Hai, novel sebelumnya adalah karya terburuk bagi saya. Jadi, ijinkan saya mengubah hampir keseluruhan alurnya. Ada banyak sekali kesalahan dan seharusnya tidak ditulis, maafkanlah saya🙏
Pada saat itu saya seperti anak kecil yang sangat di luar batas, menulis bukan dari jiwa. Saya tidak mengakui dan sungguh menyesal menulis karya tersebut. Mohon kerjasamanya. Jika ada yang hendak mereview, tolong ijinkan saya menyelesaikan dulu🙏🙏
Dunia ini identik dengan cinta, kasih sayang. Tampak terdengar begitu indah. saya pikir semua itu bertahan, rupanya ketika kita berharap akan hal itu. Dunia seakan begitu kejam. No! Bukan dunia yang kejam, karena dasarnya dunia ini memang demikian. Di mana cinta yang tak berdasarkan iman pada Rabb adalah kekecewaan. Sungguh perbedaan yang sangat nyata ketika kedua cinta itu dialami oleh manusia sepertiku.
Leona Rain.
di karya ini, semoga dapat menghapus kesalahan di masa lalu terhadap penulisan Novel ini. Saya masih merancang jadi tolong bersabarl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 0409 Ni Luh Budarwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32-Pengkhianat
Selamat Membaca 🐣
Dari sanalah mereka saling mengenal, hingga akhirnya mereka bekerja di tempat Harry. Terlebih mereka berhutang nyawa pada Harry.
Flashback end
"Kenapa sepertinya ada yang tidak beres, kalau Aku segel kekuatan ini. Aku tidak bisa tahu pergerakan musuh, kalau aku gunakan maka Viana tidak akan memaafkan ku. Terlebih pasti dewa cahaya dapat mengetahui keberadaan ku."
"Kau benar Harry, tapi saat ini tidak ada pilihan. Apa kita bisa percaya pada Brian, entah mengapa justru sekarang Aku malah meragukan dia." Niel belum menjalankan mobil, di lema antara percaya dan tidak. Apalagi ada orang dalam yang di curigai berkhianat.
"Begini saja kau telpon Brian dan katakan Aku sudah menemukan Viana!"
"Maksudnya kita berbohong Her?" tanya Niel yang belum mengerti rencana Harry.
"Kita akan tahu jawabannya, mari kita lihat apa yang akan terjadi!" Harry menyeringai.
Sebelumnya bibi sudah menelpon Harry, bahwa Brian bukannya menyuruh anak buahnya untuk berjaga. Justru di minta kembali ke basecamp, malah Brian mendatangkan orang-orang baru yang tidak pernah di lihat oleh bibi. Selama 28 tahu bekerja bersama keluarga Harry, sudah banyak yang bibi lakukan. Dia berjasa besar dalam kehidupan Harry, mencarikan segel dan menyelamatkan hidup Harry. Bukan hanya sekedar pembantu biasa, dia penyelamat.
Bibi hanya bertindak biasa, seolah dirinya tidak tahu apa-apa. Padahal dia mengamati pergerakan setiap orang rumah, sejak Viana hilang dia tahu kalau ada bahaya besar yang mengintai. Belum terbukti kalau Brian yang berkhianat, tapi dari pergerakannya jelas sudah patut di curigai.
Harry dan Niel kemudian meminta anak buahnya untuk mengecek lokasi dari jarak jauh, untungnya ada Jhon yang hampir sama seperti Brian hanya sifat keduanya yang berbeda. Setidaknya dalam keadaan tegang seperti ini, Jhon masih dapat diandalkan. Duar, suara tembakan tiba-tiba berbunyi di sekitar tempat mereka berada.
"Sial, ini jebakan. Ayo cepat kita pergi!" Harry dan anak buahnya bergegas pergi dari tempat itu. Untung saja tidak ada korban jiwa, tapi sangat di sayangkan kalau Viana belum bisa di temukan.
