Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.
Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.
Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.
Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.
Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Kelayakan Sebuah Alat
Angin di dalam aula terasa menegangkan.
Semua orang mundur perlahan.
Mereka membentuk lingkaran luas.
Tak ada suara selain napas yang tertahan.
Di barisan paling depan, para bangsawan dan ksatria menatap tak berkedip.
Ada yang gelisah, ada yang penuh rasa ingin tahu.
Sebagian lagi diam-diam berdoa agar tidak ada korban jiwa.
Di balkon utama, Raja Valerius II de Valerius baru saja tiba.
Ia berjalan perlahan diiringi dua pengawal pribadi.
Wajahnya tenang namun matanya tajam mengamati kejadian di bawah.
Ia tidak langsung melarang—hanya menunggu, membiarkan putrinya membuktikan keinginannya sendiri.
Sheraphina de Valerius II berdiri tegak.
Di tangannya tergenggam perisai besar.
Perisai itu berukir lambang elang Aethelgard.
Cahaya keemasan samar memancar dari permukaannya.
Ia bukan putri biasa.
Ia adalah pahlawan perisai yang pernah menahan serangan manticore sendirian.
Level kekuatannya mencapai 49—di atas rata-rata ksatria kerajaan.
Ia mengambil posisi kuda-kuda yang kokoh.
Sebagai ksatria perisai, ia andalkan pertahanan rapat.
Lalu serangan balik yang tepat sasaran.
“Pertarungan murni,” ucapnya tegas.
“Tanpa sihir, tanpa kemampuan khusus.”
Yudha menunduk mengambil pedang perak di depannya.
Ia juga mengeluarkan pedang pendek dari pinggangnya.
Sekarang ia memegang dua bilah baja.
Di dalam hatinya, sistem Apocalypse Hunger berbisik.
[Dapat segera diakhiri dengan menyalin atau menekan aura lawan.]
Namun Yudha menggeleng pelan dalam hati.
Ia sebenarnya bisa saja mengakhiri ini dengan mudah.
Tapi ia sengaja membuat aturan tanpa menggunakan skill apa pun.
Ia ingin melihat seberapa besar potensi yang dimiliki putri ini.
“Baiklah,” jawabnya singkat.
“Tanpa trik apa pun.”
Chikaryu, Carmelia, dan Lyra mundur menjaga jarak.
Mereka tidak akan campur tangan.
Pertarungan dimulai.
Sheraphina melangkah maju dengan tenang.
Perisainya terangkat setinggi dada.
Seolah menjadi tembok yang tak bisa ditembus.
Ia tahu, selama Yudha bermain adil, ia punya peluang.
Pengalaman melawan manticore mengajarkannya mengatur tenaga dan celah.
Yudha bergerak perlahan mendekat.
Langkahnya ringan, hampir tak menyentuh lantai.
Ia hanya mengamati, mencari celah sekecil apa pun.
Serangan pertama datang cepat.
Sheraphina mengayunkan sisi perisainya.
Ingin mendorong Yudha mundur dan mengacaukan keseimbangan.
DUM!
Benturan keras bergema.
Yudha tidak mundur sedikit pun.
Ia memiringkan tubuh, menghindari tekanan utama.
Lalu menepis gagang perisai dengan pedang pendeknya.
Gerakannya tepat dan efisien.
Sheraphina terkejut namun tidak goyah.
Ia tahu lawannya kuat, tapi ia tidak akan menyerah.
Ia langsung memutar tubuh.
Menggunakan perisai sebagai tumpuan.
Lalu menusukkan gagang pedang secara tiba-tiba.
Yudha mengangkat pedang panjangnya menahan.
KRAK!
Suara logam beradu memecah keheningan.
Ia bisa merasakan kekuatan di balik serangan itu.
Benar, level 49 bukan angka sembarangan.
Mereka bergerak mengelilingi satu sama lain.
Sheraphina terus menjaga pertahanan rapat.
Sesekali melancarkan serangan yang terukur dan bertenaga.
Tekniknya sempurna, diperkuat pengalaman bertarung melawan binatang buas tingkat tinggi.
Para penonton menahan napas.
Mereka melihat putri kerajaan benar-benar bisa menyamai gerakan tamu asing itu.
Namun Yudha bertarung dengan cara berbeda.
Ia tidak mengikuti pola baku.
Setiap gerakannya alami, seperti bernapas.
Satu pedang menangkis, yang lain mencari celah.
Ia tidak melawan tenaga dengan tenaga.
Cukup membelokkan arah serangan lawan.
Membuat Sheraphina sedikit terhuyung.
“Teknikmu bagus,” ujar Yudha pelan.
“Tapi terlalu terikat aturan. Mudah ditebak.”
Wajah Sheraphina memerah, tapi fokusnya tak goyah.
Ia sadar, pelatihan kerajaan membuatnya terbatas.
Ia segera mengubah strategi.
Bergerak memutar mencari sisi lemah.
Serangannya kini bervariasi—kadang lambat, kadang cepat.
Bahkan ada yang sekadar tipuan.
Satu kali ia melompat tinggi.
Mengayunkan perisai seolah ingin menindih.
Begitu Yudha menangkis, ia tiba-tiba menariknya.
