Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.
"Gue mau mati aja, hiks."
Gendis Mahesa.
Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.
"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."
Dewa Ganesha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin Jadi
Dewa bukanlah tipikal lelaki yang mudah tergoda. Meskipun wanita bergelayut di bahu bahkan duduk diatas pangkuannya, ia mampu untuk menolak atau bertahan untuk bertindak lebih. Dewa hanya menyentuh wanita yang memang sama-sama mau tapi KENAPA?KENAPA JIKA ITU GENDIS KEPALANYA LANGSUNG NYUT-NYUT?Gendis bahkan tak melakukan apa-apa. Hanya duduk manis di meja riasnya dengan rambut basah dan bathrobe yang terpasang erat dibadannya. Apa kelelahan membuat akal sehat seorang Dewa turun ke selangk*ngan?
"Abang nggak mandi?” Tanya Gendis menatap Dewa dari pantulan cermin. Ia sedang menyisir rambut hitamnnya setelah tiga puluh menit berendam. Kabar buruk mengenai Nadia dan Navia membuat kepalanya hampir pecah dan berendam adalah salah satu ritualnya untuk membantunya agar tetap waras.
Dewa yang menyender di kusen pintu langsung berjalan mengambil handuk yang disiapkan oleh Gendis. Ia melewati Gendis dan sempat melirik gadis itu. Apa sekarang tuyul punya ajian jaran goyang? Kenapa Gendis makin hari makin menawan di matanya?
"Bisa kali pake baju dulu baru sisiran.” Dewa berujar sinis sembari melewati Gendis begitu saja. Daripada lama-lama menatap Gendis yang berakhir dengan aksi yang iya-iya, lebih baik ia masuk ke kamar mandi. Mungkin saja dengan menyiram kepalanya dengan air dingin bisa kembali membuatnya berpikir jernih.
Gendis menghentikan kegiatannya sejenak. Ia memperhatikan pintu kamar mandi sedikit lama. Kenapa sih?Perasaan semenjak ia selesai mandi tadi lelaki yang bersamanya itu wajahnya tak mengenakan. Aneh. Gendis kembali bersisir sembari menghembuskan nafas kasar. Tatapannya terpaku pada satu frame foto dirinya dan ketiga sahabatnya yang mengenakan seragam sekolah. Tak terasa airmatanya kembali menetes melihat foto Nadia yang tersenyum begitu lebar. Baginya Nadia, Sandra,dan Aleks bukan hanya sekedar sahabat se-frekuensi melainkan keluarga yang selalu menghadirkan kehangatan walaupun kadang-kadang sangat berisik. Bahkan ketika mereka harus berpisah untuk menjalani hidup masing-masing, grup WA masih sering update entah membahas pacar baru Sandra yang berganti tiap minggu, proses diet Aleks yang selalu berakhir gagal, atau kadang-kadang jika Nadia mendapat jaringan internet akan mengirim update terbaru foto Navia bahkan tak jarang menghibahkan ibu-ibu di kesatuannya, dan meskipun dirinya hanya memberikan sedikit komentar atau menjadi tim pendengar yang baik, tetap saja rasanya begitu menyenangkan. Sekarang grup itu hanya berisi update kabar tentang Nadia dan setiap membaca pesan masuk membuat Gendis takut.
"Nad, pulang ya. Please, gimanapun keadaannya gue mohon lo bertahan. Lo kan kuat--hiks.” Gendis mengusap permukaan frame lalu memeluknya. Tuhan, jaga Nadia dan Pia, kumohon.
Dewa keluar dari kamar mandi setelah mencuci wajah dan menyikat giginya. Sengaja ia berlama-lama berharap saat keluar Gendis sudah berganti pakaian dan kalau bisa gadis itu sudah tertidur agar tidak ada alasan baginya untuk mengusiknya. Sayangnya apa yang ia harapkan tak seratus persen kejadian. Gendis memang sedang tertidur tapi gadis manis itu masih mengenakan bathrobe yang sama dan dengan sangat teganya memamerkan bahu mulusnya pada manusia tanpa iman seperti dirinya.
"Huuuf, suka bangat ni bocah nguji gue.” Dewa menghampiri Gendis yang terlelap sembari memeluk sebuah frame foto. Ia menaikan leher bathrobe itu agar menutupi bagian bahu Gendis yang terekspos. Setelah menatap wajah tenang yang sedang terlelap, ia beralih melepas frame foto itu dengan hati-hati. Untuk beberapa detik ia menatap wajah ceria keempat gadis muda itu. Senyum kecil terbit di wajahnya. ”Balik dengan selamat ya Nad, banyak orang yang sayang lo. Bawa pulang Pia juga.” ujarnya lirih lalu meletakkan frame itu diatas meja lampu tidur.
