NovelToon NovelToon
Mr. Governor

Mr. Governor

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: SheisUgly

Rengganis Jeyang (28 Tahun) yang akrab disapa Ganis ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Pertama swasta favorit di Provinsi Jawa Tengah. Siapa sangka Ganis yang menjadi Guru BP di sekolah swasta tersebut membawanya kepada Ndaru Ayodia. Pria matang berusia 40 tahun, duda 3 anak yang salah satu anaknya adalah murid bandel di Sekolah tempat Ganis mengajar.
Ganis ingin bertemu dengan Ndaru untuk membicarakan masalah kenakalan Abimanyu di Sekolah. Namun kesibukan Ndaru sebagai Kandidat Gubernur Jawa Tengah membuatnya selalu menolak panggilan Ganis.
Hingga akhirnya Ndaru bersedia bertemu di sela-sela safari kampanye nya dan menimbulkan gosip jika Ganis adalah kekasih Ndaru. Elektabilitas Ndaru Dipertanyakan seiring memanasnya situasi menjelang pemilihan Gubernur.

Novel ini adalah hasil imajinasi saya sendiri. Jika ada kesamaan nama tempat itu hanya fiksi. Di novel ini tidak melulu membahas politik karena Ndaru seorang Gubernur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMARANG OLD TOWN.

...Kalau tiba-tiba ada mantan yang nge-chat trus nyesel dan minta balikan gimana?...

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

"Kalau bukan karena Tante Ganis aku ogah ikut !" Nawang mendengkus kesal sembari memasukkan dompet karakter berbentuk kepik ke dalam tas dengan kasar, lalu menarik ritsleting nya dengan cepat hingga bunyinya membuat telinga Abimanyu geli.

"Kamu ngerasa enggak sih kalau omongan Tante Ganis itu bener?" Abimanyu melempar pertanyaan pada adiknya dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Tante Ganis enggak salah, Bunda yang salah !" Nawang duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan kakaknya. Tangannya bersedekap.

"Apa salahnya kita ikut jalan-jalan sama Bunda? Gimanapun juga Bunda ibu kandung kita" Abimanyu membujuk mencoba menasehati adiknya agar sedikit dewasa.

Adiknya hanya mencebik sebagai respons.

"Apa kamu enggak ingat sama sekali kenangan-kenangan waktu dulu kita masih sama-sama?" Abimanyu menarik bahu adiknya untuk di dekap. " Kamu juga bilang sama Mas Abim kan kalau kamu rindu Bunda? Kamu pengen ketemu tapi takut nanya sama Ayah??" Abimanyu meremas pelan bahu sang Adik lalu mengelusnya. Nawang menengadah, matanya memerah. Gadis kecil itu mencoba menahan tangis.

Ingatannya kembali muncul sekelebat saat Nawang berusia 3 tahun, ibunya selalu menyuap makanan padat berupa puree kentang dan zucchini. Dan hanya itu yang Nawang ingat. Sisanya dia tidak tahu pasti. Setahu Nawang, dari kecil hanya Mbok Sum dan Pak Mul yang menemaninya.

"Aku emang rindu sama Bunda. Aku cuma enggak nyangka pertemuan kita malah kayak gini" Anak itu menoleh ke samping dimana kakaknya sedang berusaha menenangkannya.

Ada beberapa anak yang masih malu-malu untuk mengungkapkan perasaan. Terlebih pada orang yang punya hubungan dekat seperti ibu dan anak. Mereka lama tidak bertemu, apalagi Amara meninggalkan mereka saat anak-anak belum mengerti arti perceraian. Dan setelah bercerai, Amara menghilang. Tidak pernah sekalipun menemui anaknya. Biasanya pasangan yang bercerai mempunyai komitmen untuk merawat anak sama-sama walaupun bukan lagi terikat pada pernikahan. Mereka akan berbesar hati, berdamai dengan masa lalu demi anak-anak mereka.

Kini Amara kembali merindukan anak yang dilahirkannya. Buah pernikahannya yang gagal bersama Ndaru. Anak-anak yang kini sudah mengerti mana baik mana buruk jadi canggung tidak tahu berbuat apa.

Dalam hati, mereka pasti senang ibunya kembali tapi apakah semudah itu mereka menerima ibu yang bertahun-tahun pergi tanpa kabar dan menganggap seolah tidak pernah terjadi apa-apa?

