Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Bi Sarti segera menyerahkan ponselnya ke tangan Nuraa.
"Halo Om Ardi...," sapa Nuraa dengan suara manjanya.
"Halo ponakan om yang cantik, om tadi nelpon ke ponsel kamu, tapi gak di angkat, jadi om nelpon deh ke bi Sarti."
"Oyah, om sama tante kamu rencana mau ke Indonesia nih, kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Om Nuraa.
"Aku mau om dan tante bawa si kembar aja, mereka pasti makin menggemaskan ya."
"Siap aunty...," balas Om Nuraa menirukan suara anak kecil.
Nuraa tertawa ringan karena hal tersebut.
"Oyah om, apa om punya nomor om Chandra?" tanya Nuraa.
"Om Chandra? Apa ada masalah di hotel, Raa?" bukannya menjawab pertanyaan keponakannya, Rahardian justru bertanya kembali.
"Gak ada kok, Om... aku cuma pengen bahas soal tikus di hotel."
"Nanti om kirimin ke aku ya, yaudah aku matiin dulu telponnya, perutku udah keroncongan nih, salam buat tante Salma dan si kembar, bye om."
Setelah mendapat balasan dari om nya, Nuraa mematikan sambungan telpon mereka dan mengembalikan ponsel bi Sarti.
****************
"Kenapa, Mas? Kok mukanya kaya orang bingung gitu?" tanya Salma yang penasaran dengan raut wajah suaminya setelah menelpon ponakannya.
"Menurut kamu, apa di hotel bintang 5 seperti Azura Luxury Hotel yang sudah terkenal, bisa ada tikus di dalamnya?"
"Haaa?" Salma tercengang dengan pertanyaan sang suami yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin Azura Luxury Hotel, salah satu hotel bintang 5 yang terkenal di Indonesia, hotel mewah yang sering di gunakan untuk konferensi internasional dengan ruangan konferensi yang di lengkapi teknologi canggih, juga sering di gunakan oleh para selebriti dan pejabat tinggi sebagai tempat tinggal sementara mereka, karena sistem keamanannya yang ketat dan pelayanan yang personal, bisa ada tikus di dalamnya.
Rahardian kebingungan dengan ucapan ponakannya sendiri, ia menggaruk tengkuknya.
"Gak bisa, aku harus telpon adik kamu itu, Sayang... jangan-jangan ada aduan tamu hotel terkait tikus, aku mempercayakan Chandra menjadi general manager hotel, sesuai dengan background pendidikan dia."
Rahardian berjalan meninggalkan Salma yang masih mematung karena sikap konyol dari suaminya tersebut.
Sementara Rahardian sepanjang langkahnya menuju kamar, terus saja mengoceh dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
...****************...
"Kemana Vivi... Pah, Bund?" tanya Aska yang baru saja bergabung bersama kedua orang tuanya di ruang makan.
"Adik kamu udah pulang semalam ke apartemennya," jawab Papah Aska.
"Hmmm... harusnya Papah sama Bunda gak mengizinkan Vivi untuk tinggal di apartemen seorang diri, akibatnya jadi seperti ini kan," gerutu Aska.
"Semua sudah terjadi, Ka... yang terpenting Kevin mau bertanggung jawab, lagi pula papah gak bisa melarang Vivi untuk tinggal sendiri di apartemen, apalagi di rumah ini adik kamu si Evelyn sering banget memojokkan Vivi."
"Papah gak tau kenapa Evelyn jadi kaya gitu, kasihan si Vivi, makannya papah izinin dia untuk tinggal di apartemen."
Semalaman Aska merenung di dalam kamarnya, ia sangat kecewa dengan sikap Vivi yang terkesan menganggap enteng kesedihan seseorang, apalagi orang tersebut sahabatnya sejak kecil.
Aska masih tidak percaya Vivi yang ia kenal sebagai gadis yang baik, lemah lembut, bisa begitu jahat menusuk sahabatnya sendiri dari belakang, bahkan Aska melihat tidak ada sedikit pun rasa bersalah di raut wajah Vivi terhadap Nuraa.
