bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIVE(1)
7 tahun kemudian
"kau bajingan kecil licik!"
"dad jangan membuatku tertawa, kau bertengkar dengan anak berumur 5 tahun" devan menatap tidak suka pada bocah menyebalkan di hadapannya. dengan tangan yang melipat di depan dada dan seringaian iblis kecil. darimananya anak ini imut! dia pasti salah! batin devan
"hah.... tidak bisakah kau membuatku tenang sehari saja?" tanya devan menatap tidak suka pada anak itu.
"dad... tidak bisakah kau juga membuat hariku tenang sekali saja?" ujar anak itu membalikkan pertanyaan. sejak kapan daddynya ini adalah orang baik? tidak pernah sama sekali, dan momnya pasti salah menilai orang. anak itu mengangguk pasti dengan pikirannya sendiri.
"kali ini aku akan tidur dengan Karin, dan jangan mengangguku!"tunjuk devan kesal dengan tatapan tajam.
"aku hari ini ingint tidur dengan mom, tidak bisakah kau melihat seberapa rapuhnya diriku sekarang? aku perlu mendapatkan kasih sayang dari mom lebih daripadamu dad...." anak itu tersenyum senang, menampilkan senyumnya meremehkan.
dia tidak pernah dan tidak akan takut pada lelaki yang menjadi ayahnya itu. memperebutkan tidur bersama momnya hampir tiap hari, memang menjadi rutinitas mereka.
"dad, kak al, kalian berdua bertengkar lagi?" devan mengalihkan pandangannya pada sesosok anak kecil berumur 3 tahun yang mengistrupsi mereka. bahkan devan mengangkat salah satu alisnya bingung.... hah, sejak kapan anak itu ada di sana?! keluhnya dalam hati.
"mark, jangan ikut campur dan baca saja buku membosankanmu itu di sudut ruangan" ujar al kesal, di tatapnya sang adik dengan tatapan dingin. begitu juga dengan devan menyetujui.
mark, yang mendapat tatapan ketidak sukaan dari 2 orang abnormal di depannya ini hanya bisa mengangkat bahu tak acuh. "aku tidak akan pernah ikut campur dengan permainan konyol kalian berdua" katanya sembari melangkahkan kaki kaki kecil itu menuju sudut ruangan yang terdapat kursi sofa dengan sandaran memanjang.
"bagus.... sekarang bagaimana kita menentukannya?!"
"seperti biasanya dan kali ini aku akan menang!" ujar al menyanggupinya.
mark yang mendengar penuturan itu hanya bisa menghela nafas lelah, kapan daddy dan kakaknya itu akan dewasa?
aldian antonio, anak berumur 5 tahun, lahir dengan paras yang sebelas dua belas dengan devan. dan dia adalah anak pertama hasil dari pernikahan devan dengan karin. tak bisa dipungkiri jika ketampanan mereka hampir sama bahkan bisa di bilang jika aldian sendiri adalah kembaran devan yang sudah lama hilang, ketika foto devan wakru kecil di sandingkan dengan wajah al yang sekarang.
bukan hanya paras, al juga mewarisi hampir dari keseluruhan sifat devan. mulai dari keras kepalanya, hobby, bahkan kesukaan serta tidak sukanya. semua itu ada dalam diri aldian. jadi ketika dua orang itu berebut sesuatu hal yang sama dan harus dimiliki oleh satu orang saja, maka perseteruan diantara dua orang iru tidak dapat dihindari.
termasuk untuk saat ini ketika mereka berdua sama-sama memperebutkan perhatian karin. devan yang tidak bisa tidur tanpa karin di sisinya membuatnya berebut perhatian dengan sang anak sulung yang masih mau berlama lama dengan momnya, karena sering kali sang ayah memonopoli wanita yabg melahirkannya itu.
Mark yang duduk di kursi sudut ruangan menghela nafas lelah ketika melihat 2 orang beda usia itu keluar dari ruangan itu. Ditatapnya lagi buku yang sedang ia baca dan dengan perlahan di balik halaman buku itu.
