NovelToon NovelToon
Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Aku Dan Dia Yang Suka Ngehalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbicara dengan Pak Bos

Setelah mengangguk sejenak ia pun berkata. "Bagus. Artinya kamu waras!" Lah... Apa hubungannya dengan waras atau tidak?.

"Jadi ada apa bapak memanggil saya ke sini? Apa saya membuat kesalahan?!" Aku mulai gugup lagi.

"Tidak. Kamu di panggil ke sini karena saya penasaran dengan teman anak yang di maksud anak saya!" Ketika itu aku menoleh pada si Ketua Kelas yang ada di samping ayahnya itu.

Ia tersenyum padaku dengan sangat ceria.

'Hah, teman?... Sejak kapan kita jadi teman?...'

"Nak, kamu keluar dulu ya. Papa mau bicara dengan teman kamu ini!" Ia mengangguk tapi sebelum pergi ia memberikan sebuah peringatan.

"Tapi Papa harus ingat kalau orang ini bukan orang sembarangan, jangan tanya hal-hal yang tidak pernah Papa tanyakan!" Dengan tatapan serius ia berkata sambil memberi isyarat seolah matanya mengawasi si Pak Bos.

"Iya, iya. Sekarang kamu keluar dari sini dan biarkan Papa bicara dengan teman kamu ini!" Ia pun pergi.

Setelah itu si pak bos mempersilahkan aku duduk di hadapannya. "Kamu duduk dulu karena pembicaraan ini mungkin akan panjang!".

Aku pun duduk dan di saat yang bersamaan si pak bos melirik ke arah leherku yang di perban.

"Itu leher kamu di perban kenapa?!" Aku bingung mau menjawab apa di sini. "Um... Apa saya harus jujur?!" Si pak bos langsung mengangguk.

"Leher saya ini di gigit oleh anak anda yang tidak sengaja saya temukan di pinggir jalan kecil!" Si pak bos seketika mengelus-elus keningnya.

"Anak itu semakin hari semakin menjadi-jadi. Sekarang dia bahkan bisa mengigit orang!"

"Saya secara pribadi memohon maaf atas kelakuan anak saya ini, dia itu agak... !" Aku pun keceplosan dengan bilang sesuatu secara reflek.

"Agak gila...!" Segera aku menutup mulutku yang keceplosan itu.

Di saat bersamaan si pak bos menatapku dengan tatapan tak senang.

Ya mana mungkin dia akan senang ketika aku bilang anaknya tidak waras.

"Haahh... Yang kamu katakan tidak begitu salah. Faktanya anak saya ini punya penyakit yang membuat dia suka ngehalu kalau dia adalah vampir!"

"Bukan cuma itu saja. Dia juga kerap mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti kamu yang dia bilang adalah orang misterius dengan kekuatan super...!"

"Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya ia bisa berpikir kalau kamu itu sakti?!!"

"Um... Malam itu ketika anak anda menggigit saya dia kan tersesat dan saya tampung di rumah untuk satu malam dan baru saya antar keesokan harinya ketika hari libur saya!".

"... Tapi darimana kamu tahu kalau dia anak saya? Hal itu jarang sekali di ketahui!".

'Jarang?... Bukanya waktu itu si Ketua Kelas langsung di kerumuni karyawan perusahaan ini ya?... Apa mereka mengerumuni seseorang tanpa tahu dia siapa?...'

"Waktu itu saya perlu lihat anda jalan dengan Ketua Kelas ketika saya sedang buang sampah jadi dari sana saya tahu kalau Ketua Kelas punya hubungan dengan anda!" Si pak bos mengangguk percaya pada apa yang aku katakan.

"Oh, begitu... Tapi dari mana mulainya anak saya percaya kalau kamu itu sakti?".

"Nah... Karena saya hampir tidak pernah di perhatikan jadi ketika semua orang berkumpul mengerumuni ketua kelas saya pergi lagi karena saya libur!".

"Dari sanalah ia berpikir kalau saya bisa hilang dan tidak nampak di mata orang lain. Padahal yang sebenernya saya cuma orang yang tidak penting untuk di perhatikan!".

