NovelToon NovelToon
Si Jenius Dari Masa Depan

Si Jenius Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah sejarah / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizzzz......

Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Doddy awalnya masih belum bereaksi. Namun, dia langsung menatap ke arah Kira dengan serius begitu dipukul oleh Danu. Doddy pun berkata,

"Ya, ya. Hanya satu pencuri."

"Ya. Tiap orang pasti punya ingatan yang buruk. Syukurlah kalau ingat," ujar Jamal sambil diam-diam mengambil uang itu.

Kemudian, dia melanjutkan,

"Pencurinya hanya ada satu, tapi kita sudah menangkap mereka. Tuan Kira, apa kamu mau melepaskan mereka?"

Kira memandang ketiga bersaudara itu, lalu berkata,

"Kalian bertiga, pilih sendiri siapa di antara kalian yang akan masuk penjara dan siapa yang akan tinggal untuk mengurus keluarga!"

Tiga bersaudara itu terkejut sejenak, lalu mulai berebut mau masuk penjara.

"Aku adalah yang tertua, aku akan masuk penjara. Kalian berdua, tolong jaga keluarga kita baik-baik!" ujar Gavin.

"Kak, aku saja yang pergi. Aku sudah terluka dan hidupku nggak lama lagi. Biarkan aku saja yang masuk penjara, " celetuk Ganjar.

"Kak Gavin, Ganjar, aku saja yang pergi. Ada bukti sobekan bajuku waktu bahuku tercakar," sahut Gandi.

"Sudahlah!" ucap Kira sambil melambaikan tangannya.

Dia lanjut berkata,

"Gandi saja yang masuk penjara. Ada bukti robekan bajunya dan bahunya terluka. Akan mudah memberi penjelasan di pengadilan daerah."

Jamal pun melirik ke pengikutnya, dua pasukannya segera melangkah maju untuk melepaskan belenggu Gavin dan Ganjar.

Di sisi lain, tiga bersaudara itu memandang Kira dengan ekspresi yang rumit. Kira yang tidak memasang ekspresi apa pun berkata,

"Sekarang, beri tahu aku siapa informan itu!"

Namun, ketiga bersaudara tampak ragu-ragu.

"Cepat katakan! Tunggu apa lagi? Apa kalian mau Tuan Kira menjebloskan kalian semua ke penjara?"

Ibu dan ketiga menantunya tampak cemas, Kira telah mengeluarkan 2.000 rupiah. Jika ketiga putranya tidak mau memberi tahu, takutnya mereka akan dibelenggu lagi. Gavin, kakak tertua, menunduk dan berkata,

"Mereka adalah Liam dan Teja!"

Sorot mata Kira pun menjadi muram. Dia bertanya,

"Apakah mereka ada bilang, siapa yang menyuruh mereka datang?"

Liam dan Teja, mereka adalah dua dari empat asisten Budi kemarin.

"Nggak ada. Mereka hanya bilang kalau kamu kaya dan banyak uang. Kalau kami mendapatkan hasil, kami harus membagi uangnya dengan mereka!" jawab Gavin sambil menundukkan kepalanya.

Entah mengapa sorot mata Kira membuatnya takut.

"Bawa Ganjar pergi berobat. Kalau sudah nggak sanggup lagi, pergilah ke kediamanku dan cari aku. Aku akan melupakan kejadian hari ini. Nanti, aku akan mengeluarkan uang di pengadilan daerah untuk mengurangi penderitaan Gandi."

Kira kembali mengeluarkan 2.000 rupiah dan meletakkannya di tangan Gavin. Setelah itu, dia berbalik dan pergi.

Tiga bersaudara ini tercengang, Kira telah mengetahui siapa informan itu dan masih memberi mereka uang?

Jika ditotalkan, Kira telah mengeluarkan 4.000 rupiah untuk mereka. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Mana ada, korban membantu pencuri? Bahkan, memberi uang kepada pencuri untuk berobat! Wajar jika tiga bersaudara ini tercengang

"Kalian bertiga benar-benar bajingan! Beraninya kalian mencuri dari orang sebaik ini!" teriak ibunya Gavin.

Ibunya Gavin beserta ketiga menantunya terkejut, lalu terus bersujud ke arah punggung Kira. Gavin, Gandi, dan Ganjar juga menangis sembari bersujud ke tanah berkali-kali.

Di sisi lain, Jamal beserta pengikutnya memandang punggung Kira seakan-akan sedang melihat orang bodoh. Apa otak bocah ini rusak?

Pencuri sudah tertangkap. Namun, Kira tidak hanya mengeluarkan uang untuk melepaskan pencuri-pencuri itu, dia juga memberi uang kepada mereka untuk berobat. Bukankah ini sama saja dengan membuat pencuri ingin merampok rumahnya? Salah! Masih ada satu yang tidak dilepaskan.

Di sisi lain, Danu, Doddy, dan Tony menghela napas. Mereka menganggap bahwa Kak Kira ini terlalu baik.

Akhirnya, sekelompok orang pun membawa Gandi pergi ke tempat Budi untuk menangkap Liam dan Teja.

Ketika di perjalanan, Jamal menyipitkan matanya dan berkata,

"Kira, menangkap Liam dan Teja bukanlah tujuanmu. Tujuanmu yang sebenarnya adalah Budi, bukan?"

Kira pun tertawa.

Jamal berkata lagi dengan suara yang tinggi,

"Liam dan Teja adalah anak buah Budi. Kamu sudah memukul Budi kemarin. Lalu, Liam dan Teja memberi tahu ke Gavin bersaudara malamnya. Sudah pasti Budi yang menginstruksikan mereka,"

"Tuan Jamal, Anda sangat akurat!"