"Sleep well, sweety.” Dikecupnya pipi Gendis setelah menyelimutinya.
.
.
.
Dewa menggerakkan badannya yang terasa kebas dan kaku. Ada beban berat yang menindihnya, belum lagi sofa yang di tidurinya tak cukup luas menampung badannya membuatnya sulit bergerak. Dewa membuka matanya dan langsung terkejut mendapati Gendis bergelung nyaman diatas badannya seolah dirinya adalah kasur empuk. Kapan gadis ini pindah? Seingatnya semalam ia meninggalkan Gendis tidur di kamar dan dirinya tidur di sofa depan tv apartemen itu agar tak terjadi hal-hal yang berbahaya tapi gadis ini malah datang menyerahkan dirinya. Sulit dipahami.
Dewa melirik arah pintu kamar yang pintunya tidak tertutup kemudian tatapannya kearah jam yang menggantung di dekat pintu kamar Gendis dimana waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dengan hati-hati ia mengulurkan tangan meraih hp yang ia letakkan diatas meja yang masih dalam jangkauannya. Dewa buru-buru mengusap punggung Gendis dengan tangannya yang bebas saat pergerakannya mengusik tidur gadis manis itu. Sembari mengusap punggung Gendis, satu tangannya membuka kunci layar hp dan panggilan tak terjawab hampir belasan dari Gio serta beberapa pesan masuk membuatnya terlonjak. Pesan singkat mengenai Nadia dan Navia membuat dadanya membuncah bahagia. Kedua perempuan kesayangannya Gibran itu kembali dengan selamat dan tidak kekurangan satu apapun. Mereka bahkan tak berada dalam pesawat itu. Dewa tak bisa berkata-kata. Dikecupnya rambut Gendis berkali-kali. Ia tidak berniat membangunkannya biarlah ini menjadi kejutan menyenangkan esok pagi untuk tuyul cantiknya itu.
Dewa berbalas pesan menggunakan satu tangan. Tangannya yang lain menepuk-nepuk lembut punggung Gendis. Sewaktu kecil nenek selalu melakukan ini padanya saat ia tidak bisa tidur akibat mimpi buruk yang selalu menghantuinya semenjak kehilangan kedua orangtuanya.
“Happy bangat ni bapak Gibran.” Ujarnya tersenyum kecil melihat potret keluarga kecil bahagia yang saling berpelukan. Ia menscroll kebawah dan masih banyak lagi foto yang sepertinya diabadikan oleh orang disekitar mereka.
"Eunghh...Selamat pagi.” Gendis menggeliat sembari menyapa dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Pagi.” Jawab Dewa santai. Ya sesantai Gendis menyapanya padahal keadaan mereka sangat memprovokasi. Bayangkan saja seorang gadis muda tidur diatasnya, wuiiih jika Dewa masih dalam setelan seorang baj*ngan, sudah habis di mangsa gadis muda ini. “Gimana tidur kamu?Nyenyak?Nyenyak dong ya, tidur diatas gue.” Sindir Dewa sembari tak lepas menatap layar hpnya.
Gendis mengangguk, “Enak bangat. Abang kok bisa empuk gini?Lemak jahat nggak nih?” ujarnya kembali berbaring dengan nyaman di badan Dewa.
"Nggak ada sejarahnya seorang pria sekeren gue punya lemak jahat.” Ucap Dewa sesekali mengelus rambut lembut Gendis yang terhambur. ”Masih betah?Badan gue pegal bangat.” katanya jujur.
"Masih mau kayak gini. Abang tahan kek, apa kek.” Omel Gendis memukul dada Dewa. Dasar laki-laki tak romantis.
"Abang sih bisa tahan kalau cuma berat badan kamu yang tidak seberapa ini. Masalahnya---”
"Masalahnya apa?” Potong Gendis sembari mengangkat sedikit wajahnya dari dada Dewa. Wajah laki-laki itu tampak meringis menahan sesuatu.
Dewa melempar muka kearah lain, ”Masalahnya lutut kamu nyundul pedang gue!” Ujarnya sewot. Yakali pagi-pagi dapat serangan mematikan seperti ini, apa tidak hancur pertahanannya?!
Gendis menunduk kebawah lalu menyernyit bingung, gerakannya malah membuat Dewa makin sengsara.
"Ndis, please--ah!“ Dewa menahan badan Gendis yang makin menumpu dirinya sepenuhnya.
