HAI... Readers nya LeoRa_
Author cuma mau kasih tau kalo novel yang ini bakal di buat ulang dan tentunya perlu waktu.
Semoga, perbaikan kali ini menarik perhatian kalian... aku tunggu dukungannya...
Mengetahui fakta bahwa ia lahir di luar nikah akibat perbuatan jahat ayah biologisnya yang dengan tega menghancurkan masa depan wanita yang dicintainya -ibu- membuatnya bertekat untuk membalaskan rasa sakit ibunya tersebut dengan caranya sendiri.
Terlebih ketika dia tahu bahwa skenario yang Tuhan ciptakan begitu menarik, membuatnya bersedia mengambil peran yang sudah di siapkan untuknya.
Peran yang mengizinkannya untuk memegang kendali penuh atas hidupnya.
Seperti ketika keluarga ayah biologisnya memaksa untuk menggantikan nama keluarga di belakang namanya. Dengan lantang dan tegas ia menekankan.
"I AM SHIENOLL DALLETRA!!!"
😊ini karya pertamaku, semoga kalian suka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeoRa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IASD-27
Setelah dari Bank Kota, Shienoll diajak jalan-jalan keliling Kota D sekaligus membantu Shienoll menambah pengetahuannya tentang kota tempat tinggalnya dan secara bersamaan keempatnya juga menikmati tempat-tempat indah yang ada di Kota D diwaktu menjelang sore itu.
Setelah lelah seharian...
Kini, mereka sedang dalam perjalanan pulang. Tiga pria dewasa disana merasa keponakan mereka sudah cukup menikmati kota tempat tinggalnya sebagai cara lain menikmati momen ulang tahun bocah itu dan ini saatnya mereka untuk pulang.
Selama perjalanan pulang Shienoll sudah terlihat terkantuk-kantuk hingga membuatnya harus dipangku oleh Damian agar dapat bersandar padanya. Damian juga mencoba belajar hal baru yaitu dalam mengurus anak kecil. Dia menepuk-nepuk pelan punggung Shienoll guna membantu bocah tampan itu untuk tetap tidur lelap.
Jika ada yang melihatnya, mereka akan berpikir bila Damian benar-benar ayah dari Shienoll.
Sandy pun angkat bicara dengan nada yang rendah agar tidak mengganggu tidur Shienoll.
"Kau sudah cocok menjadi ayah, Dam." celetuk Sandy menggoda Damian saat matanya melirik spion tengah guna melihat keadaan keponakan kesayangannya. Tapi, yang terlihat malah adegan manis antara Damian si jomblo tak mau kenal cinta dan si bocah Shienoll kesayangan mereka yang kini terlihat seperti potret ayah dan anak.
Mendengar itu, Damian justru melayangkan lirikan tajam pada temannya yang menyetir. "Fokus saja pada mengemudi mu. Jangan ikut campur!" sinis dia yang malah mengundang tawa renyah Sandy.
"Kau sinis sekali. Memangnya apa yang salah dengan perkataan ku. Kita ini seumuran. Pembahasan itu hal yang wajar."
"Kalau begitu, kau saja yang menikah."
"Haha. Jodohku belum datang."
"Apanya yang belum datang, Kak? Kau saja acuh pada setiap perempuan yang datang." kali ini Youshi yang sinis karena merasa geli dengan pernyataan kakaknya seolah selama ini Sandy sudah cukup berusaha menemukan jodohnya.
Tampaknya Sandy lupa kalau dia dan Sandy memiliki pemikiran yang sama tentang jodoh, pikir Youshi.
"Berisik!" timpal Sandy balik sinis pada adiknya. Damian di kursi belakang menggelengkan kepalanya seraya membatin.
"Tidak ada yang beda!"
Akhirnya topik tentang jodoh ditutup sampai disini dengan cara yang aneh.
"Damian, berapa hari kau akan tinggal disini?" tanya Sandy pelan memecah keheningan didalam mobil yang melaju menuju ruko Sherina.
"Besok aku sudah harus kembali. Pekerjaan ku tidak bisa ditinggal lama. Bagaimana dengan kalian?" jawab Damian dengan suara yang sama pelannya bertujuan agar Shienoll tidak terganggu dengan percakapan mereka.