Ada rasa yang mengganjal, ada hati yang pernah terluka. Apalagi luka dimasa kecil. Seumur hidup, tak akan mudah dilupakan.

Tante Ganis menasehati dua anak kucing untuk menerima ajakan jalan-jalan ibu kandungnya. Pada awalnya Abimanyu dan Nawang hanya mencibir, tak percaya jika Amara sungguh-sungguh dengan ajakannya. Ganis meyakinkan jika ini adalah kesempatan yang baik.

"Kalian harus ingat dong gimana kalian kangen sama Bunda?" Ganis menatap hangat anaknya satu persatu, menyuruh mereka mengingat - ingat betapa sedihnya ingin bertemu ibu kandung mereka.

Ganis yang duduk di tengah-tengah Nawang dan Abimanyu merentangkan tangan memeluk bahu mereka.

"Bagaimanapun juga, Bunda Amara adalah ibu yang melahirkan kalian. Bunda jauh-jauh dari Paris ke Semarang karena kangen sama anaknya yang imut ini. Jadi kalian harus hormat sama Bunda ya? Enggak boleh membantah, enggak boleh marah-marah. Harus sayang sama Bunda." Kedua Tangan Ganis mengusap bahu anaknya disisi kiri dan kanan.

"Nanti kalau Bunda balik ke Paris, kalian baru nyesel enggak nerima ajakan Bunda..." Ganis membujuk rayu anaknya agar ikut.

"Kita mau jalan-jalan asal Tante Ganis juga ikut" Nawang membuat kesepakatan. Ganis nampak pura-pura berfikir.

"Ok deh, Tante ikut" Ganis tertawa bahagia anaknya mau dibujuk untuk menerima ajakan ibunya.

Sadewa berjalan terhuyung sembari mengucek matanya. Kelihatannya anak itu terbangun dan mencari-cari Ganis.

"Loh, Sadewa kok bangun?" Ganis bangkit dan memeluk Anaknya. Kedua lengan Sadewa melingkar erat di perut ibu tirinya.

"Pasti mimpi buruk tuh " Celetuk Abimanyu asal.

"Dia ngelindur Mas. Lihat, jalannya aja udah kayak zombie" Nawang meledek disertai tawanya. Mereka suka sekali menggoda adiknya.

"Aku pengen tidur sama Tante" Suara Sadewa terdengar parau dengan mata masih mengantuk. Jika sudah begini, Ganis akan menggendong Sadewa untuk menidurkannya di kamar.

Ganis membawa anaknya masuk ke kamar Sadewa. Saat Ganis memutar kenop pintu untuk membukanya, anaknya berbisik.

"Aku maunya tidur di kamar Tante" Ganis urung membuka pintu dan mengelus punggung anaknya. Ganis tidak masalah jika harus tidur dengan Sadewa, tapi Sadewa meminta tidur di kamarnya. Ndaru selalu membiasakan anaknya untuk mandiri. Apa Ayahnya akan mengijinkan?

Persetan sama Ndaru, sekali saja Sadewa tidur di kamar mereka tidak apa-apa. Kalau Ndaru melarang, Ganis bersedia adu mulut membela Sadewa sampai pagi.

"Ok, kita tidur di kamar Tante" Dengan jantung berdetak cepat karena menggendong Sadewa yang mulai berat dan bertambah tinggi Ganis semakin mengeratkan gendongan anaknya agar tak terjatuh.

Ganis membaringkan anaknya di atas ranjang kamarnya. Menutup tubuh anaknya dengan selimut sebatas dada. Ganis mencari-cari remote AC untuk menaikkan suhu agar lebih hangat. Tapi Sadewa malah memanggil-manggil Ganis.

"Tante...." Anak itu sudah dalam posisi duduk. Ganis menghampiri anaknya yang sedang mengucek mata.

"Sadewa enggak bisa bobo?"

"Tante, enggak usah kemana-mana. Jangan tinggalin aku"

🌿🌿🌿🌿

Amara dan Ganis membuat janji untuk bertemu di Kawasan Kota Tua Semarang. Sebenarnya anak-anak ingin ke wahana wisata air atau melihat-lihat peternakan. Tapi Amara memilih tempat ini untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak.

