NovelToon NovelToon
Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.6
Nama Author: khayra

Ratih seorang ibu rumah tangga dan harus berkerja untuk memenuhi kebutuhan ia dan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ketika istriku tak lagi meminta uang (5)

Ketika istriku tak lagi meminta uang

******

Mendengar perkataan Mbak Siti, aku langsung pulang dengan tergesa-gesa. Amarah sudah di ubun-ubun, aku takut kalau kalung warisan ibuku diam oleh mertuaku. Sesampai dirumah, aku melihat rumah terbuka, tandanya ibu sudah pulang.

Ku lihat di atas meja sudah tergeletak barang-barang yang baru saja di beli, tapi tidak ada ibu disini. Lalu kemana mereka berdua, aku berjalan menuju kamar yang di tempati ibu dan langkah pelan agar mereka tidak tahu. Ku dengar suara orang berbicara di kamar ibu dan aku pun menguping pembicaraan ibu dengan anak itu.

Ku buka aplikasi perekam untuk merekam pembicaraan ibu dan Lisa agar ibu tidak bisa mengelak nantinya.

"Ibu dapat uang sebanyak ini dari mana?" Ku dengar suara Lisa bertanya pada ibu mertua ku. Hati ku berdegup kencang takut ibu yang mencuri perhiasan ku, rasanya ingin menerobos pintu kamar ini tapi aku tidak boleh gegabah.

"Tadi ibu gak sengaja lihat perhiasan di kamar Ratih, jadi ibu ambil saja dan belanja semua, uang ini buat kamu,"

Apa, jadi benar kalau ibu mengambil perhiasanku. Benar-benar keterlaluan, aku tidak bisa lagi tinggal diam kalau ibu sudah mencuri. Aku harus mengusir mereka dari sini walaupun ia mertua ku tapi kalau sudah mencuri, aku tidak akan membiarkannya lagi.

"Apa yang kalian lakukan, Hah," hardik ku membuka pintu yang tidak di kunci. Jadi, dengan mudah aku bisa membukanya.

"Ra....tih kamu sudah pulang?" tanya ibu dengan gugup. Wajah mereka pucat sedangkan mata mereka saling melirik satu sama lain.

"Kenapa memangnya kalau aku pulang cepat, apa ibu menyembunyikan sesuatu dari ku," tanya ku pura-pura tidak tahu kalau ibu sudah mencuri perhiasan pemberian ibuku. Aku menatap wajah ibu dan Lisa, ibu menyembunyikan uang di belakangnya.

Ya, untuk membuat ibu mertuaku mengakui kesalahannya kita pura-pura tidak tahu, jika tidak bisa terpaksa harus saya usir dari rumah ku, apalagi Mas Rahman dengan tega berselingkuh dengan perempuan lain. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang.

"Bukan apa-apa kok, ya sudah ibu mau mengambil barang dulu," kata ibu berjalan keluar. Aku yang masih berdiri di pintu memberikan jalan untuk ibu dengan wajah pucat, aku pun mengikutinya ke ruang tamu.

"Tunggu...! Dari mana ibu bisa belanja sebanyak itu bukan kah Ratih hanya memberikan uang pada ibu hanya 220 ribu," ucap ku menghentikan langkahnya.

Wajah ibu mendadak pias, bola matanya seakan hendak keluar mungkin kaget karena aku mempertanyakan hal itu pada ibu. Seketika ibu terdiam, mungkin sedang memikirkan cara agar ia tidak ketahuan mencuri, sadis.

"Pakek uang ibu lah, kamu mana mau beri uang buat ibu?" ucap ibu mencoba tenang.

"Bukan dari hasil mencuri kan, Bu!! Ucapku dengan Santai.

"Ratih...!!

Ku alihkan pandanganku pada seorang yang memanggil ku, ternyata penghianat itu sudah pulang. Aku menatap ia dengan tajam, tak ada rasa bersalah sedikitpun karena sudah mengkhianati rumah tangga kami.

"Jangan kurang hajar kamu bilang ibu mencuri, dia ini mertua mu." Kata Mas Rahman.

