NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Tawaran di Alam Dewa

Liu Xue terpaku tanpa mampu melontarkan apapun. Sepasang matanya menjelajahi setiap sudut gudang penyimpanan rahasia milik Zhao Fei. Deretan artefak kuno yang memancarkan cahaya magis, botol-botol pil dewa yang berkilauan, serta jajaran senjata dengan tekanan aura yang teramat kuat terhampar nyata di depan mata.

“Semua ini...” bisik gadis itu akibat rasa takjub yang luar biasa besar.

Zhao Fei pun mendekat, lalu memaparkan seluruh rahasia hidupnya secara garis besar, menceritakan identitas aslinya di masa lalu sebagai sang Yang Mulia Petir Abadi yang menguasai langit tertinggi, sebelum akhirnya dikhianati oleh murid kepercayaannya sendiri, Li Tianming. Pengkhianatan berdarah itu merenggut nyawanya, namun hukum karma memberikan sebuah jalan lain berupa kesempatan kedua bagi jiwanya untuk bereinkarnasi.

Dia menjelaskan keadaan wadah tubuh baru yang ditempatinya sekarang. Raga seorang pemuda malang yang sering dicap sebagai sampah, memiliki seorang ibu yang sakit-sakitan, serta saudara kandung yang berwatak jahat. Tubuh lemah ini dulunya hanya memiliki mimpi-mimpi yang sederhana sebelum diambil alih oleh Dewa Petir.

Liu Xue mendengarkan seluruh rangkaian penuturan itu dengan tingkat saksama yang sangat tinggi, tanpa mencoba melayangkan satu pun kalimat interupsi yang dapat mengganggu jalannya cerita.

Hingga akhirnya gadis itu mengembuskan napas panjang, lalu memosisikan telapak tangan kanannya untuk memegangi area kening dengan wajah lelah karena harus mencerna fakta gila ini. Dia menundukkan kepalanya sedikit.

“Jadi,” katanya, “kamu ini Dewa Petir agung yang dapat kesempatan kedua buat hidup lagi jadi pemuda sial di Alam Bawah?”

Zhao Fei menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah untuk memberikan isyarat pembenaran.

“Kau tadi juga sempat bilang kalau kamu punya niat buat mewujudkan semua keinginan terakhir dari pemilik tubuh ini, kan?” tanya gadis itu lagi.

Zhao Fei membenarkan pertanyaan itu dengan tenang, “Benar sekali, sekarang hanya tersisa satu impian lagi yang belum sempat kurampungkan.”

“Apa impian terakhir yang ditinggalkan sama pemuda itu?” tanya Liu Xue sembari mengunci pandangan pada paras Yang Mulia Petir Abadi.

Zhao Fei juga menatap wajah Liu Xue dengan durasi waktu yang cukup lama. Kedua bibirnya bergerak, namun tidak ada satu pun untaian kata yang keluar dari mulutnya, dan akhirnya memilih untuk menggelengkan kepala.

“Aku tidak mungkin bisa mewujudkan impian itu kalau terus-menerus mendekam di dalam sel penjara sekte,” kilah Zhao Fei, mencoba mengalihkan fokus pembicaraan mereka.

“Kau sengaja membuatku penasaran setengah mati,” dengus Liu Xue kesal melihat sikap menghindar dari rekannya.

“Omong-omong,” ujar Liu Xue, memutus rasa penasarannya sembari mengganti topik pembicaraan. “Tingkat kultivasiku sekarang ada di tingkat tujuh dari sepuluh. Kamu kan mantan dewa, level kekuatanmu sekarang pasti jauh lebih tinggi dariku, kan?”

Zhao Fei hanya menyunggingkan senyuman tipis tanpa memberikan jawaban langsung secara tertulis dan melangkah santai menuju ke arah rak batu penyimpanan artefak, lalu meraih beberapa botol keramik kecil dari sana.

