Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijebak
...----------------...
Arka yang sejak tadi duduk berjaga di sisi ranjang melihat hal itu, lalu langsung menyusul Laura yang berjalan limbung menuju kamar mandi. Ia dengan cekatan memijat tengkuk istrinya, mencoba meredakan rasa tidak nyaman yang menyiksa itu.
Pagi itu, Laura terasa mulai mual lagi. Sementara Arka sedang sibuk didapur untuk memasak
Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar mendekati kamar mandi.
"Laura?" panggil Arka dari balik pintu.
Laura baru saja selesai muntah.
Ia membasuh wajahnya lalu membuka pintu perlahan.
"Aku nggak apa-apa."
Arka menghela napas.
Kalimat itu sudah terlalu sering didengarnya.
Namun wajah Laura yang pucat membuatnya tidak percaya.
"Ayo duduk dulu."
Arka menggenggam tangan Laura dan membimbingnya ke tepi ranjang.
"Kamu harus banyak istirahat."
Laura tersenyum kecil.
"arka, aku cuma hamil, bukan sakit."
"Tapi aku tetap khawatir."
Laura terkekeh pelan melihat wajah serius suaminya.
Tak lama kemudian aroma makanan dari dapur mulai tercium.
"Masak apa?"
"Bubur."
Laura langsung mengernyit.
"Kenapa bubur?"
"Karena kata ibu, makanan yang lembut lebih enak buat ibu hamil yang lagi mual."
Mendengar itu Laura tertawa kecil.
Sementara di luar kamar, Rohaya yang kebetulan lewat tersenyum melihat perhatian Arka kepada istrinya.
Namun senyum itu tidak berlangsung lama.
Karena dari ruang tamu, Bela memperhatikan semuanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Perhatian yang diberikan semua orang kepada Laura kembali membuat rasa iri dalam dirinya muncul.
Dan saat itulah ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Cia.
"Apa Laura sudah membaik?"
Bela membaca pesan itu beberapa saat.
Lalu mengetik balasan singkat.
"Sudah."
Tak lama kemudian balasan lain masuk.
"Bagus. Berarti kita tinggal menunggu dia keluar rumah."
Bela terdiam menatap layar ponselnya.
Tanpa disadari, rencana yang mereka susun perlahan mulai mendekati waktunya untuk dijalankan.
tak lama kemudian, arka mengambil tasnya lalu ia bergegas berangkat ke kantor tak lupa mencium kening istrinya
"hati-hati ya dijalan" ucap Laura dengan menggenggam tangan arka
Arka pun membalas genggaman tangan Laura.
"iya, yaudah aku berangkat dulu ya"
Setelah itu, Arka berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Laura tetap berdiri di teras rumah, memperhatikan suaminya yang bersiap berangkat bekerja.
Saat mobil Arka perlahan meninggalkan halaman rumah, Laura masih menatap ke arahnya sambil tersenyum tipis. Entah kenapa, perhatian yang diberikan Arka sejak mengetahui kehamilannya membuat hatinya terasa hangat dan bahagia.
Hari itu terasa sepi seperti biasa, dirumah cuma ada Laura dan Bela. Sedangkan Rohaya sudah pergi arisan dan Arman sudah berangkat bekerja.
Laura segera masuk kedalam kamarnya sebelum ia bertemu dengan Bela. Tak lama setelah itu Bela berteriak meminta tolong ke Laura
"tolong... Laura!! Aduhh sakitt..." teriak Bela dari dalam kamarnya. Laura yang mendengar itu pun langsung bergegas menuju kamar Bela
"kak Bela kenapa?" tanya Laura sambil memegang tangan Bela yang sedang memegang perutnya
"aku juga nggak tau Laura, tiba-tiba sakit banget perut aku aduhhh!" Bela memegangi perutnya
"kakak ada obat? Biar aku ambilin dimana obatnya" tanya Laura dengan khawatir
"obat ya? Aduhh aku gak punya obat. Kamu bisa tolong beliin nggak? Tolong Laura, sakit banget kakak gak tahan"
Laura menganggukkan kepalanya "iya kak, kakak tunggu disini dulu biar aku beliin" Laura pun bergegas pergi untuk membeli obat di apotek
Setelah melihat Laura pergi keluar rumah, Bela pun segera mengabari Cia bahwa rencananya berhasil untuk membuat Laura keluar rumah.
