Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15: Court
Ruangan sidang keluarga inti kerajaan itu terasa dingin dan menyesakkan. Di ujung ruangan, di atas dua singgasana besar berhias emas dan beludru merah, duduk Raja Julius dan Ratu Mirelle.
Wajah Raja tampak serius dan kaku, sementara Ratu Mirelle memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat, sesekali mengusap sudut matanya dengan sapu tangan renda.
Di lantai bawah, tepat di sisi kiri, Elarise berdiri bersandar erat pada lengan Cornelius, wajahnya pucat dan matanya merah sembab seolah habis menangis berjam-jam. Cornelius sendiri berdiri tegap, rahangnya mengeras, menatap tajam ke arah tengah ruangan tempat Amorette berdiri sendirian dengan tenang.
Amorette berdiri tegak, gaun biru mudanya bergerak lembut saat ia sedikit menggeser kaki. Ia tidak merasa takut sama sekali. Ia sudah menduga pertemuan ini akan terjadi—hasil laporan Cornelius yang marah dan cerita berbalut dusta dari Elarise. Namun, ia juga sudah siap dengan segala bukti dan fakta yang jauh lebih kuat daripada sekadar drama air mata.
Suara berat Raja Julius memecah keheningan ruangan.
"Persidangan keluarga ini dibuka untuk membahas kejadian yang terjadi di kediaman Duchess Coral kemarin sore," ucap Raja Julius tegas, matanya menatap lurus ke arah Amorette. "Amorette... jawab aku dengan jujur. Apakah benar kau telah menindas, menghina, dan mempermalukan Elarise di depan para tamu? Apakah kau benar-benar berniat membuat adikmu ini menderita?"
Di sampingnya, Ratu Mirelle mendengus pelan namun cukup terdengar, lalu berbisik pelan kepada suaminya. "Lihatlah, Baginda... dia berdiri begitu tenang, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Tanda bahwa dia tidak sadar telah berbuat salah pada adiknya sendiri."
Elarise semakin mempererat pelukannya pada lengan Cornelius, lalu terisik pelan. "Ayahanda... Ibundanda... aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya sedih... kenapa Kak Amorette selalu saja begitu membenciku? Padahal aku tidak pernah berniat buruk padanya..."
Cornelius menatap Amorette dengan pandangan penuh kebencian. "Lihatlah apa yang kau lakukan! Kau membuat Elarise menangis sepanjang jalan pulang! Kau benar-benar kejam, Amorette!"
Amorette menarik napas panjang, lalu membungkuk hormat singkat kepada Raja dan Ratu. Ia tidak terpancing emosi oleh kata-kata kakaknya atau drama Elarise. Suaranya jernih, tenang, dan terdengar tulus saat ia mulai berbicara.
"Ayahanda, Ibunda... aku akan menjawab semuanya sejujur-jujurnya, dari awal hingga akhir, tanpa ada yang ditambah atau dikurangi. Biarlah kebenaran yang berbicara."
Ia mulai menceritakan kejadian demi kejadian. Ia bercerita bagaimana suasana pesta teh berlangsung, bagaimana para tamu menyambutnya, hingga tiba saatnya serangan dimulai.
"Setelah aku duduk, beberapa wanita bangsawan mulai mengajukan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sopan, namun isinya mengungkit masa lalu burukku, menuduhku pernah menyakiti Elarise, dan meragukan perubahanku. Di saat itu, Elarise duduk diam, menundukkan wajahnya seolah apa yang mereka katakan itu benar dan aku memang bersalah besar padanya. Ia tidak sekali pun membela aku atau berkata bahwa aku sudah berubah."
Amorette menoleh sekilas ke arah Elarise yang menegang kaget.
"Kemudian, mereka mulai menuduhku mendekati Pangeran Algernon hanya demi status, dan menyindirku karena dianggap tidak pantas ada di sana. Aku menjawab semua tuduhan itu dengan bijaksana, menjelaskan kedekatanku dengan Pangeran hanyalah hubungan persahabatan dan diskusi politik, serta aku menegaskan bahwa aku menghormati hubungan Elarise dan Pangeran Theodore. Aku tidak sekali pun menghina atau menyakiti Elarise. Aku justru memujinya di depan semua orang sebagai sosok yang sabar yang mengajarkanku arti kebaikan."