Dia menatap cincin kuno yang melingkar di jarinya dengan tatapan percaya diri. “Sebenarnya, aku bisa kabur dari dalam sel penjara bawah tanah itu kapan saja aku mau.”

“Apa maksudmu?” tanya Liu Xue dengan dahi yang seketika berkerut rapat mendengar pernyataan berani tersebut.

Zhao Fei menahan tawa ringannya saat melihat ekspresi bingung wanita itu. “Sebelum malam petaka di desa perbatasan itu, aku tidak sengaja menelan satu botol penuh pil peningkatan kultivasi tingkat atas dari gudang ini.”

Dia mengangkat sebuah botol keramik ke udara, memperlihatkan objek itu kepada Liu Xue. Pendaran cahaya berwarna keemasan dari pil yang tersimpan di dalam wadah itu memancar sangat terang memenuhi ruangan.

“Pil itu... berharga dan langka banget. Bahkan buat level kultivasiku sekarang, pil ini susah dicari,” Liu Xue tercengang menatap botol obat tersebut, dengan sepasang mata yang membulat lebar.

Sedangkan Zhao Fei mengagguk untuk membenarkan pernyataan itu. “Waktu pertama kali menelannya, aku sempat mengira kalau tubuh ini bakalan hancur lebur. Tapi ternyata, aliran energinya justru membantuku memicu terobosan ranah secara instan. Sekarang kapasitas kekuatanku telah menembus tingkat lima.”

“Sebelum ini, level ranahmu baru berada di tingkat dua. Mengalami lompatan sebanyak tiga tingkatan sekaligus dalam waktu singkat? Hal itu benar-benar tidak masuk akal bagi hukum manusia fana,” timpal Liu Xue tidak percaya.

Zhao Fei pun tersenyum lebar menanggapi keterkejutan itu. “Toh aku juga memang dewa sejati.”

Liu Xue secara otomatis menjulurkan tangan kanannya ke depan, berniat untuk meraih botol obat keemasan yang berada di dalam genggaman Zhao Fei.

Hal itu diantisipasi dengan cepat oleh Zhao Fei yang dengan sangat sigap menarik kembali tangannya ke belakang, mempertahankan posisi botol itu sembari menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya.

“Sebelum aku memberikan obat ini kepadamu, aku ingin mendengar pendapat jujurmu tentang semua hal yang baru saja kau saksikan ini,” tuntutnya.

Liu Xue pun mengembuskan napas panjang untuk meredakan pergolakan batinnya. “Aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa sekarang. Aku tahu misteri di dunia ini ada banyak sekali, tapi aku tidak pernah mengira kalau suatu hari nanti bakal memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mantan penguasa langit.”

Gadis itu kemudian memilih untuk duduk bersandar di atas lantai gudang penyimpanan. Sepasang matanya menerawang jauh menembus ruang kosong, memikirkan kembali lembaran masa lalunya.

Dia mulai mengalirkan cerita mengenai masa kecilnya yang dipenuhi oleh kenangan getir. Kedua orang tua kandungnya tewas mengenaskan dalam sebuah pertempuran besar antar-faksi di masa silam, meninggalkan dirinya seorang diri sebelum akhirnya dirawat dan dibesarkan oleh sang kakek yang menjabat sebagai Tetua Utama. Memiliki status sebagai cucu dari seorang tokoh penting di dalam sekte diakui memberikan beban psikologis yang teramat berat bagi pundaknya. Selain itu, dia juga harus menghadapi tekanan besar dari pihak dewan faksi yang terus memaksanya untuk bersedia menerima lamaran pernikahan politik dari putra mahkota Sekte Naga Hitam, Long Wei.

Zhao Fei mengambil posisi untuk duduk di samping gadis itu, mendengarkan setiap kisah dengan penuh perhatian, dan sesekali menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah sebagai bentuk empati, atau memilih untuk tetap membisu demi memberikan ruang bagi Liu Xue untuk menumpahkan seluruh isi hatinya.

