapi, gak ada apa-apa kan, semua berjalan lancar.'
" Aman, lancar sampai akhirnya selesai."
"Lalu, bagaimana kabar pria yang pingsan semalam, ya? Semoga tidak terjadi apa-apa, seharusnya tidak sih. Jika terjadi apa-apa, pasti sudah ada beritanya."
"Kenapa kak? kok, melamun, mikirin apa?"
"Tidak ada," kaget ku, karena sibuk dengan pikiranku sendiri. "Sudah ya, aku balik bentar lagi harus ke kafe." Hari ini aku cuma kerja di kafe, karena kebetulan aku libur jaga warnet.
"Mau di anterin?"
"Gak usah, sepertinya lagi sepi rumah. Emang hari minggu, orang di sini juga pada kerja?"
"Tidak, mama papa lagi main golf, sedang kak Carol semalam nginep di hotel, kayaknya belum pulang."
"Ohh, aku kira hari minggu juga kerja, seperti aku dan ayah. Sudah dulu, ya."
"Aku kesepian, sendiri di rumah." lirih Rania yang masih bisa aku dengar, tapi aku enggan untuk berbalik dan berhenti melangkah. Karena aku harus segera berangkat kerja, ke kafe. Lagian ini sudah menjadi pilihan Rania, untuk tinggal bersama dengan keluarga baru ibu.
Aku bekerja di kafe seperti biasa tidak ada yang aneh, dengan hariku hari ini. Sampai malam tiba dan kafe cukup ramai seperti biasanya, tapi keramaian kafe cukup membuatku dan teman-teman kualahan. Sampai setengah sepuluh, barulah kami bisa istirahat dan sedikit bersantai.
"Lin, pengunjung meja nomor 10, memanggilmu."
"Hah, mau ngapain. Perasaan aku tadi, tidak melayani meja nomor 10 deh." bingungku, yang merasa tidak mengantar pesanan ke meja nomor 10.
"Sudahlah ke sana aja, kalau mau tahu. Kalau ada apa-apa nanti kita bantuin!"
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in