Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekamar
Delano dan Canna sudah berada di hotel Gerdenia milik Delano. Derris mengatur kamar yang bakal di tempati oleh para pelayan dan bodyguard. Sedangkan kamar Delano sudah tersedia sejak dulu, yaitu ruangan suite dan juga kantornya di lantai teratas.
"Kenapa aku harus sekamar denganmu!?" tanya Canna kesal. Bagaimana ia tidak kesal, harus sekamar dengan Delano adalah pertanda buruk baginya, yang terakhir dia di lecehkan untuk yang kedua kali.
"Kamu ingin kamar sendiri?"
Cann mengangguk cepat, berharap Delano benar-benar memberikan kamar sendiri baginya.
"Bayar sendiri!" sambung Delano. Wajah Canna seketika langsung masam mendengarnya.
"Dasar pelit! Orang kaya tapi pelit, cuma biaya kamar yang tidak seberapa!" Canna menjerit kesal sambil menghentakkan kakinya. "Aku sekamar dengan Fiore saja!" teriaknya lagi.
Fiore melotot mendengarnya, melirik wajah Delano yang menatapnya dengan penuh peringatan.
"Tidak bisa, Nona. Kami semua pelayan yang ada disini satu kamar. Kamarnya juga kecil," ucapnya beralasan.
"Biarin, asal jangan sekamar dengan Delano saja!" tambahnya kembali menjerit.
"Tetap tidak bisa, Nona. Itu sudah menjadi kewajiban Nona untuk sekamar dengan Tuan Delano."
Canna mendesah dengan wajahnya di tekuk. "Tapi kenapa harus aku yang sekamar dengannya, kenapa tidak Fiore atau pelayan yang lain saja!"
Fiore kembali melotot mendengarnya, begitu juga dengan pelayan yang lainnya. Mereka takut kalau Tuannya akan murka mendengar ocehan istrinya sendiri.
"Kamu adalah pelayan pribadiku, apakah kamu lupa dengan perjanjian yang sudah kamu tandatangani sebelumnya?"
Canna terdiam mendengarnya, tak mampu berucap apapun juga. "Tapi tidak harus sekamar juga, itu terlalu spesial!" gerutunya sambil menunduk kearah lantai. Delano menaikkan sebelah alisnya mendengar gumaman Canna tersebut.
"Seharusnya kalau tau sekamar denganku itu spesial, harusnya kamu senang bukannya menggerutu!"
Delano berjalan melewati Canna bersama Derris. Membuat Canna dan Fiore mengikuti di belakangnya. Mereka menuju kearah kamar mereka masing-masing. Kecuali Delano, ia ingin memeriksa keuangan hotel tersebut. Tapi setelah mengantar Canna ke kamar mereka terlebih dahulu.
"Istirahatlah. Sepertinya kamu masih jetleg!" ucap Delano saat mereka sudah berada didalam kamar.
Canna tampak terpesona, memandang takjub ruangan hotel president suite yang mereka tempati. Begitu besar dan mewah, bahkan kamar mandinya saja hampir seukuran rumah Canna di desa. Matanya berkeliling menatap barang-barang yang ada didalam hotel tersebut. Tiba-tiba matanya menatap kearah ranjang yang hanya ada satu dan sofa kecil yang terletak didekatnya. Kenapa harus sofa singgle, kenapa tidak sofa yang besar?
"Aku harus tidur dimana? Bukankah ranjangnya cuma ada satu?" Canna tampak kebingungan.
"Tidurlah di ranjang tersebut. Aku akan pergi setelah ini. Ada beberapa urusan yang akan aku lakukan!"
Canna mengangguk senang, berharap Delano tidur ditempat lain. Ia mengangguk berulang-ulang.
"Tidak perlu sesenang itu, pekerjaanku tidak memakan waktu lama."
Senyum Canna langsung menciut mendengarnya, wajahnya kembali masam. Apalagi tangan Delano bergerak mengacak rambutnya tanpa ia sempat menghindar.
"Aku pergi dulu!" Delano meraih kepala Canna dengan tiba-tiba dan mencium dahinya tanpa Canna sempat menghindarinya. Gerakannya begitu refleks. Ingin sekali Canna marah padanya tetapi terhalang langkah Delano yang sudah berada diambang pintu. Canna mengumpati Delano didalam hati dengan berbagai umpatan.
Empat orang bodyguard tampak berjaga di depan kamar Canna sesuai perintah Delano. Ia pergi ke lantai teratas, ruangan kantor miliknya.
***
Saat Delano memasuki kamar mereka, Canna sudah dalam keadaan tertidur pulas dengan beberapa cemilan berada di nakas.
"Kenapa tidak dihabiskan cemilannya!" Delano berdecak, memperhatikan tidur Canna. Mulutnya tampak masih belepotan bekas cemilan yang dimakannya.