Ganis dengan ragu-ragu mengajak suaminya untuk ikut serta jalan-jalan walaupun sebentar, tapi suaminya menolak. Dia hari ini sibuk karena menerima kunjungan dari Instansi. Wanita itu hanya ingin, anak-anak merasakan keluarga yang utuh. Mereka tidak pernah berkumpul dan ini adalah momen yang pas.

Entah apa latar belakang penolakan suaminya itu. Apa Ndaru Membenci Amara? Atau karena masih cinta jadi Ndaru tidak ingin menemuinya?

Setelah mencari-cari dimana posisi Amara, akhirnya anak-anak bersama ibu tirinya menemukan Amara. Dia tampak santai berdiri mematung.

Setelah mereka mendekati Amara, Ganis baru tahu jika mantan istri Ndaru itu hanya memandangi tembok. Ganis dan Abimanyu saling pandang. Ganis mengode Abimanyu untuk menyapa ibunya yang sedang intens menatap tembok.

Remaja laki-laki itu mengisi paru-paru dengan oksigen sebelum membuka mulut untuk mulai memanggil ibunya.

"Bun" Suaranya tertahan, sedang sang ibu kandung masih tak menyadari kedatangan anaknya. Abimanyu memandang ibu tirinya lagi, apa sudah benar memanggil wanita ini dengan Bunda? Ganis mengangguk meyakinkan anaknya.

"Bunda" Setelah suara yang tercekat di tenggorokan tertahan sebentar, berkat bantuan dorongan dari Ganis, Abimanyu bisa meruntuhkan rasa canggungnya memanggil nama ibu kandungnya dengan sebutan Bunda. Amara yang merasa terpanggil kemudian mengerjap beberapa kali mendengar suara anaknya memanggilnya Bunda. Amara menoleh, ketiga anaknya kompak tersenyum.

"Hai, mon amour !" Dia pun. berseru. Matanya berbinar cerah tak percaya anaknya memanggil namanya dengan sebutan Bunda. Kedua tangan wanita ini di rentangkan untuk memeluk ketiga anaknya.

Anak-anak segera menghambur ke pelukan ibunya. Amara mencium anaknya satu persatu. Matanya merah dan berkaca-kaca. Sadewa yang berada di tengah-tengah dekapan tidak paham kenapa dia malah latah mengikuti kakaknya yang memeluk Bundanya.

Sadewa hanya ingat pesan Ibu tirinya.

"Kalian harus nurut sama Bunda. Kalau ketemu Bunda harus senyum ramah. Tante enggak mau kalian sewot kayak kemarin." Ganis mewanti-wanti anaknya saat berada dalam mobil di perjalanan menuju kota tua.

"Kalian harus jadi anak manis. Ok?"

Abimanyu yang duduk di jok depan membuang muka sebagai respons untuk nasehat ibu tirinya. Nawang yang duduk di jok belakang tersenyum hambar sedang si bungsu asik bermain miniatur Ultraman yang bertarung melawan monster bertanduk lima. Ganis yang fokus menyetir seraya memberi petuah tersenyum senang dan berharap semoga anak-anak menurut dan menerima ibunya kembali.

.

.

.

.

Ganis berjingkrak senang saat dia menemukan jati dirinya kembali. Memakai sepatu kets kesukaannya tanpa khawatir kakinya akan lecet. Long sleeve t-shirt yang menjadi outfitnya dan celana cropped jeans. Ganis selama ini hanya bermimpi kapan bisa menjadi dirinya sendiri?

Dengan leluasa dia berjalan-jalan di areal Kota Tua, memotret bangunan peninggalan Belanda ini untuk melepas rindu dengan hobi fotografinya. Setelah menikah dan menjadi Bu Gubernur, Ganis justru tidak pernah hunting foto lagi.

Seharusnya dia musti lebih banyak berfoto dan menjadikan anak-anak panti asuhan atau anak jalanan sebagai objek fotonya agar jagad maya tahu, istri pejabat ini berjiwa sosial tinggi.

Namun Ganis tidak sampai hati menjadikan anak-anak panti dan jalanan untuk memperoleh popularitas dan pujian dari masyarakat.