Setelah Liu Xue merampungkan seluruh kisah masa lalunya, Zhao Fei perlahan membuka suara untuk mengembalikan fokus mereka. “Soal kontrak darah yang kau bawa tadi...”

“Aku paham maksudmu. Asal kau tahu, aku tidak akan pernah membocorkan satu pun rahasia identitas dewamu ini kepada siapa pun di dunia bawah,” Liu Xue mendahului sembari mengembuskan napas pendek dengan wajah pasrah. “Toh tidak ada untungnya juga melakukan itu.”

Zhao Fei menggelengkan kepala secara perlahan untuk meluruskan asumsi itu. “Maksudku bukan ke sana. Kalau kamu tidak mengikat sumpah kontrak darah bersamaku, kau pasti bakal kebingungan setelah keluar dari dimensi ini.”

“Aku punya satu tawaran untukmu,” lanjut Zhao Fei dengan mantap. “Bantu aku mengumpulkan kekuatan sampai aku berhasil merebut kembali singgasanaku di Alam Dewa. Sebagai imbalan yang sepadan, aku bersumpah bakal menjamin keselamatan dan masa depan hidupmu dari segala ancaman luar.”

Dia kembali menyodorkan botol keramik berisi pil peningkatan kultivasi tingkat tinggi itu ke depan wajah Liu Xue.

“Setuju?”

Liu Xue sudah bergerak menjulurkan ujung jemari tangannya untuk menerima botol emas itu. Jarak di antara kulit tangannya dengan botol obat itu sudah teramat dekat.

Namun, pergerakan tangannya mendadak berhenti di udara secara instan.

“Aku tidak mau,” cetus Liu Xue dengan tegas.

Dahi Zhao Fei seketika berkerut rapat, menampilkan ekspresi yang dipenuhi kebingungan atas perubahan sikap yang mendadak itu.

Liu Xue menyipitkan matanya, menampilkan senyuman kecil yang sarat akan kelicikan taktis di wajah cantiknya.

“Aku ingin tahu dulu... apa keinginan terakhir pemuda yang jadi tubuhmu sekarang,” tuntut gadis itu.

Lantas Zhao Fei seketika itu juga menundukkan kepala, tertawa pendek tanpa ekspresi humor. Tangan kanannya bergerak canggung untuk menggaruk pelipis kepalanya yang tidak gatal demi menutupi rasa malu yang mendadak merayap di dadanya.

“Sejujurnya... aku tidak bisa langsung tertarik dengan wanita-wanita di Alam Bawah ini.”

Liu Xue terdiam mendengarkan kalimat itu, dibarengi wajah cantiknya yang mengalami perubahan ekspresi, terlihat seperti merasa tersindir oleh pernyataan barusan. Jangan-jangan pemuda ini secara tidak langsung ingin mengatakan kalau paras wajahku tidak masuk kategori indah bagi standar matanya? Jelek? Pikir gadis itu.

Namun, Zhao Fei dengan cepat melanjutkan penjelasannya guna meluruskan kesalahpahaman itu. “Standar kecantikan di Alam Dewa itu berbeda sekali dengan dunia bawah ini. Tapi karena jiwaku sudah menyatu sepenuhnya buat mengambil alih tubuh malang ini, memori emosional milik pemilik lama ternyata ikut memengaruhi kesadaranku. Pemuda itu rupanya sudah lama menyukai seorang wanita, dan karena pengaruh memori kuat itulah, sekarang aku jadi bisa tertarik dengan wanita dari Alam Bawah.”

“Siapa wanita itu?” tanya gadis itu mendesak sembari spontan mencondongkan posisi tubuh rampingnya mendekati pemuda itu dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh rasa penasaran.

