NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Asli

Pintu brankas itu terbuka semakin lebar, memperlihatkan ruang baja gelap yang selama ini tersembunyi di balik dinding ruang kerja Viktor. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang, emas atau senjata seperti yang mereka bayangkan melainkan sebuah kotak hitam kecil, beberapa map cokelat dan satu amplop putih yang diletakkan paling depan seolah sengaja disiapkan untuk ditemukan. Pada permukaan amplop itu tertulis satu nama dengan tinta hitam tebal yang membuat dada Bintang langsung terasa sesak.

“Bima Mahesa,” ucap Arsen pelan sambil membaca tulisan di amplop itu.

“Jangan sentuh apa pun dulu,” ujar Leonard sambil mengangkat tangan untuk menghentikan Bintang.

“Aku sudah terlalu lama tidak menyentuh hidupku sendiri.” Bintang menepis tangan Leonard dan mengambil amplop itu dengan rahang mengeras.

“Bintang, hati-hati.” Raka melangkah mendekat sambil tetap mengarahkan pistol ke pintu.

“Namaku mungkin bukan Bintang.” Bintang merobek ujung amplop itu dengan napas berat.

Isi amplop itu jatuh ke atas meja Viktor, ada akta kelahiran tua, foto bayi kembar tiga dan gelang kecil berwarna perak dengan ukiran nama yang sudah hampir pudar. Bintang mengambil akta itu terlebih dahulu lalu matanya berhenti pada baris nama yang tertulis jelas di sana. Nama bayi itu bukan Bintang Mahardika, melainkan Bima Mahesa, lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal lahir yang selama ini ia rayakan sebagai miliknya.

“Bima Mahesa,” gumam Bintang sambil menatap tulisan itu lekat-lekat.

“Kolom orang tua masih dihitamkan,” ujar Raka sambil mengambil akta itu dari sisi meja.

“Tapi tanggal lahirnya sama dengan milikmu,” ucap Arsen sambil menatap Bintang.

“Itu belum membuktikan semuanya.” Bintang mengambil foto bayi kembar tiga yang ada di bawah akta.

“Lihat bagian belakangnya,” kata Leonard dengan suara tertahan.

Bintang membalik foto itu. Di sana tertulis tiga nama dengan tulisan tangan yang rapi: Rania, Raka dan Bima. Di bawah ketiga nama itu ada satu kalimat pendek yang membuat ruangan terasa semakin sempit: anak-anak Mahesa harus tetap hidup, apa pun yang terjadi.

“Jadi selama ini kau tahu?” tanya Bintang sambil menatap Leonard tajam.

“Aku hanya tahu sebagian.” Leonard mengangkat kedua tangannya perlahan.

“Sebagian apa?” bentak Bintang sambil menggenggam foto itu.

“Adrian membawamu dalam keadaan hampir mati malam itu.” Leonard menatap Bintang dengan wajah tegang. “Dia meminta kami menghapus nama Bima Mahesa dan menggantinya menjadi Bintang Mahardika.”

“Kami?” tanya Arsen sambil menyipitkan mata.

“Aku, Viktor, dan Damar.” Leonard menelan ludah. “Kami bertiga membantu Adrian menyembunyikanmu.”

“Kenapa Viktor menyuruhku tidak percaya padamu?” tanya Bintang sambil melangkah maju.

“Karena Viktor tidak tahu semua alasan Adrian.” Leonard menggeleng pelan.

“Kau selalu punya jawaban.” Bintang tersenyum dingin.

“Aku tidak minta kau percaya.” Leonard menatapnya tanpa berkedip. “Aku hanya minta kau tetap hidup sampai semua rahasia ini terbuka.”

Ledakan kedua menghantam sisi kanan rumah sebelum Bintang sempat membalas, getaran keras membuat rak buku roboh, kaca jendela pecah dan debu tebal memenuhi ruang kerja itu. Raka langsung menarik Bintang menjauh dari meja, sementara Arsen menutup pintu dengan bahu dan mengunci dari dalam. Suara tembakan dari lorong semakin dekat, menandakan orang-orang Ezra sudah berhasil menembus lapisan penjagaan luar.