"Kemana kita sekarang?" tanya Niel.
"Entahlah, kenapa Aku jadi tidak berdaya seperti ini." Harry mengacak rambutnya saking kesal dengan situasi rumit ini.
"Ck, sejak kapan seorang CEO seperti mu seperti ini?" tanya Niel yang coba membangkitkan semangat Harry kembali.
"Kau benar Niel, aku CEO terhormat dan terhebat. Tidak seharusnya Aku menyerah seperti ini, pasti akan aku habisi laki-laki yang coba merebut Viana dari ku."
______*****_____
Di mansion
Ting, suara notifikasi handphone Brian berbunyi. Sebenarnya Brian malas untuk membuka pesan dari Niel, yang menurut dirinya Niel adalah saingannya. Tapi demi menjalankan rencana busuknya, Brian pun membuka pesan tersebut dan terpaku saat membacanya antara percaya dan tidak.
[Brian, kami sudah menemukan Viana. Dan sekarang kami menuju ke Polandia untuk mengamankan Viana. Harry sudah pergi ke kota F seorang diri, kami ada di kota C untuk menuju kota F. Kau jagalah dulu mansion sampai keadaan aman!]
[Okay Niel]
Hanya jawaban singkat dari Brian, tanpa memikirkan apapun Brian meminta anak buahnya untuk pergi ke kota C, tujuannya untuk menyingkirkan Niel lalu setelahnya barulah Harry. Brian bermain dengan sangat cantik, sayangnya busuknya sudah tercium oleh Harry dan anak buahnya. Brian yang tidak tahu rencana yang sebenarnya di buat untuk menjebaknya mengambil senjata api.
"Bibi," panggil Brian.
"Iya tuan, apa ada yang tuan perlukan?" tanya bibi menunduk seperti biasanya.
Brian tersenyum, ternyata menurut Brian bibi tidak tahu apa-apa. Brian kemudian meminta bibi untuk tetap tinggal di mansion, dia beralasan ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa di tunda. Bibi hanya mengiyakan, karena memang ini tujuannya. Harry selalu berkabar pada bibi atas rencananya, begitu juga dengan bibi. Di mansion itu hanya bibi yang bisa di percayai oleh Harry.
Brian mengendarai mobilnya untuk menuju kota C, tempat yang di tujukan oleh Niel. Anak buahnya juga ikut, mereka memesan hotel untuk mengintai Niel dan anak buahnya. Keberadaan Brian sudah di ketahui oleh Niel, semut sudah keluar dari lubangnya. Ibarat itu sangat cocok di tujukan untuk Brian, tapi Niel tidak mau tergesa-gesa. Niel akan mengikuti setiap alur permainan dari Brian, terlebih mereka belum tahu keberadaan Viana. Tujuan Niel dan Harry adalah untuk menjebak Brian, dengan di dapatkan Brian maka hal itu akan mempermudah rencana mereka untuk menemukan dalang di balik menghilangnya Viana.
Nielsen datang sendiri ke hotel tempat Brian menginap. Sesuai dengan permintaan Brian, pintu terbuka untuk Niel. Brian mempersilahkannya masuk dan menyediakan anggur untuk Niel. Niel tampak santai minum anggur tersebutlah, beberapa saat mereka mengobrol.
"Apa Viana baik-baik saja?" tanya Brian sedikit berbasa-basi.
"Dia baik-baik saja, tapi dia pingsan sebelum mengatakan pengkhianat yang menusuk Harry dari belakang."
Uhuk-uhuk, setelah mendengar pernyataan itu Brian batuk. Padahal Brian tidak minum anggur atau minum air, melihat itu semakin membuat Niel tersenyum miring dengan tatapan horor. Brian beranjak menuju mejanya untuk mengambil air, di saat bersamaan Brian juga mengambil senjatanya untuk menghabisi Nielsen.