"Dan mengenai perdebatan dengan Nyonya Melissa..." lanjut Amorette, matanya kembali menatap Raja Julius. "Wanita itulah yang pertama kali berbicara kasar. Ia merendahkan martabatku sebagai putri kerajaan hanya karena aku tertarik pada pengolahan makanan dan tanaman obat. Ia berkata bahwa bangsawan sejati tidak boleh menyentuh pekerjaan kasar atau masuk ke dapur. Aku hanya menjelaskan kepadanya bahwa pengetahuan itu penting, dan bahwa bangsawan yang hanya tahu bersantai dan tidak berilmu akan mudah jatuh miskin. Itu adalah fakta, Ayahanda, bukan penghinaan."
Setelah Amorette selesai berbicara, ruangan itu kembali hening. Cornelius bersiap untuk membantah dengan keras, mulutnya sudah terbuka hendak mengeluarkan amarahnya, namun tiba-tiba Raja Julius mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar semua orang diam.
Wajah Raja Julius tidak lagi serius seperti tadi. Justru kini terlihat ada kilatan bangga yang tersembunyi di balik tatapannya. Ia menatap Cornelius, lalu ke arah Elarise dan Ratu Mirelle bergantian.
"Kau salah besar, Cornelius. Dan kau juga, Elarise..." suara Raja Julius terdengar berat namun tegas, membuat ketiganya tertegun kaget. "Berita yang kalian dengar dan ceritakan itu hanyalah potongan kecil yang dipelintir maknanya. Apa yang dikatakan Amorette barulah fakta yang sebenarnya terjadi."
Raja Julius berdiri perlahan dari singgasananya, melangkah turun beberapa anak tangga ke bawah mendekati anak-anaknya.
"Sejak kemarin sore hingga pagi ini, aku sudah menerima banyak laporan dari berbagai sumber yang bisa dipercaya, termasuk dari Duchess Coral sendiri. Di seluruh kalangan bangsawan ibu kota, rumor yang beredar bukanlah bahwa Amorette mempermalukan Elarise, melainkan... bahwa Putri Amorette kini dikenal sebagai wanita yang elegan, bijaksana, cerdas, dan sangat rendah hati!"
Ratu Mirelle menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tak percaya. Elarise melepaskan pelukannya dari lengan Cornelius, wajahnya pucat pasi.
"Para wanita bangsawan sangat kagum dengan pengetahuannya yang luas mengenai tanaman obat dan kesehatan," lanjut Raja Julius dengan nada semakin bangga. "Bahkan Marquise Elizabeth—wanita yang sangat berpengaruh dan jarang memuji orang lain—sangat menyukai resep kue dan minuman herbal yang dijelaskan dan dibuatkan contohnya oleh Amorette. Marquise itu bahkan sudah mengedarkan resep itu ke seluruh kenalannya dengan menyebutkan nama Amorette sebagai penciptanya! Hal ini membuat nama baik dan citra keluarga kerajaan kita semakin harum dan dihormati. Kau tahu betapa berharganya hal itu, Cornelius?!"
Di titik itulah, seperti disambar petir di siang bolong, kesadaran menghantam dada Cornelius dengan keras. Ia menoleh perlahan ke arah Elarise. Ia melihat wajah adik tirinya itu yang pucat, bibirnya gemetar, dan matanya yang berusaha menghindari tatapannya.
Semua cerita yang Elarise sampaikan padanya kemarin sore—bahwa Amorette berbuat kasar, bahwa semua orang membenci Amorette, bahwa Elarise dipermalukan habis-habisan—semuanya itu bohong! Semuanya hanyalah rekayasa agar Cornelius marah dan memusuhi Amorette. Elarise tidak menangis karena disakiti, dia menangis karena kalah telak, karena malu, dan karena cemburu melihat kemenangan kakaknya.
Rasa malu yang luar biasa bercampur dengan rasa marah yang mendalam menjalar di sekujur tubuh Cornelius. Ia merasa telah dipermainkan, dijadikan alat oleh gadis yang selama ini ia bela mati-matian.
"Jadi... kau berbohong padaku..." bisik Cornelius pelan, suaranya dingin dan tajam menusuk tulang. "Semua yang kau katakan kemarin... bahwa dia menghinamu, bahwa dia membuatmu menderita... itu semua kebohongan, Elarise?"
Elarise mundur selangkah, matanya berkaca-kaca kembali namun kali ini karena ketakutan. "Ka-Kak Cornelius... aku... aku hanya... aku tidak bermaksud... aku hanya merasa sedih karena semua orang lebih memperhatikan Kak Amorette... aku tidak tahu itu akan dianggap hal baik..."