"Memang ibu mencuri, Mas. Kalau tidak mana bisa ibu bisa belanja sebanyak itu," kata ku menunjukkan beberapa paper bag yang masih tergeletak di atas sofa, Mas Rahman melongo melihat beberapa paper bag lalu kembali menatap ibu dan Lisa, ku lihat ibu hanya diam.

"Dari mana ibu bisa membeli semua ini?" tanya Mas Rahman menatap ke arah ibu.

Hening, tidak ada jawaban yang keluar. Aku semakin kesal melihat ibu hanya diam tanpa memberikan jawaban.

"Kenapa ibu diam, apa benar ibu mencuri," teriakku mengeluarkan kekesalan.

Plak .....

Lagi-lagi Mas Rahman kembali melayang tamparan padaku, Aku rasa tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga ini. Biarlah bercerai asalkan tidak menyesakkan batinku.

Ibu dan Lisa tersenyum menyeringai melihat Mas Rahman menampar ku.

Aku berjalan ke dalam kamar lalu mengambil tas dan memasukkan baju Mas Rahman ke dalamnya, hari ini aku akan mengusir mereka dari rumahku. Enak saja, sudah aku boleh tinggal tapi tidak mau berterimakasih. Selesai mengemasi baju Mas Rahman aku melemparkan keluar pintu.

"Pergi kamu dari rumah ku, Mas." Teriakku pada Mas Rahman. Ibu dan Lisa mendelik ke arah ku dengan tatapan sinis, aku menarik Mas Rahman untuk keluar dari rumah ku.

"Apa-apaan kamu, Ratih. Kamu mengusir suami mu sendiri, jangan jadi istri durhaka kamu," bentak Mas Rahman dengan wajah memerah. Aku menggepalkan tangan, dada ku naik turun menahan sesak.

"Aku tidak peduli, Mas. Bawa ibumu sekalian atau aku akan membawanya ke kantor polisi," kata ku menatap ibu. Ia menunduk takut karena aku akan membawanya ke kantor polisi tapi sebelumnya kita akan bermain-main dulu.

Mas Rahman menyipitkan matanya lalu menatap aku, ku lihat ibu mulai gelisah mungkin takut aku akan membawanya ke kantor polisi.

"Jangan pernah membawa ibuku ke kantor polisi karena ibuku tidak pernah mencuri," ucap Mad Rahman menunjukkan jarinya.

"Aku akan membawanya karena aku punya bukti,"

"Bukti apa?" tanya Mas Rahman berhadapan dengan ku. Aku mengambil ponsel lalu membuka rekaman suara ibu mertuaku dan Lisa, semua terdiam begitu juga dengan ibu. Wajahnya mulai tak karuan, setelah mendengar rekaman tersebut Mas Rahman menatap ibunya.

"Apa benar yang di katakan Ratih, Bu?" tanya Mas Rahman mengepalkan tangannya. Aku hanya diam melihat ibu, apa bisa masih berkutik lagi pada Mas Rahman.

"Ibu lakukan itu karena istrimu tidak memberikan uang untuk ibu ke salon, jadi ibu ambil saja emas Ratih yang ada di dalam laci kamarnya " Hardik ibu lalu membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Mungkin gak nyangka bisa keceplosan, aku tersenyum melihat ibu.

Mereka benar-benar keterlaluan, sudah di berikan tempat tinggal dan makan masih bisa untuk mencuri di rumah ku sendiri. Tak akan ku maafkan ibu kalau ia belum mengembalikan uang hasil penjualan emas itu.

"Bagaimana, Mas. Apa kamu masih kukuh kalau ibumu ini tidak mencuri," kata ku.

Mas Rahman menyugar rambutnya dengan kasar, aku yakin ia frustasi apalagi aku mengusirnya dari rumah ini. Tak ada lagi cinta di hati ini untuknya, semuanya sudah kandas bersama rasa sakit.