"Rupanya dia ketiduran sambil makan cemilan. Belum gosok gigi juga, malah tidur!" gerutu Delano memperbaiki letak Canna tidur dan mengusap mulutnya yang belepotan.
Ia segera menuju kearah kamar mandi dan membersihkan badannya, kemudian merebahkan dirinya disamping Canna dan memeluk wanita itu erat. Belum ada beberapa menit, Canna sudah menggeliat kemudian duduk dan berjalan kekamar mandi. Delano tampak menegang melihatnya. Ia segera duduk dan mengikuti wanita itu yang berjalan masih dalam keadaan setengah tidur.
Rupanya Canna sedang buang air kecil, kemudian mencuci mukanya dan menggosok giginya. Ia melakukan semua itu tanpa mengunci pintu kamar mandi sedikitpun sehingga Delano dengan leluasa memperhatikannya.
"Akh! Apa yang kamu lakukan disini!" teriak Canna begitu mendapati wajah Delano yang menatapnya dan bersandar didaun pintu.
"Tentu saja aku sedang memperhatikanmu. Kamu berjalan kekamar mandi dalam keadaan setengah sadar, aku pikir kamu sedang kerasukan setan," sahutnya santai.
"Apa? Kamu memperhatikanku?" Canna memucat, mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya. Pipis? Akh, Delano benar-benar menyebalkan.
"Jangan memerah seperti itu, aku belum sempat melihat kejadiannya tadi," ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Tapi tetap saja kamu tidak sopan!"
"Tidak masalah. Bukankah aku juga pernah memasuki milikmu dan membasahinya dulu!"
Canna langsung berdecak kesal mendengarnya, pura-pura tuli. Ia kembali merebahkan dirinya di atas ranjang tanpa memikirkan lelaki itu dan memejamkan matanya dengan sangat cepat karena kondisinya masih kelelahan.
"Belum 5 menit, dia sudah mendengkur halus!" gumam Delano yang masih memperhatikan Canna. Perlahan ia kembali naik ke atas ranjang dan memeluk Canna dengan erat.
Canna membuka matanya saat merasakan gerakan halus, melirik tangan Delano yang berada tepat di atas dadanya.
"Dasar lelaki sialan, memanfaatkan dalam setiap kesempatan!" gerutunya sambil menghempaskan tangan Delano. Segera duduk dan membuat Delano terkejut.
"Kenapa kamu naik ke atas ranjangku!" Canna melotot berusaha mendorong tubuh Delano.
"Bukannya kamu yang naik ke atas ranjangku?" Delano tersenyum miring sambil menyandarkan dirinya di kepala ranjang.
"Tapi kamu yang meminta. Jadi, kamu tidur ditempat lain saja!" tangan Canna masih berusaha mendorong tubuhnya. Tetapi, yang ada justru tubuh Canna terjatuh tepat di atas tubuh Delano.
"Kenapa? Apakah kamu tidak sabar ingin memelukku!" tangan Delano meraih tubuh Canna dan memeluknya erat. Mendekatkan wajahnya ke wajah Canna. Membuat Canna meronta-ronta keras dengan sedikit ketakutan. Ia masih sedikit trauma dengan kejadian dulu yang menimpanya.
"Lepaskan aku!" teriaknya marah.
Delano terkejut mendengarnya, segera melepaskan Canna yang tampak gemetaran. Menyesal dirinya karena dulu memberikan rasa trauma pada wanita itu.
"Tidurlah. Aku tidak akan melakukan apapun juga. Suamimu ini masih menghargai istrinya."
Deg.
Suami? Canna tampak berdebar mendengar kata suami. Terlebih lagi perutnya, terasa menggelitik. Ada perasaan lain yang belum dimengerti olehnya.
"Baiklah, suamiku!" ucap Canna mengejek sambil meletakkan bantal diantara mereka. Delano sempat tertegun mendengarnya. "Ini batasan antara diriku dan dirimu. Kalau ada yang melewati batasannya, maka besok akan mendapat hukuman sesuai dengan keinginan yang menang."
Delano tersenyum licik mendengarnya, ia yakin kalau dirinya yang akan menang besok.
"Tidak masalah. Asalkan dirimu benar-benar menepati setiap ucapanmu!"
"Aku yang membuat peraturannya maka tentu saja aku menepati ucapanku!" Canna tampak percaya diri. Karena ia yakin kalau dirinya tidak melewati batas yang sudah dibuatnya.
Dengan cepat ia kembali merebahkan badannya dengan membelakangi Delano dan berada di tepi ranjang. Dengkuran halus kembali terdengar, membuat Delano bersorak senang mendengarnya. Ia menunggu hingga 30 menit lamanya. Setelah yakin Canna tertidur dengan pulas. Ia menyingkirkan bantal tersebut. Menggeser tubuh Canna ketempatnya dan kembali meletakkan bantal tersebut seperti semula.
Ia terkekeh sendiri saat membayangkan wajah Canna saat bangun besok pagi.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?