Karina Amalia putri menjadi anak angkat keluarga Wijaya sejak usianya 10 tahun.Tepatnya setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan.
Rangga wijaya anak tertua tuan Wijaya yang terpaut 15 tahun darinya begitu menyayangi Karina layaknya adiknya sendiri.
Berbanding terbalik dengan Reno Wijaya, adiknya yang usianya 10 tahun diatas Karina, dia begitu tidak menyukai gadis itu. Bahkan terlihat sangat membencinya.
Karin sangat berharap Reno bisa menerima dan menyayanginya seperti Rangga. Segala usaha ia coba namun tidak pernah berhasil.
Apakah Karin akan terus berjuang mendapatkan cinta Kakak angkatnya, atau kah ia akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon requeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
semoga ada keajaiban
Tak butuh waktu lama, Reno telah kembali ke kamar istrinya dengan membawa sebuah bungkusan kecil pesanan Karin.
"apa kamu sudah siap? " tanya Reno menyeringai. Dengan sedikit ragu Karin mengangguk.
Reno pun mendekat kearah istrinya kemudian memeluknya dengan segenap perasaannya. Begitupun Karin. Ia menyusupkan wajahnya didada bidang suaminya, menghisap aroma khas suaminya yang sudah beberapa bulan ini ia rindukan.
Perlahan Reno membenamkan bibirnya dibibir Karin lembut membuat Karin ikut terhanyut dalam permainan Reno.
Malam semakin larut, dinginnya pendingin ruangan tak mampu mendinginkan sepasang suami istri yang sedang berbagi kehangatan untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka berpisah. Hingga menjelang subuh mereka baru mengakhiri pergumulan panas mereka.
Keduanya pun terlelap dengan saling berpelukan seolah enggan untuk berpisah.
****
Karin terbangun ketika matahari mulai tinggi. Reno sudah tidak ada disampingnya. Karin bangun namun badannya terasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian inti dan bagian dadanya, tentu saja ini adalah ulah keganasan Reno semalam.
Karin tersenyum tipis melihat bagian dada dan lehernya penuh dengan bercak kemerahan hasil karya suaminya. Jujur semalam ia pun begitu menikmatinya.
Setelah membersihkan diri ia pun keluar kamar menuju meja makan. nyonya Wijaya tampak sedang menyuapi Keano
"Keysha sudah pergi sekolah diantar Reno sekalian balik ke Bandung " nyonya Wijaya memberi tau Karin
"iya mih " jawab Karin. mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat
"hari ini kamu tidak ke butik? "
" tidak mih.. aku kurang enak badan " jawab Karin sambil memasukan seiris roti kedalam mulutnya.
Nyonya Wijaya tersenyum simpul melihat beberapa noda kemerahan dileher putrinya. Itu pasti karena ulah putranya semalam
"ya sudah kamu istirahat saja. jangan sampai sakit " ucap nyonya Wijaya disela kegiatannya menyuapi Keano "biar Keano mamih yang jaga "
"makasih mih.. Karin ke kamar dulu ya " Karin bangkit kemudian sedikit merunduk mencium pipi putranya. "jangan nakal ya " bisiknya pada Keano.
Ketika merunduk tampak belahan dada Karin. ternyata disana bercak kemerahan nya lebih banyak. Astaga.. segitu ganasnya kah putra nya itu batin nyonya Wijaya bergidik ngeri
*****
Setelah permintaan terakhir Reno dipenuhi, Reno tidak lagi menuntut Karin untuk tidak meninggalkannya. setiap sabtu minggu Reno pulang ke Jakarta untuk melihat anak-anak dan menghabiskan waktu dengan mereka.
"Ren, mamih liat hubungan kalian sudah terlihat mulai membaik, tapi kenapa kalian masih pisah kamar? " tanya nyonya Wijaya
"Karin masih tidak merubah keputusannya untuk tetap berpisah mih " jawab Reno santai
"mamih pikir kalian akan rujuk " nyonya Wijaya tampak kecewa.