“Mereka sudah sampai lantai ini!” teriak seorang penjaga dari balik pintu sambil menembakkan senjatanya.

“Ambil semua dokumen!” perintah Bintang sambil memasukkan akta, foto, dan gelang kecil ke dalam saku jasnya.

“Kotak hitam itu juga harus dibawa,” ujar Leonard sambil menunjuk benda di dalam brankas.

“Apa isinya?” tanya Raka sambil menyambar kotak hitam itu.

“Rekaman suara Adrian.” Leonard menjawab cepat.

“Kenapa baru bilang sekarang?” tanya Arsen sambil menatapnya marah.

“Karena aku baru tahu brankas ini bisa dibuka.” Leonard mengangkat pistolnya.

“Omong kosong!” bentak Bintang sambil menarik pelatuk pistolnya ke arah pintu.

Pintu ruang kerja ditembak dari luar bertubi-tubi, lubang-lubang kecil muncul di permukaan kayu tebal itu sementara serpihan beterbangan ke arah mereka. Bintang menarik Raka dan Arsen merunduk ke balik meja besar, sedangkan Leonard membalas tembakan melalui celah pintu yang retak. Dalam kekacauan itu, kotak hitam di tangan Raka tiba-tiba menyala, lalu mengeluarkan suara pelan seperti alat tua yang baru saja aktif setelah bertahun-tahun disembunyikan.

“Jangan biarkan Leonard memegang rekaman ini,” suara Adrian terdengar berat dari kotak hitam itu.

Leonard langsung membeku dan Bintang menoleh perlahan kepadanya.

“Lucu sekali.” Bintang tersenyum dingin. “Orang mati pun menyuruhku tidak percaya padamu.”

“Aku bisa jelaskan.” Leonard mengangkat tangan kirinya tanpa menurunkan pistol.

“Kau selalu bisa menjelaskan setelah kebohonganmu ketahuan.” Bintang menatapnya tajam.

“Dengarkan dulu rekamannya!” bentak Leonard sambil menunjuk kotak hitam itu.

Suara tembakan dari luar semakin rapat, tetapi tidak seorang pun di dalam ruangan itu bergerak. Raka menekan tombol kecil di sisi kotak hitam lalu rekaman Adrian kembali terdengar dengan suara pecah seolah kaset tua itu hampir rusak, setiap kata dari rekaman itu menghantam Bintang seperti pukulan karena suara Adrian bukan hanya membawa jawaban tetapi juga luka yang selama ini disembunyikan di balik nama Mahardika.

“Bima, jika suatu hari kau mendengar rekaman ini, berarti Viktor sudah gagal menutup masa lalu dan Leonard sudah terlalu lama menukar kebenaran dengan rasa takut,” suara Adrian terdengar berat dari alat itu.

“Matikan!” bentak Leonard sambil melangkah maju.

“Jangan bergerak.” Arsen mengarahkan pistol ke dada Leonard.

“Anak itu tidak boleh mendengar semuanya di sini!” Leonard menatap Arsen penuh amarah.

“Anak itu sudah dewasa.” Bintang mengokang pistolnya. “Dan anak itu ingin tahu siapa dirinya.”

Rekaman terus berjalan, suara Adrian semakin pelan tetapi masih cukup jelas untuk mereka dengar di tengah suara tembakan dan teriakan dari luar ruangan. Ia menyebut nama Mahesa, malam pembantaian, tiga bayi yang dipisahkan dan janji yang dibuat Viktor bersama Leonard untuk membawa mereka jauh dari orang-orang Black Bird namun satu kalimat membuat Bintang kehilangan napas selama beberapa detik.

