NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Mobil SUV mewah Thomas berhenti di depan sebuah kedai bakso yang cukup legendaris di daerah Jakarta Selatan. Kedai itu tidak terlalu besar, namun kepulan asap dari panci raksasa di depan dan aroma gurih kaldu yang menusuk hidung menjelaskan mengapa tempat itu penuh sesak.

Sebelum Thomas sempat membuka pintu, Arunika menahan lengan suaminya. Ia menatap Thomas dari ujung rambut sampai ke kancing kemeja paling atas dengan tatapan menilai.

"Mas... jas kamu buka dulu. Biar nggak formal banget, terus ini rambut kamu berantakin dikit nggak apa-apa. Biar kayak aktor Korea, hehe," ucap Arunika sambil nyengir, tangannya sudah gatal ingin mengacak-acak rambut Thomas yang tertata rapi dengan pomade.

Thomas menghela napas, namun ia menurut. Ia melepas jas mahalnya dan menyampirkannya di jok belakang. Ia kemudian melonggarkan dasinya, membuka dua kancing teratas kemejanya, dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga sebatas siku—memperlihatkan lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar di sana.

"Kamu ini... banyak maunya," gumam Thomas, pasrah saat jari-jari mungil Arunika mulai mengacak bagian depan rambutnya agar terlihat lebih messy alami.

"Kalau nggak banyak maunya, bukan aku dong namanya," sahut Arunika puas. Ia memandangi hasil karyanya. "Nah! Gini dong. Mas Thomas versi santai tapi tetep ganteng maksimal. Ayo turun!"

Mereka masuk ke kedai. Kehadiran Thomas yang terlihat seperti model majalah di tengah kerumunan orang kantoran dan mahasiswa langsung mencuri perhatian. Thomas tampak sedikit canggung saat harus duduk di bangku panjang kayu yang sempit, tepat di depan meja yang sedikit berminyak.

"Bang! Bakso urat dua ya, tetelannya banyakin. Satunya nggak pake seledri," seru Arunika lantang kepada si abang penjual.

"Siap, Mbak Nika! Tumben bawa cowok baru, ganteng amat kayak artis!" sahut si abang sambil tertawa.

Thomas melirik Arunika, menaikkan alisnya. "Cowok baru?"

"Ih, maksudnya kan dulu aku sering ke sini sendirian atau sama temen kampus, Mas. Mas kan baru pertama kali ke sini," bisik Arunika sambil mengambil botol kecap. "Nih, Mas lap dulu sendoknya pake tisu."

Thomas menerima sendok itu dengan kikuk. "Kamu sering makan di sini?"

"Sering banget. Dulu kalau stres ngerjain skripsi, pelariannya ya ke sini. Kuah pedesnya itu bener-bener mood booster," cerita Arunika bersemangat.

Tak lama, dua mangkuk bakso panas mengepul dihidangkan di depan mereka. Bakso urat yang besar-besar, dikelilingi oleh potongan tetelan yang melimpah dan taburan bawang goreng.

"Mas, cobain kuah aslinya dulu sebelum diracik," instruksi Arunika.

Thomas mencicipi sesendok kecil. Matanya sedikit melebar. "Gurih. Kaldunya terasa sangat kuat. Tidak kusangka tempat seperti ini punya rasa sedalam ini."

"Kan aku udah bilang! Sekarang liat caraku ngeracik." Arunika mulai beraksi. Ia memasukkan tiga sendok besar sambal merah merona, dua tetes cuka, dan kecap manis yang banyak. Terakhir, ia memeras dua buah jeruk nipis dengan bertenaga.

"Nika, itu sambalnya terlalu banyak," tegur Thomas cemas melihat warna kuah Arunika yang berubah jadi merah membara.

"Nggak pedes nggak seru, Mas! Nih, Mas cobain racikanku dikit." Arunika menyodorkan sesendok kuahnya ke bibir Thomas.

Thomas mencicipinya dan langsung terbatuk kecil, wajahnya memerah. "Ini... ini bisa membakar tenggorokan, Nika."

