NovelToon NovelToon
Dad, I Can See The Ghost

Dad, I Can See The Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Horor / Indigo / Matabatin
Popularitas:243.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Pratiwi Devyara

Kala Wisnu Ganendra Bimantara sering melihat sosok gaib sedari kecil, namun tak ada seorangpun yang percaya padanya.

Suatu ketika Kala, dipertemukan dengan ayah kandungnya yang ternyata seorang dokter spesialis kejiwaan dari sebuah klinik psikiatri.

Kala bersikukuh ia bisa melihat hantu, namun sang ayah lebih percaya jika Kala mengalami kondisi medis dan psikis tertentu.

Dua pendapat pun berseberangan, Kala bertekad membuktikan pada sang ayah jika ia benar. Sementara sang ayah berusaha menyadarkan Kala, jika yang sering Kala lihat itu bukanlah hantu. Melainkan refleksi dari trauma masa kecilnya yang begitu banyak.

SIAPAKAH YANG BENAR DIANTARA KEDUANYA? Ikuti saja cerita menarik ini, jangan lupa like, share dan komen.

Instagram @oh_ya_ra
tiktok : dev_yara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menggigil

Kala menggigil malam itu, suhu tubuhnya sangat tinggi. Enrico telah memberikan obat beberapa saat yang lalu, namun panasnya belum juga reda.

"Egan, tadi kamu ajak Kala kemana?" Enrico bertanya pada Egan.

"Nggak kemana-mana pa, cuma..."

Egan menghentikan ucapannya, ia kini di dera rasa ragu yang begitu besar.

"Kemana Egan?. Jawab papa dengan jujur!."

"Tadi Egan ajak Kala pergi bareng anak komunitas ghost photography, pa. Terus kita hunting foto di sebuah lokasi." jawab Egan .

Enrico menghela nafas, sejatinya ia kesal namun berusaha keras untuk menahan diri.

"Terus?" tanya pria itu lagi.

"Kala bilang dia ngeliat sosok tinggi besar di dalam rumah itu. Nggak lama Kala histeris kayak orang kesurupan. Terus pas Kala reda, dua diantara teman Egan lainnya juga kesurupan."

"Hhhh." Lagi-lagi Enrico menghela nafas.

"Egan, papa nggak pernah melarang kamu untuk menjalani apa yang menjadi hobi kamu, meskipun papa nggak suka itu. Tapi tolong kalau ngajak siapapun itu, ya kamu hati-hati. Kala itu kondisi mentalnya nggak terlalu baik, dia nggak sama dengan kamu."

"Tapi pa, menurut Egan dia bukan gangguan mental. Kala emang bisa ngeliat hal begituan, sama kayak salah satu teman Egan."

"Egan, papa lebih percaya kalau dia mengalami kondisi medis tertentu. Terserah kalau anggapan kamu berseberangan dengan papa." ujar Enrico.

"Yang jelas hati-hati kalau ngajak dia kemana pun, papa nggak enak sama om Philip. Dia masih syok dan masih belum bisa menerima kalau ibunya Kala udah nggak ada. Kita jangan ngasih kabar yang nggak-nggak soal anaknya." lanjut pria itu kemudian.

"Iya pa, Egan minta maaf. Egan janji lain kali lebih hati-hati lagi." ujar Egan.

Enrico mengangguk, kemudian ia pun pergi meninggalkan kamar sang anak.

***

Pagi hari suhu tubuh Kala sudah menurun, namun ia seperti kehabisan energi. Wajahnya pucat, serta terasa begitu lemas di beberapa titik persendian.

Sementara di luar, Egan yang baru selesai mandi dan berpakaian kini turun lalu menghampiri meja makan.

"Bi, ini bubur buat Kala?"

Egan bertanya pada bi Marni yang tengah sibuk di meja makan.

"Iya, kalau mas Egan mau sarapan bubur juga, masih ada tuh di belakang." jawab bi Marni.

"Nggak ah, Egan mau nasi goreng aja biar kenyangnya lama. Egan nggak bisa konsen belajar kalau laper." ujar Egan, lalu mengambil piring dan mewadahi nasi goreng yang juga dibuat oleh bik Marni.

"Pagi, pa."

Egan menyapa ayahnya yang tampak baru keluar dari kamar.

"Pagi." jawab Enrico lalu memegang kepala Egan, meski Egan sedikit menghindar.

Enrico kadang lupa jika Egan sudah remaja. Ia masih sering memperlakukan anak itu seperti anak kecil.

"Kala udah bangun?" tanya Enrico pada sang anak.

"Kayaknya udah deh, pa." jawab Egan lalu duduk dan mulai makan.