“Abang punya pedang?Mana?” Tanya Gendis memperhatikan kemana arah lututnya namun tidak mendapati pedang yang dimaksud oleh laki-laki yang ditindihnya itu.
Dewa menggeram, lalu karena gemas sekaligus ingin menakuti Gendis, ia mengambil tangan kecil itu dan mengarahkan kearah pedangnya, ”Ini. Kamu bisa rasain kan?” Tanyanya dengan suara serak yang sebenarnya lebih mirip bunuh diri karena tangan kecil Gendis yang menyentuhnya terasa seperti aliran listrik yang membuatnya otomatis menegang.
Gendis yang pagi-pagi otaknya kadang korslet entah sengaja atau memang tidak tahu langsung terkekeh, ”Ya ampun, jadi ini namanya pedang?Kok kecil?”
SI*LAN!Dewa menjauhkan tangan Gendis dengan kesal. Bisa-bisanya pedangnya yang perkasa dibilang kecil.
"Kecil?Mau coba?” Tanya Dewa seduktif. Sebagai laki-laki dengan harga diri setinggi gunung egonya jelas tersentil. Seorang gadis kecil berani-beraninya mengatakan hal itu padanya. Gendis jelas tidak tahu bagaimana wanita-wanita yang dikencaninya rela menyerahkan diri hanya untuk di puaskan oleh pedang yang dibilang kecil. Wah wah wah. Penghinaan!
Gendis menelengkan kepala, ”Cobain gimana?” Tanyanya bingung. Memang sejak awal kepala Gendis ini tumpul untuk urusan 18 tahun keatas.
Dewa tersenyum miring lalu entah bagaimana kejadiannya, ia sudah membalik badan mereka sehingga kini Gendis berada di bawahnya. Kedua tangan gadis itu ditahan diatas kepalanya. Lalu tanpa aba-aba langsung menyerang bibir kemerahan Gendis yang terkesiap mendapat serangan mendadak. Jika ada yang bilang aroma mulut yang wangi di pagi hari itu adalah sebuah kebohongan, maka tidak berlaku bagi Gendis. Gadis itu, entah bagaimana begitu segar di pagi hari seperti orang yang sudah bersih-bersih dan hal itu membuat Dewa makin beringas menyerangnya.
Bunyi decapan dari bibir keduanya mengisi apartemen mewah itu. Gendis yang awalnya nol tentang ciuman yang melibatkan lidah, sekarang ia mulai bisa mengimbangi. Dewa tersenyum mendapati balasan gadis kecil itu yang tidak mau kalah dengannya. Niatnya yang semula hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada gadis muda itu berlanjut ke hal-hal lain. Tangan Dewa bergerilya menyerang titik-titik sensitif Gendis membuat gadis muda itu hanya bisa pasrah memberikan akses penuh pada Dewa.
Gendis terkesiap saat jemari Dewa yang tadinya bermain di dadanya perlahan turun dan menyentuh bagian yang paling rahasia dari dirinya.
"Abang!“ Kesiap Gendis dengan kepala menengadah menahan entah apa yang siap meledak kala Dewa makin tak terkontrol dibawah sana. Sentuhan laki-laki itu membuat segalanya menjadi berantakan. Ia tak pernah bisa berpikir jernah, satu-satunya yang Gendis pikirkan saat Dewa berhasil menanggalkan lapisan terakhir pertahanannya adalah pagi ini terakhir kalinya ia menyandang status sebagai seorang gadis. Anehnya dia tak merasa harus menghentikan Dewa. Semua yang terjadi terasa benar dan salah dalam satu waktu. Saat dirinya benar-benar sudah terbuka dihadapan Dewa, tiba-tiba ada rasa malu yang menyerangnya kala laki-laki itu menatap padanya dengan tatapan paling gelap yang pernah dilihatnya.
Gendis merapatkan kedua kakinya. Ia benar-benar dalam keadaan rapuh sekarang. Jengah dengan tatapan Dewa, Gendis hendak bangun namun Dewa sepenuhnya menindihnya, membungkam bibirnya sedang satu tangannya kembali menyentuhnya disana. Gendis tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dewa sepenuhnya sudah berkuasa padanya hingga ia hanya bisa menikmati semuanya.
Gendis menarik nafas dalam-dalam kala Dewa mengentikan sejenak ciuman mereka. Laki-laki mengusap bibirnya yang sudah membengkak karena pergulatan mereka.