"Ah, Mas lemah! Nih, aku kasih tetelannya biar netral." Arunika menyuapkan sepotong lemak daging yang empuk ke mulut Thomas. "Gimana? Lumer kan?"

Thomas mengunyah pelan, rasa gurih lemak itu memang luar biasa. "Enak. Aku tidak tahu kenapa makanan penuh kolesterol ini bisa terasa sangat nikmat."

"Itu namanya kenikmatan dunia, Mas Thomas," tawa Arunika.

Mereka makan dengan lahap di tengah hiruk pikuk kedai. Thomas, yang biasanya makan dengan tata krama meja makan yang ketat, kini terlihat santai menikmati setiap gigitan baksonya. Sesekali ia menyeka keringat di dahinya karena hawa panas kedai dan uap bakso.

"Mas, kemeja kamu kena kuah nggak?" tanya Arunika khawatir.

"Sejauh ini aman," jawab Thomas. Ia menatap Arunika yang sedang asyik mengunyah dengan pipi menggembung. "Nika."

"Ya?"

"Terima kasih."

Arunika mengerutkan kening. "Buat apa? Kan Mas yang bayarin baksonya."

"Terima kasih karena sudah membawaku ke tempat-tempat seperti ini. Hidupku terlalu lama dihabiskan di ruangan ber-AC dengan makanan yang ditata cantik tapi rasanya hambar. Bersamamu, semuanya terasa lebih... nyata," ucap Thomas tulus, sorot matanya melembut meski rambutnya sedikit berantakan kena angin kipas angin kedai.

Arunika tersenyum manis, hatinya menghangat. "Sama-sama, Mas. Nanti aku ajak ke tempat-tempat yang lebih seru lagi. Habis ini kita cari es podeng ya? Biar tenggorokannya adem."

"Apapun maumu, Sayang," balas Thomas pelan.

Di sela-sela makan siang itu, Thomas merasa sangat bahagia. Ia merasa seperti pria biasa yang sedang berkencan dengan kekasihnya, bukan CEO yang memikul beban ribuan karyawan. Namun, di sela tawa mereka, ponsel Thomas di saku celananya bergetar berkali-kali. Ada pesan masuk dari Maminya, meminta pertemuan mendesak sore ini.

Thomas melihat notifikasi itu sekilas, lalu menyimpannya kembali. Ia ingin menikmati sisa waktu makan siang ini dengan Arunika tanpa gangguan apapun. Ia tidak tahu bahwa Marcell baru saja meletakkan kertas kontrak itu di meja Maminya, dan badai yang sesungguhnya sedang bersiap menyapu kehangatan yang baru saja mereka bangun di kedai bakso sederhana itu.

"Mas, ayo abisin baksonya! Tuh, tetelannya jangan disisain, mubazir!" seru Arunika sambil menunjuk mangkuk Thomas.

Thomas tersenyum, kembali menyuapkan bakso terakhirnya, mencoba mengabaikan firasat buruk yang tiba-tiba melintas di benaknya. Sore ini mungkin akan menjadi berat, tapi setidaknya, perut dan hatinya sedang terasa sangat penuh sekarang.

***

Suasana di dalam mobil SUV hitam itu mendadak berubah. Aroma bakso yang gurih dan sisa tawa di kedai tadi seolah menguap, digantikan oleh hawa dingin yang merayap masuk lewat ventilasi AC. Arunika menyandarkan kepalanya di jok mobil, matanya menatap kosong ke arah jalanan Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan.

"Mas... perasaan aku kok nggak enak ya?" gumam Arunika. Tangannya bertautan di atas pangkuan, meremas jemarinya sendiri dengan gelisah.

Thomas, yang sedang fokus mengemudi, melirik sekilas ke arah istrinya. Garis rahangnya mengeras, memperlihatkan ketegangan yang sama. "Mas juga."

Arunika menoleh cepat, matanya membelalak kecil. "Mas juga ngerasain? Bakal ada apa ya, Mas? Apa soal kerjaan? Atau... soal kita?"

