Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen
"Cape banget nggak sih?"
Sela menghempaskan bokongnya tepat ketika pintu unit Taksa terbuka dan mereka semua sudah masuk.
"Aku nggak tuh." jawab Iva yang kini duduk di sampingnya.
"Kamu sih enak, ada ayang mbeb yang bersedia gendong kamu kemanapun. Lah aku?"
Tawa Iva pecah, melihat raut wajah sengsara sahabatnya.
"Aw, aw. Sakit Taksa." ia mendelik pada Taksa yang dengan iseng menendang kakinya pelan.
"Cewek nggak boleh tertawa seperti itu, jelek."
"Bodo amat. Wlleeee..."
Iva bangkit dari tempat duduknya, ia ingin mandi dan berganti pakaian.
"Va, ikut. Aku pengin mandi juga." seru Sela dan langsung melesat ke kamar Iva tadi masuk.
"Sa, kamu bisa jelasin?" tanya Ian mewakili rasa penasaran teman-temannya yang lain.
Mengenai hubungan Taksa dan Iva yang sudah terlihat lebih dari pacar itu membuat mereka curiga. Bahwa selama ini ada sesuatu yang Taksa tutupi dari mereka.
"Kita sudah menikah."
"What?"
"Astagfirullah, woi basah."
"Hahaha.."
Suasana mejadi heboh ketika tiga kata yang keluar dari mulut Taksa, membuat ketiganya kalang kabut oleh semburan air dari mulut Adit pada Andra dan Ardhan yang kebetulan duduk di sebelah kanannya.
Taksa hanya menggelengkan kepalanya, ia berdecak kemudian bangkit meninggalkan tempat duduknya dan mengambil sekotak tisu.
"Kamu serius, Sa?" Ian yang sudah puas tertawa menatap Taksa tajam.
"Kalau nggak ngapain dia di sini."
"Wih keren, Allah tuh baik banget sama kamu ya. Sampe Dia menghadirkan jodoh secepat itu padamu." ucap Ardhan, dengan mata menatap kagum pada Taksa.
"Allah is the best planner." Taksa mengangguk menyetujui ucapan Adit.
"Nah, giliran kamu kapan Ian? Taksa aja udah jalan, tetapi kamu masih aja jalan di tempat." seru Andra seraya melempar bantal sofa pada Ian.
"Jalan kok, tapi pelan-pelan."
"Hahaha.."
***
"Va kok betah sih kamu punya suami macam es kutub begitu?" tanya Andra.
Mereka semua yang sedang menikmati makan malam di unit apartemen Taksa pun menoleh, menatap Iva meminta jawaban.
"Es kutub? Dia? Hahaha.."
Mereka berempat menatao heran pada Iva, bukannya mereka benar kalau Taksa itu memang es kutub. Lalu kenapa Iva malah menertwakannya.
"Jahil plus rese iya." lanjut Iva setelah puas tertawa.
Kini pandang keempat manusia itu beralih pada Taksa, lelaki itu menikmati makan malamnya tanpa mengelurakan suara sedikitpun. Mereka menatap ragu apa yang Iva katakan barusan, mata mereka sedikit memicing membayangkan wajah Taksa ketika dalam mode jahil. Rasanya tidak cocok.
Selepas kepergian teman-temannya. Taksa membantu Iva membereskan kakacauan yang ditinggalkan oleh mereka tadi.
Selama beberapa bulan menikah dengan Taksa, gadis itu sudah banyak belajar cara mengurus rumah dan mencuci piring sendiri. Walaupun untuk memasak masih belum sepenuhnya bisa dan untuk mencuci mereka masih menggunakan jasa laundry.
"Besok aja, ini sudah malam." bisik Taksa, seraya memeluk tubuh Iva dari belakang.
"Tanggung ah, besok kan kita harus sekolah. Biar nggak kesiangan." jawab Iva, sambil terus mengepel lantai.
"Lepas, Taksa! Aku mau lanjut ngepel." Iva menoleh pada wajah Taksa yang masih menempel di pundaknya.
"Nggak, sebelum kamu ikut aku tidur." Taksa menggeleng, ia semakin mengeratkan pelukannya.
" Ih manja deh, kamu tidur saja duluan. Nanti aku nyusul."
Cup.
Iva tersenyum ketika Taksa berulang kali mencium pipinya, ia sudah terbiasa sekarang menerima ciuman suaminya itu.
"Aku tidak bisa tidur sendiri."
"Dasar manja."
"Biarin, manjanya juga cuma sama kamu doang."
Taksa tetap tidak mau beranjak. Ia membalik tubuh Iva dan membungkuk menyelipkan kedua tangan diantara leher dan lutut Iva, lalu menggendongnya menuju kamar membiarkan kain pel serta ember masih tergeletak begitu saja.