"Ini sarapan buat dia?" tanya Enrico lagi.

"Iya, kata bi Marni." Lagi-lagi Egan menjawab.

Enrico lalu mengangkat nampan berisi bubur serta segelas susu tersebut, dan membawanya ke kamar Kala.

Pada saat yang bersamaan Kala baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Ia kini kembali ke tempat tidur dengan posisi setengah berbaring.

"Tok, tok, tok." terdengar suara ketukan pintu.

"Kal, boleh om masuk?" ujar Enrico.

"Masuk aja om, nggak di kunci." jawab Kala.

Tak lama Enrico pun melangkahkan kakinya ke dalam. Kala sedikit terkejut melihat pria itu datang dengan membawa makanan.

"Pagi Kal." ucap Enrico.

"Pagi om." jawab Kala.

"Ini sarapan kamu."

Enrico meletakkan sarapan pagi Kala di atas meja samping tempat tidur.

"Aturan tadi biarin aja Kala yang ke bawah om. Kala nggak enak ngerepotin om kayak gini. Kala cuma lagi mau rebahan bentar, sambil ngumpulin tenaga biar bisa ke bawah."

Enrico tersenyum.

"Om tau kamu belum kuat, makanya om bawain sarapan kamu kesini. Lagian juga nggak apa-apa koq, orang dirumah sakit om juga melayani pasien."

Kali ini Kala yang tersenyum, namun sangat tipis.

"Makan dulu, biar bisa minum obat."

Enrico mengambil bubur yang ia bawa dan mulai menyuapkannya pada Kala.

"Nih." ujar Enrico seraya mengarahkan sendok berisi bubur kepada remaja itu.

Kala terdiam, seumur hidup bahkan belum pernah ada seorang pun yang menyuapinya. Kecuali mungkin saat ia bayi. Sejak usia dua tahun ia ingat, bahwa nenek, om, dan tante-tantenya menyuruh ia makan sendiri.

Ghandi, adik mendiang ibunya yang laki-laki pun tidak diperkenankan untuk menyuapi Kala. Padahal ada saatnya Ghandi merasa kasihan pada keponakannya tersebut.

Namun sang nenek dan tante, serta suami tantenya melarang, dengan alasan nanti Kala akan menjadi semakin manja.

"Ayo!." ujar Enrico kemudian.

Dengan mengambil nafas dan mencoba menguatkan hatinya sendiri, Kala pun menerima suapan itu.

Jujur hal tersebut terasa begitu hangat sampai ke hati, bahkan ia nyaris menangis. Namun berusaha keras ia tahan.

Enrico sendiri melihat bagaimana reaksi Kala, ia adalah seorang ayah yang sangat dekat dengan puteranya.

Ia tau apa yang saat ini Kala rasakan. Mengingat Kala pernah bercerita jika di keluarga ibunya, ia tidak terlalu diperlakukan dengan baik.

"Pa."

Egan membuka pintu kamar Kala. Kala agak sedikit tidak enak, pasalnya Enrico kini tengah menyuapinya. Namun Egan bersikap biasa saja, ia tau ayahnya baik dan perhatian kepada banyak orang. Hal itu dikarenakan ayahnya adalah seorang pelayan masyarakat.

"Egan udah mau pergi?" tanya Enrico.

"Iya pa, cuan dulu dong." ujar Egan seraya nyengir bajing.

Enrico lalu meletakkan mangkuk bubur yang ia pegang, kemudian mengeluarkan dompet dan memberi Egan uang selembar seratus ribu.

"Papa tuh gini, Kal. Jaman udah modern, kaya raya, tapi ngasih anak duit masih primitif." Egan berseloroh.

Enrico pun lalu tertawa.

"Kamu di kasih cash segini aja dikit-dikit beli skin free fire, skin mobile Legends dan lain-lain. Apa kabar kalau papa bikinin rekening dan kasih langsung banyak, yang ada baru dua hari udah ludes." ucap Enrico.

"Hehehe."

Egan nyengir venom, sementara Kala hanya tersenyum. Jujur kedekatan dengan orang tua seperti inilah yang selalu ia impikan sejak dulu.

"Ya udah, Egan berangkat ya pa. Bye Kal."

"Bye." jawab Kala.

"Hati-hati di jalan." teriak Enrico.

"Iya paaa."

Egan berlalu, kini Enrico kembali menyuapi Kala. Selang beberapa saat berlalu, Kala diberi obat dan ia pun tertidur lelap. Enrico bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, ketika seseorang masuk ke dalam rumahnya dengan tiba-tiba.

"Phil?"

Philip tak menjawab, namun tatapan matanya sudah cukup menjelaskan mengapa ia datang. Sebab Enrico ada mengabari mengenai kondisi anaknya saat ini.