“Rania dan Raka adalah darahmu, tetapi Arsen adalah bayangan yang sengaja diciptakan untuk menggantikanmu jika kau mati,” suara Adrian terdengar retak dari kotak hitam itu.

Arsen menegang dan Raka menoleh cepat, Bintang menatap Arsen dengan sorot mata tak percaya.

“Apa maksudnya bayangan?” tanya Raka sambil mengangkat alis.

“Aku tidak tahu.” Arsen menggeleng pelan, tetapi wajahnya mendadak pucat.

“Kau pasti tahu sesuatu.” Bintang menatap Arsen tajam.

“Aku tidak tahu apa pun!” bentak Arsen sambil menatap balik.

Pintu ruang kerja akhirnya jebol, tiga pria berpakaian hitam menerobos masuk dengan senjata terangkat tetapi Bintang lebih cepat menarik pelatuk. Dua pria jatuh sebelum sempat menembak, sementara Raka menghantam pria ketiga dengan siku dan merebut senjatanya. Leonard memanfaatkan celah itu untuk berlari ke arah brankas dan mengambil sebuah chip kecil yang tersembunyi di bawah rak besi.

“Berhenti!” bentak Bintang sambil mengarahkan pistol ke punggung Leonard.

“Kalau chip ini jatuh ke tangan Ezra, Rania mati!” teriak Leonard sambil berbalik.

Nama Rania membuat Bintang langsung membeku.

“Apa hubungannya Rania dengan chip itu?” tanya Bintang sambil mendekat.

“Chip ini berisi lokasi tempat Mahesa menyembunyikan saksi terakhir.” Leonard menggenggam chip itu kuat-kuat.

“Saksi siapa?” tanya Raka sambil menahan napas.

“Ibu kalian.” Leonard menjawab pelan.

Ucapan itu belum selesai mengguncang mereka ketika ponsel Bintang bergetar keras, nama Rangga muncul di layar. Bintang langsung menerima panggilan itu, sementara suara tembakan di luar membuat ruangan semakin kacau.

“Bintang, rumah sakit diserang!” teriak Rangga dari seberang telepon.

“Di mana Rania?” tanya Bintang sambil berlari keluar dari ruang kerja.

“Dia bersamaku tadi!” jawab Rangga dengan suara panik.

“Jawab yang jelas!” bentak Bintang sambil menuruni tangga.

“Dia hilang!” teriak Rangga sambil terdengar batuk keras. “Mereka memakai seragam dokter dan membawa Viktor ke lift servis!”

Bintang berhenti di tengah tangga.

“Apa?!” seru Raka sambil hampir menabraknya.

“Rania hilang.” Bintang menatap Raka dengan mata mengeras.

“Mereka membawa Viktor juga?” tanya Arsen sambil mencengkeram pagar tangga.

“Iya.” Bintang langsung berlari lagi.

Mereka menerobos lorong yang penuh asap dan pecahan kaca, beberapa anak buah Leonard masih bertahan di pintu utama sementara pria-pria Ezra mencoba masuk dari sisi belakang. Bintang menembak dua orang yang menghalangi jalan lalu melompat melewati meja yang roboh tanpa menoleh ke belakang. Semua jawaban yang baru ia dapatkan mendadak tidak berarti apa pun karena Rania sudah berada di tangan musuh.

“Mobil depan sudah siap!” teriak seorang penjaga sambil melemparkan kunci kepada Leonard.

“Bintang, tunggu!” seru Leonard sambil berlari mengejarnya.

“Aku tidak punya waktu untuk mempercayaimu atau membunuhmu.” Bintang menatap Leonard dengan dingin. “Jadi jangan berdiri di jalanku.”

Leonard tidak membalas, ia hanya masuk ke mobil lain dan memberi perintah kepada para penjaga yang tersisa. Konvoi kecil itu melaju meninggalkan rumah persembunyian yang masih dihantam tembakan, sementara Bintang mengemudi seperti orang yang tidak lagi mengenal rasa takut. Raka duduk di sampingnya dengan pistol siap, Arsen berada di kursi belakang sambil memegang kotak hitam dan rekaman Adrian yang belum selesai masih terputar pelan di tangan pria itu.

