NovelToon NovelToon
My Cold Husband

My Cold Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:824k
Nilai: 5
Nama Author: Dilara

Menikah dengan seseorang yang dicintainya.

Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.

Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.

Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?

###

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Merasa Rendah

Medisya terus saja berguling ke kanan dan kiri. Berulang kali ia mencoba memejamkan mata, namun sampai sekarang ia belum merasakan kantuk sedikitpun.

Itu semua karena otaknya terus memutar kejadian sore tadi. Ketika Alvian meminta sebuah ciuman. Dan dengan bodohnya ia hanya diam mematung. Tidak percaya dengan permintaan Alvian. Sampai akhirnya Alvian yang menarik dagunya dan mengecup bibirnya singkat. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Sampai laki-laki itu kelepasan dan hampir menindihnya di atas ranjang.

Medisya tidak memberikan penolakan. Ia hanya diam dan berusaha percaya dengan apa yang sedang terjadi. Sampai ketika Alvian mulai meraba perutnya, tangan Medisya refleks menampar laki-laki itu. Untung saja Alvian tidak mempermasalahkan sikap Medisya.

Ceklek...

Mata Medisya reflek terpejam saat pintu terbuka. Siapa lagi jika bukan Alvian yang datang. Medisya dapat merasakan langkah kaki Alvian yang mendekatinya. Hingga ia merasakan ranjangnya sedikit bergerak. Dalam hati ia bimbang apakah harus melanjutkan pura-pura tidur atau membuka matanya.

"Medisya sudah tidur, mah," ucap Alvian pada Melinda di telepon.

Laki-laki itu menatap dalam pada wajah polos Medisya. Dengan pelan ia merapikan selimut yang menghangatkan tubuh Medisya meski ia tau bahwa perempuan itu belum tidur.

"Iya, tanpa disuruhpun Vian akan mengajaknya. Sudah ya? Alvian tutup telfonnya."

Medisya dapat mendengar Alvian menghela nafasnya kasar. Sampai kemudian ia merasakan sentuhan tangan Alvian di pipinya.

"Bangun. Aku tau kamu belum tidur," ucap laki-laki itu membuat Medisya mau tidak mau membuka matanya.

Alvian memegang lengan Medisya, membantunya untuk duduk bersandar di kepala ranjang. "Kamu tidak ingin tidur denganku?" Tanya Alvian sontak membuat Medisya tergagap di tempatnya.

Bukan masalah tidak ingin. Karena Medisya sendiri sangat membutuhkan pelukan Alvian saat ini. Tapi ingatannya tentang kejadian tadi membuatnya tertahan di kamarnya sendiri. Ia belum siap menghadapi Alvian.

"A-- aku,,,"

"Kamu masih mengingat ciumanku tadi?" Tanya Alvian frontal.

Medisya mengangguk kecil tanpa menatap Alvian. Kepalanya menunduk dalam. Menghindari tatapan tajam Alvian.

"Kenapa? Bukankah itu hal wajar yang dilakukan oleh suami istri?" Tangan Alvian terangkat. Menahan dagu Medisya agar perempuan itu menatapnya. "Harusnya kamu bersyukur karena aku tidak meminta hakku sebagai suamimu," lanjutnya sarkas.

"Tapi Mas Alvian hampir melakukan itu," balas Medisya sangat pelan.

Alvian menghela nafasnya. Benar. Ia sadar hampir melewati batas tadi. Tapi itu semua karena Medisya yang diam saja ketika ia cium. Alvian pikir Medisya menerimanya. Namun yang ia justru mendapatkan tamparan keras dari istri kecilnya itu.

"Okay, aku yang salah. Jadi sekarang aku minta maaf," ucap Alvian mengalah. Ia mengangkat jari telunjuknya ketika Medisya hendak membuka mulut. Alvian tau Medisya masih ingin mengajaknya berdebat. Tapi ia terlalu malas untuk menanggapinya.

"Besok kita ke pernikahan Clara jam delapan malam. Mamah bilang mau mengajak kamu ke salon siangnya," lanjutnya.

Alvian mengecup keningnya singkat kemudian bangkit dan berkata, "tidurlah."

Mulut Medisya terbuka, ingin mencegah Alvian untuk pergi. Namun ia tidak bisa berkata apapun saat ini. Pernikahan Clara? Itu artinya Medisya akan melihat wajah mantan tunangan suaminya.

Entah kenapa ada ketakutan yang datang di hati Medisya. Ia takut melihat kecantikan Clara yang mungkin dapat membuatnya merasa rendah di hadapan Alvian. Dan Medisya takut,,, Alvian akan kembali jatuh ke dalam pesona Clara.

###

Sesuai perkataan Alvian semalam, Melinda benar-benar datang ke apartemen untuk mengajak Medisya ke salon. Dan di sinilah sekarang Medisya berada. Sebuah salon kecantikan mewah yang katanya merupakan tempat langganan Melinda mempercantik diri.

Saat ini Medisya tengah berendam dengan air susu yang diberi bunga serta pewangi vanila yang sangat menenangkan. Rambutnya yang masih basah setelah di keramas tadi masih terbungkus dengan sebuah handuk kecil.

"Belum selesai?"

Pertanyaan Melinda berhasil mengejutkan Medisya yang sedang memainkan taburan bunga-bunga. Kepala Medisya menggeleng kecil dan bibirnya mengerucut pelan.

"Lama," adunya bosan, "aku ngantuk, mah."

Melinda terkekeh kecil mendengarnya. Menantunya itu sangat lucu dengan kejujurannya. "Tidur aja nggak papa, Sya. Nanti juga dibangunin kalau udah selesai."