Mark antonio, anak kedua yang dilahirkan karin. Sebagai anak bungsu di keluarga itu, mark termasuk orang waras diantara ayah dan saudaranya. Sifat dingin dan di penuhi aura percaya diri yang tinggi-membuatnya berbeda dari karin devan dan al. Pria kecil itu pendiam dan tak banyak bicara. Tidak sama seperti al, dia lebih suka menyembunyikan apa yang dia mau.
Tapi tidak ada yang tahu sisi aneh dari mark. Bahkan karin sekalipun, dia menganggap anaknya yang satu itu sama seperti anak kebanyakkan, walaupun berbeda dari al.
Tapi, sebagai ayahnya devan tahu sifat asli mark yang sebenarnya. Antara mark dan al, dua anaknya itu sama sama memiliki sisi lain yang di sembunyikannya dari sang ibu.
“Seharusnya dia membawa pulang potongan jari itu, benar-benar bodoh” gumam mark sembari membalik lagi bukunya. Buku kesukaan yang selalu tersedia di ruang bawah tanah sang ayah.
Mark menguap bosan, di tatapnya lagi buku tersebut. Sudah sepulu kali dia membacanya, dan baru sekarang ia bosan, di tutupnya buku tersebut. Tubuh kecil anak berumur 3 tahun itu mulai turun dari kursi kecil yang ia duduki.
Kaki kecilnya mulai melangkah keluar dari ruangan tersebut. “mark, kamu lihat daddymu?”
Suara lembut seorang wanita menginstrupsinya dari belakang. Mark kecil berhenti berjalan dan diliriknya wanita tersebut yang ternyata adalah momnya.
“kak al bilang jika dia akan bertanding dengan daddy lagi” ucap al drngan tenang sembari menyembunyikan buku yang ia bawa di balik badannya. Mom tidak boleh tahu-bartinnya.
Karin yang mendengar itupun menaikkan alis sebelah, “mom benar benar tidak mengerti kemana mereka bermain?” kata karin bingung. Dia sudah pernah menanyakan hal itu pada devan, namun pria itu malah mengelak bahwa pertandingan yang selalu ia lakukan dengan al adalah semacam permainan. Dan karin tidak pernah tahu permainan macam apa itu?
Karena bingung, katin kembali melihat mark di depannya. Tingkah lucu anaknya yang seolah menyembunyikan sesuatu di balik tubuh kecil itu membuat karin sedikit tertawa. Mereka tumbuh dengan cepat-gumamnya dalam hati.
“baiklah.... Kalau begitu bagaimana kalau kita saja yang bermain bersama?” ujar karin sembari berlutut menyesuaikan tinggi dengan anaknya. Diulurkannya kedua tanganya mengelus lembut pipi tembem mark.
“mom! Aku bukan kak al!” katanya protes sembari menolak usapan lembut karin dengan gelengan kepala. Karin yang mendapat penolakkan mark, membuat wajahnya cemberut sedih, hanya mark yang menolaknya seperti ini, kalau devan dan al pasti akan senang dan meminta lebih.
Mark menggigit bibirnya gugup ketika dilihatnya wajah sedih momnya. Tangan kecil mark yang ada di belakang melepas buku yang di sembunyikannya hingga jatuh. Kemudian diulurkannya tangan itu dengan cara yang sama pada pipi karin.
Cup
Dengan cepat mark memberikan kecupan sayang untuk karin, kemudian di tariknya dirinya ke belakang. Bukannya dia benci momnya itu memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi pikiran dewasa mark menolak itu semua. Walaupun masih berumur 3 tahun ia sudah bisa membaca dan bahkan berpikir seperti orang dewasa setelah mengamati setiap hal yang ada di lingkungannya.
Dia pendiam bukan tanpa alasan, tapi dia terlalu banyak berpikir dan mengamati sekitar hingga tidak ada cukup waktu untuk berbicara.
“Ughhh, anak mom yang manis!-“
“Aku akan kembali nanti mom, aku mau mengembalikan buku dad!” teriak mark ketika dia melihat tingkah momnya yang akan memeluknya gemas seperti biasa. Sekali lagi, bukan karena dia tidak suka! Tapi karena dia terlalu malu untuk di perlakukan seperti itu walaupun umur anak itu masih 3 tahun.
Segera saja mark mengambil bukunya dan berlari menjauhi karin menuju ruang kerja daddynya.