Wajah Zhao Fei seketika berubah warna menjadi sedikit kemerahan akibat didera oleh canggung yang semakin menebal di dalam dadanya. Dia tidak mungkin memiliki keberanian untuk membeberkan fakta nyata bahwa wanita yang dimaksud oleh memori pemuda itu tidak lain adalah Liu Xue sendiri.

“Pokoknya... bantu aku dulu sampai dapat singgasana,” jawab Zhao Fei, kembali berkelit dari kejaran pertanyaan.

“Zhao Fei! Kau tidak bisa setengah-setengah begini!” protes Liu Xue dengan jengkel.

“Bisa,” balas Zhao Fei dengan santai.

Kedua manusia itu sempat terlibat dalam sebuah aksi pertengkaran kecil yang berjalan lumayan alot di dalam ruangan gudang penyimpanan rahasia itu. Namun, pada fase akhir dari perdebatan emosional itu, keputusan mutlak akhirnya berhasil dicapai.

Liu Xue mengembuskan napas panjang untuk melepaskan sisa rasa jengkelnya.

“Baiklah. Aku setuju,” ujar Liu Xue.

Gadis itu segera menorehkan ujung jari telunjuknya menggunakan kuku tajam hingga setetes cairan darah segar berwarna merah pekat jatuh menetes tepat di atas permukaan kertas perkamen kontrak darah yang terhampar di lantai. Seketika itu juga, seberkas cahaya merah menyala terang selama beberapa detik memenuhi ruangan, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya ke dalam serat kertas. Prosesi pengikatan kontrak darah suci itu telah dinyatakan rampung dengan sempurna secara mistis.

Zhao Fei segera kembali memfokuskan sisa kekuatan pikiran spiritualnya menuju ke koordinat sel bawah tanah dunia fana. Cincin kuno di jarinya kembali memancarkan gelombang energi hangat yang masif, menarik kembali kesadaran jiwa kedua belah raga mereka untuk melintasi batas dimensi dalam sekejap mata.

Kesadaran mereka telah sepenuhnya kembali di atas permukaan lantai batu yang dingin di dalam ruang sel penjara bawah tanah yang sepi dan gelap.

Namun, tepat pada detik pertama saat sepasang kaki mereka berhasil menapak dengan kokoh di atas lantai sel tahanan...

Sebuah ledakan dahsyat mendadak terdengar bergema kencang dari arah luar area bangunan penjara bawah tanah sekte. Intensitas gelombang kejut yang dihasilkan oleh ledakan maut itu terasa teramat besar hingga membuat seluruh struktur dinding batu kokoh di sekeliling sel mereka bergetar.

“Kita diserang,” kata Liu Xue, tidak percaya akan terjadi secepat ini.

1
Aman Wijaya
mantab Zhao Fei punya selir 221.sangat fantastis bagaimana caranya mengenali nama nama selir sebanyak itu.
DanaBrekker: Zhao Fei aja gak ingat pasti urutan selir-selirnya dulu karena dia lebih fokus ke peningkatan kekuatan dan kekuasaan di Alam Dewa 🤭
total 1 replies
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk terus Thor
Aman Wijaya
semangat terus Thor semangat
Aman Wijaya
gaaas terus Thor lanjut
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor lanjut
Aman Wijaya
tunjukkan bakatmu Zhao Fei
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Zhao Fei lanjut
DanaBrekker: /Casual/
total 1 replies
HINATA SHOYO
oii torr aq masih agk bngung dgn karya ini..ko disni zhao tidak di lihatoan kpan doa naikan tingkat kultifasinya n nguasai alkimia sperti karya sblah pd umum nya biat ningkatin keluatan agar cepat naik..ranah kekuatanmya pun tidak ada di jelaskn kekuatan tingkatan nya apa gt roe biar jelas target yg harus dinkejar zhao level mana yg tekuat gt mohon penjelasan nya torr/Smile//Pray//Good//Good//Good/
DanaBrekker: sama-sama /Casual/
total 3 replies
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!