Di saat Aska sedang merenungi soal Vivi, ia teringat ucapan adiknya tentang Vivi, ia teringat bagaimana dulu Evelyn selalu saja berbuat ulah terhadap Vivi, karena Vivi tidak sebaik yang mereka kira.
Saat itu tidak ada yang percaya dengan Evelyn, baik kedua orang tuanya atau pun dirinya, menganggap Evelyn melakukan hal tersebut karena cemburu dan iri terhadap Vivi.
Tiba-tiba muncul keraguan di hati Aska terhadap Vivi, benarkah Vivi yang selama ini ia kenal bukanlah Vivi yang sesungguhnya, seperti yang selalu di ucapkan oleh Evelyn
Aska menekan dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri, membayangkan bagaimana jika yang di katakan Evelyn benar soal Vivi, sementara selama ini ia dan kedua orang tuanya tidak mempercayai Evelyn, bahkan ia dan juga kedua orang tuanya bersikap tidak adil kepada Evelyn.
"Evelyn belum turun ya, apa anak itu sudah pergi ke cafe, Pah?" tanya Aska.
"Belum, mungkin dia malas bergabung sama kita, karena berpikir ada Vivi, biarkan saja lah, anak itu sudah dewasa tapi masih saja kekanakan," sungut Papah Aska dan Evelyn.
"Pah... sepertinya kita terlalu keras dengan Evelyn, biar bagaimanapun juga Evelyn adalah anak kandung di keluarga ini, dalam tubuhnya mengalir darah papah dan juga bunda."
"Hubungan darah lebih kental, Pah." ujar Aska.
"Aku ke atas dulu, mau manggil Evelyn untuk sarapan sama-sama kita." Aska menggeser kursinya, berdiri dan mulai melangkah meninggalkan ruang makan dalam kesunyian.
Karena kedua orang tuanya seperti membatu mendengar ucapan Aska tentang Evelyn.
"Pah... yang dikatakan Aska ada benarnya juga, semenjak kita membawa Vivi ke rumah ini, gak ada lagi Evelyn yang manja seperti dulu, bunda rindu Evelyn yang dulu, Pah," lirih Bunda Aska dan Evelyn, matanya mulai berkaca-kaca.
Sementara jauh di lubuk hati papah Aska, ia pun merasakan hal yang sama seperti istrinya, hanya saja dirinya terlalu malu untuk mengakui hal itu di hadapan sang istri.
Ia berpikir dengan membawa Vivi masuk ke dalam rumahnya, Evelyn akan memiliki teman bermain, karena istrinya sudah tidak bisa lagi memberikan seorang adik untuk Evelyn.
Tapi ternyata ia salah besar, semenjak Vivi masuk ke dalam rumah ini, Evelyn selalu berulah, tidak jarang Evelyn dengan terang-terangan menjambak rambut Vivi di depan mereka semua.
"Eve...." Aska memanggil lirih Evelyn sembari mengetuk pelan pintu kamar adiknya tersebut.
2 kali ketukan Evelyn belum juga membuka pintu kamarnya, sementara di dalam kamarnya Evelyn mendengar dengan jelas, tetapi ia sangat malas untuk membuka pintu dan berhadapan dengan kakaknya tersebut.
Apalagi jika sang kaka hanya berbicara untuk menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dengan Vivi.
"Eve apa perlu kakak dobrak pintu kamar kamu?!" gertaknya.
Dengan malas Evelyn pun akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Apa sih, Kak? Ganggu aja, mendingan kaka pergi aja kalo cuma mau bahas soal masalah Vivi, buang-buang waktu!" ketus Evelyn.
"Eve... begini cara kamu ngomong sama orang yang lebih tua?" Aska berusaha menahan emosinya.
Eve mendengus kuat sebelum akhirnya ia berkata. "Ada perlu apa kak Aska manggil aku?" tanyanya kali ini dengan sopan.
"Ikut kakak sekarang, kita harus ke rumah Nuraa." Aska memegang lengan Evelyn menarik paksa adiknya untuk ikut bersamanya.
"Bentar dulu, ngapain kesana? Lagian harusnya kakak ajak Vivi bukan aku." Protes Evelyn berusaha melepaskan tangan Aska yang memegang lengannya.
"Udah ikut aja, nanti kaka ceritain di mobil," seru Aska.
Bersambung...