Thomas menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. "Mami tadi chat berkali-kali."

"Chat apa, Mas?" tanya Arunika dengan suara yang sedikit bergetar.

"Minta ketemu kita sore ini. Katanya ada hal mendesak yang harus dibicarakan secara kekeluargaan," jawab Thomas datar, namun ada nada waspada dalam suaranya. "Kita balik ke kantor dulu, selesain kerjaan secepat mungkin, terus kita langsung ke sana ya?"

"Iya, Mas," sahut Arunika pelan. Ia kembali menatap jendela, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berdetak tidak beraturan.

Sesampainya di kantor, suasana yang biasanya produktif kini terasa mencekam bagi mereka berdua. Thomas langsung duduk di kursi kebesarannya, namun alih-alih langsung menyentuh berkas, ia terdiam menatap layar monitor yang masih gelap.

Arunika mencoba profesional. Ia duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai menyusun kembali laporan yang tadi sempat tertunda. Namun, fokusnya buyar setiap kali mendengar suara dentingan ponsel atau langkah kaki di koridor.

"Nika," panggil Thomas tiba-tiba.

Arunika mendongak. "Iya, Mas?"

"Laporan audit dari divisi marketing sudah kamu rapihkan?" tanya Thomas. Suaranya kembali formal, seolah-olah mencoba menciptakan dinding perlindungan lewat rutinitas kerja.

"Sudah, Mas. Tinggal aku tambahkan catatan kaki untuk bagian pengeluaran iklan bulan lalu. Mau aku cetak sekarang?"

"Cetak saja. Taruh di meja Ardi, biar dia yang tinjau terakhir sebelum aku tanda tangan," ujar Thomas. Ia kemudian mulai mengetik dengan cepat, mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan surel masuk.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu selama hampir satu jam. Hanya ada bunyi detak jam dinding dan ketikan keyboard yang beradu. Namun, Thomas sesekali mencuri pandang ke arah Arunika. Ia melihat istrinya itu beberapa kali salah mengetik dan menghapusnya kembali.

Thomas berdiri, berjalan menghampiri meja Arunika. Ia meletakkan tangannya di atas bahu Arunika, memijatnya pelan. "Fokus, Nika. Kalau kamu panik sekarang, kerjaan kita nggak akan selesai, dan kita nggak akan siap menghadapi apa pun yang Mami mau bicarakan nanti."

Arunika menarik napas dalam, memejamkan matanya sejenak menikmati sentuhan Thomas. "Aku cuma takut, Mas. Gimana kalau Mami tahu soal kontrak itu? Gimana kalau Marcell..."

"Jangan mendahului takdir," potong Thomas tegas namun lembut. "Marcell tidak tahu kodenya. Kontrak itu aman di brankas. Fokus dulu ke dokumen ini, oke? Ini adalah benteng pertahanan kita. Selama kita profesional, orang tidak akan punya celah untuk meragukan kita."

Arunika mengangguk, ia mencoba menegakkan punggungnya. "Oke. Laporan audit selesai. Sekarang aku lanjut ke jadwal meeting Mas untuk besok pagi."

"Bagus," puji Thomas. Ia kembali ke mejanya. "Aku baru saja menyelesaikan memo untuk dewan direksi. Tolong cek tata bahasanya, aku tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun hari ini."

Dialog-dialog profesional itu terus mengalir, menjadi semacam tameng dari rasa cemas yang menghantui. Mereka bekerja seperti mesin—efisien dan tak tergoyahkan. Thomas menandatangani berkas demi berkas dengan kecepatan yang tak biasa, sementara Arunika memastikan semua arsip tertata rapi.

"Mas, ini berkas dari vendor properti yang baru. Mereka minta kejelasan soal kontrak lahan di Bogor," ucap Arunika sambil menyerahkan map biru.

Thomas membacanya dengan teliti. "Tahan dulu. Bilang pada mereka aku butuh revisi di bagian klausul pembatalan. Aku tidak mau ada celah hukum yang merugikan perusahaan."