"Kreeek."

Enrico membuka pintu kamar Kala, pada beberapa saat kemudian. Remaja itu masih tertidur dengan lelapnya.

Philip terpaku di muka pintu sambil menatap ke dalam. Perlahan namun pasti ia pun melangkah, lalu duduk disisi Kala.

"Gue berangkat duluan, ada jadwal pagi." ujar Enrico.

Pria itu pun segera beranjak, sementara kini Philip membisu disisi darah dagingnya sendiri.

Hampir setengah jam ia terpaku, hingga akhirnya Kala mendadak terbangun. Remaja itu terkejut mendapati Philip berada di sisinya.

"Dokter Philip?"

Philip seketika terhenyak dari lamunan.

"Are you oke?" tanya nya kemudian.

Kala mengangguk, lalu berusaha untuk duduk. Philip membantu remaja itu untuk bersandar pada bantal, dan memberinya segelas air putih. Kebetulan tadi Enrico memang menyiapkannya di sisi tempat tidur Kala.

"Om Rico mana?" tanya Kala seraya memperhatikan sekitar.

"Dia sudah berangkat, ada jadwal praktek pagi ini." jawab Philip.

Kala mereguk air putih yang sudah berpindah ke tangannya, lalu meletakkan kembali gelas di sisi tempat tidur.

"Kenapa kamu bisa sakit?" tanya Philip pada anaknya itu.

Kala menggeleng.

"Nggak tau." jawabnya kemudian.

"Kecapean mungkin." lanjutnya lagi.

"Keluarga kamu nggak ada yang mencari kamu?" tanya Philip lagi.

Dan lagi-lagi Kala menggeleng.

"Sepertinya mereka senang kalau saya pergi."

Philip menghela nafas dan terus menatap sang anak. Dari nadanya berbicara, terlihat jelas jika ia memang memiliki hubungan yang buruk dengan keluarga mendiang ibunya.

***

1
Faziana
Alhamdulillah ... terimakasih Othor udah up. Semangat yaaaa /Smile/
Devyara (IG : oh_ya_ra): Terima kasih
total 1 replies
Imran Kalimanjaro
mbak e, aku udah bolak balik cek, blm juga ada update, Alhamdulillah sekarang nongol...👍👍
Faziana
Thor di tunggu upnya yaaa
Devyara (IG : oh_ya_ra): Iya 😍😍
total 1 replies
Zainuri Zaira
masih tak percaya hantu padahal udh nglamin
Zainuri Zaira
merinding bcax walaupun msih sore
Zainuri Zaira
mkin kala ad kembaran
Zainuri Zaira
buat kala bisa gebukan hantu jgn takut terus kan kala pandai karate..lagian kala kok ngk pernah baca ayat alguuran
Devyara (IG : oh_ya_ra): Dia bukan Islam
total 1 replies
Musri
lma GK up2 thor,ditunggu kelanjutannya y👍
Devyara (IG : oh_ya_ra): Masih koq kak, cuma emang jarang
total 1 replies
Imran Kalimanjaro
makin seru dan penasaran
Devyara (IG : oh_ya_ra): thank you 😍
total 1 replies
Eliya Firdaus y
bagus jangan lama2 updatenya thor
Devyara (IG : oh_ya_ra): Terima kasih 😍
total 1 replies
Jenk Sry
Luar biasa
Devyara (IG : oh_ya_ra): Thank you
total 1 replies
yonahaku
ditunggu lanjutannya
Devyara (IG : oh_ya_ra): Sudah ya kak,
total 1 replies
yonahaku
kalau jujur buat nakutin papa sama oom Philip tapi malah ketakutan sendiri karena salah masuk rumah sakit terbengkalai
Lina Yuliana
thor mana lanjutannya
Devyara (IG : oh_ya_ra): Ada kak, cek aja
total 1 replies
Halimatun Ahliyah
asli ngakak aku baca part ini
mana malem2 lagi bacanya
Devyara (IG : oh_ya_ra): Terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Ayla Anindiyafarisa
ditunggu up selanjutnya kak, semangat kak
Devyara (IG : oh_ya_ra): Terima kasih sudah mampir
total 1 replies
Ayla Anindiyafarisa
Oala kasiannya kamu kala kok banyak keluarganya yg g suka
Devyara (IG : oh_ya_ra): Terima kasih
total 1 replies
Ayla Anindiyafarisa
lah malah mereka yg dikerjain 😅😅
Ayla Anindiyafarisa
saatnya kamu bahagia kala nikmati uang ayahmu
Ayla Anindiyafarisa
samalah aku juga bingung🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!