"Sama! Kami juga! Tapi, tidak tahu dengan Mami dan Papi. Mereka sudah bebas dari tanggung jawab pekerjaan mencari nafkah. Jadi, seharusnya mereka bebas dan bisa menetap bila mereka ingin." terang Sandy yang kini duduk di kursi co-pilot yang artinya saat ini Youshi yang menyetir.
"Jangan lupakan, Nami." sambung Youshi.
Sandy yang mendengarnya mengangguk setuju. "Kau benar. Dia bisa dikatakan pengangguran juga...?!"
"Berarti hari ini adalah hari terakhir kita di pertemuan pertama ini, ya...?!" kata Sandy.
Damian dan Youshi mengangguk setuju.
"Benar. Tapi, setidaknya setelah ini kapanpun bila ingin datang tidak kesulitan lagi." Damian berbicara tentang sudah ditemukannya Sherina dan putranya setelah sekian lama menghilang tiba-tiba.
"Kau benar " Sandy membenarkan.
Di ruko, begitu mobil berhenti didepan ruko pasangan tua langsung melipir masuk untuk istirahat. Keduanya diminta Sherina untuk menempati kamarnya agar lebih nyaman. Sementara Sherina dan Namika duduk di luar kamar yang bisa dikatakan ruang keluarga karena letaknya dilantai atas.
Keduanya memilih beristirahat sambil mengobrol.
"Apa rasanya punya anak, Na?" tanya Namika yang terlentang sambil memandang langit-langit ruko.
Mendengar pertanyaan seperti itu, Sherina sempat melirik sahabatnya sebelum menjawab. "Luar biasa bahagia." tak lupa senyum syukur tersungging.
"Benarkah?!" tiba-tiba Namika memiringkan tubuhnya menghadap Sherina. "Tapi, pasti berat karena tidak memiliki suami." lirihnya menatap sahabatnya sendu. Dia ikut sedih apalagi bila memori masa lalu muncul kembali.
"Tentu. Makanya, kau harus menikah dengan orang yang tepat agar saat kau punya anak nanti, ada suami yang mendampingi mu." tutur tulus Sherina dengan bibir tersenyum. Seakan kalimat itu tidak mengganggu hatinya.
Apa yang dilihat Namika justru membuat 'nyut' di dadanya. "Kau sangat kuat. Sahabat ku memang hebat."
"Hahaha... Aku aku itu." Sherina seperti tidak merasakan kesedihan apapun saat pembahasan itu di jadikan topik mereka.
"Na, kau benar-benar sudah mengikhlaskan masa lalu?" tanya Namika tiba-tiba. Meski tidak enak hati menanyakan hal itu, tapi Namika ingin tahu seberapa kuat sahabatnya. Bagaimanapun, dia menanyakan ini hanya untuk memastikan bila dimasa depan nanti takdir mempertemukan Sherina dengan orang yang melukainya, apakah Sherina siap?
Dia hanya tak ingin sahabatnya malah merasakan ketakutan ataupun gelisah bila bertemu kembali dengan ayah biologis Shienoll.
Pertanyaan itu juga membuat Sherina memiringkan kepalanya dan langsung saling tatap muka.
Ibu anak satu itu menarik nafasnya sejenak sebelum menjawab sambil mengangguk sedikit. "Aku sudah mengikhlaskannya. Meskipun sakitnya kadang masih terasa, tapi aku siap bila ada takdir yang mengharuskan aku untuk menghadapinya langsung. Apalagi sekarang Noll sudah semakin bertumbuh besar. Dia juga sudah tahu latar belakangnya selain siapa ayah biologisnya. Karena aku belum memberitahunya. Tapi, paling tidak... Aku tidak takut apapun lagi, karena Noll pasti akan selalu berada di sisiku."
Maknanya, menjurus pada bila nanti anaknya bertemu dengan ayah kandungnya. Sherina tidak takut, pria itu akan mengambil Shienoll darinya. Sebab, putranya itu sudah tahu apa yang harus dia lakukan dan dengan Shienoll yang sudah tahu siapa dirinya, pasti tahu apa yang diinginkannya.
Namika memandang wajah Sherina sambil membenarkan dalam hati. Tidak dipungkiri kalau bocah itu pasti akan memilih ibunya karena dia tumbuh bersama ibunya yang memberikan seluruh cintanya pada sang putra.