"Reno inginnya begitu, tapi Karin tidak. Ya sudah Reno mengalah mengikuti kemauan Karin " nyonya Wijaya memandang heran putranya. ia tidak melihat kesedihan diwajah Reno
"Apa kamu sudah menyerah? " tanya nyonya Wijaya.
"Reno sudah berusaha dan berdoa, tinggal menunggu hasilnya "
Nyonya Wijaya menatap putranya bingung, hanya segitu kah usaha putranya untuk mempertahankan rumah tangganya?
"mamih doakan Reno ya.. semoga ada keajaiban " Reno menyentuh punggung tangan nyonya Wijaya. Ada senyum tipis menghiasi sudut bibir Reno
"ya. mamih doakan yang terbaik untuk kalian " nyonya Wijaya mengusap kepala putranya.Sejujurnya nyonya Wijaya heran dengan reaksi Reno yang tampak begitu santai seolah tidak ada beban sama sekali menghadapi perpisahan yang sudah didepan mata.
"Terima kasih mih " Reno mencium punggung tangan nyonya Wijaya.
****
Dua minggu menjelang hari dimana ia harus mengurus berkas perceraian dan beban pekerjaan akhirnya membuat Reno tumbang.
Ketika ia bangun pagi hari ia merasa kepalanya berputar-putar.Suhu tubuhnya sedikit meningkat dan perutnya seperti diaduk.
Reno berpegangan pada dinding menuju kamar mandi apartemen nya.Dikamar mandi Reno memuntahkan isi perutnya hingga ia merasa sangat lemas. Dengan sedikit terseok Reno pergi ke dapur dan membuat teh panas untuk meredakan mualnya.
Hingga menjelang siang kondisi badan Reno masih belum membaik, akhirnya ia pun menghubungi orangtuanya.
Mendapat kabar Reno sakit mau tidak mau Karin menyusul Reno ke Bandung. Walau bagaimanapun ia masih sah sebagai istri Reno.Jadi mengurusi Reno yang sakit masih menjadi tanggung jawabnya.
Untung Keano begitu pengertian mau ditinggal ketika diberitahu daddy nya sakit. Setelah menempuh perjalanan hampir 3jam akhirnya Karin sampai di apartemen Reno.
Ia begitu khawatir melihat kondisi suaminya yang terbaring lemah ditempat tidur.
"kamu meninggalkan anak-anak. apa Keano tidak apa -apa kamu tinggal? " tanya Reno. ia mengkhawatirkan putranya, karena selama ini anak itu tidak pernah jauh dari mommy nya.
"tidak apa-apa. dia akan baik-baik saja bersama mamih "
Karin mengecek suhu badan Reno dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Reno. hangat
"lebih baik kita ke dokter kak " ajak Karin. ia tidak tega melihat suaminya terus-terusan mengeluarkan semua makanan yang masuk ke perutnya.
"besok kalau masih muntah-muntah kita ke dokter " ucap Reno.Karin mengangguk
"makasih yank kamu udah repot-repot mau datang kesini dan ngurusin aku " ucap Reno
Karin hanya mengangguk. kemudian ia mengambil semangkuk bubur yang ia beli dari layanan pesan antar "makan dulu ka "
Karin menyodorkan sesendok bubur ke mulut Reno. Reno pun membuka mulutnya, sedangkan matanya tak lepas menatap Karin.
"pekerjaan kaka disini masih belum selesai? " tanya Karin.
"masih 80% " jawab Reno
"oohh.. "
Karin kembali menyuapi Reno. hingga bubur di mangkuk itu habis. Kemudian ia memberikan segelas air putih, Reno pun meminumnya
Karin membawa mangkuk kotor ke dapur kemudian mencucinya. Ketika ia kembali ke kamar Reno ia tidak mendapati Reno disana.