"Diam!" bentak Cornelius keras, membuat Elarise tersentak mundur hingga hampir jatuh. Ia tidak peduli lagi pada drama air matanya. Ia merasa sangat bodoh.
Raja Julius menatap ketiganya dengan pandangan kecewa, terutama pada Cornelius.
"Persidangan ini sudah cukup jelas. Amorette tidak bersalah atas tuduhan penindasan. Dia justru membawa kehormatan bagi nama keluarga. Oleh karena itu, Amorette dibebaskan sepenuhnya dari segala tuduhan dan tidak akan mendapatkan hukuman apa pun."
Raja kemudian memutar tubuhnya menghadap Cornelius sepenuhnya.
"Sebaliknya, kau, Cornelius. Kau bertindak gegabah, menggunakan kekerasan dengan mendobrak pintu kamar saudara sendiri, dan menuduh tanpa bukti hanya berdasarkan cerita sepihak yang ternyata tidak benar. Kau tidak berpikir, kau tidak mencari tahu fakta, kau hanya bertindak atas dasar kebencian buta dan pengaruh orang lain. Sikap seorang pewaris takhta tidak boleh seperti itu."
Cornelius menunduk dalam, rasa malunya semakin menjadi-jadi. Ia tahu hukuman pasti akan datang.
"Karena kesalahanmu itu, aku menghukummu dikurung di kamar pribadimu selama tujuh hari penuh. Kau tidak boleh keluar sama sekali, tidak boleh menerima tamu, dan hanya boleh bertemu pelayan yang mengantarkan makanan. Selama waktu itu, kau akan merenungi kesalahanmu dan belajar cara mengendalikan emosi serta berpikir sebelum bertindak."
Cornelius mengangguk pasrah, gengsinya hancur lebur. "Baik, Ayahanda... aku terima hukuman ini."
Raja Julius kemudian menatap Elarise dan Ratu Mirelle sekilas, namun memilih untuk tidak menghukum mereka secara terbuka saat ini, meski sorot matanya terlihat dingin dan tidak senang. "Dan untuk kalian berdua... ingatlah baik-baik. Kejadian ini menjadi pelajaran. Jangan sampai ada lagi perselisihan yang tidak perlu yang merusak nama baik kerajaan. Bubarkan sidang ini."
Raja Julius berbalik dan berjalan keluar ruangan, diikuti Ratu Mirelle yang masih tertegun dan belum bisa menerima kenyataan bahwa rencana mereka berbalik menyerang diri sendiri.
Begitu Raja dan Ratu pergi, Elarise berniat mendekati Cornelius untuk meminta maaf, namun Cornelius menatapnya dengan pandangan asing dan penuh kekecewaan yang dalam. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah berat, menuju kamarnya untuk menjalani hukuman, meninggalkan Elarise yang berdiri sendiri gemetar ketakutan.
Amorette masih berdiri di tengah ruangan itu. Ia menatap punggung kakaknya yang menjauh, lalu menatap Elarise yang kini tampak kecil dan rapuh sendirian di sana. Senyum tipis terukir di bibir Amorette. Ia tidak melakukan apa pun, tidak berkata apa pun. Ia hanya berjalan melewati Elarise dengan anggun, kepala terangkat tinggi, meninggalkan adik tirinya itu tenggelam dalam rasa takut dan rasa bersalah yang kini mulai tumbuh.
Saat ia melangkah keluar dari ruangan sidang, Amorette merasa beban berat terangkat dari bahunya. Ia memenangkan pertarungan ini bukan dengan kekuatan fisik atau fitnah, melainkan dengan kebenaran, kecerdasan, dan reputasi yang kini semakin kokoh. Cornelius yang dulu selalu menjadi tameng dan senjata Elarise kini mulai meragukan kebenaran kata-kata gadis itu. Dan itu adalah awal dari kehancuran kekuasaan Ratu Mirelle dan Elarise di istana ini.
Langkah kakinya semakin ringan. Ia sudah tidak lagi menjadi putri yang bisa ditindas sembarangan. Citranya telah berubah, dukungan ayahnya semakin kuat, dan koneksinya dengan bangsawan tinggi semakin luas. Permainan baru saja dimulai, dan Amorette tahu betul... dia kini memegang kendali.