Namika juga tahu, kalau akan sulit bagi Sherina untuk jatuh cinta. Sebab, cinta pertamanya pastilah putranya. Karena, saat kejadian kelam itu Sherina benar-benar tak memiliki kisah asmara apapun dengan siapapun. Jadi, kelahiran Shienoll sudah pasti menjadi cinta pertama Sherina yang belum pernah jatuh cinta itu.
"Kau benar."
"Lalu, bagaimana dengan mu dan pacarmu? Siapa itu namanya?" kening Sherina mengernyit karena lupa, saat ini dia sedang mengingat-ingat siapa nama pacar sahabatnya itu.
"Tagha." jawab Namika sambil mendengus. Agaknya tidak senang Sherina melupakan hal sesepele itu.
"Iya, itu. Aku berdoa semoga dia pria terbaik dan tepat untuk mu." permohonan tulus Sherina yang seketika membuat Namika merindukan kekasihnya. Jadi, Namika mengaminkan doa baik itu dalam hati.
"Lalu, apa kau sudah memberitahunya kalau kau ada disini? Soalnya kalau aku ingat dengan benar. Aku tidak melihat mu menelpon siapapun sejak kau menginjakkan kaki mu disini." pertanyaan tak terduga Sherina membuat Namika tertegun.
Sepertinya, kali ini dia yang lupa.
Dia mengingat-ingat lagi, apakah dia sudah pernah memberitahu sahabatnya ini kalau kekasihnya adalah salah satu orang yang pernah ikut andil menjadi bagian dari masa kelamnya?
Kepanikan membuat Namika berhati-hati dalam berucap.
"Aku belum menghubunginya..." belum selesai Namika menjelaskan, Sherina sudah menepuk kuat lengannya dan mengomel.
Plak!
"Kau ini bagaimana! Komunikasi itu penting, Mika sayang... Kau harus sering berkomunikasi dengan kekasih mu agar kalian tetap terikat meski berjauhan. Jangan sampai dia mencari yang lain, lho..."
Namika mengedipkan matanya seraya dalam hati bergumam dengan penuh percaya diri. "Bagaimana mau mencari yang lain, kalau dia cinta mati padaku?!" tapi, itu hanya dalam hati. Namika lebih memilih diam dan mendengarkan omelan ibu anak satu ini saja tanpa perlu repot-repot menjelaskan.
Setidaknya, ini bukan suatu yang fatal bisa disalahpahami.
Tapi, siapa yang menduga lagi kalau dia kini didesak Sherina untuk menghubungi kekasihnya. Namika kaku seketika. Dia tak mau menghubungi Tagha saat dia masih berada di dekat Sherina. Namika tidak mau ambil resiko bila Tagha berkhianat dengan melacak keberadaannya dan membeberkannya pada pria itu.
"Sudah sana, telpon dia. Sekalian berlama-lama telponnya biar puas merindunya." kemudian Sherina terkikik senang melihat wajah cengong sahabatnya yang tampaknya tak menduga Sherina bisa melontarkan kalimat menggoda seperti itu.
"Nana...!"
Brumm...
Ckiit...
Mobil satunya tiba dan berhenti disebelah mobil yang tadi Sherina + rombongan lain naiki. Turunlah para pria tampan dengan seorang bocah dalam gendongan Damian yang masih terlelap dengan nyamannya.
Ketiganya masuk satu persatu ke dalam ruko kecil Sherina.
Dari lantai atas, Sherina yang mendengar suara dari bawah langsung menduga kalau putranya sudah pulang. Jadi, dia pun bergegas turun meninggalkan Namika yang memandangi punggungnya dengan tatapan tak bisa diartikan.
Dibawah...
"Ya ampun. Putra ku tertidur?" tanya Sherina setelah tiba di bawah dan bersamaan saat matanya melihat pemandangan manis dimana Shienoll -putranya- tidur dalam gendongan Damian, membuat kepala bocah itu bersandar dengan nyaman di pundak lebar Damian.
Sekilas pemandangan itu terlihat seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anaknya dalam gendongannya. Mata Sherina mendadak berembun hingga membuatnya terhenyak dan segera mengedipkan matanya beberapa kali guna mencegah adanya air mata. Seperti apapun suasana hatinya melihat pemandangan itu, orang lain tidak boleh tahu.