Karin yang melihat itu terduduk dan tertawa bahagia. Sifat malu-malu mark yang mirip dengan devan membuatnya ingin selalu menggoda anak keduanya itu.
***
“kau kalah?”
Al menampilkan tatapan kebenciannya pada sang ayah yang terlihat bahagia mengejeknya. Mark yang melihat ekspresi al yang marah berhenti bertanya dan kembali memutar pandangannya pada lelaki besar di depan mereka.
Devan menampilkan senyum remehnya sembari menyeka darah yang mengenai hidung mancungnya. “kau butuh waktu seratus tahun agar menang dariku”
“Berhenti mengejekku!”
“Kenapa kau marah? Kalau begitu menang lah dariku”
“Dad sudahlah, kak al masih kecil, dan tidak seharusnya kau mengajarkan permainan ini pada anakmu” ujar mark sembari berjalan menghampiri sesuatu yang ada di kaki ayahnya. Tubuh kecilnya berjongkok dan di amatinya lamat lamat benda itu.
“Kalian memainkan sesuatu yang aneh lagi?”
“Jangan berlagak kau tidak menyukainya mark”
Devan menatap tajam pada mark yang berada dekat dengan kakinya tubuh kecil dan lemah itu sedang mengamati hasil dari permainannya.
“Dad! Besok aku pasti akan menang!”
“kita tidak bisa bertanding besok, stoknya sudah habis” ujar devan santai sembari melangkah mendekati al.
“Mungkin 2 minggu lagi”
“kenapa lama sekali! Apa kau sudah tidak sanggup mencarinya!”
“Ck dasar kau ini! Mencari tubuh yang utuh itu tidak semudah yang kau kira, kadang harus ada lecet, dan itu pasti tidak akan adil jika kita bertanding dengan benda yang rusak!”
“Hah, kau benar benar lemah dad!” kata al mengakhiri pembicaraannya. Dia kesal setengah mati dalam permainan kali ini, seharusnya di sudah biaa dan mampu menang dari sang ayah namun, kembali seperti kata mark dia masih berumur 5 tahun.
Al melangkahkan kakinya menuju mark mengabaikan devan yang kesal karena anak sulungnya itu-sifat kurang ajarnya sebelas dua belas dengannya. Apa ini karma?
“Jadi bagaimana menurutmu mark?” tanya al sembari berjongkok di dekat sang adik.
“Permainan dad memang bersih, dad membelahnya dari leher? Bukan dari bagian dada?”
“Kali ini untuk membuat pertandingan adil, kakakmu itu memintaku untuk mengurangi peraturan, tapi karena itu akan membuat mudah baginya, aku tidak mengurangi jumlah poin, tapi menambah jumlah benda yang akan ku keluarkan tapi dengan poin yang sama” terang devan dengan suara tenang menjelaskan. Dan itu membuat kepala al mendidih. Harga dirinya di pertaruhkan di depan sang adik. Dan sekarang malu bercampur kesal sedang bergejolak di dadanya.
Marka yang melihat perubahan ekspresi al yang memerah dan mengerti kondisi sang kakak, berakhir menepuk punggung al, “kakak sudah hebat” katanya dengan wajah datar.
“dad hanya curang di bagian umur,” kata mark melanjutkan.
“Kau salah mark”
“Apa maksud dad?” tanya mark bingung tidak mungkin ia salah dalam menyimpulkan sesuatu.
Devan yang mendengar kebingungan mark yang mulai tertarik. Kembali melangkahkan kaki menuju dua anaknya yang berjongkok. Kemudian kakinya berhenti di depan dua anaknya itu, mendudukkan diri di lantai dingin kemudian menatap horor 2 anak kecil yang sangat di sayangi karin itu.
“aku bahkan melakukannya ketika umurku 5 tahun sama sepertimu al, namun usahaku lebih berat karena harus berburu terlebih dahulu dan ukurnnya 5 kaki tubuhku-“
“kau bercanda dad?” devan menaikkan alisnya ketika nada ketidakpercayaan itu keluar dari mulut mark. Di tariknya kedua bahu tidak peduli apa mark akan percaya atau tidak.