Lalu menusukkan pedang ke arah rusuk lawan.
Penonton terpekik tertahan.
Namun Yudha sudah bergerak.
Sedikit memiringkan tubuh, menghindari tusukan.
Lalu ujung pedangnya menyentuh titik tumpu perisai.
DOR!
Dorongan ringan namun tepat sasaran.
Sheraphina mundur dua langkah untuk menyeimbangkan diri.
Ia mulai paham.
Yudha tidak punya jurus ajaib.
Ia hanya punya pengalaman bertarung nyawa yang jauh lebih banyak.
Sesuatu yang tak bisa diajarkan di ruang latihan.
Seiring waktu berlalu, tenaganya mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Sementara napas Yudha tetap stabil seperti biasa.
Serangan terakhir dilancarkan.
Dorongan perisai kuat disertai tusukan bersamaan.
Ini adalah jurus andalan terakhirnya yang pernah membuat manticore mundur.
Yudha tidak mundur.
Ia menunggu hingga detik terakhir.
Melangkah miring dengan gerakan nyaris tak terlihat.
Satu pedang menahan gagang perisai.
Satu lagi diletakkan lembut di leher Sheraphina.
Tanpa melukai, hanya memberi tanda.
Suasana kembali hening.
Para penonton saling pandang, tak percaya namun sadar itu hasil yang adil.
Raja Valerius II mengangguk pelan dari atas.
Sheraphina menurunkan senjatanya perlahan.
“Aku kalah,” ucapnya jujur.
“Kau hebat. Benar-benar hebat.”
Yudha menarik kedua pedangnya.
Tatapannya kini sedikit lebih lembut.
“Kau juga bertarung dengan gagah,” katanya.
“Level 49 dan pengalamanmu melawan manticore membuatmu layak dihormati.”
Sheraphina mengangkat wajahnya.
Meski kalah, tekadnya tak luntur.
“Sesuai janji,” ucapnya tegas.
“Aku akan berikan apa pun yang kau minta.”
Semua mata tertuju pada Yudha.
Penasaran apa yang akan dipilihnya.
Yudha tersenyum tipis.
“Aku tak butuh harta atau takhta,” jawabnya jelas.
“Tapi aku terima tawaranmu tadi.”
Sheraphina tertegun sejenak.
Matanya melebar, lalu berbinar.
“Kau maksudnya—?”
“Iya,” potong Yudha tenang.
“Aku terima pernikahan itu.”
Suasana aula mendadak riuh.
Para bangsawan saling pandang.
Ada yang terkejut, ada yang tak setuju.
Namun tak ada yang berani bersuara keras.
Chikaryu menyeringai kecil.
“Lumayan juga bos, dapat putri cantik yang tangguh.”
Carmelia menyikutnya pelan.
“Diamlah, jangan kurang ajar.”
Sheraphina menelan ludah.
Wajahnya memerah samar.
Namun ia menegakkan punggungnya.
“Baiklah. Kalau begitu, kita sepakat.”
Tiba-tiba suara berat terdengar dari arah balkon.
Semua menoleh.
Raja Valerius II berjalan turun dengan langkah tenang.
Ia menatap Yudha tajam namun tanpa permusuhan.
“Tunggu sebentar.”
Ia berhenti tepat di depan mereka.
“Pernikahan putri memang butuh pertimbangan, tapi aku lihat duel ini berlangsung adil.”
Ia menoleh pada Sheraphina.
“Apakah ini benar-benar keinginanmu?”
“Ya, Ayah,” jawab Sheraphina mantap.
“Aku sudah memutuskan.”
Raja itu menghela napas panjang, lalu menatap Yudha.
“Baiklah. Aku setuju, dengan syarat kau menjaga keselamatan putriku dan kerajaan ini.”
Yudha mengangguk singkat.
“Aku tak berjanji melindungi semua orang, tapi dia akan aman selama di sisiku.”
Udara di ruangan kembali terasa berat sesaat.
Namun kali ini bukan karena ancaman, melainkan ketegangan yang berakhir.
Yudha menoleh pada Sheraphina.
“Sudah selesai? Atau ada hal lain?”
Sheraphina menggeleng pelan.
“Sudah. Besok kita bicarakan detailnya.”
“Baiklah,” jawab Yudha.
Ia menyarungkan kedua pedangnya.
“Kalau begitu, pesta ini boleh berakhir.”
Ia berbalik berjalan menuju pintu.
Diikuti ketiga pengiringnya yang setia.
Semua orang memberi jalan dengan hormat—atau takut.
Di ambang pintu, Yudha berhenti sebentar.
Ia menoleh ke belakang.
Mata mereka bertemu dengan Sheraphina.
“Ingat,” ucapnya pelan tapi terdengar jelas.
“Aku bukan pangeran yang lembut. Aku orang yang berjalan di jalur berdarah. Kalau kau ikut, kau harus siap menghadapi semuanya.”
Sheraphina tersenyum tipis.
“Sudah kuputuskan. Aku tak akan mundur.”
Yudha mengangguk perlahan.
Lalu melangkah keluar menuju kegelapan malam.
Di belakangnya, takdir kerajaan Aethelgard baru saja berubah selamanya.
Pertarungan sudah usai.
Tapi perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.