Kira yang kagum memberi hormat, lalu berujar,

"Karena kamu sudah menemukan dalangnya, ayo kita tangkap dia!"

Danu, Doddy, dan Tony langsung bergidik. Ketiganya tidak menyangka bahwa tujuan Kira mencari Jamal hari ini sebenarnya untuk menjatuhkan Budi.

"Jangan bicarakan hal-hal yang nggak berguna ini. Menjatuhkan Budi bukan hal sepele."

Jamal berkata dengan ekspresi tak berdaya,

"Kami ini sama-sama pejabat pemerintahan. Apa yang akan dipikirkan oleh rekan-rekanku nanti? Bagaimana aku bisa hidup di masa depan nanti?"

"Aku mengambil 2.000 rupiah hanya untuk menangkap pencuri, bukan untuk menjatuhkan seorang kepala desa. Aku benar-benar nggak bisa melakukannya!"

"Benar-benar nggak bisa?" Kira memastikan.

"Ya!" sahut Jamal dengan tegas.

"Aku akan tambahkan uangnya!" tawar Kira.

"Hehe, ini bukan masalah uang. Aku, Jamal, adil dan berintegritas. Aku menegakkan hukum dan nggak berpihak. Aku nggak akan menyalahkan orang baik atau membebaskan orang jahat! Kamu mau tambah berapa banyak?"

Beberapa saat kemudian, sampai di tujuan. Di Dusun Silali, di sebuah umah bata. Rumah itu adalah kediaman Budi.

Tampak Budi yang sedang duduk di kursi goyang dengan handuk hangat yang menutupi wajahnya. Wajahnya bengkak karena dipukuli oleh Kira kemarin.

Namun, bengkak di wajahnya hari ini makin parah. Dia pun menggertakkan giginya dan berkata,

"Apa ada pencuri yang pergi ke kediaman Kira tadi malam?"

Seorang pelayan berkata,

"Ya. Ada pencuri yang merampok 50.000 rupiah milik Tony, dan bajingan itu menangis sepanjang pagi."

Budi tercengang. Dia berseru,

"Apa anak nggak berguna itu gila? Dia benar-benar memberi pengangguran itu 50.000 rupiah?"

Pelayan itu mengangguk sembari membatin,

'Orang itu nggak gila, orang itu murah hati. Nggak seperti kamu yang pelit sekali. Aku sudah bekerja keras selama setahun. Tapi, beberapa ribu rupiah pun nggak dapat.'

Budi menggertakkan giginya, lalu berujar,

"Bagaimana dengan anak nggak berguna itu? Gavin bersaudara sudah pergi ke rumahnya, apa mereka menikamnya? Atau mungkin membunuhnya?"

Pelayan yang mendengar ini menggeleng seraya menjawab,

"Nggak, Gavin bersaudara gagal. Dengar-dengar mereka dipukul habis-habisan oleh Doddy."

"Doddy bisa mengalahkan mereka bertiga?" Budi terperanjat. Dia menjadi geram dan berkata,

"Sial. Anak nggak berguna ini bernasib baik."

Tiba-tiba, ada pelayan lain yang berteriak sambil berlari masuk. Dia berkata,

"Tuan Budi, gawat!"

"Aku dapat kabar dari tempat Kak Liam dan Kak Teja, mereka bilang, Jamal memimpin para pemanah dan pasukannya untuk menangkap Liam dan Teja. Dia juga membawa Kira, Doddy, dan yang lainnya untuk datang ke Dusun Silali."

Budi langsung bangkit berdiri dari kursi goyangnya. Dia berteriak,

"Apa? Jamal sialan! Beraninya dia datang menangkap Liam dan Teja. Apa dia nggak tahu aku ini siapa? Sial, Jamal pasti sudah disogok oleh Kira si sampah itu. Sekarang, dia datang untuk menangkap Liam dan Teja. Ingin melibatkan dirinya? Lihat saja nanti, aku akan memberinya pelajaran yang berat!"

Pelayan pun bertanya dengan cemas,

"Bagaimana ini?"

Budi yang tampak galak itu berkata,

"Rencanaku gagal dan aku sendiri yang kena batunya. Panggil semua pria di desa untuk menghadapi mereka semua. Bunuh Jamal dengan kejam, lalu tangkap Kira si anak nggak berguna itu dan pukul dia sampai mati!"

Pelayan itu pun segera melaksanakan perintah Budi. Beberapa saat kemudian,

"Dung! Dung! Dung!"

Suara gong dan gendang terdengar. Kemudian, semua pria di Dusun Silali berkumpul.

Dusun Silali ini tidak kecil, populasinya mencapai 400 orang. Di sana, ada lebih dari 100 pemuda.

Di sisi lain, Kira berjanji bahwa dirinya akan memberikan 3.000 rupiah sebagai imbalan menangkap Budi.

Jadi, Jamal langsung menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang adil dan berintegritas, juga akan mengambil risiko untuk menangkap orang-orang yang bisa membahayakan masyarakat.

Sekumpulan orang pun mendatangi kediaman Budi.

Kemarin, keduanya dipukuli oleh Doddy dan membantu Budi mencuri uang. Setelah itu, mereka mengantar surat ke Dusun Garata, lalu kembali ke kediaman Budi. Alhasil, keduanya bolak-balik sejauh lima kilometer lebih. Lantaran kelelahan, keduanya pun tidur-tiduran sepanjang siang.

1
Leha Rahman
hadir kak , lanjut 💪
Aisyah Suyuti
good
I Am Riza
kerajaan Nayara itu kerajaan yang berdiri sendiri.
Ahmadi 241215
kerajaanya itu masih wilayah nusantara gak gak sih bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!