"Abang tidak bisa berhenti, Ndis.” Katanya lirih, tatapannya berkabut namun Gendis melihat ketakutan disana. Gendis memberanikan diri menyentuh wajah Dewa, ia tak mengerti apa yang dilakukannya sekarang tapi melihat Dewa seperti itu membuatnya tersentuh. Jika Dewa adalah laki-laki lain, apa ia bisa setenang ini?Sepercaya ini? Jawabannya tentu saja TIDAK. Hanya Dewa lelaki yang menyentuhnya sejauh ini. Dengan perlahan ia menarik tengkuk Dewa dan menciumnya dengan lembut, tak terburu seperti tadi tapi tak bisa mengurai rasa menginginkan lebih dari keduanya.
Nafas keduanya memburu, Dewa mengecup bibir Gendis berkali-kali dengan ciuman lembut lalu mengangkat wajahnya beberapa senti saja masih bisa merasakan hangat nafas Gendis membelai wajahnya. Ia berkata pada gadis muda yang sedang ditindihnya itu dengan lembut, ” Abang butuh data diri kamu dan kedua orangtuamu segera.”
"Huh?”
“Sebelum semuanya terlambat.” Lanjut Dewa mengabaikan keheranan Gendis sembari menyeruk di ceruk leher gadis itu berusaha mengatur nafas dan menenangkan pedangnya yang sudah siap tempur.
"Abang tidur?” Tanya Gendis setelah beberapa menit tak ada pergerakan dari laki-laki yang tengah memeluknya. Bukannya apa-apa, masalahnya sekarang dirinya sedang setengah n*ked.
"Siapa yang bisa tidur dalam keadaan seperti ini, Yul. Lo ngerti kan apa yang sudah terjadi?” Bisik Dewa menggelitik telinga Gendis dengan hembusan nafasnya.
Gendis menggerakan tangannya melingkari tengkuk Dewa, ”Itu tadi namanya apa?” tanyanya polos membuat Dewa menggeram tertahan. Sangat munafik jika gadis yang lahir dan besar di kota besar serta melanjutkan kuliah di negeri yang bisa dibilang menjunjung tinggi kebebasan tidak tahu apa yang barusan terjadi tapi jika itu Gendis maka semuanya jadi masuk akal. Gendis punya dunianya sendiri dan Dewa sedang terjebak di dunia itu sekarang.
"Kamu beneran nggak tau tadi saya apain?” Dewa menjawab dengan pertanyaan lain.
"Ciuman. Raba-raba, trus tadi jari abang---”
"BANGUN YUK!AYO BANGUN!” Dewa menarik tangan Gendis agar ikut bangun bersamanya , ”DUNIA SEDANG MENANTI KITA SEKARAN!“ Mohon maaf saja, Dewa yang b*jat pun malu mendengar penjelasan itu tapi kenapa Gendis begini sekali sih. ASTAGAAAAA.
“Celana Gendis.” Cicit Gendis mengundang rona merah di wajah Dewa. Laki-laki itu berdehem lalu meraih celana tidur yang tadi dibuangnya begitu saja dengan ujung jarinya.
"Dalemannya juga.”
Wajah Dewa tak bisa lagi digambarkan semerah apa. Suasanya benar-benar sangat membuat canggung. Bisa-bisanya d*laman Gendis nyangkut diatas televisi. Brengs*k sekali yang melakukannya. Dewa menggelengkan kepala pelan. Kamu si brengs*k itu Dewa. Jika kejadiannya begini terus, bisa-bisa Gendis mual-mual duluan sebelum sidang pernikahan. Duh, tidak bisa dibiarkan.
"Lain kali jangan disimpan sembarangan.” Dewa salah tingkah.
"Abang yang lempar tadi.” Gendis mengingatkan.
Dewa menghela nafas panjang, ”Ya gue pelakunya. Jadi sekarang, mandi trus ikut gue ke rumah Gibran.”
Gendis terhenyak. Ia teringat lagi dengan sahabatnya itu.
"Sudah ada kabar?” Tanyanya kahwatir.
Dewa mengangguk.
Gendis bergegas ke kamar mengambil hpnya. Dewa menatap punggung tuyul kecilnya itu sembari meringis. Ia harus bergegas sebelum apa yang terjadi pagi tadi terulang. Dirinya tak bisa menjamin akan berhenti jika ada kesempatan yang sama.
"ABAAAAAANG!!!”
Dewa terkejut saat Gendis berhambur memeluknya.
"Nadia is back. Nadia dan Pia baik-baik saja.” Ujarnya tergugu. Dewa tersenyum memeluk Gendis erat.
"Iya, mereka kembali.”
***
Ternyata Author butuh waktu lama untuk mengembalikan mood. Susah mengeksekusi ide dalam bentuk tulisan yang enak dibaca. Hope u like it readers. 💕💕💕
makasih banyak ya ❤🥰💪
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