"Maafkan ibu, Ratih. Beliau lakukan itu karena kamu tidak memberikan ibu uang bulanan, padahal sebagai menantu yang baik sudah tentunya kamu memberikan ibu uang," kata Mas Rahman tanpa rasa bersalah

Memangnya dia pikir ibunya tanggung jawabku bukan Mas, dia ibumu maka kamulah yang memberikan nafkah untuk ibumu bukan aku

Apa katanya, memberikan uang untuk ibu, yang benar saja. Hello, dia itu ibumu sedangkan aku hanya menantu yang tidak sukai oleh ibumu. Apalagi Lisa tidak pernah bersikap baik padaku, lalu sekarang dengan mudahnya kamu menyuruhku untuk memberikan ibu mu uang, tidak akan Ferguson.

"Aku tidak akan bisa memaafkan ibumu, Mas. Aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum," kata ku mengancam mereka agar mereka bisa pergi dari rumah ini tanpa harus susah payah untuk mengusirnya.

"Apa, tidak...tidak... Jangan bawa ibu ke kantor polisi, ibu mohon," kata ibu menggenggam tangan ku. Aku menariknya dengan kasar, aku tahu ibu hanya berpura-pura baik di depan ku.

"Iya, Ratih. Apa kamu tidak sayang melihat ibu sudah tua mendekam di penjara," kata Mas Rahman lagi.

Apa, Sayang. Ibumu saja tidak pernah sayang padaku. Selama dua tahun menjadi menantimu tapi tak pernah sekalipun ibumu baik padaku, ada saja omongannya yang membuat hati sakit dan menjerit tapi selama ini bertahan karena masih memikirkan rumah tangga tapi kali tidak akan, Mas.

"Tidak, Mas. Aku bisa saja tidak membawa masalah ini ke jalur hukum tapi dengan syarat keluarga kamu harus keluar dari rumah ku dan ibu harus mengembalikan uang yang sudah ibu habiskan," kata ku.

Mata mereka melotot ke arahku, mungkin tidak menyangka jika aku akan melakukan ini semua. Mungkin mereka pikir aku hanya notabene sebagai menantu pasti akan mengalah tapi itu tidak akan terjadi lagi. Cukup sudah selama ini aku bersabar dengan sifat mereka tapi tidak kali ini.

"Ratih, kamu tega ngusir ibu dari rumah ini?" Kata ibu bersedih. Aku hanya tersenyum melihat pada ibu sebagai ratu drama.

"Aku tega karena kalian yang tak pernah baik kepadaku, cepatlah bereskan barang ibu atau ibu mau aku laporkan ke polisi," Kataku mengancam.

"Baiklah ibu akan pergi dari rumah ini tapi ingat, kamu akan menyesal memperlakukan kami seperti ini," kata ibu berkacak pinggang di depanku, ternyata sikap sedih tadi hilang di saat aku mengusirnya. Ku lihat ibu berjalan ke kamarnya, sementara mas Rahman hanya diam sesekali deru nafas terdengar menahan amarah.

Aku terus melihat mereka, lima menit terus berlalu tapi ibu juga belum keluar dari kamar. Apa yang di lakukan ibu di dalam kamar, aku berjalan ke kamar untuk melihat apa yang dilakukan ibu. Takut ia akan mengambil barang-barang di rumah ini.

"Ibu...!" Teriakku melihat ibu menyembunyikan gelang.

Ya, gelang itu pemberian ibu 5 tahun yang lalu sebelum ibuku meninggal untuk di jadikan modal usaha. Dulu, aku berniat untuk menjualnya karena ingin mendirikan toko tapi niat itu tidak jadi setelah melihat sifat Mas Rahman yang pelit.

"Ra...tih!

Aku mengambil gelang yang masih berada ditangan ibu, lalu menariknya untuk keluar dari kamar. Bisa-bisanya ibu mencuri emas ku tanpa meninggalkannya sedikitpun.

"Bawa ibumu pergi atau aku akan melaporkannya ke polisi," kata ku berteriak lantang menunjuk tangan ke arah pintu.

"Ratih, jangan kurang hajar kamu sama ibuku sampai ibuku kesakitan," Bentak Mas Rahman.

Aku berjalan menghadap pada mas Rahman, ku kepalkan tangan ini erat-erat.ingin sekali aku menamparnya tapi sayang tidak ingin tangan ku kotor karenanya.

