"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula Masuk Dunia Drama
Hujan deras mengguyur Kota Jakarta malam itu, menyisakan suara gemercik air yang beradu dengan atap seng padepokan silat di pinggiran kota. Di dalam kamar sekretariat yang merangkap tempat tinggalnya, Arumi Nasha sedang telentang di atas kasur lipat tipis. Kakinya yang jenjang dinaikkan ke dinding, sementara kedua tangannya memegang ponsel dengan erat. Matanya yang bulat melotot tajam menatap layar yang sedang menampilkan adegan puncak dari drama adaptasi novel web populer berjudul "Posesif Suami Dingin".
"Astaga naga! Ini sutradaranya minta digeprek atau gimana, sih?!" teriak Arumi frustrasi, suaranya menggelegar mengalahkan suara guntur di luar.
Arumi adalah seorang pelatih silat muda berkepribadian ceplas-ceplos, bermulut tajam, dan terkenal bar-bar di lingkungannya. Baginya, menonton drama romansa di kala senggang adalah sarana hiburan, tetapi drama yang satu ini justru sukses membuat tensi darahnya melonjak ke ubun-ubun.
Di layar ponselnya, karakter antagonis wanita—yang sialnya memiliki nama depan yang sama dengannya, Arumi Razetha—baru saja melakukan tindakan super bodoh. Demi mengejar cinta suaminya yang dingin, Zaviar Ravindra, Arumi versi drama itu nekat mendorong Calista, sang istri kedua yang lemah lembut dan merupakan cinta masa kecil Zaviar, dari tangga mansion. Tindakan itu gagal total. Calista hanya menderita lecet kecil, sementara Zaviar murka luar biasa. Dengan tatapan mata sekejam iblis, Zaviar memerintahkan para pengawalnya untuk menyeret Arumi dan menjebloskannya ke dalam sel bawah tanah yang gelap, pengap, dan dingin selama dua minggu tanpa ampun.
"Heh, Arumi badut!" maki Arumi pada karakter di ponselnya. "Lu punya saham perusahaan warisan orang tua lu gede banget, muka lu sebenarnya cakep kalau enggak didandanin kayak reog Ponorogo, tapi otak lu di mana?! Kenapa lu musti ngemis cinta sama cowok impoten kaku kayak si Zaviar itu?! Kalau gue jadi lu, gue sewa pengacara paling mahal, minta cerai, ambil harta gono-gini, terus hidup makmur!"
Arumi mendengus kasar, membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran karakter tersebut. Di dalam kelanjutan cerita novelnya, Arumi versi drama itu dikabarkan tewas mengenaskan di dalam sel bawah tanah akibat kelaparan, kedinginan, dan serangan panik sebelum masa hukumannya selesai. Tragis, bodoh, dan sia-sia.
Perut Arumi berbunyi nyaring. Efek emosi jiwa menonton drama membuat cacing di perutnya berdemonstrasi meminta hak mereka. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Makan mi instan kuah pedas pakai telur kayaknya mantap nih," gumamnya dengan mata berbinar.
Arumi bangkit dari kasurnya dengan gerakan lincah khas seorang pesilat. Ia berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan, mengambil sebungkus mi instan varian kuah rasa soto ditambah cabai rawit potong yang melimpah. Sembari menunggu air di dalam panci aluminium kecil di atas kompor listrik mendidih, Arumi meletakkan ponselnya di atas meja dapur, menyandarkannya pada sebuah toples agar tetap bisa menonton kelanjutan drama tersebut.
Di layar, adegan berpindah memperlihatkan Zaviar yang sedang mendekap Calista, istri keduanya, di atas ranjang rumah sakit dengan penuh rasa posesif, seolah-olah seluruh dunia adalah musuh yang ingin merebut wanitanya.
"Cih, posesif sih posesif, tapi tumpul buat apa?" cibir Arumi sambil mengaduk mi di dalam panci. Berdasarkan rahasia besar di dalam novelnya, Zaviar Ravindra menderita disfungsi ereksi organik-psikologis akibat trauma masa kecil dan racun dari musuh bisnis keluarganya. Tubuh dan gairahnya mati total untuk wanita mana pun. Dia mengabaikan kedua istrinya bukan hanya karena berhati dingin, tetapi karena organ intimnya memang tidak bisa bereaksi sama sekali. Zaviar bahkan belum pernah menyentuh Calista meskipun wanita itu adalah istri kedua yang sangat dicintainya.
Air di dalam panci mulai bergolak hebat. Arumi mematikan tombol kompor listrik, lalu dengan ceroboh mengangkat panci panas itu hanya menggunakan selembar kain tipis yang sudah agak basah. Pada saat yang bersamaan, petir menyambar dengan suara menggelegar di luar padepokan. Lampu di dalam ruangan mendadak berkedip-kedip tidak stabil.
"Eh, copot!" seru Arumi kaget.
Sentakan mendadak itu membuat tangannya yang memegang panci goyah. Kuah mi instan yang mendidih dan super panas tumpah, langsung mengenai permukaan kompor listrik yang masih menyala dan merembes ke kabel penambang yang terkelupas di dekat dinding.
Tubuh Arumi bergetar hebat. Rasa sakit yang luar biasa menghantam seluruh sistem sarafnya seperti ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk bersamaan. Pandangannya mendadak memutih. Jantungnya berdegup dengan kecepatan ekstrem sebelum akhirnya melambat secara drastis. Kesadaran Arumi tersedot ke dalam pusaran kegelapan yang tak berujung. Pikiran terakhirnya sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya bukanlah tentang kematian, melainkan penyesalan yang amat sangat: Sialan, mi instan gue belum sempat kemakan!
Rasa sakit itu datang kembali secara bertahap, berdenyut konstan di belakang kepala sebelum menjalar ke seluruh persendian tubuh. Dingin. Hal pertama yang disadari oleh kesadaran Arumi setelah kegelapan panjang itu adalah rasa dingin yang menggigit, jenis dingin yang tidak berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari lantai batu yang lembap dan berlumut.
"Uh..." Sebuah lenguhan lolos dari bibir yang terasa kering dan pecah-pecah.
Arumi mencoba menggerakkan jemarinya. Sentuhan pertamanya adalah permukaan kasar dari lantai batu yang basah. Bau apak campuran antara tanah, besi berkarat, dan aroma kelembapan yang samar langsung menusuk indra penciumannya. Ini bukan dapur padepokan silatnya. Ini jelas bukan lantai keramik putih tempat ia tersengat listrik tadi.
Secara perlahan, Arumi membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Pandangannya sangat buram. Cahaya di ruangan itu sangat minim, hanya berasal dari sebuah obor dinding yang berkedip-kedip gelisah di balik jeruji besi yang kokoh. Jeruji besi?
Arumi tersentak. Rasa terkejut itu memberi pasokan energi mendadak pada tubuhnya yang lemas. Ia memaksakan diri untuk duduk, bersandar pada dinding batu yang terasa sedingin es. Kepalanya berputar hebat, memicu kilasan ingatan yang bukan miliknya berputar seperti pita kaset rusak di dalam otaknya.
“Dasar wanita ular! Kau berani mendorong Calista hingga terluka? Bersyukurlah aku tidak memenggal kepalamu saat ini juga! Seret dia ke ruang bawah tanah!” Suara seorang Pria terdengar dingin
Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan penuh kebencian menggema di dalam kepala Arumi. Diikuti visual seorang pria berjas formal hitam dengan tatapan mata sekelam malam, menatap penuh rasa jijik ke arah seorang wanita yang bersimpuh di kakinya dengan riasan wajah yang luntur oleh air mata.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.