NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Ruangan yang Mengenalku

“NAYRA!”

Teriakan Zavian menggema di seluruh ruangan.

Namun suara itu terdengar semakin jauh.

Semakin samar.

Karena tubuh Nayra terus jatuh.

Gelap.

Sangat gelap.

Udara dingin menghantam wajahnya.

Perutnya terasa seperti tertinggal di atas.

Dan selama beberapa detik—

ia yakin akan menghantam dasar dengan keras.

Namun itu tidak terjadi.

WUSSHH!

Sesuatu menahan tubuhnya.

Lembut.

Seperti lapisan udara.

Lalu perlahan—

ia mendarat di lantai logam.

Bruk.

“Aduh…”

Suara itu langsung menggema.

Karena ruangan di sekitarnya sangat sunyi.

Nayra mengangkat kepala perlahan.

Dan langsung membeku.

Ia berada di sebuah ruangan bundar raksasa.

Tidak ada pintu.

Tidak ada jendela.

Hanya dinding putih mengilap yang menjulang tinggi.

Dan di tengah ruangan—

ada satu benda.

Sebuah kursi.

Deg.

Bukan kursi biasa.

Melainkan kursi yang dipenuhi kabel.

Sensor.

Layar.

Dan berbagai perangkat yang bahkan tidak bisa ia kenali.

“Oke.”

gumam Nayra.

“Kalau ada satu hal yang kupelajari selama hidupku…”

Tatapannya tidak lepas dari kursi itu.

“…kursi seperti itu nggak pernah membawa kabar baik.”

Sunyi.

Tak ada jawaban.

Tak ada suara.

Hanya dengung mesin yang sangat pelan.

Lalu tiba-tiba—

lampu di sekeliling ruangan menyala.

Satu per satu.

Dan sebuah suara perempuan terdengar.

“Akhirnya.”

Deg.

Nayra langsung berdiri.

“Aurora?”

“Ya.”

Suara itu terdengar lebih jelas sekarang.

Lebih dekat.

Namun ia tidak melihat siapa pun.

“Di mana kamu?”

tanya Nayra.

“Aku ada di mana-mana.”

“Itu jawaban yang menyeramkan.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya—

Aurora terdengar seperti sedang tersenyum.

Dan anehnya—

itu membuat Nayra sedikit tenang.

Sedikit.

“Kenapa aku di sini?”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Aurora menjawab.

“Karena hanya kamu yang bisa masuk.”

Deg.

“Aku nggak suka jawaban itu.”

“Aku tahu.”

“Berhenti bilang aku tahu.”

“Aku tahu.”

Nayra langsung menatap langit-langit.

“Ya Tuhan.”

Kalau perempuan ini benar-benar dirinya versi lain—

maka ia sekarang mengerti kenapa banyak orang kesal padanya.

Sementara itu.

Di atas.

Zavian nyaris menghancurkan lantai tempat Nayra menghilang.

“NAYRA!”

Tidak ada jawaban.

Hanya lubang gelap di bawah sana.

“Tenang.”

kata Reina cepat.

“Dia masih hidup.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Aku nggak tahu.”

“Lalu?”

“Aku cuma nggak mau kamu menghancurkan seluruh bangunan.”

Deg.

Arsen langsung menjauh beberapa langkah.

“Pilihan bijak.”

Namun suasana tidak sempat mereda.

Karena Founder masih ada di sana.

Dan sekarang—

pria itu terlihat jauh lebih marah dibanding sebelumnya.

“Buka aksesnya.”

perintahnya.

Tak ada yang menjawab.

“BUKA AKSESNYA!”

Seluruh layar tetap diam.

Deg.

Untuk pertama kalinya—

Founder kehilangan kendali.

Dan itu membuat Arsen sangat tertarik.

“Hm.”

“Apa?”

tanya Reina.

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa lagi?”

“Dia panik.”

Sunyi.

Dan ya.

Founder memang panik.

Pria itu terus mengetik sesuatu di panel kontrol.

Namun tidak ada yang berhasil.

Aurora telah mengambil alih sistem.

Dan sekarang—

ia tidak bisa masuk.

Tidak bisa mencapai Nayra.

Tidak bisa menghentikan apa pun yang sedang terjadi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

ia tidak memegang kendali.

Dan itu membuatnya marah.

Sangat marah.

Di bawah.

Nayra berjalan mengelilingi ruangan.

Semakin lama ia berada di sana

semakin aneh rasanya.

Karena tempat ini terasa familiar.

Padahal ia yakin belum pernah datang ke sini.

“Aurora.”

“Hm?”

“Apa tempat ini?”

Sunyi beberapa saat.

Lalu suara perempuan itu menjawab.

“Rumah.”

Deg.

Nayra langsung berhenti.

“Apa?”

“Rumah pertamaku.”

Jantung Nayra berdegup lebih cepat.

Karena cara Aurora mengucapkan kata itu terdengar menyedihkan.

Sangat menyedihkan.

“Mereka membesarkanku di sini.”

“Di ruangan ini?”

“Ya.”

Deg.

Nayra menatap sekeliling.

Ruangan putih.

Kosong.

Dingin.

Dan tiba-tiba—

ia merasa ingin menangis.

