Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PEMAKAMAN
Lampu koridor rumah sakit terasa kian temaram seiring berjalannya waktu menuju pukul empat pagi. Di ruang tunggu utama, Pak Dadang yang baru saja kembali setelah dikabari lewat telepon genggamnya, kini berdiri tegak di depan meja dokter spesialis yang selama ini merawat Tante Yuni. Sebagai sosok yang menjamin seluruh biaya dan bertanggung jawab atas lingkungan RT-nya, Pak Dadang mendengarkan penjelasan tim medis dengan guratan wajah yang sangat dalam dan penuh empati.
Dokter paruh baya itu mengembuskan napas pendek, merapikan letak kacamata minusnya sebelum membuka lembar rekam medis terakhir. "Jadi begini, Pak Dadang. Kondisi almarhumah Ibu Yuni sebenarnya sudah memasuki stadium akhir dari kanker serviks yang dideritanya. Sel-sel kankernya ternyata sudah mengalami metastasis, menyebar luas hingga ke organ vital lainnya termasuk paru-paru dan jaringan saraf utama."
Dokter itu mengetuk pelan berkas di depannya. "Siksaan fisik dan guncangan mental yang dialaminya semalam akibat kejadian KDRT itu menjadi pemicu utama kegagalan fungsi organ tubuhnya yang sudah sangat rapuh. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi menahan hantaman trauma sekecil apa pun. Beliau berpulang dalam kondisi tidur karena komplikasi yang sudah mencapai batas maksimal, Pak. Secara medis, ini adalah jalan terbaik bagi beliau agar tidak perlu lagi merasakan rasa sakit yang menyiksa setiap harinya."
Di sudut ruang tunggu, Sendy duduk bersandar di dinding semen yang dingin dengan kedua lutut yang ditekuk erat. Penjelasan dokter tentang kepergian Tante Yuni yang begitu mendadak benar-benar menghantam sudut terdalam di dalam jiwanya. Sebagai seorang pemuda yang yatim piatu sejak kecil, Sendy bisa merasakan dengan sangat bagaimana hancurnya dunia Kenan saat ini.
Ingatan Sendy langsung berputar ke masa-masa lalunya yang kelam, saat ia hanya tinggal berdua dengan kakeknya yang sudah renta. Waktu itu, untuk sekadar makan sehari-hari pun mereka hanya bisa mengandalkan bantuan sembako dan dana tunai dari program pemerintah yang sering kali terlambat datang. Namun sekarang, nasib Sendy sudah jauh berubah. Berkat kerja kerasnya menyambi kerja di sebuah perusahaan agensi digital kreatif sebagai UI/UX designer lepas, Sendy sudah memiliki penghasilan yang lumayan tinggi untuk seukuran anak kuliahan semester awal. Ia sudah bisa mandiri, bahkan bisa membelikan kakeknya obat-obatan yang layak tanpa perlu mengemis bantuan lagi. Namun, melihat Kenan yang kini resmi kehilangan figur ibu, Sendy tahu betul bahwa uang sebanyak apa pun di rekeningnya saat ini tidak akan pernah bisa membeli kembali kehangatan pelukan seorang ibu yang telah tiada.
Sementara itu, Aldi berdiri di dekat jendela koridor luar, menatap kosong ke arah pelataran parkir rumah sakit yang mulai diterangi cahaya fajar. Tangannya yang memar bergerak cepat di atas layar ponselnya. Dengan ketegasan seorang pemimpin Karang Taruna, ia langsung mengetik pesan koordinasi darurat di dalam grup WhatsApp warga RT 04.
[INFO DARURAT RT 04]
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah berpulang ke rahmatullah Tante Yuni (Ibunda dari Kenan) pada pukul 03.00 WIB di RSUD. Dimohon kepada seluruh warga, khususnya anggota Karang Taruna, untuk segera berkumpul di balai warga pagi ini. Tolong siapkan prosesi pemakaman secara nasrani (kristen) di TPU Kristen Cikembar, termasuk pemesanan peti mati dan koordinasi dengan pihak gereja setempat, karena almarhumah memeluk agama Kristen.
