we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 perdebatan senior
Setelah meninggalkan toko perhiasan itu, pria berjubah abu-abu tidak berani berhenti sedikit pun.
Langkahnya semakin cepat.
Sesekali ia menoleh ke belakang.
Seolah khawatir seseorang sedang mengawasinya.
Jalanan distrik perdagangan Kota Cirebon tampak sunyi.
Sebagian besar toko masih tertutup.
Tidak ada keramaian.
Tidak ada pedagang yang berteriak menawarkan dagangan.
Hanya angin dingin yang berhembus melewati jalan batu.
Namun justru kesunyian itu membuatnya semakin gelisah.
"Terlalu tenang..."
"Seolah tidak terjadi apa-apa."
Padahal beberapa menit yang lalu ia merasa sedang berdiri di hadapan sosok yang tidak bisa dipahaminya.
Sementara itu...
Di toko perhiasan.
Suasana tetap sepi seperti biasa.
Bel pintu tidak berbunyi lagi setelah kepergian pria berjubah abu-abu.
We Lin sedang menghitung stok cincin di belakang meja kasir.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
Di atas meja.
Cermin Mata Dewa tergeletak diam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Di pojok toko.
Tetua Morcant masih tidur nyenyak di sofa tuanya.
Ngorrr...
Suara dengkuran pelan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam toko.
Suasana toko perhiasan tetap tenang.
Tidak ada pelanggan.
Tidak ada suara langkah kaki.
Hanya suara jam dinding yang berdetak perlahan.
"Tik..."
"Tik..."
"Tik..."
We Lin sedang duduk di belakang meja kasir sambil menghitung stok perhiasan.
Di atas meja.
Cermin Mata Dewa masih tergeletak diam.
Sejak diperintahkan untuk diam, artefak itu benar-benar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Bagus."
kata We Lin puas.
"Kalau semua benda seperti ini diam, hidupku pasti lebih tenang."
Tentu saja...
Cermin Mata Dewa tidak berani membantah.
Jauh di markas Organisasi Rasi Bintang.
Suasana jauh berbeda.
Aula utama dipenuhi para tetua.
Wajah mereka terlihat serius.
Di tengah ruangan, gulungan-gulungan kuno terbuka di atas meja batu.
Mereka sedang mencari semua catatan yang berhubungan dengan Mata Dewa.
Namun semakin banyak yang mereka baca...
Semakin sedikit jawaban yang mereka temukan.
Karena sebagian besar catatan telah hilang dimakan waktu.
Salah satu tetua menghela napas.
"Informasinya terlalu sedikit."
Tetua lain mengangguk.
"Yang kita tahu hanya satu."
"Pemilik Mata Dewa memiliki kedudukan tertinggi dalam warisan leluhur organisasi."
Ruangan kembali sunyi.
Tak seorang pun berani meremehkan arti kalimat tersebut.
"Jika semua catatan itu benar..."
"Maka pemilik dari cermin mata dewa itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan kita sebagai Tetua"
"Lapor semuanya."
ucap pria berpakaian abu abu.
Pria itu menarik napas panjang.
Kemudian mulai menceritakan seluruh kejadian di toko perhiasan.
Semakin lama ia berbicara...
Semakin sunyi suasana aula.
Ketika ia selesai menceritakan tentang Cermin Mata Dewa...
Salah satu tetua langsung berdiri.
"Apa kau yakin tidak salah lihat?!"
"Saya yakin, Tetua."
"Seratus persen?"
"Seratus persen."
Ruangan kembali sunyi.
Para tetua saling memandang.
Wajah mereka berubah serius.
Karena mereka tahu apa arti kemunculan artefak tersebut.
Sementara itu...
Pria berjubah abu-abu yang sebelumnya mengunjungi toko masih berdiri di tengah aula.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tetua."
"Hm?"
"Ada satu hal yang belum saya laporkan."
Semua orang langsung menoleh.
Pria itu menelan ludah.
"Di toko itu..."
"Saya melihat seorang lelaki tua sedang tidur di pojok ruangan."
Beberapa tetua mengernyit.
"Lalu?"
"Saya tidak memperhatikannya."
"Kenapa?"
Pria itu menggeleng.
"Saya tidak merasakan apa-apa darinya."
"Mungkin hanya pelanggan biasa."
Mendengar itu, salah satu tetua tua tiba-tiba membuka matanya.
"Bagaimana penampilannya?"
Pria berjubah abu-abu mulai menjelaskan.
Semakin lama ia berbicara...
Ekspresi beberapa tetua berubah aneh.
Salah satu dari mereka bahkan hampir berdiri.
"Tunggu..."
"Itu..."
Tetua lain langsung menatapnya.
"Kau mengenal orang itu?"
Tetua tua tersebut terdiam cukup lama.
Kemudian menghela napas.
"Aku tidak yakin."
"Tapi deskripsinya sangat mirip seseorang."
Ruangan langsung menjadi sunyi.
"Seseorang?"
Tetua tua itu menjawab perlahan.
"Salah satu tetua senior yang menjadi legenda hidup dimasanya."
Mata semua orang membelalak.
"Mustahil."
"Beliau ada di toko tersebut."
"Itu hanya kemungkinan."
Namun tidak ada yang bisa mengabaikan kemungkinan tersebut.
Seorang tetua tua mengelus janggutnya.
"Bagaimana dengan pemuda itu?"
Pria berjubah abu-abu menjawab tanpa ragu.
"Saya tidak bisa melihat kedalamannya."
Kalimat itu langsung membuat beberapa tetua mengernyit.
"Kau tidak bisa melihatnya?"
"Tidak."
"Benar-benar tidak bisa?"
Pria itu mengangguk.
"Saya bahkan tidak merasakan fluktuasi kekuatan sedikit pun."
Mendengar itu, suasana menjadi semakin berat.
Tetua berjanggut putih perlahan menutup mata.
"Tidak bisa dideteksi..."
"Atau memang sudah melampaui kemampuan kau?"
"tunggu Xi Cen kemungkinan terbesar kita pun tidak mampu mendeteksi fluktuasi kekuatan dari pemilik toko tersebut"
jawab salah satu dari tetua
"Benar juga"