Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Arka Mulai Bertanya
Arka memasuki usia delapan tahun. Bersama pertumbuhannya yang semakin pesat, rasa ingin tahu pun tumbuh tak kalah besarnya. Ia mulai melihat dunia dengan mata yang lebih kritis, menyadari bahwa tidak semua hal berjalan sama bagi setiap orang, dan tak semua cerita memiliki akhir yang bahagia. Pertanyaan-pertanyaannya pun berubah—tak lagi sekadar "mengapa langit biru?" atau "dari mana asal hujan?", melainkan pertanyaan yang jauh lebih dalam, yang menyentuh inti kehidupan itu sendiri.
Suatu sore, saat mereka bertiga sedang duduk di ruang tengah sambil menikmati teh hangat dan kue buatan rumah, Arka tiba-tiba meletakkan cangkir kecilnya perlahan. Wajahnya tampak serius, seolah ia telah memikirkan hal itu cukup lama sebelum akhirnya berani bertanya.
“Ayah, Ibu... boleh Arka bertanya sesuatu yang sudah lama Arka simpan?” suaranya terdengar pelan namun mantap. “Tentang masa lalu Ayah dan Ibu.”
Argan dan Aruna saling berpandangan sejenak, lalu Argan mengangguk lembut dan memberi isyarat agar putranya melanjutkan. “Tentu saja, Nak. Bertanyalah apa saja. Kami akan menjawab sejujur yang kami bisa.”
Arka menarik napas panjang, lalu menatap ayahnya lekat-lekat. “Kenapa dulu Ayah tidak bisa berjalan? Apakah Ayah sakit? Dan... kenapa Ibu menikah dengan Ayah? Bukankah dulu seharusnya Bibi Aisyah yang menikah dengan Ayah? Arka pernah mendengar pelayan berbisik begitu.”
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Bukan karena ingin menyembunyikan kebenaran, melainkan karena mereka ingin menyusun kata-kata dengan bijak—agar Arka paham tanpa harus membenci siapa pun, dan agar ia belajar bahwa dari luka yang dalam pun bisa tumbuh keindahan yang luar biasa.
Argan mengulurkan tangan, meraih tangan putranya dengan lembut namun tegas. “Dengarkan Ayah baik-baik, Arka. Dulu Ayah mengalami kecelakaan yang sangat berat. Kecelakaan itu membuat kaki Ayah tidak bisa berjalan, dan saat itu Ayah merasa dunia seakan runtuh. Ayah merasa tidak berguna, lemah, dan tidak pantas untuk dicintai siapa pun.”
Ia berhenti sejenak, menatap Aruna dengan tatapan penuh kasih sayang sebelum kembali menatap putranya. “Dan memang, dulu Ayah seharusnya menikah dengan Bibi Aisyah. Tapi pada hari pernikahan itu, ia tidak datang. Ia memilih pergi. Dan di saat itulah, Ibu-mu datang menggantikan tempatnya. Bukan karena Ibu menginginkan harta atau nama besar Ayah—melainkan karena Ibu datang untuk menepati janji, untuk menjaga Ayah saat Ayah sedang paling lemah.”
Aruna menyambung pelan, suaranya lembut namun penuh keteguhan. “Awalnya pernikahan ini memang bukan karena cinta, Nak. Kami berdua saling asing, bahkan sempat saling menyakiti. Tapi seiring berjalannya waktu, kami belajar untuk saling menghargai, saling menolong, dan akhirnya... saling mencintai. Cinta itu tumbuh pelan-pelan, dan justru karena itu ia menjadi jauh lebih kuat dan lebih tulus.”
Arka mendengarkan dengan saksama, dahinya berkerut sejenak sebelum ia mengangguk pelan. “Jadi... Bibi Aisyah dulu yang pergi, lalu sekarang ia marah karena Ayah dan Ibu bahagia?”
“Kau sangat cerdas, Nak,” ucap Argan lembut. “Bibi Aisyah merasa bahagiaannya dirampas. Padahal sebenarnya, bahagia itu tidak pernah bisa dirampas orang lain. Ia hanya bisa dibangun oleh tangan sendiri, dengan cara yang benar. Bibi-mu belum memahami hal itu, dan itulah yang membuat hatinya sedih dan gelisah.”
“Lalu... kenapa Ayah dan Ibu tetap membiarkan Arka bertemu dengannya?” tanya Arka lagi, matanya menyiratkan kebingungan namun juga kebijaksanaan yang tak terduga. “Bukankah ia pernah menyakiti Ayah dan Ibu?”
Aruna tersenyum bangga mendengar pertanyaan itu. Ia merangkul bahu putranya erat. “Karena kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, Arka. Jika kita menutup hati sepenuhnya, kita sama saja dengan membiarkan kebencian menang. Kita memberi kesempatan bukan karena kita bodoh atau lemah, melainkan karena kita percaya bahwa setiap orang berhak untuk berubah. Tapi ingat—memberi kesempatan bukan berarti lupa akan bahayanya. Itulah sebabnya Ayah dan Ibu selalu ada di dekatmu saat bertemu Bibi.”
Arka terdiam sejenak, memproses semua itu di dalam hatinya yang masih muda namun jernih. Perlahan senyum kembali merekah di bibirnya. “Jadi... semua hal yang sulit di masa lalu, justru membawa Ayah dan Ibu bersama? Dan kalau tidak terjadi kecelakaan itu, mungkin Arka tidak akan lahir ke dunia ini?”
Argan tersenyum haru, mengangguk mantap. “Benar sekali, Nak. Kadang hal yang paling menyakitkan di awal, ternyata menjadi jalan menuju kebahagiaan yang paling indah. Kita hanya perlu sabar dan percaya, bahwa di balik segala kesulitan, Tuhan sedang menyusun rencana yang jauh lebih baik dari yang bisa kita bayangkan.”
Malam itu, Arka tidur dengan hati yang lebih tenang dan lebih bijaksana dari sebelumnya. Ia tidak lagi merasa bingung melihat masa lalu keluarganya. Sebaliknya, ia merasa semakin bangga—bukan karena kemewahan yang dimilikinya, melainkan karena orang tuanya pernah jatuh, pernah terluka, namun memilih untuk bangkit kembali dan membangun kasih sayang yang tulus di atas reruntuhan masa lalu yang kelam.
Dan bagi Argan dan Aruna, menjawab pertanyaan-pertanyaan Arka justru menjadi pengingat bagi diri mereka sendiri. Bahwa jujur kepada anak-anak—tanpa menyembunyikan kebenaran, namun juga tanpa menanamkan kebencian—adalah cara terbaik untuk membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang utuh, pemaaf, dan berhati luas.
Lanjut ke Bab 36: Perjalanan Menemukan Jati Diri? 📖