“Bima, jangan biarkan Leonard mengambil keputusan untukmu,” suara Adrian terdengar dari kotak hitam itu.

“Matikan benda itu.” Bintang menggertakkan gigi.

“Rekamannya belum selesai.” Arsen menatap alat itu.

“Aku bilang matikan!” bentak Bintang sambil menghantam setir.

Arsen mematikan rekaman itu, tidak ada yang bicara setelah itu karena mereka semua tahu Bintang hampir kehilangan kendali. Hujan kembali turun deras saat mobil mereka menembus jalanan kota, sementara lampu merah dan biru dari kejauhan menunjukkan bahwa kekacauan di rumah sakit bukan sekadar serangan kecil. Saat mereka tiba, pintu utama rumah sakit sudah dipenuhi pasien yang panik, perawat yang menangis dan kaca yang berserakan di lantai.

“Rangga!” teriak Bintang sambil berlari ke dalam rumah sakit.

“Di sini!” seru Rangga dari dekat lorong servis sambil menekan luka di pelipisnya.

“Di mana dia?” tanya Bintang sambil mencengkeram bahu Rangga.

“Mereka membawa Rania dan Viktor lewat lift servis.” Rangga menunjuk lorong belakang dengan tangan gemetar. “Aku mencoba menahan mereka, tapi salah satu dari mereka memakai suara Gavin di radio dan membuat semua penjaga berpencar.”

“Sial!” umpat Raka sambil menendang kursi roda yang terbalik.

“Kamera?” tanya Arsen sambil melihat ke langit-langit.

“Dimatikan lima menit sebelum serangan.” Rangga menggeleng lemah.

Bintang berlari menuju lift servis, pintu besi itu tertutup tetapi ada bercak darah kecil di lantai dan sebuah anting milik Rania tergeletak di dekat roda ranjang yang patah. Ia mengambil anting itu dengan tangan yang mulai gemetar, lalu menggenggamnya kuat-kuat sampai telapak tangannya memutih.

“Dia masih hidup.” Bintang menatap anting itu. “Gavin tidak akan membunuhnya sebelum aku datang.”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Raka sambil menahan amarah.

“Karena dia ingin Bima Mahesa datang sendiri.” Bintang menatap lift dengan sorot mata dingin.

Ponsel Bintang kembali bergetar, kali ini tidak ada nama penelepon hanya sebuah video yang masuk dari nomor tidak dikenal. Ia membuka video itu tanpa suara lalu layar menampilkan Rania yang duduk dengan tangan terikat di dalam sebuah ruangan gelap, Viktor terbaring di lantai tidak jauh darinya dengan alat infus yang masih menempel sementara Gavin berdiri di belakang Rania sambil tersenyum seperti orang yang baru saja memenangkan permainan panjang.

“Selamat datang kembali, Bima Mahesa,” ujar Gavin dalam video sambil menunduk ke arah kamera.

Bintang menggenggam ponselnya semakin kuat.

“Datang ke dermaga tujuh sebelum matahari terbit.” Gavin tersenyum tipis sambil meletakkan pistol di bahu Rania. “Bawa chip Leonard, atau wanita ini akan mengetahui lebih dulu siapa di antara kalian yang sebenarnya bukan darah Mahesa.”

Bintang menatap layar gelap ponselnya dengan napas berat, sementara Raka dan Arsen saling berpandangan tanpa berani bertanya. Di belakang mereka, Leonard baru tiba dengan wajah pucat tetapi Bintang sudah lebih dulu mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke kepala pria itu.

“Berikan chip itu sekarang.” Bintang menatap Leonard dengan mata menyala.

Leonard perlahan membuka telapak tangannya dan chip itu tidak ada.

1
Tosari Agung
kenapa yang namanya Gavin itu ngeselin
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!