"Oke, aku kirim email-nya sekarang."

Waktu menunjukkan pukul empat sore. Sinar matahari mulai memerah, masuk melalui celah jendela dan menyinari ruangan CEO itu. Thomas menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. Ia berdiri, mengambil jasnya yang tadi sempat ia lepas.

"Kerjaan selesai untuk hari ini," ujar Thomas. Suaranya terdengar berat. "Ayo. Kita tidak bisa menghindar lagi."

Arunika merapikan mejanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mengambil tasnya, berdiri di samping Thomas. "Mas... apa pun yang terjadi nanti, Mas jangan lepasin tangan aku ya?"

Thomas menatap mata Arunika dalam-dalam. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan singkat yang sangat erat. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Nika. Kontrak atau bukan, kamu adalah istriku sekarang. Ingat itu."

Mereka berjalan keluar dari ruangan CEO dengan langkah tegap, meskipun di dalam hati mereka masing-masing, badai ketakutan sedang mengamuk. Di lobi kantor, mereka berpapasan dengan Ardi yang tampak ingin menyapa, namun melihat ekspresi serius di wajah Thomas, Ardi hanya mengangguk pelan.

"Semoga beruntung, Bro," gumam Ardi pelan, seolah tahu ada sesuatu yang besar sedang menanti sahabatnya itu.

Pintu lift tertutup. Thomas menggenggam tangan Arunika sangat erat di dalam lift yang meluncur turun. Mereka sedang menuju ke kediaman keluarga Adiputra, tempat di mana sebuah kebenaran pahit—yang telah dicuri oleh Marcell—siap dilemparkan ke tengah meja makan, menghancurkan sisa-sisa kedamaian yang mereka miliki.

Dunia di luar kantor tampak begitu tenang, namun bagi Thomas dan Arunika, perjalanan menuju rumah Mami terasa seperti perjalanan menuju medan perang yang sesungguhnya.

1
ummu sulaim
🥰🥰🥰
Yoanna Ratnasari
lanjut thor
Emi Sudiarni
wah marcel perhatian bangat
Emi Sudiarni
bagus bngat ceritany
ayamgeprek_
bagus banget wajib baca. yang laki definisi siap jadi suami banget ihh
ayamgeprek_
ehen yaaa punya suami kayak mas thomas🤭
ayamgeprek_
bagusss banget suka🤣
Nurminah
orang tua Thomas dan jika goblok kalo si marcel mau perkosa nika baru ke buka tuh mata hadeh
Nurminah
zaman now harga diri haha
mending nikah kontrak la ngangkang gratisan gimana ceritanya
untuk pelajaran orang tua zaman now terkadang sering masalah harga diri yg dipikirkan tapi kondisi anak nggak dipikirkan ditanya kek duduk bareng itulah yg terjadi pada orang tua zaman now anak tidak menganggap orang tua rumahnya tempat berkeluh kesah akhirnya banyak perbuatan yg membuat malu keluarga terjadi saat ketahuan sudah tidak bisa diperbaiki lagi
ana
lNjut thor
Wulan
apaan ya tuh gladi bersih 🤔🤔🤔
Kusii Yaati
kenapa nggak di musnahkan saja sih thom perjanjian kontrak pernikahannya.jangan cari masalah Napa, kalau sampai surat kontrak itu jatuh ke tangan orang tua Nika, nggak bisa di bayangkan sekecewa apa mereka sama kamu 😔
Kusii Yaati
Thomas sama Marcel Gantengan mana sih Thor, penasaran aq🤭
Penulis GenZ: sama-sama ganteng kak. tapi masih matengan si Thomas hehe.
total 1 replies
Kusii Yaati
gemas nggak sih kalau ketemu cewek kayak arunika...di getok dulu kepalanya baru peka😂
Kusii Yaati
pasti nanti Marcel akan merasa kehilangan arunika udah nggak ngejar" dia lagi... biasa kalau udah kehilangan baru terasa, bahwa hanya arunika yang tulus mencintainya,BASI cel😒
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!