Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Davka yang keras kepala.
"Sudah, Nak, jangan menangis lagi. Kasihan bayimu kalau ibunya sedih terus. Mungkin ini memang sudah takdir. Kami berjanji takkan menyalahkan Davka lagi.” Davka hanya menatap Nayyara dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
“Sekali lagi terima kasih, bang Davka, sudah menolong saya keluar dari sana. Saya janji akan membalas kebaikanmu dengan melahirkan anak ini dalam keadaan sehat dan selamat,” lanjut Nayyara.
Bu Melinda tersenyum sambil mengusap perut Nayyara yang masih rata dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih, Nak. Tante sungguh bahagia mendengarnya… akhirnya kami akan punya cucu. Dan mulai hari ini, anggaplah kamu sudah menjadi menantu Ibu.” Bu Melinda tak bisa lagi marah, apalagi Nayyara tidak menuntut apa‑apa dan justru bersikap sangat pengertian. Gadis ini lembut, baik hati, dan cerdas, persis seperti menantu yang selama ini dia harapkan.
“Kalau begitu, Nayyara sebaiknya pindah dan tinggal di sini bersama kami. Mommy ingin menjagamu dan memastikan kandungan ini sehat sampai kelahiran nanti. Setuju?”
Ujarnya pada Davka.
“Mom, kenapa dia harus tinggal di sini sih? Nayyara kan tinggal di apartemen sudah cukup nyaman, dan ada Bik Sumi yang menjaganya setiap hari,” bantah Davka.
“Hey, mommy ini calon neneknya dari anakmu! Tentu saja aku ingin menjaga cucu sendiri!”
"Mom, jangan terlalu berlebihan deh!”
“Davka, jangan membantah mommy mu!” bentak Pak Alex. “Apa salahnya menantu kita tinggal di rumah besar ini? Kami hanya ingin menjaga keturunan keluarga Tedja, dia itu pewaris Daddy juga!" Davka terdiam ketakutan dan tak berani membantah lagi saat melihat tatapan tajam ayahnya.
Pak Alex dengan tugas menolak."Daddy sudah mengambil keputusan. Mulai sekarang Nayyara akan tinggal di sini sebagai menantu kami sampai melahirkan. Jangan membantah lagi. Jika kamu tak setuju, kamu boleh saja keluar dari rumah ini!”
“Baiklah, kalau begitu aku akan tetap tinggal di apartemen saja. Kalau Nayyara mau tinggal di sini bersama Daddy dan mommy, oke... silakan saja. Biar Daddy dan mommy yang menjaganya sampai anak itu lahir,” sahut Davka lalu berbalik pergi tanpa pamit pada orang tuanya.
Pak Alex dan Bu Melinda hanya bisa menggeleng melihat sikap putranya yang keras kepala.
“Lihat kan hasilnya? Davka ini terlalu kamu manja, sifat keras kepalanya tak ada obatnya, dan malah menolak mengakui istrinya secara resmi,” Keluh pak Alex di sebelah Bu Melinda yang menangis.
"Sabar Daddy, Abang mungkin cuma emosi" Irene menenangkan kedua orang tuanya.
***
Sampai di apartemen nya, Davka masih marah-marah.
"Argh… mommy dan Daddy benar‑benar menyebalkan, suka maksain kemauan sendiri!”
Davka membanting gelas minumannya dengan kesal. Sudah tengah malam, tapi dia tak bisa tidur sejak tadi. Telepon dari orang tuanya terus berdering, terus dia abaikan saja, pasti cuman untuk mengomelinya lagi.
“Mommy malah bela orang lain ketimbang anaknya sendiri, ditambah Daddy ikutan juga marahin aku. Semua ini gara‑gara Nayyara!”
Meskipun semuanya sudah terbongkar, Davka justru makin ragu melangkah lebih jauh dengan Nayyara. Entah kenapa hatinya masih menolak melupakan mantan istrinya, Selvia—padahal selama ini yang didapat darinya hanyalah tuduhan menyakitkan.
“Halo, ada apa kamu nelpon jam segini?” tanyanya dingin saat melihat nama Nayyara di layar ponsel. Namun suara yang terdengar di seberang sana justru milik ibunya.
“Kalau mommy nggak minjam ponsel Nayyara, mana mungkin kamu mau mengangkat telepon, hah?” Davka mendengus kesal, tapi terpaksa tetap mendengarkan apa yang dikatakan Bu Melinda.
“Assalamualaikum, maaf, mom…”
“Waalaikumsalam. Sebentar, Daddy mu mau bicara.” Davka menghela napas panjang saat suara Pak Alex menggantikan suara ibunya. Sampai sejauh ini mereka masih memakai ponsel Nayyara untuk menghubunginya.
“Besok siang Daddy ingin bicara serius denganmu di kantor. Setelah resepsi pernikahan Marcus hari Minggu nanti, kamu harus mulai tinggal lagi di rumah ini bersama istrimu. Paham?!”