"Bawa mereka pergi, Mas. Aku beri ibu mu waktu untuk membayar emas yang di ambil selama dua hari tapi jika tidak, maka siap-siap ibumu mendekam di penjara," kata ku menatap Mas Rahman dengan tajam. Apapun yang terjadi aku sudah siap untuk berpisah dengan lelaki yang tidak pernah bisa adil pada istrinya.

1
midah khamidah
bagus ceritanya kak
Aisyah Putri Angel
maaf kok hampir sama cerita dgn kisah hidup sepupuku..dulu THN 97..tiap hari cuman dikasih uang 5rb untuk satu hari ,1anak umur 2thn.
suami dan mertua minta tiap hari masak ayam dan ikan .
emang jaman dulu uang segitu ada harganya..tp ngak cukup juga .
beras ,lauk dan bumbu dapur juga jajan mana cukup.
tiap HR sepupuku bantuin aq beres2 dagang ku dan bersih rumah .tiap hari aq kasih dia uang
Khayra: 🙂 mungkin ada sebagian ibu rumah tangga merasakan seperti itu
total 1 replies
Dhea Dhea
anak sama mamak 11 12
Siti Uhanita
balasan suami celaka mertua setan
Purwati
semangat Thor 💪💪💪
Kasih
kesel banged deh, kalo hanya mau nutupin knp sampe selingkuh, sampe mau nyolong sertifikat, sampe membahayakan rania... pasti balik lg tu karna br tau kalo sakit parah
Dwi kristina
author penuh kejutan
Hi Hii
hmm gimana sih ceritanya kan udan di gugatan cerai sing Rahman 😕.
Rahmawaty❣️
Pdhl di dlm dompetnya duitnya banyak tp pelitt bnget sma istri
Husain La Mamin
bagus dan menarik
Anggur Kolesom
heh... goblok...... kalo hanya untuk menutupi penyakit,kenapa kemarin selingkuh... bahkan berencana mencuri sretifikat rumah ratih, bahkan di cerita ini rahman sudah tiga kali menampar ratih. GOLBOK
Anggur Kolesom
ni yg goblok siapa sih..??? kemaren kan siti emang pacaran ma rahman lebih tepatnya slingkuh, bahkan siti di suruh rahman mencuri sertifikat rumah ratih dan jika berhasil akan menjualnya dan menikahi siti, dan sekaran kata rahman tidak pernah ada hubungan dengan siti, dan siti pun ngomong tidak ada hubungan dengan rahman dan hanya berteman, yg gobloknya lagi ratih percaya padahal dulu ratih melihat dan mendengar dengan matanya sendiri perselingkuhan rahman dan rencananya. mobilang goblok tatuk dosa gk bilang tp geregetan
Anggur Kolesom
trus masalah rahman kemaren gimana..? kok ratih kaya lupa ma perlakuan rahman dulu, katanya mo balas dendam bahkan rahman dan ibunya di usir trus tiba tiba rahman dateng lagi tidur bareng lagi.dan sekarang ratih malah membela rahman
Anggur Kolesom
sampai d bab kok ceritanya gk mutu ya, udah kebaca ceritanya, kek drama ikan terbang
Asri Perwati
bingung ko msh bs balikan...pdhl sll berkata aku bukan wanita yg bodoh ,aku tidak mudah di tindas,sampa jumpa di pengadilan....tp ga da satupun yg bener
Yuli Kohunussa
bagus
Jumi Saddah
kalau boleh nanya kok cerita rania dn aira di lanjut,,kyakx seru,,,
Khayra: belum sempat di lanjutkan kak
total 1 replies
Ahmad Affa
😭😭😭😭 sumpah nyesek sekali thor...... awalnya sikap rahman bikin gedek tp ternyata dia menyembunyikan rahasia besar dr istri tercintanya...... 😭😭😭😭
Anna Wamey
tolong thor jangan sampai anggara jatuh cinta pd Stefani,,,!!!
anggara hanya untuk Ratih,,,!
Jumi Saddah
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!