Warning 18+++
Yang belum cukup umur skip dulu ya.
Kendra tertarik pada Alyssa karena terpikat dengan bibir Lisa yang tak sengaja bertabrakan dengan bibirnya.
Ken melakukan segala cara agar Lisa jatuh ke pelukannya. Meskipun dengan cara kotornya, membeli Lisa dari ibu tirinya.
Rosa menjual Lisa, anak tirinya kepada Ken seorang CEO muda tampan yang menguasai perekonomian di negeri ini.
Lisa akhirnya harus menikah dengan Ken dan menandatangani sebuah kontrak yang sebenarnya itu hanyalah kontrak agar Lisa tidak bisa pergi dari Ken.
Akankah Lisa bahagia dengan pernikahan ini ? Atau malah justru membenci Ken. Yuk simak kisahnya. . .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _belummandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Hari-hari berlalu, Lisa sudah membiasakan dirinya kepada Jony meskipun ada rasa sedikit kecewa, rindu dan marah. Lisa masih berperang dingin kepada Jony, tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua selain hal penting.
Sudah beberapa hari ini Lisa juga jarang berinteraksi langsung dengan Ken. Sebab Ken sedang sibuk dengan pekerjaannya, sering pulang larut saat Lisa sudah terlelap. Bukan karena pergi atau berkencan dengan perempuan-perempuan bayarannya melainkan karena sedang ada proyek besar yang mengharuskan dirinya bekerja dengan extra.
Tiga hari ini kebetulan sekali Ken harus pergi ke luar kota untuk meninjau proyeknya yang lain. Lisa kali ini terbebas dari sofa nyamannya, sebab Ken berpesan agar Lisa menempati ranjangnya selama ia tinggal pergi. Bukan suatu masalah, sebab kapan lagi Lisa bisa menikmati fasilitas tersebut dan ditambah lagi hidupnya cukup tenang tanpa gangguan dari Ken.
Hari-harinya ia nikmati. Seperti hari ini, dia menuruni anak tangga dengan wajah yang berbinar. Bibirnya tak henti memberikan senyuman kepada seluruh penghuni mansion tersebut. Meskipun ada daya tarik sendiri dari senyumnya, tak ada satupun pengawal ataupun pelayan yang berani menatap Lisa lama-lama. Bagi mereka itu adalah sebuah malapetaka besar apabila mereka nekat melakukannya.
Sarapan sudah tersedia, di meja makan yang besar dia duduk hanya sendirian. Rasanya sepi, meskipun biasanya ia, Ken dan Zae sarapan dengan saling diam tapi tanpa ia sadari ia merindukan akan moment tersebut.
Dia melirik pada para pelayan, tak satupun yang berani menatap. Mereka semua menundukkan kepalanya, termasuk kepala pelayan paman Li dan juga istrinya, bi Nar. Lisa masih menatap mereka, begitupun dengan Jony. Ia sesekali melirik, namun ia hanya bergeming. Masih berdiri tegap di posisinya yang sampai sekarang.
Tangan Lisa terasa berat untuk meraih makanan tersebut. Ia hanya menatap makanan tersebut, sesekali menghela nafas panjangnya. Makanan enak di depannya sungguh terasa hambar bagi Lisa.
Paman Li menyadari akan sikap Lisa yang tiba-tiba saja berubah segera menegurnya. "Maaf Nona, apakah Nona tidak berkenan dengan makanannya ?"
Lisa menggeleng dan kembali mengunyah sandwichnya, kemudian menelan sandwich dalam mulutnya dengan susah payah. "Apa paman kalian mau membantuku ?" Tanya Lisa sambil menatap satu persatu pelayan yang berdiri tak jauh darinya.
"Katakan saja Nona. Kami pasti akan dengan senang hati membantu Nona." Balas bi Nar. "Betul Nona," imbuh paman Li.
Wajah yang tadinya lesu, kini beranjak berbinar. Ya begitulah, setelah hampir dua minggu lebih merasakan hangatnya keluarga. Selalu memulai aktivitas dengan sarapan bersama dan mengakhiri aktivitas dengan makan malam bersama membuatnya merindu. Ia merasa mendapatkan keluarga kembali, meskipun ia sebenarnya masih takut dan sebal dengan Ken.
"Duduklah kalian!" Pinta Lisa pada para pelayan yang membuat mereka kebingungan dan saling bertatapan satu sama lain. Lisa menyadari akan sikap mereka yang bingung dan juga takut. Bagaimana tidak, selama ini Ken tidak pernah mengizinkan para pelayan duduk di tempat tersebut dan sekarang Lisa menyuruh mereka duduk didekat Nona-nya. "Apa aku kurang jelas, duduklah kalian. Temani aku makan, aku sungguh tidak sanggup mengunyah dan menelan sarapanku sendirian." Lisa kembali memperjelas ucapannya.
Paman Li dan bi Nar saling bersitatap. Belum tahu apa yang akan mereka lakukan, sementara belum ada instruksi dari Tuan Mudanya. Sebenarnya meskipun Ken sedang berada di luar kota, ia masih tetap memantau keadaan Lisa. Termasuk saat Lisa sedang berada di area mansion. Ken memang memasang di setiap sudut mansionnya yang sudah dilengkapi dengan alat perekam untuk memantau keadaan di sana.