Becik ketitik ala ketara ! Suatu saat semua orang juga tahu tanpa harus jeprat jepret sana sini dan mengumbar di Instagram.

"Tante" Bersamaan dengan panggilan Sadewa, Tangan anak itu menarik-narik tas ransel ibu tirinya. Ganis yang masih akan mengcapture sebuah mobil VW Kodok tua mengurungkan kegiatannya. Ganis mengalungkan kamera mirrorless di leher.

"Hei, kamu kenapa?" Ganis mengelus pipi Sadewa yang agak chubby, dahi Ganis mengernyit mendapati anaknya berwajah masam. Tak tampak Nawang dan Abimanyu di sekitar sini. Padahal, Ganis tadi membiarkan anak-anak berkeliling dengan ibunya.

"Sadewa nyari Tante kesini sendiri?" Ganis mendadak panik. Bisa saja anaknya terpisah dari rombongan Bundanya.

Anak itu mengangguk sedih.

"Mana Mbak Nawang, Mas Abim sama Bunda?" Ganis segera menarik tangan anaknya untuk duduk di kursi taman.

"Disana Tante" Anak itu menunjuk bangunan tua peninggalan Belanda yang tinggi menjulang.

"Tadi Sadewa bilang enggak kalau mau nyari Tante?"

"Enggak" Sadewa menunduk, merasa bersalah kali ini. Meninggalkan kedua kakaknya tanpa pamit dan mereka semua pasti sedang khawatir sekarang.

"Kenapa Sadewa tadi enggak bilang sama Mas Abim kalau mau pergi nyari Tante?" Ganis menangkup pipi anaknya panik.

"Mereka semua cuma diam. Bunda lebih suka mengamati bangunan tua daripada bicara sama aku dan Mbak Nawang." Ganis mematung sebentar lalu memeluk anaknya. Alasan polos anaknya membuat hati Ganis iba terhadap Sadewa. Ganis mengira, dengan mereka berjalan-jalan tanpanya, Ibu dan anak yang sudah lama tak bertemu itu menjadi akrab. Tapi Amara justru menyia-nyiakan kesempatan ini dan mengabaikan anaknya.

"Ok, kita cari Mas Abim sama Mbak Nawang ya. Mereka pasti khawatir dikira Sadewa tersesat" Ganis menggandeng anaknya untuk berkeliling mencari Abimanyu dan Nawang yang berjalan-jalan dengan sang Ibu. Sesekali Ganis menanyakan pada anaknya dimana terakhir kali Sadewa berpisah dari rombongan.

Ketika sampai di Semarang Art Tempo Galery yang menampilkan beberapa lukisan, Ganis melihat Amara dan kedua anaknya tampak kebingunan mencari-cari sesuatu.

"Mbak Amara" Ganis yang terengah memanggil Amara dan mata wanita itu menampakkan sorot kelegaan si Bungsu bersama dengan ibu tirinya.

"Aku sama anak-anak daritadi nyari Sadewa" Amara memeluk anaknya, bersyukur anaknya ketemu.

"Maafin aku Mbak, tadi aku di samperin Sadewa di belakang gedung tua."

"Untung kamu enggak nyasar" Abimanyu terlihat kesal.

"Bisa enggak sih enggak nyusahin jadi adek?" Nawang mulai mengomeli adiknya dengan bibir mencebik.

"Ya udah berhubung kita udah kumpul, gimana kalau kita nyari makan. Bunda laper banget nih" Keluh Amara yang terlihat kecapekan berkeliling dan tentu saja Anak-anak juga capek.

"Ide bagus tuh Bunda, ayo kita makan" Ganis menimpali. Wanita itu kadang-kadang memanggil Amara dengan sebutan Bunda terlebih di depan anak-anak. Agar anak-anak terbiasa dengan panggilan itu.

Ganis dan Amara kompak menggiring anaknya masuk ke sebuah cafe retro yang ada di sekitaran Kota Tua. Setelah memesan makanan dan beberapa jus, Amara dan Ganis mengobrol santai.

"Mbak Amara menginap dimana selama di Semarang?" Tanya Ganis membuka obrolan.

"Aku nyewa apartemen di sekitaran sini. Aku tadi riset-riset nyari inspirasi untuk lukisan karya aku selanjutnya sekalian ngajak anak-anak jalan" Dia mengibaskan tangan di sekitar leher, rambutnya yang tergerai membuatnya gerah.