Sebagai catatan, untuk Kenan, prosesi doanya nanti akan tetap didampingi secara Islam karena Kenan adalah seorang muslim, mengikuti keyakinan ayahnya dulu. Mohon kerja samanya untuk toleransi penuh akan hal ini! Terima Kasih.
Pesan singkat namun padat dari Aldi langsung memicu pergerakan massal di komplek. Ibu-ibu RT 04 dipimpin oleh beberapa sesepuh kampung langsung bergerak menyiapkan tenda duka, sementara anak-anak Karang Taruna lainnya bergegas menuju TPU untuk mulai menggali liang lahat.
Siang harinya, prosesi pemakaman berjalan dengan suasana yang sangat khusyuk namun penuh dengan haru yang luar biasa hebat. Toleransi beragama yang sangat kental tersaji di TPU Cikembar. Peti mati kayu berwarna putih bersih yang berisi jenazah Tante Yuni diletakkan di dekat lubang galian tanah yang sudah disiapkan.
Pendeta dari gereja setempat memimpin jalannya ibadah pelepasan jenazah dengan melantunkan ayat-ayat dari Alkitab serta lagu-lagu pujian yang syahdu, diiringi oleh isak tangis dari beberapa kerabat dan ibu-ibu warga komplek yang ikut mengantarkan almarhumah ke peristirahatannya yang terakhir. Jasmine, selaku Ibu RT, berdiri di barisan tengah dengan pakaian hitam, matanya terus memandang ke arah peti mati dengan rasa duka yang mendalam, sesekali matanya melirik ke arah Aldi yang berdiri tegap di barisan paling depan, memegangi pundak Kenan yang tampak sangat rapuh.
Meskipun ibadah dilakukan secara Kristiani sesuai dengan iman Tante Yuni, Kenan yang mengenakan baju koko hitam dan peci bulat tetap berdiri tegak di samping peti mati ibunya. Di tangannya, ia memegang sebuah buku yasin kecil. Di sela-sela untaian doa kristen yang berkumandang, mulut Kenan terus komat-kamit melantunkan bacaan ayat suci Al-Qur'an, mengirimkan doa-doa Islam terbaiknya untuk sang ibu tercinta, persis seperti janji iman yang ia pegang sejak kecil saat ayahnya masih menjadi sosok imam masjid yang taat sebelum akhirnya hancur oleh dunia perjudian.
Saat peti mati mulai perlahan diturunkan ke dalam liang lahat menggunakan tali tambang besar, tangisan Kenan tidak bisa lagi ditahan. Pertahanan pemuda itu runtuh sepenuhnya.
Bruk.
Tepat saat tanah merah pertama mulai dicangkul dan dilemparkan ke atas permukaan peti mati, kesadaran Kenan mendadak hilang total. Tubuhnya yang lemas langsung tumbang ke arah belakang, tepat di depan posisi berdiri Pak Dadang.
"Kenan!" teriak Pak Dadang sigap. dengan cekatan, tangan kekar ayah Aldi itu langsung menangkap tubuh Kenan sebelum sempat menghantam tanah makam yang keras.
"Sendy! Aldi! Sini, gotong" perintah Pak Dadang lantang, memegangi bagian dada Kenan yang sudah pingsan total dengan wajah yang sangat pucat.
Aldi dan Sendy dengan sigap langsung merangsek maju ke depan kerumunan warga. Postur tubuh bongsor Aldi dengan mudah mengangkat bagian pundak dan lengan Kenan, sementara Sendy memegangi kedua kaki sahabatnya itu. Dengan langkah yang tergesa-gesa namun penuh kehati-hatian, mereka bertiga menggotong tubuh pingsan Kenan keluar dari area pemakaman menuju ke dalam mobil dinas kelurahan yang sudah disiapkan di pinggir jalan, meninggalkan prosesi pengurukan tanah makam Tante Yuni yang diiringi oleh tatapan mata penuh rasa iba dan cemas dari seluruh warga komplek yang hadir siang itu.