NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

"Permana!!" teriak Gayuh panik melihat pria itu mengerang kesakitan di lantai.

Rasa takut seketika menyelimuti Gayuh. Dengan sigap, ia mendekati Permana, memapah tubuh pria itu dengan hati-hati, dan membawanya untuk duduk di bangku teras yang aman.

Gayuh berlutut sejenak untuk melihat kondisi kaki Permana.

"Kakimu bengkak sekali, Permana. Ayo kita cari tukang pijat sekarang juga," ucap Gayuh panik dan penuh rasa bersalah.

Bagaimanapun, Permana terluka karena melindunginya.

Tanpa membuang waktu, Gayuh kembali memapah tubuh Permana yang terpincang-pincang menuju ke dalam mobil dan membantunya duduk di kursi penumpang.

Setelah itu, Gayuh bergegas mengunci kembali pintu rumah menulisnya yang baru saja ia bersihkan sebagian.

Begitu masuk ke kursi kemudi, Gayuh segera melajukan mobilnya membelah jalanan untuk mencari tukang pijat urut di sekitar daerah tersebut. Tangannya sedikit gemetar di atas setir.

"Maafkan aku ya, Permana. Gara-gara menolongku, kakimu jadi seperti ini," ucap Gayuh tulus dengan nada yang sangat menyesal.

Permana yang bersandar di kursi sambil memegangi pergelangan kakinya menoleh, menatap Gayuh dengan pandangan yang dalam.

"Tidak perlu minta maaf, Mbak Gayuh. Saya rela melakukan apa saja demi keselamatan Mbak. Dan, untuk tukang pijatnya, kita ke arah sini saja, Mbak. Di depan ada pertigaan belok kiri. Ini tukang pijat langganan saya, tempatnya agak masuk ke dalam."

Mendengar petunjuk yang begitu meyakinkan, Gayuh langsung menganggukkan kepalanya tanpa ada rasa curiga sedikit pun.

Fokusnya saat ini hanyalah ingin bertanggung jawab dan memastikan kaki dosen yang telah menyelamatkannya itu bisa segera diobati, tanpa menyadari bahwa rute yang ditunjukkan Permana sedang membawanya masuk semakin dalam ke dalam jebakan yang telah dirancang.

Beberapa menit kemudian, Gayuh menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana yang tampak sepi dan agak terpencil.

Suasana di sekitar rumah itu terasa sunyi, seolah jauh dari hiruk-pikuk jalan raya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Gayuh kembali memapah tubuh Permana yang tampak semakin kepayahan menahan bobot badannya.

"Di sini tempatnya?" tanya Gayuh memastikan, sambil menyapu pandangan ke sekeliling halaman yang tampak gersang.

"Iya, Mbak, di sini," jawab Permana dengan suara yang sengaja dilemahkan, seolah rasa sakitnya sudah tak tertahankan.

Tok!

Tok!

Tok!

Gayuh mengetuk pintu kayu rumah tersebut beberapa kali.

Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu.

Tanpa banyak bertanya, wanita itu langsung menyambut mereka dan mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangan yang remang-remang.

Wanita itu dengan sigap mempersilakan Permana naik ke sofa panjang agar bisa meluruskan kakinya.

Dengan peralatan minyak urut yang sudah siap di atas meja, wanita itu kemudian duduk di lantai dan mulai memijat kaki Permana yang membengkak.

"Apakah sakit?" tanya wanita pemijat itu sambil menekan area pergelangan kaki Permana.

"Sedikit," ucap Permana sambil meringis, meski sebenarnya tatapan matanya terus melirik ke arah Gayuh yang berdiri cemas di dekat sofa.

Melihat kepanikan Gayuh, wanita pemijat itu mengambil sebuah gelas berisi air putih yang sudah disiapkan di atas meja sudut.

"Minumlah dulu, Mbak. Biar tenang. Wajah Mbak pucat sekali," ucap wanita itu menyodorkan gelas.

Gayuh yang memang merasa tenggorokannya kering karena panik sejak tadi, langsung menganggukkan kepalanya tanpa curiga sedikit pun.

"Terima kasih, Bu," jawab Gayuh, lalu meneguk air putih itu hingga setengahnya.