"Sebenarnya aku sih pengen outbond Tan. Mumpung masih liburan semester" Nawang mendadak berkata dengan nada datar dan memandang Ganis.

"Kalian mau outbond?" Ganis melebarkan matanya mengkonfirmasi pernyataan anaknya. Nawang mengangguk.

"Mbak gimana kalau hari minggu besok kita outbond bareng anak-anak? Mbak Amara enggak sibuk kan?"

"Boleh deh, kalau anak-anak suka outbond kita minggu besok harus kesana" Amara tersenyum lebar. Anak-anak menanggapi dingin ajakan Amara. Padahal kan mereka yang meminta outbond?

Pramusaji datang membawa baki berisi jus buah. Pramusaji berikutnya datang membawa main course untuk mereka makan siang.

Ganis hanya terpaku melihat cara Amara memperlakukan sendok dan piring yang akan di gunakan untuk makan. Spray sanitizer di semprotkan ke piring dan mengelapnya dengan tissu. Begitu juga dengan sendok. Setelah semua benar-benar bersih, Amara baru memindah makanannya sedikit ke piring bersihnya.

Anak-anak makan dengan lahap. Mereka sudah tak canggung lagi. Mungkin karena mereka sudah lapar jadi untuk apa jaim.

Mereka berlima makan dalam Diam. Hanya Sadewa yang sesekali meminta Ganis untuk menyuapinya.

Ganis harus memastikan anaknya kenyang dulu setelah itu dia akan makan.

.

.

.

Dengan langkah Lebar, Ndaru mendekat kearah wanita yang kini berjongkok dengan tangan menggapai-gapai saluran yang tertutup teralis besi. Rambut yang tergerai menyapu tanah membuat Ndaru gemas ingin menyibakkan rambut yang selalu beraroma chamomile.

"Kamu ngapain Nis?" Suara lembut milik Ndaru membuat Ganis mendongakkan wajah.

"Lho, Mas Ndaru kok ada disini?" Seingatnya tadi, Ndaru menolak ajakannya untuk jalan-jalan di Kota Tua, tapi kenapa dia sekarang malah ada disini.

"Kamu nyari apa di dalam got?"

Ganis mengeluarkan tangan dari sela-sela teralis besi itu. Tangannya berwarna hitam, kotor dan bau.

"Mas denger enggak ada kucing ngeong-ngeong?" Ganis secara tidak langsung menyuruh suaminya untuk diam dan mendengar suara kucing.

Eongan kucing terdengar. "Iya, aku denger. Emang kenapa?"

"Ada anak kucing jatuh di got dalam sini. Aku mau ngambil tapi tanganku enggak sampai." Ganis menggerakkan tangannya ya g kotor. Ndaru tersenyum mengelus kepala istrinya. Pria itu sedikit membungkuk untuk melihat kedalam saluran air yang kering karena lama tak turun hujan. Hanya menyisakan genangan air di dasar got.

Ndaru menengakkan badan lalu melepas blazer yang dikenakannya. Kemejanya dilipat sampai siku. Udara lembab dan hangat dirasakan Ndaru saat sampai di dasar got. Meraba-raba hingga menemukan benda berbulu halus kecil dan bernapas kembang kempis. Setelah dapat, Ndaru menaikkan tangannya dengan hati-hati agar anak kucing itu muat ketika melewati sela-sela teralis.

Mata Ganis berbinar suaminya bisa menyelamatkan anak kucing yang terjebak dalam got. Dengan hati-hati Ganis meraih dari tangan Ndaru membawanya dalam gendongan. Ndaru dalam hati merasa bangga karena menjadi pahlawan untuk anak kucing dan istrinya setelah ini akan respect kepadanya.

"Kamu kok bisa sih kecebur dalam got sini?" Ganis menimang-nimang anak kucing dalam dekapan. Mata anak kucing berwarna abu-abu ini membuat Ganis terenyuh. Dia pasti lapar, dan kedinginan. Tidak ada induknya di sekitaran Sini. Usianya mungkin masih dua bulan dan dia masih menyusu.