Lirikkan mata devan tertarik pada anaknya yabg satu lagi, al, manusia kecil yang entah kenapa sebelas dua belas wajahnya dengan dirinya ketika kecil dulu.
Kali ini devan bisa melihat dan tersenyum kecut mendapati al yang menunduk, dia sangat tahu bagaimana al yang memiliki harga diri yang tinggi ketika ada yang lebih unggul darinya. Mengingatkan devan akan ambisi dan obsesi yang selama ini menyelubungi dirinya.
Ambisi dan obsesi itu tidak akan terkontrol. Dan akan terus meledak ledak dalam benak dan jiwanya. Sampai ada sesuatu yang mampu mengalihkan perasaan itu. Devan sangat yakin jika suatu saat nanti anaknya pasti bisa mengontrol itu.
“dad....”
“Hmm”
“entah kenapa aku merasa di keluarga kita hanya mom yang normal” devan yang mendengar itu dari mark mengalihkan pandangannya. Entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik perutnya gila.
“HAHAHHAHAAA, KAU BARU MENYADARINYA SEKARANG! ITU LUCU MARK”
Mark berhenti bertanya ketika mendapat reaksi aneh dari devan. Di tundukkannya kepalanya melihat benda berbau amis di bawahnya. Mayat seorang pria berumur 45 tahun, kondisi yang mengenaskan dengan sobekkan dari leher hingga perut.
Usus yang sudah keluar dengan bersih, potongan hati dan empedu, serta tulang rusuk yang sudha rusak parah. Kondisi yang apa bila dilihat dari keseluruhannya, bisa dikatakan dadnya itu sangat menikmati pertandingan kali ini.
“jika mom tahu ini dia pasti akan melaporkan kita semua ke polisi”
“Hmm kau benar-“
“Mom tidak akan melakukan itu!” Devan mengalihkan pandangannya dari mark dan melirk al yang akhirnya mengeluarkan kata.
“mom tidak akan melakukan itu, dia menyayangi kita!” kali ini al menegakkan kepalanya menatap saudaranya dan juga devan dengan tatapan berang. Tidak terima dengan hal yang di diskusikan mark dan devan.
“Kau bodoh, kau takut karin akan melaporkan kita ke polisi di bandingkan dia terluka?”
“Ta-tapi kenapa mom akan terluka? Kita tidak melakukan apapun padanya” kata al protes pada perkataan devan barusan.
“dasar bodoh! Kau lebih suka dia menangis dari pada dia mengkhianati kita?!” kata devan mulai geram melihat ketidak pekaan al akan perasaan karin,
“.... Aku tidak mau melihat mom menangis....” gumam al pelan sembari menundukkan kepala bersalah. Bahkan membayangkan momnya mengeluarkan air mata membuat dadanya sakit tidak terima.
Mark yang mendengar penuturan devan mangut-mangut setuju. Sama seperti mereka berdua dia juga tidak bisa melihat tangis momnya.
“itulah kenapa aku mengatakan pada kalian untuk merahasiakan ini, jika mom kalian tahu, dia akan shokc dan memasukkan kita bukan ke penjara lagi, tapi ke rumah sakit jiwa” kata devan melanjutkan instruksinya, dan di ikuti dengan anggukkan oleh dua anaknya itu.
Dia mengakui jika dirinya tidaklah bisa bertindak seperti orang kebanyakkan, begitu juga dengan anak-anaknya. Pertama al, dia menyadari sifat al yang mirip dengannya ketika 3 bulan yang lalu, kemudian di ikuti sikap mark yang pendiam dan juga aneh.
Begitulah kejadiannya kenapa dia dan 2 anaknya bisa berakhir di sini sekarang.
“Sekarang waktunya mandi dan makan malam, jangan sampai kita membuat mommy kalian itu khawatir dan menunggu” kata devan seraya bangkit dari duduknya. Langkah besarnya di ikuti oleh 2 iblis kecil di belakang.
Tentu saja mereka harus mandi, lumuran darah manusia memenuhi tubuh mereka bertiga, dan yang paling banyak adalah devan. Hampir seluruh kemeja dan celana panjangnya di tutupi oleh darah.
Dan mereka tidak mau membuat wanita berharga itu takut jika nanti mereka hadir dalam keadaan ‘apa adanya’.
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..