"Niel, apa kau tahu siapa pengkhianatnya?" tanya Brian mendekat, sembari menyembunyikan senjatanya.
"Tidak, Aku tidak tahu. Tapi sepertinya kau tahu," ucap Niel, pandangan mereka pun bertemu bersamaan dengan bara api di mata keduanya.
"Apa maksudmu?"
"Apa aku salah bicara? kalau begitu maaf, oh kau bilang ingin mengatakan sesuatu kan?"
"Niel, Aku sangat menghargai Harry dan Aku juga sangat menghargai perusahaan kita. Tapi yang Aku sesalkan, kenapa Harry lebih dekat dengan mu sebagai sahabat dan kenapa Margaretha lebih memilih mu?"
"Apa maksudmu Brian? Harry tidak pernah membedakan Aku dan kau, dia menganggap kita sebagai saudara dan tentang Margaretha ya Aku memang menyukai dia. Bukan berarti Margaretha juga menyukai ku, kalaupun dia menyiakan orang lain Aku ikhlas. Sebuah rasa tak bisa di paksa, jika kau menyukai dia Aku tak masalah. Lagi pula belum ada ikatan di antara kami." Niel bicara panjang lebar, tapi Brian menodongkan pistol padanya.
"Aku sangat membenci mu Niel, bagimu rasa tak bisa di paksa. Tapi bagiku, rasa ada karena biasa. Jadi Aku minta, jatuhi Margaretha!"
"Brian, apa kau-"
"Iya, Aku yang membantu Tomi untuk menculik Viana. Tomi memiliki nasib sama seperti ku, dia kehilangan Viana karena Harry."
Duar, lampu di kamar Brian meledak secara tiba-tiba sebelum Brian menarik pelatuk pistol. Keamanan di hotel dan beberapa pengunjung pun datang ke kamar Brian dengan membawa senter. Mereka tidak menemukan siapapun di sana, sedangkan anak buah Brian yang tidak tahu akan pertemuan Brian dan Niel pun menuju tempat Tomi. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
_____*****_____
"Lepaskan tangan ku dan singkirkan penutup mata ini!"
"Ayolah Brian, kau pikir siapa dirimu?"
"Kau-"
"Kenapa Brian? oh tidak Aku ulangi, kenapa pengkhianat? kau terkejut mendengar suara ku? ku pikir kau tak mengenali suara ku." Harry duduk di depan Brian dengan menahan rasa amarahnya.
"Harry, bagus kalau kau sudah tahu. Aku yang mengkhianati mu, Aku yang membantu Tomi. Kau mau mem**h ku? silakan! anak buah ku pasti sudah memberitahu Tomi." Brian tertawa seperti orang gila.
"Bagus, memang itu yang Aku ingin kan. Dengan begitu Aku bisa langsung menghabisinya," jawab Harry santai dengan seringainya.
"Percuma, Tomi sudah berhasil meniduri Viana. Apa kau bisa menerima itu?"
"Sepertinya kau sangat yakin, apa kau sendiri yang melihat itu?" tanya Harry balik dengan tersenyum.
"Tentu saja," jawab Brian dengan emosi, karena Brian kira Harry tidak terpancing oleh kata-katanya.
"Jon, Cute!" Harry ternyata tidak sendiri.
"Apa-apaan ini?!"
"Brian..Brian kau ini bodoh apa goblok sih?"
"...." Brian diam tak menjawab, masih dengan tangan terikat dan mata yang di tutupi kain.
"Jika Tomi ingin meniduri Viana, tentu saja dia tidak akan membiarkan orang lain melihatnya. Terkecuali kalau kalian hanya bersandiwara dan Aku sangat yakin Tomi tidak pernah meniduri Viana. Kau pikir Aku bodoh dengan kau mengirim photo Viana. Dan Aku tidak sebodoh dirimu!" Harry menendang Brian dan memukuli dia.
Bersambung 🌻