"Mas , nanti anterin aku ke tempat penampungan adopsi kucing ya? Kasian kalau dia di lepas disini." Ganis berinisiatif membawa kucing ini ke tempat penampungan kucing. Berharap anak kucing ini mendapat perawatan. Tidak mungkin Ganis membawa kucing ini di rumah dinas.

"Iya, nanti aku anterin." Ndaru memandang sekeliling.

"Anak-anak mana?"

"Oh, tadi mereka jalan-jalan lagi sama bundanya. Anak-anak udah makan kok Mas." Ganis mengelus anak kucing itu dengan belaian seperti Sadewa

"Kamu kenapa biarin anak-anak sama Bundanya?"

"Ya Mbak Amara kan juga punya hak sama anak-anak Mas." Jawab Ganis mencebik. Ndaru kan sudah menyerahkan keputusan mengenai anak-anak padanya, seharusnya dia tidak protes.

"Lagian kenapa sih Mas Ndaru nyusul kesini?"

"Aku khawatir sama kamu" Mendengar jawaban Ndaru yang terkesan mengada-ada membuat Ganis tergelak.

"Aku enggak apa-apa Mas."

"Aku khawatir Amara akan....."

"Ayah......!" Suara Sadewa memekik memanggil Ayahnya. Abimanyu, Nawang dan Ibu mereka menyusul di belakang Sadewa.

Si bungsu memeluk Ayahnya lalu Ndaru menggendongnya.

Amara untuk pertama kalinya bertemu mantan suaminya setelah perceraian mereka 8 tahun lalu. Ganis sudah siap jika suaminya yang masih menyimpan perasaan pada mantan istrinya mengabaikan hubungan suami istri yang kini mereka sandang.

Pandangan mereka bertemu. Amara tersenyum mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Hai Ndaru, comment vas-tu?" Sapanya dalam bahasa yang pernah mereka gunakan sehari-hari saat hidup berkeluarga di Perancis.

"Hai Amara" Ndaru tak langsung menyodorkan tangannya menyambut jabat tangan Amara.

"Désolé mes mains sont sales"

Ndaru ingat tangannya terjun mengobok-obok Got untuk memgambil anak kucing.

🌿🌿🌿🌿

Note :

comment vas-tu : Apa kabar ?

Désolé mes mains sont sales : maaf tangan ku kotor.

...Good night n see you....

...thanks.....🤗🤗🤗...

1
Bunny³²
astagaa mamaknyaa nih kok lngsung begini.
ga ingat apa pwngalaman suami dia dan mantan mantunyaa duluuu, dan skrng mamak pengen ganis punya lakian model Yudha jugaa
ckckckxck
Bunny³²
wahh ga bener
baru kenal udh main tangan ajaa...
Bunny³²
parahhh
masa 3 tahun pacaran bs ga terdeteksi sihh
Bunny³²
kasihan sekali, ibunyaa kmnaa
Agna
Pumpkin emang bikin gemeeezzzzzz
Agna
mewakili aku ni, aku punya anak tiri 3, cowok semua
Agna
/Drool//Drool//Drool/
Agna
mmmhhh... kayakx Gamis jd penggemar pak Gubernur sejak awal lihat ya ..
knp jg sy baru koment ya, padahal baca kisah ini bertahun² lalu🤭
Agna
sy selalu kangen mba Author, makax sy sering baca ulang
Agna
sy baca berulang2, random🤭
kisah seperti ini sy sukaaaaa banget. ttg keluarga, karir, tp konflikx ga berat
Nara
keren
Agna
kangen baca kisah romansa yg elegan kayak gini, ada rekomendasi novel lain? Ndaru Ganis berulang² sy baca
Sari Alyaa
T.O.P B.G.T👍👍🤩
Ratna Mareliana
baca ke 3 x nya.. kangen ganis sm mas ndaru
May Keisya
ibu ko gitu...ga dapet pelajarankah dr pernikahannya yg dl ancur
May Keisya
kebykn laki2 ky gini klo hbs nikah knp pd berubah jadi siluman... kelakuan asli terlihat ketika sdh menikah
May Keisya
mematikan😭🤣🤣
Renesme
Baguss 👍👍
Sandisalbiah
hah... jauh² pindah ke Amrik gak taunya masih ada satpol pp yg ngerajia kamar.. 🤭🤭🤭🤭🤭
Sandisalbiah
gak ada visual pumkin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!