Damian mengangguk membenarkan. "Hm. Aku akan naik untuk membawanya ke kamarnya." sergah Damian saat melihat Sherina ingin berucap dengan gerakan tangan ingin mengambil Shienoll dari gendongannya. Kemudian, dia melengos untuk menghindari Sherina dan berlalu begitu saja naik ke atas.
Seluruh gerakannya lancar dan mulus hingga Sherina tak tahu bagaimana harus bereaksi.
Sherina yang ditinggalkan tertegun dalam kebingungan sejenak sampai sebuah tawa menyadarkannya.
"Nana... Bersiaplah pria itu akan mengajukan permintaan adopsi untuk putra kesayangan mu." gurau Youshi dengan seringai jahilnya.
Buk!
"Kak Youshi!" pekik Sherina merajuk. Agak kesal mendengar kalimat yang Youshi lontarkan meskipun dia tahu itu hanya candaan.
Sandy yang melihatnya menggelengkan kepalanya. "Jangan mulai, deh." lalu mendekati Sherina dan merangkul pundak ibu anak satu itu guna membawanya naik keatas sekaligus mengabaikan kejahilan Youshi yang membuat pria itu masih terkikik lucu sendiri.
"Ayo, abaikan saja dia!"
"Hei, kalian! Hahaha... Tunggu aku!"
Seorang pria tengah duduk di depan jendela kamar hotelnya dengan segelas wine ditangannya yang digerakkan memutar. Namun, yang menggerakkannya tampaknya sedang melamun. Terlihat dari tatapan kosongnya yang menyiratkan kalau pikirannya sedang berkelana ke kejadian siang tadi.
Dia adalah Alvin Jonson.
Saat ini pria itu sedang membuat rencana untuk mendatangi Sherina yang sudah dia ketahui dimana tinggalnya. Ada hutang masa lalu yang harus ia bayar. Tapi, ada sedikit rasa takut dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi bila Sherina melihat dirinya tiba-tiba muncul.
Dia takut kehadirannya membuat kenangan kelam Sherina muncul lagi. Bagaimanapun, dia tidak tahu selama ini Sherina dalam keadaan seperti apa.
Apakah baik-baik saja?
Benar-benar baik-baik saja?
Masih trauma kah?
Dan lain sebagainya...
Tapi, jika dia undur terus yang ada hanya penyesalannya yang semakin besar. Alvin sendiri sudah cukup tersiksa dengan rasa bersalahnya, dia tak ingin terus seperti ini.
Jadi, tampaknya dia akan mengambil jalan nekat. Ada banyak kemungkinan dan dia hanya bisa bertaruh kedalamnya. Apapun yang terjadi, dia tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Sherina... Setelah sekian tahun, ini kali pertama aku menyebut namamu lagi..." gumamnya sambil menahan debaran jantung yang dipenuhi rasa bersalah, bahkan segala kenangan yang terjadi tahun itu bangkit kembali sampai dia jadi berkeringat dingin. Peluh membasahi seluruh tubuhnya tanpa ragu.
Berusaha menenangkan diri dengan menarik dan keluarkan nafasnya, meski demikian gemetar yang di alami tubuhnya seolah menjadi tanda bahwa pada dasarnya Alvin belum sembuh dari rasa bersalahnya.
Banyak usaha hanya untuk melanjutkan gumamnya.
"... A..aku tidak tahu... Hah! A..apakah aku sanggup menghadapi mu... Huh!" jedanya untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri agar melawan rasa bersalahnya yang menggunung dari lama, terlihat dari bagaimana dia mencengkeram erat gelas wine ditangannya.
Beruntung tidak sampai pecah.
"Ta..tapi... Aku tahu... Huh! Hanya i..ini... Hah! Kesempatan ku... Ku harap... Hah! K..kau... Menjadi kunci untuk ku lepas dari rasa bersalah ini... Huh! I..ini sangat menyiksaku, Sherina... Sangat menyiksaku!"
Kemudian pecahlah tangisnya yang seolah terpendam selama 7 tahun lamanya.
Kamar hotel yang gelap dan hanya berbekal pencahayaan dari cahaya bulan pun menjadi saksi bisu seorang Alvin meraung menangis penuh pilu.
semangat thor buat up nya 💪💪