“Baik, besok aku akan ke kantor Daddy…”
“Ya sudah, Daddy tunggu. Ingat pesan Daddy jangan lagi menghindari Nayyara. Laki‑laki itu harus bertanggung jawab atas istri dan anaknya. Jangan lupa, kamu sudah akan menjadi ayah!" Davka hanya mengangguk pasrah dalam hati, meski hatinya enggan sekali untuk menjalani semuanya.
****
Kantor Pakuwon group.
Prang!!
Haris dan Dimas yang baru saja hendak berdiri dari kursi langsung terlonjak kaget. Bahkan Haris sampai memegangi dadanya karena terkejut mendengar suara gelas yang dibanting oleh bos mereka. Untung saja gelas kopi itu terbuat dari baja tahan karat, jika tidak pasti sudah hancur berkeping‑keping.
“Loe kenapa? Dari tadi kita rapat dengan relasi. Kok loe kelihatan murung terus, Dav?” tanya Dimas.
“Kesal aku! Semua ini gara‑gara Daddy, suka sekali maksain kehendaknya,” jawab Davka dengan wajah kusut. Dia merasa semakin terjepit dalam situasi ini. Memang dia bisa segera punya anak, tapi justru diperintah Ayah untuk menikahi resmi Nayyara dan mengurus surat nikah mereka, jika tidak pak Alex takkan memberikan jabatan CEO pada Davka.
Mana mungkin Davka mau? Sejak awal dia sudah bertekad hanya akan mengambil anaknya setelah lahir, dan tidak akan mengubah rencana itu.
“Masalah apa lagi nih?” heran Dimas.
Melihat situasi ini bersifat pribadi bagi bosnya, Haris pun pamit keluar. Dia menutup pintu ruang rapat rapat‑rapat, meninggalkan Dimas dan Davka berdua saja di dalam.
“Aku mau punya anak,” ujar Davka tiba‑tiba.
“Heh? Maksud loe apa?” Dimas mengerutkan dahi bingung mendengar kalimat yang terasa ambigu itu.
“Perempuan yang aku nikahi secara siri tiga bulan lalu sudah hamil. Tapi kemarin ketahuan mommy ku, kalau aku sudah menikahi Nayyara.”
“Loe serius Dav? Ya ampun!” Dimas segera menarik kursinya mendekat ke arah sahabatnya. Davka hanya menghela napas panjang tanda kesal.
“Jadi perempuan itu beneran sudah hamil?”
Davka mengangguk pelan.
“Ya Allah, ini kabar baik sekali. Alhamdulillah, akhirnya loe bakalan punya keturunan, nggak akan lagi dituduh mandul sama orang lain, hehe…”
“Tapi aku sekarang dipaksa untuk menikahinya secara resmi. Loe ngerti maksudku, kan?” Dimas hanya menggeleng tak mengerti.
“Lha, apa salahnya? Kan dia sudah mengandung anak loe, ya nikahi aja secara resmi, selesai urusannya. Lagipula kalau hanya nikah siri seperti kemarin, nanti kasihan anak loe kalau statusnya jadi nggak jelas.”
“Argh, pusinglah aku! Yang aku inginkan itu balik lagi sama Selvia, bukan malah menikahi Nayyara!”
“Dav, loe ini memang edan ya… susah dimengerti jalan pikiran loe!” Gemas Dimas.
“Kasihan juga Nayyara lho coba loe pikir Dav. Dia sudah berkorban banyak buat loe.”
“Tapi dia bakal menerima bayaran satu miliar rupiah untuk mengandung dan melahirkan anakku. Itu jumlah yang banyak, kan? Pokoknya aku tetap tidak mau menikahinya secara resmi. Titik. Begitu anakku lahir nanti, aku akan menceraikannya” Davka terus ngeyel.
“Argh, memang susah kalau sudah begini. Loe masih aja mengharapkan mantan istrimu yang sudah jelas tukang Selingkuh, sinting loe!?" Dimas berdiri dari kursi dan hendak pergi, membuat Davka semakin kesal.
“Lho, kok loe malah pergi? Dim, hei dengarkan keluhan ku dulu dong!”
“Aku lapar! Malas meladeni orang sinting, nanti saja setelah makan siang loe cerita lagi!” Davka melempar map yang ada di meja ke arah Dimas, lalu mengacak‑acak rambutnya dengan frustasi.
“Argh, pokoknya aku tetap nggak mau. Biar aja Daddy marah atau nggak mau memberikan jabatan CEO ke aku, masa bodoh!" Davka mengambil jas hitamnya yang tergantung di sandaran kursi. Sepertinya dia mulai membenci kehadiran Nayyara, yang dianggapnya menjadi sumber pertengkarannya terus‑menerus akhir-akhir ini dengan kedua orang tuanya.