"Cara bicara kamu ngenes sekali. Dan kamu seolah biasa saja ketika tidak ada yang memperhatikan kamu!".

"Sudah terbiasa pak, jadi ya biasa saja!" setelah itu kami pun diam sambil tatap-tatapan.

".... Jujur saya tidak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan kamu tadi. Saya mau kasihan tapi kamu tampaknya malah senang kalau tidak di perhatikan!"

Dengan penuh kejujuran aku menjawab. "Dengan tidak banyak di perhatikan saya akan jauh dari masalah yang tidak perlu!"

Si pak bos sampai terdiam.

"Terserah kamu saja... Ngomong-ngomong apa kamu mau naik jabatan!" Aku agak terkejut tapi pertanyaan kali ini aku tersenyum dan menjawab.

"Tentu saja... Tidak!" Si pak bos langsung terkejut hingga matanya terbelalak.

"Kenapa?!".

"Karena saya tidak punya kemampuan untuk naik jabatan. Kalau saya paksakan naik jabatan dan saya tidak mampu mengemban tugasnya maka saya pasti akan di pecat karena kinerja yang buruk!".

"Meskipun cuma jadi tukang bersih-bersih tapi itu sudah jadi batas kemampuan saya jadi saya akan tetap di sana saja kalau bisa!" ... Dan kalau aku gak di pecat.

Untungnya jawabku tadi tidak membuat si pak bos marah.

Malahan sekarang ia tersenyum.

"Begitu ya... Baiklah, tapi selain jadi tukang bersih-bersih kamu juga punya tugas lain yaitu jadi teman anak saya!" Sakit terkejut aku sampai melotot.

"Hah? Gimana-gimana!?".

"Kamu jadi teman anak saya. Kamu tahu karena penyakit halunya itu ia tidak punya teman sama sekali dan malah berteman dengan kelelawar di rumah!" Parah sekali!.

Bisa-bisanya si Ketua Kelas juga berteman dengan kelelawar yang identik dengan hal-hal yang berbau cerita vampir.

"Tentu saja gaji kamu juga anak naik kalau kamu melakukan itu... Dan kalau masih kurang saya juga akan membiayai kuliah kamu dengan syarat kamu akan bekerja di sini dan jadi teman anak saya!".

'Ugh... Keuntungannya tidak main-main, aku jadi sulit untuk menolaknya kalau begitu.

"Tapi... Kenapa anda memilih saya untuk berteman dengan Ketua Kelas?!".

"Itu karena... Saya lihat ada sedikit perubahan ketika kamu bilang kalau dia hanya berhalusinasi!".

"Padahal dulu kami selalu bilang kalau apa yang dia alami hanya halusinasi tapi anakku itu tidak percaya!".

"Baru beberapa saat yang lalu ia mulai agak ragu dengan dirinya yang seorang vampir. Jadi karena itu saya mau kamu pelan-pelan ajari dia untuk membedakan antara kenyataan dan halusinasinya!".

"Tentu saja kamu akan di bantu oleh orang-orang yang yang ahli dalam bidang ini yang tidak pernah mau di kunjungi oleh anakku itu!" Aku berpikir sejenak.

Sejujurnya itu semua agak mencurigakan bagiku, tapi gajinya dan beasiswa itu benar-benar menggiurkan untukku...

".... Baiklah. Tapi saya tidak bisa jamin apa-apa. Paling mentok saya akan membujuknya untuk melakukan terapi karena hanya itu yang saya bisa!" Si pak bos tersenyum puas.

"Tidak apa-apa. Karena memang hanya itu yang saya harapkan!" Setelah itu aku pun keluar dari ruangan yang mana ketika aku keluar si Ketua Kelas menempelkan telinganya di tembok.

Ia berusaha menguping.

"Kamu hebat. Aku benar-benar tidak mendengar apapun di sini, kamu pasti menggunakan kekuatan untuk membatasi suara di ruangan bukan!?" Dengan penuh semangat ia berkata.

Ia begitu percaya dengan hal-hal tidak masuk akal yang ia pikirkan sekarang.