Paman Li mengawasi Nona Mudanya lengkap dengan earphone yang terpasang ditelinganya. Earphone mini yang terpasang di telinganya sudah terhubung langsung dengan Ken yang berada jauh di luar sana.
Sementara Ken yang berada di luar kota, sama seperti halnya dengan mereka sedang menyatap sarapan di restaurant di temani tablet memantau keadaan Lisa. Ia hanya bisa mengerutkan dahinya melihat tingkah istrinya tersebut.
"Apa dia merindukanku," batinnya sambil tersenyum tipis. Senyuman yang tidak diketahui oleh Zae yang duduk berhadapan dengannya.
Ken masih sibuk dengan tabletnya. Sampai dia lupa harus memberikan jawaban kepada paman Li. Paman Li masih mematung dan memberi kode pada Ken dengan mendengus.
"Ikuti saja apa mau Nonamu," ujar Ken dengan wajah datarnya. Paman Li segera mengangguk samar ketika mendengar perintah dari Tuan Muda-nya.
Paman Li segera mengajak para pelayan yang berdiri di dekat Lisa untuk duduk. Menemani Lisa sarapan. Tangan mereka gemetar, sama sekali belum ada yang menyentuh sandwich yang ada di depan mereka. Hanya paman Li dan Bi Nar yang yang sudah memulai.
"Kenapa kalian hanya diam ?" Tegur Lisa. "Ayo makan. Apa kalian mau membuatku terlambat hanya karena aku terlalu lama menunggu kalian makan."
"Baik Nona," jawab ke empat maid yang segera menyusul paman Li dan Bi Nar menyantap sarapan mereka.
Senyum samar membuat Lisa membuat, Ken juga ikut tersenyum. Dia melanjutkan sarapannya, yang tentunya sambil memantau Lisa melalui tabletnya.
"Ah, nikmat sekali rasanya. Dasar si Tuan bertato, bisa-bisanya dia membuat para maid takut." Pikir Lisa.
Mereka semua duduk dengan menyisakan satu bangku di sisi kanan dan kiri Lisa. Ia yang menyadari segera menengok ke belakang, menatap pengawal Jonya yang masih berdiri tegap bergeming.
"Kemarilah kak!" Ajak Lisa. "Ikutlah sarapan bersama kami," pinta Lisa. Ken yang mendengar sebutakn "kak" membuatnya mengerutkan dahinya.
"Kau kenapa ?" Tanya Zae yang dari tadi menyadari setiap perubahan Ken.
"Diamlah!" Tanpa menatap Zae sedikitpun karena matanya masih fokus dengan tablet. "Habiskan makananmu!" Imbuhnya lagi.
"Biarkan saja dia ikut," perintah Ken pada paman Li.
"Tapi Nona.." ketika Jony hendak menolaknya tapi paman Li sudah memotongnya.
"Ikutlah bergabung bersama kami, pengawal Jony!" Potong paman Li. Jony menatap paman Li dengan penuh tanda tanya dan paman Li membalasnya dengan senyuman.
Lisa segara mendorong kursi di sebelah kanannya untuk Jony, perlakuan istimewa tersebut semakin membuat Ken berapi-api. Ken hanya bisa memegang erat sendok yang dipegang tangannya dan meremasnya. Tapi sayang sendok tersebut terlalu tebal, jadi tidak ada sedikitpun perubahan bentuk akibat cengkraman tangan Ken.
Lisa dengan telaten mengambilkan makanan yang untuk Jony. Para maid saling bertatapan, namun enggan berkomentar. Sementara Jony sebenarnya risih dan tidak enak. "Biar saya ambil sendiri Nona," Jony menyudahi Lisa.
"Kau diam saja kak!" Lisa masih melanjutkan mengoleskan selai kacang untuk Jony. "Kau harus makan yang banyak karena kau harus punya tenaga yang extra untuk menjagaku hari ini."
Ken semakin kesal dengan ulah Lisa yang sangat perhatian kepada Jony. Matanya membulat sempurna, sementara wajahnya mulai merah padam. Apalagi Lisa sampai paham betul selai kesukaan Jony.
"Prang...."
Piring dan gelas yang ada di depannya ia banting begitu saja, membuat Zae dan para pengunjung restaurant hotel tersebut kaget.
"Kau kenapa ?" Tanya Zae cemas.
"Urus semuanya. Aku mau kembali ke kamar," Ken segera berlalu dari hadapan Zae.
Paman Li dengan susah payah menelan salivanya. Ia mendengar kegaduhan dari suara earphone mini yang terpasang di telinganya. "Astaga Nona, tolong jangan berulah. Tuan Ken sudah mengamuk karena ulah Nona sekarang." Batin paman Li.
Bi Nar menatap suaminya juga penuh tanda tanya. "Apa ini ?"
Jony tertegun melihat perhatian Lisa yang dari dulu masih sama. Ia juga terlalu terbuai dengan perhatian Lisa, apalagi Lisa masih ingat betul selai kesukaannya. Tanpa di sadari ia menyunggingkan bibirnya hingga membuat lengkungan sempurna. Lisa membalas dengan senyuman terbaiknya dan menyelesaikan sarapan mereka dengan hikmat.
Bersambung.
biasa nya bbrp novel GK pakai visual.