Namun, air itu belum sempat turun sepenuhnya ke kerongkongan ketika kepala Gayuh mendadak terasa berputar hebat.

Pandangannya langsung kabur, dan seluruh persendiannya mendadak lemas mati rasa.

Hanya dalam hitungan detik, gelas di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai, disusul dengan tubuh Gayuh yang langsung ambruk jatuh pingsan tak sadarkan diri di atas lantai.

Melihat korbannya sudah terkulai tak berdaya, erangan sakit di wajah Permana seketika lenyap.

Pria itu menurunkan kakinya dari atas sofa dengan sangat normal, membuktikan bahwa luka terkilir tadi hanyalah akting belaka.

Senyum miring yang penuh kepuasan kini menghiasi wajahnya yang licik.

"Akhirnya..." bisik Permana dengan binar mata obsesif yang berkilat tajam menatap tubuh Gayuh.

Permana kemudian merogoh dompet dari saku celananya, mengambil beberapa lembar uang pecahan besar, dan menyerahkannya kepada wanita paruh baya tersebut.

"Ini bagianmu. Kerja bagus," ucap Permana dingin kepada wanita yang sengaja ia sewa untuk berpura-pura menjadi pemijat langganannya demi menyukseskan rencana penculikan ini.

Permana bangkit dari sofa dengan santai. Kaki yang tadinya diklaim terkilir kini melangkah dengan sangat kokoh tanpa ada rasa sakit sedikit pun.

Semuanya memang bagian dari skenario licik yang telah ia susun dengan matang untuk mendapatkan wanita pujaannya.

Pria itu merogoh saku celananya, mengambil ponsel milik Gayuh yang sempat ia ambil saat wanita itu mulai kehilangan kesadaran.

Dengan mengetik cepat, ia mengirimkan pesan kepada Jati menggunakan ponsel Gayuh, agar suaminya tidak menaruh curiga.

"Mas, aku pergi ke rumah lamaku dulu ya, ada sesuatu yang ingin aku ambil."

Setelah menekan tombol kirim ke nomor Jati, Permana beralih ke kontak Nenek.

Ia mengirimkan pesan singkat dengan alasan serupa, mengabarkan bahwa Gayuh tidak akan pulang ke rumah untuk sementara waktu karena urusan mendadak tersebut.

Tak berhenti di situ, untuk memastikan tidak ada orang dari lingkungan kerjanya yang mencari keberadaan sang penulis, Permana membuka aplikasi pesan dan mengirimkan pemberitahuan ke dalam grup rumah menulis.

Ia mengumumkan atas nama Gayuh bahwa aktivitas kelas menulis akan diliburkan untuk beberapa hari ke depan karena sang mentor sedang ada keperluan mendesak.

Setelah membersihkan semua jejak digital yang bisa memicu kecurigaan dalam waktu dekat, Permana memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya.

Ia berjalan mendekati tubuh Gayuh yang masih terkulai pingsan di lantai.

Dengan senyuman penuh kemenangan dan tatapan mata yang semakin terobsesi, Permana membungkuk dan membopong tubuh lemas Gayuh ke dalam pelukannya.

"Ayo, Sayang. Waktunya kita pergi dari sini," bisik Permana dengan nada yang sangat lembut namun mengerikan.

Ia membawa tubuh Gayuh keluar melalui pintu belakang rumah tersebut, bersiap memindahkan wanita itu ke tempat persembunyian rahasia yang telah ia siapkan, jauh dari jangkauan Jati Aditama maupun orang-orang yang mengenalnya.

Sementara itu, di salah satu hotel bintang lima di pusat kota Surabaya, pintu ruang rapat besar akhirnya terbuka.

Jati melangkah keluar dengan raut wajah lelah setelah berjam-jam terjebak dalam diskusi bisnis yang menegangkan bersama Pak Gunawan dan jajaran direksi.

Sambil melonggarkan sedikit dasinya, Jati merogoh saku jas dan mengeluarkan ponselnya.

Alisnya langsung bertaut rapat saat membaca sebuah pesan singkat yang masuk dari nomor istrinya beberapa waktu lalu.