"Kamu tidak dengar apa-apa karena dinding ini tebal dan di lapisi dengan peredam suara jadi suara apapun tidak akan keluar dari ruangan!".

"Oh ya?... Aku gak percaya!" Ia tersenyum menjengkelkan sambil menatapku dengan penuh rasa penasaran.

'Haah... Capek sekali menghadapi orang suka ngehalu seperti ini.'

Malam hari kemudian aku pulang seorang diri seperti biasa.

Tidak ada apa-apa yang terjadi pada awalnya hingga ketika aku melewati jalan yang agak sepi dekat rumah tiba-tiba saja aku melihat ada sekelompok geng motor sedang parkir di pinggir jalan.

Karena mereka sibuk mengobrol satu sama lain aku tidak menghiraukan mereka dan jalan dengan santai.

Tapi tiba-tiba ketika aku melewati mereka aku di hentikan seseorang. "Hey! Tunggu dulu!..."

Aku langsung berhenti kemudian menoleh ke arah orang yang menghentikanku tadi yang mana sekarang ia berjalan ke arahku.

"Ada apa ya?!" Dengan acuh dan datar aku bertanya.

Alis mata pihak lain seketika berkerut dan ia kelihatan tidak senang padaku dan aku sadar akan hal tersebut.

"Lu... Sebaiknya jauh-jauh dari Santi. Kalau gua liat lu deket-deket Santi lagi gua abisin lu!" Setelah mengatakan hal-hal yang tidak jelas itu dia oh. pergi bersama dengan gengnya.

"Lah... Santi itu siapa!?" Entahlah siapa itu Santi aku tidak tahu sama sekali.

Tak mau ambil pusing aku lanjut pergi ke rumah dan kemudian... Aku lupa lagi beli makanan.

"Harusnya aku beli stok satu bulan waktu itu tapi karena kemalaman jadinya buru-buru dan hanya belum untuk beberapa kali makan saja!" Sambil menghela nafas aku pun keluar lagi untuk beli makanan.

Keesokan harinya.

Pagi itu sangat cerah dengan awan-awan yang tidak terlalu banyak yang beraneka ragam bentuknya.

Dan di hari yang cerah itu... Aku di ancam oleh orang yang semalam mengancamku.

"Ingat ya. Kalau lu berani deket-deket sama Santi bakal kita abisin lu!" Sama seperti semalam.

Setelah ia mengancam ia pergi begitu saja.

"Hadeh... Baru juga sampai di depan gerbang dan aku sudah kena masalah saja!" Aku hanya bisa garuk-garuk kepala kemudian masuk.

Namun ketika aku hendak masuk aku menoleh dan melihat dari arah belakang seseorang muncul dimana orang itu tidak lain adalah si Ketua Kelas dengan jubahnya yang biasa.

"Hm?..." Tapi ia terlihat sempoyongan seakan mau jatuh saja.

Segera aku menghampirinya kemudian bertanya. "Kamu kenapa sempoyongan begitu?... Eh!!?" Tiba-tiba saja dia tersungkur jadi aku menangkapnya.

Tapi kemudian aku tiba-tiba merasa sakit. "Argh!!" Dia menggigit tanganku hingga berdarah.

"Kamu ini kenapa suka sekali mengigit orang!?..." Katika aku lihat tanganku sudah berdarah.

Ya... Tidak separah leherku sih, tapi tetap saja ini sakit.

"Maaf Dimas, aku merasa lemas sekali sekarang ini dan kepalaku berat sekali jadi aku pikir aku perlu minum darah... Tapi tampaknya itu tidak berefek sama sekali kali ini!" Ia terlihat semakin lemas sekarang.

"Hey!?..." Ketika aku periksa ternyata si Ketua Kelas sedang demam dan sangat panas sekali.

"Pantes lemas. Ternyata anak ini sedang demam!" Segera aku bawa dia untuk di rawat.

1
Naruto Uzumaki
Terima kasih telah menulis cerita yang menghibur, author.
Di Persingkat Saja DPS
Sabar ya, masih di periksa ulang
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Loh kok belom update? Lanjutin dong thor, gak sabar nungguin kelanjutannya 😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!