Karena tak ada seorang pun yang pantas tumbuh di tempat seperti ini.

“Aku sendirian.”

lanjut Aurora.

“Aku nggak pernah melihat matahari.”

Deg.

“Aku nggak pernah punya teman.”

Suara perempuan itu tetap tenang.

Namun justru itu yang membuat semuanya lebih menyakitkan.

“Aku cuma punya layar.”

Sunyi.

Dan Nayra tidak tahu harus menjawab apa.

Karena tak ada kata-kata yang cukup.

“Aku dulu iri.”

kata Aurora.

“Iri sama anak-anak yang kulihat di rekaman.”

Deg.

“Mereka bisa bermain.”

“Mereka bisa sekolah.”

“Mereka bisa punya keluarga.”

“Aku cuma punya para ilmuwan.”

Nayra perlahan mengepalkan tangannya.

Karena setiap kalimat yang keluar dari mulut Aurora terdengar seperti luka lama yang tidak pernah sembuh.

Dan untuk pertama kalinya—

ia benar-benar merasa kasihan pada perempuan itu.

“Aku minta maaf.”

katanya pelan.

Sunyi.

Lalu Aurora tertawa kecil.

“Kenapa minta maaf?”

“Aku nggak tahu.”

“Bukan salahmu.”

Deg.

Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras dari yang seharusnya.

Karena selama ini—

Nayra selalu merasa bersalah atas banyak hal.

Atas eksperimen.

Atas orang-orang yang terluka.

Atas semua kekacauan yang terjadi.

Dan sekarang—

orang yang paling berhak marah justru berkata bukan salahmu.

“Aurora.”

“Hm?”

“Kenapa kamu bantu aku?”

Sunyi.

Lama sekali.

Sangat lama.

Hingga Nayra mulai berpikir perempuan itu tidak akan menjawab.

Namun akhirnya—

suara Aurora terdengar lagi.

Karena kamu hidup seperti yang aku inginkan.”

Deg.

Dunia terasa berhenti.

“Apa?”

bisik Nayra.

“Aku melihat semuanya.”

“Melalui sistem Ark.”

“Aku melihat kamu tertawa.”

“Aku melihat kamu menangis.”

“Aku melihat kamu jatuh cinta.”

Deg.

Wajah Nayra langsung memanas.

“Apa?!”

“Aku juga melihat kamu menyangkalnya selama berbulan-bulan.”

“HEY!”

Aurora tertawa.

Benar-benar tertawa kali ini.

Dan untuk sesaat—

ia terdengar seperti gadis biasa.

Bukan eksperimen.

Bukan tahanan.

Hanya gadis biasa.

Yang seharusnya memang seperti itu sejak awal.

“Aurora.”

“Hm?”

“Kalau kamu bisa melihat semuanya…”

Nayra menelan ludah.

“Kenapa nggak kabur?”

Sunyi.

Dan kali ini—

jawabannya datang sangat pelan.

“Karena aku tidak bisa.”

Deg.

“Kenapa?”

Ruangan mendadak berubah.

Layar-layar tersembunyi muncul dari dinding.

Ratusan layar.

Dan semuanya menampilkan gambar yang sama.

Seorang gadis kecil.

Aurora.

Duduk di kursi yang ada di tengah ruangan.

Tubuhnya dipenuhi kabel.

Deg.

Nayra langsung membeku.

Karena gadis itu...

tidak pernah benar-benar pergi.

Tidak pernah bebas.

Tidak pernah hidup.

“Aku tidak ada di kapsul itu.”

kata Aurora pelan.

Deg.

Nayra langsung merasa jantungnya berhenti.

“Apa?”

“Kapsul itu cuma tubuhku.”

Sunyi.

Lalu perlahan—

kenyataan yang mengerikan mulai terbentuk.

“Kalau begitu…”

Suara Nayra bergetar.

“Kamu sekarang apa?”

Ruangan kembali sunyi.

Sangat sunyi.

Dan jawaban Aurora datang seperti bisikan.

“Aku Ark.”

Deg.

Nayra langsung membeku total.

“Aku sudah menjadi bagian dari sistem ini selama dua puluh tahun.”

Deg.

“Kesadaranku terhubung ke seluruh bangunan.”

“Aku bisa melihat semua ruangan.”

“Aku bisa mendengar semua suara.”

“Tapi aku tidak bisa pergi.”

Sunyi.

Air mata mulai menggenang di mata Nayra.

Karena sekarang ia mengerti.

Aurora bukan tahanan Ark.

Aurora adalah Ark.

Dan tiba-tiba—

alarm baru berbunyi.

BIP.

BIP.

BIP.

Aurora langsung diam.

“Aurora?”

“Nayra.”

Untuk pertama kalinya—

suaranya terdengar takut.

“Dia datang.”

Deg.

“Siapa?”

Dan tepat saat itu—

pintu yang sebelumnya tidak ada mendadak muncul di dinding ruangan.

Lalu perlahan terbuka.

Di baliknya—

seorang pria berdiri.

Founder.

Dan kali ini—

senyumnya sudah menghilang sepenuhnya.

“Nayra.”

katanya pelan.

“Aku sudah cukup bersabar.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!