"Mas, aku pergi ke rumah lamaku dulu ya, ada sesuatu yang ingin aku ambil."

Jati menghentikan langkahnya di koridor yang sepi. Kerutan di dahinya semakin dalam.

"Rumah lama? Untuk apa Gayuh ke sana mendadak seperti ini? Bukankah tadi pagi dia bilang mau fokus di rumah menulis?" gumam jati.

Perasaan tidak enak perlahan mulai merayap di benak Jati. Jiwa protektifnya langsung terusik.

Tanpa membuang waktu, Jati langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi nomor istrinya.

Tut... Tut... Tut...

Panggilan tersambung, namun tidak ada jawaban.

Jati menjauhkan ponsel dari telinganya, menunggu beberapa saat, lalu mencoba menelepon kembali. Hasilnya tetap sama. Nada dering itu berbunyi hingga mati tanpa ada tanda-tanda akan diangkat.

"Sayang, kenapa kamu tidak mengangkatnya?" gumam Jati dengan nada suara yang mulai dipenuhi rasa khawatir dan gelisah.

Biasanya, sejauh atau sesibuk apa pun Gayuh, wanita itu tidak pernah mengabaikan panggilannya jika tidak dalam kondisi yang benar-benar mendesak.

Mengingat cerita Gayuh kemarin malam tentang mobilnya yang sempat mogok, dan kehadiran sosok peserta baru bernama Permana, kecurigaan Jati sebagai seorang suami seketika menajam. Ada sesuatu yang terasa tidak beres di sini.

Pak Gunawan, yang baru saja keluar dari ruang rapat membawa beberapa berkas, melihat gelagat aneh dari atasannya itu. Ia melangkah mendekati Jati yang tampak tegang menatap layar ponsel.

"Pak Jati, rapat evaluasi babak kedua akan segera dimulai. Silakan masuk kembali ke ruangan," ucap Pak Gunawan dengan nada formal namun sopan.

Jati langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, matanya memancarkan kepanikan yang berusaha ia tekan.

"Tidak, Pak Gun. Saya tidak bisa melanjutkan rapat ini. Saya harus pulang ke Jakarta sekarang juga. Istriku tidak menjawab ponselnya."

Mendengar alasan tersebut, raut wajah Pak Gunawan langsung berubah serius.

Sebagai kepala keamanan sekaligus orang kepercayaan keluarga Aditama yang sudah bertahun-tahun mendampingi Jati, Pak Gunawan tahu betul bagaimana sifat pria di hadapannya ini.

Jati tidak akan pernah bersikap seimpulsif ini kecuali jika instingnya mencium bahaya besar yang sedang mengancam keselamatan Gayuh. Bagi Jati, keselamatan istrinya adalah di atas segalanya.

Pak Gunawan menganggukkan kepalanya tanda mengerti sepenuhnya.

"Baik, Pak Jati. Saya paham. Jangan khawatirkan urusan di sini, biar saya yang menghandle sisa rapat dengan tim Surabaya. Saya akan segera siapkan mobil dan mengutus tim pengawalan untuk mendampingi Bapak kembali sekarang juga."

1
Vie
iiihhhh si othor sekalinya crazy up kata terakhirnya bikin kesel deh.... kok bentar kali aku belum puas sama mereka berdua.... 😭😭😭😭😭 terimakasih kak atas ceritanya yang menarik.... tetap semangat berkarya... 👍👍👍👍
Vie: sama sama kak..... 👍👍👍👍
total 2 replies
sri hastuti
walah baru bahagia sebentar kok sdh seperti itu thor, jd males mau lanjut, kasihan gayuh. sdh menderita ,sebentar bahagia,sdh hrs spt ini 😡😡😡
Dew666
☀️☀️☀️☀️
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Rahmawati
knp gk kasih tahu kl rini jg nampar km gayuh, biar bales tampar sekali
Dew666
👄👄👄👄
Rahmawati
resepsionis kok gitu, pecat aja langsung😡
Vie
malah dia yang akan dapet kejutan manis dari jati.. dengan pemecatan dia dari kantor jati... 🤣🤣🤣🤣
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!