Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Bagas
Clara dan Arya sudah selesai mengenakan pakaian dan bersiap-siap untuk breakfast.
tinggg tonggg..
Arya berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya tanpa melihat dulu dari door viewer.
"Ehh..kamu Gas, mau ambil koper Ayu ya?" ucapnya dengan santai dan senyum yang menghiasi wajahnya.
Sontak mata perempuan yang sedang menyisir rambutnya di dalam kamar itu langsung menatap tajam ke arah tamu yang datang.
Clara masih menampakkan wajah tidak bersahabat di hadapan Bagas, sangat kontras dengan ekspresi kekasihnya.
"Iya Ya', tapi ada yang mau aku omongin ke kamu juga." ucap Bagas sambil melirik ke arah Clara.
Ekspresi Bagas saat ini sangat kaku dan canggung, apalagi saat menatap Clara. Bagas sangat paham perasaan sahabat kekasihnya itu.
Baginya Clara tidak memaki dan menamparnya saja sudah lebih dari cukup.
"Ohh oke, mau di mana? Di sini, di resto hotel, atau di tempat lain?" tanya Arya semangat, karena ia juga ingin mengobrol dengan Bagas sebagai sesama lelaki.
"Kelihatannya di resto luar yang ada di sebelah hotel aja gimana?" Bagas lebih memilih ke luar dari hotel, karena memilih suasana yang lebih tenang tidak terlalu ramai.
"Oke nggak masalah, aku ambilin koper Ayu dulu ya, biar sekalian kamu bawa ke mobil." Arya berjalan masuk untuk mengambil dompet dan handphone nya, sekaligus koper Ayu.
"Yang..kamu sarapan sendiri dulu ya? Aku mau keluar sama Bagas dulu. It's okay kan?" tanya Arya yang berjalan menghampiri kekasihnya yang masih memilih duduk berdiam di dekat jendela.
"Iya..jangan lupa nanti ada meeting.."
"Pasti dong sayang, bye.." pamit Arya seraya mengecup kening Clara.
Arya sengaja tidak mengajak Clara, karena kalau perempuan sudah ikut campur dalam sebuah perbincanga yang masih hot from the oven pasti ujung-ujungnya bukan menyelesaikan, tapi yang ada malah melibatkan emosi dan perasaan.
Arya keluar dari kamarnya, lalu melirik ke arah Bagas yang sudah membawa satu koper lain di tangannya. Ia yakin itu koper Bagas yang kemarin singgah di kamar Geya.
................
Mereka berdua sudah duduk dan memesan menu untuk sarapan mereka pagi ini.
Arya
Ia lebih memilih diam dan menikmati makanannya dan membiarkan Bagas membuka topik pembicaraan.
"Ya' aku minta maaf buat tadi malam.." ucap Bagas dengan nada canggung, karena biasanya mereka membicarakan hal-hal santai tanpa masalah.
"Minta maaf lah sama Ayu, jangan sama aku.." jawabnya dengan tersenyum kaku.
Mendadak suasana menjadi sangat hening dan canggung.
Arya menyeruput teh nya yang masih sedikit mengeluarkan asap, lalu menaruhnya kembali.
"Sudah lama kamu kenal Geya?" tanyanya memecah keheningan, sambil memandang lelaki di depannya itu.
"Geya mantan aku Ya'," Bagas mengambil nafas dan menghembuskannya pelan.
Arya mengangguk berulang kali, sambil mengginggit ujung bibir atasnya.
"Hubungan kami dulu nggak direstuin orangtuaku, aku juga baru ketemu di tiga bulan ini, itupun nggak sengaja karena ada reuni."
"Tapi terus berlanjut? Kamu ngeladenin dia pasti.."
Ucapannya seperti pukulan telak bagi Bagas, saat ini Bagas hanya mampu menelan salivanya dan menunduk memandang gelas kopinya.