Setelah itu Cia pun segera melakukan aksinya untuk menyuruh seorang laki-laki mendekati Laura.
Saat Laura keluar dari apotek, tiba-tiba ada seorang pria berjalan tergesa-gesa dari arah berlawanan.
Bruk!
Pria itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
Secara refleks Laura mengulurkan tangan untuk menahannya.
Namun karena gerakannya terlalu cepat, tubuh pria itu justru sempat menabrak Laura hingga keduanya terlihat sangat dekat.
"Maaf! Maaf, saya tidak sengaja!" ucap pria itu panik.
Laura yang terkejut langsung mundur beberapa langkah.
"Tidak apa-apa."
Di seberang jalan, Cia tersenyum puas sambil menekan tombol kamera berkali-kali.
Dari sudut pengambilan gambarnya, foto itu tampak seperti Laura dan pria tersebut sedang berpelukan.
Sementara itu Laura sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya baru saja masuk ke dalam jebakan yang telah disusun untuknya.
Ia melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah pelan sambil sesekali memegangi perutnya.
Setelah laura sampai kedalam rumah, ia pun langsung memberikan obat yang ia beli untuk Bela tanpa ia tau bahwa ini semua sudah direncanakan oleh Bela.
"makasih ya Laura" Bela pun tersenyum sambil menerima obat itu, Laura hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis
Laura pun kembali ke kamarnya untuk istirahat, tanpa ia tau bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
Di sisi lain, ponsel Bela bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Cia.
Bela segera membuka pesan tersebut.
Matanya langsung membelalak saat melihat beberapa foto yang dikirim Cia.
Dalam foto itu, Laura terlihat sangat dekat dengan seorang pria asing.
Sudut pengambilan gambarnya membuat keduanya tampak seperti sedang berpelukan.
Senyum tipis muncul di bibir Bela.
"Akhirnya..."
Ia segera mengetik balasan.
"Bagus. Sekarang tinggal ibu."
Cia membalas dengan cepat.
"Jangan terburu-buru. Cari waktu yang tepat."
Bela menatap foto itu cukup lama.
Dalam benaknya sudah terbayang bagaimana wajah Rohaya saat melihatnya.
Ia yakin ibunya akan kembali membenci Laura seperti dulu.
Sore harinya, Rohaya sedang melipat pakaian di ruang keluarga.
Bela yang melihat kesempatan itu langsung menghampiri.
"Bu..."
"Kenapa?" tanya Rohaya tanpa mengalihkan pandangan.
Bela duduk di samping ibunya.
"Kalau misalnya seseorang melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, ibu bakal maafin nggak?"
Rohaya menghentikan aktivitasnya.
"Maksud kamu apa?"
Bela pura-pura ragu.
"Nggak, cuma nanya aja."
Namun perkataan itu membuat Rohaya teringat masa lalu.
Masa ketika ia pernah menuduh Laura hanya karena kebenciannya terhadap orang kota.
Rohaya menghela napas.
"Manusia bisa berubah, Bela."
Jawaban itu membuat senyum Bela sedikit memudar.
Ia tidak menyangka ibunya akan menjawab seperti itu.
Tetapi Bela tidak menyerah.
Ia perlahan mengeluarkan ponselnya.
"Kalau begitu ibu lihat ini dulu."
Rohaya menerima ponsel tersebut.
Awalnya wajahnya biasa saja.
Namun beberapa detik kemudian dahinya mulai berkerut.
Dalam layar terlihat Laura bersama seorang pria yang tidak dikenalnya.
Posisi keduanya tampak sangat dekat.
Rohaya terdiam.
Bela segera memanfaatkan kesempatan itu.
"Aku juga nggak mau percaya, Tapi foto ini dikirim temanku tadi siang."
"Katanya mereka melihat Laura di dekat apotek." Lanjutnya
Rohaya masih menatap foto itu tanpa berkata apa-apa.
Hatinya mulai tidak nyaman.
Namun kali ini berbeda.
Ia tidak langsung marah seperti dulu.
BERSAMBUNG......
KIRA-KIRA BU ROHAYA PERCAYA ATAU JUSTRU SEBALIKNYA YA??