"Nggak ah, malu aku-nya," balas Medisya. "Mamah udah lulurannya?" Tanya Medisya menatap Melinda yang sudah mengenakan kimono handuk berlogo salon kecantikan ini.

"Sudah. Tinggal nunggu kamu."

Melinda duduk di tepi wastafel yang tidak jauh dari tempat Medisya berendam.

"Mah," panggil Medisya pelan. "Harus ya, ke sini dulu cuma buat ke pernikahan Clara? Apa aku kurang cantik? Apa Mas Alvian malu buat ajak aku ke sana?"

Medisya bernafas lega setelah berhasil mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sejak semalam bersarang di kepalanya. Netranya melirik Melinda yang malah tertawa kecil.

"Kamu ini pikirannya kemana-mana, Sya. Kita sebagai wanita itu harus rajin merawat tubuh. Buat kesehatan kita sendiri," jelas Melinda. Ia beranjak mendekati Medisya. "Selain itu, kita memang harus selalu tampil cantik di depan suami kita. Memang sih, mereka tidak akan menuntut kecantikan. Tapi apa kita tega membiarkan suami kita di cela teman-temannya hanya karena istrinya tidak pandai merawat tubuh?"

"Mas Alvian nggak pernah tuh mengenalkan aku sama teman-temannya. Cuma Gio sama Satria, mah. Mas Alvian belum mempublikasikan pernikahan kita," ucap Medisya.

"Memang belum, Sya. Tapi mamah yakin cepat atau lambat Alvian pasti mempublikasikannya."

"Kenapa mamah sangat yakin?" Tanya Medisya cepat.

"Karena Alvian anak mamah. Mamah tau betul bagaimana dirinya, Sya," balas Melinda percaya diri.

Medisya tersenyum kecil mendengar penjelasan Melinda. Hatinya yang tadi sempat ragu sekarang kembali yakin. Mungkin benar kata Melinda, cepat atau lambat Alvian akan mempublikasikan hubungannya. Perlahan, Medisya percaya hal itu.

"Nanti malam Alvian juga pastinya memperkenalkan kamu pada teman-temannya, Sya," celetuk Melinda.

Seorang perempuan berseragam masuk ke sana, membuat Medisya mengurungkan niatnya untuk bicara. Perempuan itu mengatakan bahwa Medisya sudah bisa membilas tubuhnya. Setelah itu ia harus melakukan perawatan wajah.

Butuh waktu lebih dari satu jam untuk Medisya mengikuti semua instruksi dari perempuan itu. Sampai kemudian ia merasa tidak percaya ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Sungguh, Medisya merasa dirinya jauh lebih cantik.

"Kamu cantik banget, Sya," ucap Melinda membuat Medisya tersipu malu. "Mamah yakin seratus persen Alvian pasti akan terpana dengan penampilan kamu," bisiknya di telinga Medisya.

"Mamaaah." Kedua tangan Medisya menutupi pipinya yang merona. "Aku maluuu," rengeknya lucu.

"Udah ah, yuk makan dulu," ajak Melinda menarik tangan Medisya keluar dari salon kecantikan itu.

"Nggak pulang aja? Mas Alvian pasti udah pulang kerja," ucap Medisya tidak membuat Melinda berhenti melangkah.

"Mamah udah suruh bibi atar makanan ke apartemen. Jadi tenang aja," balas Melinda.

"Nggak papa?" Tanya Medisya ragu.

Mendengar pertanyaan menantunya membuat Melinda tersenyum gemas. Ia menarik tangan Medisya untuk duduk di kursi dekat jendela yang memiliki pemandangan langit yang hampir jingga.

"Nggak papa dong! Kamu tuh ya, takut banget sama Vian," ejeknya dengan tawa kecil.

"Ya,, gimana ya, mah. Mas Alvian kan atasan aku dulunya. Jadi aku merasa harus menghormati dia."

"Hormat sama atasan beda loh sama menghormati suami, Sya," ucap Melinda membuat kening Melinda bergelombang.

"Aku nggak ngerti," balas Medisya.

"Nggak papa. Nanti juga kamu paham dengan sendirinya," ucap Melinda.

###

1
Thie Adeck Rhina
walaupun dadakan tp CEO org kaya masa ksih mahar cm 10gr. stidak nya 100gr donk wkwkwkwk
@ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠Nur Elza
bgus bngt dr awl itu bnr mencengkam tp bgus alurnya
Norparida Ariyani
Aku tidak suka dengan cara Alvian memperlakukan Medisya.
Mesri Simarmata
lebay medisya
Rindi Yuliani
ok bagus
⸙ᵍᵏoᷡuͦbᷡliͣer༄༅⃟𝐐
up lg thor udh setahun fakum😒😒
Rinada Eka
udah mau 1 thn ngga ada kbrnya??
Hayah18😉
lanjut dong Thor 😊
Sunsun Sun
menyebalkan🙏🙏
Sriyeni
lanjut thor
Fika Azizah
next kaklp
Delaa Mohd
lnjutyy
Nitha Sulistia
Jijik ih..
⸙ᵍᵏoᷡuͦbᷡliͣer༄༅⃟𝐐
ini novel bagus ceritanya menarik sayang uthor nya kayanya kurang semangan ngelanjutinya😢😢😢
Kadek Ariani
sudah tamat atau belum sih ceritanya??? kok lama banget gak upnya?
Desii Endang Wangi
up secepat nya dongs thor
Ludia Seni
koq blom d up jg y thor?
Ludia Seni
koq blom d up jg sch thor
Nitha Sulistia
Nyimak..
Ludia Seni
koq blom d up jg y thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!