"Kamu pasti nggak cuma kemarin kan tidur sama Geya?" selidiknya lagi dengan tangan yang sudah bersedekap di atas meja dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
Ia masih menunggu jawaban dari Bagas, namun Bagas lebih memilih diam seribu bahasa,berarti itu tanda benar adanya.
"Come on! (Ayolah !).. Kita sama-sama laki-laki dewasa, cerita aja Gas. Aku nggak akan mukulin kamu, tapi aku cuma pengen kita ngomong sesama lelaki." ucapnya lagi, sambil bersandar kembali pada kursinya.
"Aku yang nggak bisa nolak ajakan Geya saat itu,aku nggak tau itu cuma nafsu atau apa.." jelas Bagas masih memandangi gelas kopinya dengan isi yang masih sama.
"Bukan cuma nafsu, tapi kamu juga ada rasa sama dia. Kamu ngelakuin pertama kali pas kamu ada masalah sama Ayu?" terang Arya yang saat ini menatap lekat wajah Bagas.
Bagas mendongakkan wajahnya dan membalas tatapan tajamnya. Lalu Bagas mengangguk, membenarkan apa yang Arya katakan.
"Terus sekarang?"
"Aku udah selesain sama Geya, aku tetap pilih Ayu."
"Kamu masih beneran sayang sama Ayu?" pertanyaannya kali ini membuat Bagas mengernyitkan dahinya. Mungkin Bagas bingung pertanyaan macam apa ini.
"Kalau kamu udah nggak sayang sama Ayu, atau rasa sayang kamu ke Ayu sudah berkurang jauh, leave it !" tegas Arya.
"Aku cuma nggak mau kamu nyakitin Ayu lagi nantinya. Jangan pernah jadikan alasan apa yang udah kalian lakukan bersama untuk selalu terikat, karena itu awal hubungan yang nggak sehat. Tapi, kalau kamu yakin rasa sayangmu masih ada ya perjuangkan! Entah bagaimanapun caranya? Tapi asal kamu tahu aja Gas, itu nggak mudah, itu mungkin saja bisa jadi trauma buat Ayu."
"Bagaimanapun caranya, sesulit apapun caranya, dan apapun hasilnya. Kalau kamu beneran sayang sama Ayu, tunggu dia sampai dia benar-benar nerima kamu lagi tanpa terpaksa. Ayu cewek baik, dia kuat, dia cuma butuh waktu." tegasnya sambil tersenyum.
Bagas hanya mampu mengangguk dan tersenyum.
"Makasih Ya'.." hanya itu yang mampu Bagas ucapkan, ia merasa sangat beruntung sahabat-sahabat cowok Ayu adalah orang yang gampang diajak berbicara, bukan adu otot.
"Everybody has a mistake, kamu nggak pernah kasar ke Ayu, itu yang masih aku bisa terima ajakan kamu ngobrol. Tapi sorry juga, aku harus ngajak Ayu lihat semua ini, biar dia bisa tahu kamu seperti apa selama ini. Nggak adil buat dia, kalau dia nggak tahu yang sebenarnya terjadi." jelas Arya tegas.
"Iya, aku ngerti kok. Aku juga bakal ngelakuin hal yang sama kalau aku jadi kamu." jawab Bagas menerima semua apa yang telah terjadi.
................
Ceklek..Dugg...
Suara pintu kamar telah dibuka dan tertutup kembali, pertanda Arya sudah kembali. Wangi khas tubuh kekasihnya sudah menyeruak seisi kamar dan menusuk hidungnya.
Clara menyandarkan dirinya di hardboard ranjang dari tadi, sambil menunggu kedatangannya.
"Gimana yang? Nggak adu jotos kan?" tanya Clara antusias saat melihat kekasihnya masuk ke kamar masih dengan ketampanannya yang tidak berkurang satu persen pun.
"Bagas bukan mantan kamu si Robi itu, kalau dia yang ngajak aku ngobrol, belum sampai resto udah aku tendang mukanya." Arya tampak santai saat berbicara tentang amarahnya terhadap Robi yang masih ia simpan sekarang.
