Aqila Mahendra, seorang gadis cantik berusia 21 tahun. Dia merupakan seorang mahasiswi disebuah universitas swasta di kota Jakarta. Ia bisa dibilang sebagai mahasiswi yang berprestasi di kampusnya, hal ini bisa di buktikan dengan beasiswa yang ia dapatkan dari tahun ke tahun hingga ia sampai di semester akhirnya.
Kemulusan hidupnya di dunia pendidikan tak sama dengan kemulusan hidupnya di dunia nyata. Hidup menjadi korban broken home bukanlah keinginannya, namun takdir sudah menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang korban dari keegoisan sepasang suami istri yang sudah tak lagi sejalan, apalagi ada orang ketiga yang hadir di pernikahan mereka.
Selepas perceraian sang ayah dengan bundanya, Aqila tinggal bersama sang bunda dan keluarga barunya. Disaat tinggal bersama sang bunda malapetaka pun terjadi di dalam hidup Aqila.
Mau tau malapetaka apa yang terjadi di hidup Aqila?
Yuk simak ceritanya sampai selesai ya. Happy reading guys..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sementara itu di kediaman Dito dan Cella. Terjadi keributan besar antara pasangan suami istri ini. Dito marah pada Cella yang datang mempermalukannya. Apalagi ia sampai dipergoki oleh rival bisnisnya yang ternyata pemilik hotel tempat dia dan Aqilla bermalam. Ia merasa malu dan tak memiliki harga diri lagi dimata Bram.
Dito mendorong tubuh Cella dengan kasar ke ranjang tidur mereka. Berkali-kali Dito memberikan tamparan pada wajah Cella, seperti apa yang dilakukan Cella pada Aqilla di hotel tadi. Cella terus meminta ampun pada Dito. Namun Dito yang dikuasai rasa amarah sama sekali tak menggubris permintaan Cella.
“Hentikan Mas! Ini sakit. Tolong lepaskan aku, Mas!” Pinta Cella dengan suara merintih kesakitan.
“Sakit kamu bilang? Ini juga yang dirasakan Aqilla saat kamu memukulinya tadi tAnpa ampun Cella.” Balas Dito yang mencengkram dagu Cella dengan kuat.
Rasa cintanya pada Aqilla membutakan mata hatinya terhadap sang istri. Sebuah balasan yang begitu sakit yang kini Cella rasakan.Tak hanya sakit di hati dan batinnya, tapi juga pada jiwa dan juga raganya.
Jangan tanya bagaimana dengan air mata Cella, karena air mata yang dimiliki oleh Cella hampir saja mengering , ia tak berhenti menangis sejak dalam perjalan ke rumah bersama dengan suaminya. Kalian tahu apa yang dilakukan Dito? Ya. Dito menyiksa Cella di dalam mobil saat mereka dalam perjalanan pulang tadi.
Dia membawa mobil dalam kecepatan tinggi, ia juga tak mengizinkan Cella untuk menggunakan sabung pengaman. Sehingga saat mobil mengerem mendadak tubuh Cella terpelanting. Beberapa kali kepalanya terbentur dashboard mobil. Bukannya menolong Dito malah menjambang rambut istrinya untuk kembali duduk.
Dito sangat kejam. Ya, Dito memang kejam, karena Aqilla berhasil mencuci otak Dito dengan baik. Aqilla membeberkan rahasia keluarga Cella yang ingin mengambil keuntungan dari pernikahan mereka. Andai saja Dito belum dikarunai seorang anak dari Cella. Mungkin ia akan mudah menceraikan Cella dan menikahi Aqilla.
“Ampun Mas…ampun…” ucap Cella yang memohon ampun pada Dito yang terlihat begitu bengis menatapnya dan tangannya yang tak henti menyiksanya.
“Sudah ku katakan pada mu. Jangan ganggu hubungan kami, jika kamu masih mau menjadi istriku!” pekik Dito di depan wajah Cella yang sudah tak berbentuk lagi.
Luka lebam dan darah sudah memenuhi wajah cantik Cella kini. Tanpa belas kasihan Dito kemudian melepaskan cengkramannya pada wajah Cella dan mendorong tubuh Cella hingga terjatuh dan terbanting di atas ranjang tidur mereka.
“Buka pakaian mu!” pinta Dito dengan membentak pada Cella.
“Untuk apa Mas?” tanya Cella yang sedang meringis kesakitan.
Pedih, pedas dan panas bekas tamparan Dito, membuat kepala Cella sedikit pusing. Masih sempatnya ia bertanya, meski matanya melihat Dito mulai menanggalkan pakaiannya yang ia pakai dua hari yang lalu.
“Aku bilang buka, ya Buka! Kamu ini jangan terlalu banyak tanya!” ucap Dito sembari menanggalkan pakaiannya dan mengambil ikat pinggangnya dan memukulnya ke lantai.
“Tidak Mas, aku tidak mau.” Tolak Cella yang merasa jijik dengan tubuh suaminya, meskipun nyalinya ciut melihat Dito memukul lantai dengan ikat pinggangnya.