"hhooeeek... hoeeekk "
Ternyata laki-laki itu berada dikamar mandi dan memuntahkan kembali bubur yang baru saja ia telan
Karin memijit tengkuk Reno lembut, dan membantu suaminya kembali ke ranjang. Diambilnya minyak kayu putih kemudian Karin menggosok perut dan punggung Reno.
Reno membaringkan tubuhnya dengan posisi menghadap ke arah Karin yang duduk dipinggir ranjang, tangan Reno memeluk pinggang Karin kemudian ia pun tertidur.
Karin membiarkan tangan kekar Reno yang terlihat tak bertenaga memeluk pinggangnya. jemari lentik Karin mengelus kepala Reno yang sedikit basah karena keringat dingin. Baru kali ini ia melihat Reno sakit. Terakhir ia melihat Reno sakit waktu Reno memakan nasi goreng pedas bersama kak Alma dan kak Rangga.
*****
Karena kondisinya yang tidak kunjung membaik akhirnya keesokannya Karin membawa Reno pulang ke Jakarta.Reno bersikeras untuk berobat di Jakarta.
Sepanjang perjalanan beberapa kali Karin harus menepikan mobilnya karena Reno muntah. Setelah melalui perjalanan panjang akhirnya mobil yang Karin kendarai memasuki halaman rumah orang tuanya.
Karin membantu Reno turun dan membawa Reno masuk ke kamar tamu. Tuan dan nyonya Wijaya sangat khawatir melihat kondisi putranya yang terlihat pucat. ia pun segera memanggil dokter keluargnya untuk memeriksa kondisi putranya.
Dokter felix memeriksa Reno dengan seksama. Selesai memeriksa Reno dr Felix memberikan selembar resep obat yang harus Karin beli
"apa ada yang serius? " tanya nyonya Wijaya ketika dr Felix selesai memeriksa Reno
"tak ada yang perlu dikhawatirkan.. aku sarankan kamu membawa menantumu cek kandungan " bisik dr Felix.
"maksudnya _____? "
"aku curiga masalahnya ada pada menantumu "
Ya Tuhaaan.. bukannya Reno juga pernah mengalami seperti ini waktu dulu? wajah nyonya Wijaya berbinar bahagia.
"sini mamih saja yang tebus obatnya ke apotik, kamu jaga Reno " nyonya Wijaya mengambil kertas ditangan Karin dan berlalu.
Karin memandang mamih nya heran. Kenapa mamih sangat bersemangat sekali?
Tak berselang lama nyonya Wijaya datang memberikan obat yang baru ia beli di apotik. Karin membantu Reno untuk meminum obatnya.
Kemudian nyonya Wijaya menyeret Karin kekamar mandi. "apaan sih mih? " tanya Karin heran.
"mamih beli tespek.cepet kamu test "
"ga ah mih " Karin menolak.mana mungkin ia hamil karena terakhir melakukannya Reno memakai pengaman seperti yang Karin minta
"coba dulu sana " nyonya Wijaya memaksa. ia pun menutup pintu kamar mandi kemudian melangkahkan kakinya menuju ranjang. Ia duduk di tepi ranjang dan mengelus kepala Reno yang sedang terlelap.
"Semoga ada keajaiban yang akan menyelamatkan pernikahanmu " doa nyonya Wijaya.
'
coba lihat karin dibuat tidak enak, tidak tenang, merasa bersalah, menyesal, gampang minta maaf, pada lelaki lain seakan begitu menjaga perasaan pria lain tapi lihat pada suami dia seakan tidak peduli suami suami merasa sakit hati dia seakan tidak peduli mau suami menderita dia tidak peduli, terlihat dia sama sekali tidak peduli perasaan suami dan tidak ada sama sekali usaha menjaga perasaan suaminya, baru kalian bilang dia wanita dan istri baik2 bagai berlian, miris sekali
karya novel yang lebih mementingkan perasaan pria lain dari pada sang suami sah adalah novel wanita egois