"Aku kan bahasnya Bagas bukan mantan aku.." Wajah Clara langsung berubah masam.
Arya yang menyadari candaannya saat ini salah langsung menghampiri Clara yang bersandar pada headboard ranjang itu.
"Maaf sayang..," ucap Arya sambil duduk di tepi ranjang,lalu membelai pipi kekasihnya itu.
Clara tersenyum lebar, "It's okay! Terus tadi gimana?"
"Yaudah aku cuma dengarin Bagas, terus kasih tahu dia, kalau dia udah nggak sayang Ayu lagi ya leave it ! (tinggalkan !)"
Seketika mata Clara melotot ke arahnya.
"Kamu bilang gitu?!"
"Ya emang harus gimana lagi? Semua hubungan kan cuma ada dua pilihan stay or leave it!"
"Ya tapi, kita kan nggak tahu Ayu gimana?" ucap Clara pelan sambil menggenggam tangan Arya.
"Yang, hubungan itu antara dua orang, bukan satu orang. Kalau salah satu udah nggak ada rasa sayang lagi, kenapa yang satunya harus tetap selalu berpegang? Tapi kalau Bagas masih mau bertahan, ya perjuangkan, walaupun aku yakin itu tidak mudah." balasnya dengan menggenggam balik tangan Clara.
"Besok pas kita pulang, aku mau ngajak ngobrol Ayu, ini juga bagian dari tanggungjawabku karena aku juga ikut berperan. Tapi semua keputusan tetap ada pada mereka. Aku cuma mau ngomong pakai logika dan realistis aja, karena hubungan mereka juga udah menuju ke pernikahan. Pernikahan itu bukan permainan."
"But everyone can make a mistake. (Tapi setiap orang dapat membuat sebuah kesalahan.)" ucapnya sambil tersenyum.
Clara mengangguk dan tersenyum manis pada kekasihnya yang tampak tampan saat ini.
"Ayoo..jadi kerja nggak? Cari uang buat bangun rumah katanya, soalny pasti selera Nyonya Ararya itu tinggi. Kalau aku nggak punya dana, bisa nggak dapat jatah aku.." gumam Arya sambil melirik menggoda ke arah Clara.
"Ngomong gitu lagi, aku kuncir mulut kamu!" sahut Clara sinis, sambil mengacungkan kuncir rambutnya di depan wajah Arya.
"Aku maunya kuncirnya pakai ini aja!" goda Arya sambil menyentuh bibir Clara dengan jari telunjuknya.
Namun yang dilakukan Clara justru membuat Arya terdiam seketika. Clara langsung melompat ke arahnya, mengalungkan tangan ke leher Arya dan mengunci bibir Arya dengan bibirnya.
Ciuman itu tidak terlalu lama, namun cukup membuat suhu pendingin di kamar itu seperti tidak bekerja secara optimal.
Clara dengan muka tanpa berdosa, langsung berdiri meninggalkan Arya dengan bibir yang masih menganga, karena Clara menyudahinya begitu saja.
Arya terpaku dengan apa yang kekasihnya lakukan barusan. Dirinya tersenyum penuh arti, sedikit tertawa kecil, sambil menatap hardboard yang ada di hadapannya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, pikirannya melayang entah ke mana.
Arya beranjak dari ranjang itu dan berjalan melewati Clara yang masih memakai jam tangannya, sambil sedikit berteriak.
"Ohh gitu caranya, okee..let us shake this night baby! We're getting naked tonight ! (mari kita goncang malam ini sayang! Kita telanjang malam ini !)"
Deg...
Clara langsung menghentikan gerakannya. Jantungnya saat ini sudah benar-benar tidak berada di tempatnya, setelah mendengar kalimat vulgar yang lolos begitu saja tanpa filter dari mulut kekasihnya itu.
Arya yang sudah berdiri di depan pintu kamar untuk keluar, menatap Clara dan mengulum senyumnya. Ia sangat paham, pasti kekasihnya sudah kalang kabut sekarang. Namun justru ia sangat menikmati pemandangan itu.
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