Cella tak mau melayani suaminya karena ia melihat dengan jelas bagaimana suaminya bermain dengan adik tirinya di atas ranjang hotel tadi. Ia tahu betul Dito akan menuntaskan hasratnya yang belum selesai pada dirinya.
“Kamu tidak boleh menolak ku Cella.” Ucap Dito yang kembali mencengkram wajah Cella dengan kasarnya.
“Ampun Mas… Baik, aku mau. Tapi tolong jangan sakiti aku lagi Mas.” Cella akhirnya mau melayani suaminya dengan berat hati ia menanggalkan pakaiannya satu persatu.
Melihat pergerakan Cella begitu lamban. Dito yang tak sabaran akhirnya membuka paksa pakaian Cella dengan merobeknya sekuat tenaga. Ia menanggalkan pakaian Cella dengan kasar, tak pelak kuku-kuku tajam Dito melukai tubuh mulus Cella saat ia merobek pakaian Cella. Sakit. Ya bertambah sakit saja kini Cella rasakan tak hanya luka di wajahnya yang ia dapatkan tapi juga di bagain tubuhnya yang lain.
“Aqilla, semua penderitaan dan rasa sakit yang kini aku rasakan, semua ini karena mu. Aku akan membuat perhitungan dengan mu setelah ini Qilla.” Ucap Cella di dalam hatinya.
Cella masih saja ingin bermain api dengan Aqilla. Sudah tahu dengan jelas adik tirinya ini sedang melakukan aksi balas dendamnya yang tak main-main, tapi dia masih saja mau melawan Aqilla.
Cella membiarkan Dito secara membabi buta memompa tubuhnya. Melakukan perlawanan pun akan terasa sia-sia. Ia hanya bisa menangis menatap wajah bengis suaminya yang sangat ia cintai.
“Tolong Hentikan Mas, ini sangat menyakitkan.” Rintih Cella yang makin lama makin tak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan di daerah intinya.
“Aku tak akan berhenti sampai aku selesai Cella.” Jawab Dito yang tak lagi menganggap Cella sebagai istri yang harusnya ia perlakukan dengan lembut. Ekspresi wajah Dito terlihat sangat menakutkan, membuat nyali Cella semakin ciut untuk melawan Dito.
“Hentikan Mas, bisakah kamu melakukannya dengan perlahan,” pinta Cella. Ia masih berharap Dito akan mengabulkan permintaanya.
“Tak akan pernah ada kelembutan lagi dari ku untuk mu Cella. Ingat pernikahan kita ini adalah sebuah bisnis. Aku sudah memberikan segalanya pada Ayah mu dan sekarang kau harus membayarnya.” Ucap Dito pada Cella yang begitu menusuk ke hatinya.
“Tapi aku mencintai mu Mas,” ucap Cella yang masih mau mengutarakan perasaaannya pada pria yang sama sekali tak memiliki rasa lagi padanya.
“Buang jauh semua rasa cinta mu pada ku Cella, karena aku tak sudi dicintai manusia matrealistis seperti diri mu.” Tukas Dito yang malah makin memompa tubuh Cella dengan Brutal. Ketika ia hampir menuju puncak kenikmatannya. Cepat-cepat D ito melepaskan penyatuannya. Ia tumpahkan larva semburan itu kebagian tubuh Cella yang lain.
Setelah puas melakukan penyatuannyaa Dito pergegas ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya, seperti habis bermain dengan wanita penghibur. Cella menangis sejadi-jadinya. Ia merasa menjadi istri yang sangat hina di mata suaminya.
“AQILLA!! Aku sangat membenci mu!!” pekik Cella yang terdengar hingga ke telinga Dito.
“Semakin kau membenci Aqilla semakin pula aku membenci mu, Cella. Aqilla tak seperti dirimu. Dia wanita yang tangguh, dan mandiri. Tak pernah dia menuntut ku ini dan itu, dia hanya meminta sedikit waktu ku untuk kami bersenang-senang bersama.” Ucap Dito saat ia membasuh tubuhnya di shower.
Di sebuah sudut apartemen Tinanium, Aqilla denga tidur meringkuk seorang diri.
“Ya, Tuhan. Kenapa Mas Bram kembali dalam hidupku yang sudah hina ini? Aku tak bisa menghentikan balas dendamku pada keluarga itu di tengah jalan seperti ini. Aku ingin melihat mereka hancur dan terbuang seperti apa yang mereka lakukan pada ku.” Batin Aqilla yang menangis sedih.
tp dia sadar hanya Bram yg di cintai qila
kok kaya aneh gitu ya aq bacanya
bram kaya gitu masih mau saja
diminta untuk ninggalin wanitanya aja Masih pikir² ee masih mau aja sama bram
egois ingin memiliki tanpa mau berusaha dengan cara yg benar
mungkinkah dunia para bangsawan seperti itu di dunia nyata