NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:57.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang mengubah segalanya

Sinar matahari pagi menyeruak masuk melalui jendela kamar Diana, membuatnya terbangun dari tidur padahal ia baru terlelap sekitar pukul lima pagi.

Bukan karena Reyhan rewel, melainkan karena ia terus memikirkan ucapan Niel semalam. Siang ini, Niel akan mempertemukannya dengan kedua orang tuanya, dan hal itu membuat Diana gugup setengah mati hingga terus kepikiran.

Apa aku akan diterima bersama Reyhan?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Diana mulai beranjak dari tempat tidur. Bayi lucunya sudah tidak ada di kamar, dan ia sudah tahu siapa pelakunya.

Tak lain adalah kedua oma yang selalu berebut menggendong Reyhan.

Diana masuk ke dalam toilet lebih dulu, lalu keluar menuju ruang tamu.

Di sana, Kartini dan Kartika terlihat sibuk mengajak Reyhan mengobrol dengan topik random yang tentu saja tidak dipahami bayi itu.

“Pagi, Bu,” sapa Diana.

“Pagi, Sayang,” balas kedua oma itu kompak tanpa menoleh sedikit pun.

Diana hanya menghela napas pelan.

Perhatian mereka benar-benar sudah dialihkan oleh putranya sendiri.

“Na, kamu belum siap-siap?” tanya Kartika.

Diana menggeleng pelan.

“Hari ini aku nggak jadi masuk, Bu.”

Kartika langsung mengerutkan kening.

“Kenapa nggak jadi? Kan kamu bilang hari ini mulai masuk kerja?”

“Hari ini Diana akan dibawa Niel bertemu orang tuanya,” sahut Kartini sambil tertawa kecil.

Kartika langsung menoleh dengan wajah terkejut.

“Hah, serius, Nak?”

Diana tersenyum kecil sebelum menjawab.

“Serius?” tanya Kartika antusias.

Diana mengangguk pelan.

“Iya, Bu… siang ini.”

Kartika langsung berdiri dari duduknya sambil menyerahkan Reyhan pada Kartini.

“Ya ampun, kenapa baru bilang sekarang? Kamu harus siap-siap dari pagi!”

Kartini ikut mengangguk heboh.

“Benar! Kamu harus tampil cantik, tapi jangan terlalu menor juga. Biar kelihatan anggun.”

Diana terkekeh gugup.

“Aku malah takut, Bu…”

Seketika wajah Kartika dan Kartini melembut.

Kartika menghampiri Diana lalu menggenggam tangannya.

“Takut itu wajar, Nak. Tapi ibu yakin kalau orang tua Niel benar-benar menyayangi anaknya, mereka pasti melihat ketulusan kamu.”

Kartini ikut mengusap bahu Diana.

“Dan kalau mereka melihat Reyhan…” ia mencubit gemas pipi bayi itu. “Mana mungkin nggak luluh sama cucu ganteng ini?”

Diana tersenyum kecil, meski rasa gugup di dadanya belum hilang sepenuhnya.

“Tapi… kalau mereka nggak menerima aku gimana?” bisiknya lirih.

Kartika langsung menggeleng tegas.

“Jangan berpikir buruk dulu.”

Kartini mengangguk setuju.

“Kalau mereka macam-macam, bilang saja sama ibu. Biar ibu yang ceramahin.”

Diana tertawa kecil mendengar itu.

“Ibu…”

Waktu berlalu begitu cepat.

Kini, Niel sudah berada di teras rumah sambil menunggu Diana bersiap. Di gendongannya, Reyhan terlihat sangat menggemaskan dengan wajah mungilnya.

“Gemas banget sih kamu,” ucap Niel terus menciumi Reyhan hingga bayi kecil itu tersenyum riang.

“Nanti kalau Bunda kamu nikah sama Om, kamu panggil aku Ayah ya, bukan Om lagi,” ucapnya pelan.

Bayi kecil itu justru tertawa kecil, membuat Niel tersenyum puas.

“Tuh kan, berarti kamu setuju.”

Krek!

Pintu rumah terbuka.

Diana keluar dari dalam rumah dan sontak membuat pria itu menoleh.

Deg!

Niel terpaku sejenak.

Diana terlihat sangat cantik. Meski baru melahirkan, Diana tetap terlihat cantik dan segar.

“Niel.”

Niel tersentak dari lamunannya.

“Sudah?”

Diana mengangguk pelan.

“Ayo kita berangkat,” ucap Niel lalu menggenggam tangan Diana.

“Kamu gugup?” tanyanya saat merasakan tangan Diana terasa dingin.

Diana mengangguk jujur.

Senyum kecil muncul di bibir Niel.

“Tenang aja. Orang tuaku nggak segalak itu kok,” ucapnya, berusaha mencairkan suasana.

Diana menatapnya dengan wajah malas.

Niel tersenyum tipis lalu menggenggam lengan Diana dengan lembut, seolah menyalurkan ketenangan padanya. Di lengannya yang lain, Reyhan masih nyaman berada dalam gendongannya sambil memainkan kerah kemeja Niel.

“Tenang,” bisik Niel pelan di dekat telinga Diana. “Aku di sini.”

Bukannya tenang, jantung Diana justru berdetak semakin cepat.

Diana menoleh ke arah mobil dan melihat semua perlengkapan Reyhan sudah tersusun rapi di bagasi belakang.

“Kamu sudah siapkan semuanya?” tanya Diana pelan.

Niel mengangguk santai.

“Popok, pakaian ganti, selimut, mainan kecilnya juga ada.”

Diana menatapnya tak percaya.

“Kamu hafal semua kebutuhan bayi?”

Niel mengangkat bahu ringan.

“Aku belajar.”

Lagi-lagi jawaban sederhana itu membuat hati Diana terasa hangat.

Kali ini Niel tidak menyetir sendiri. Seorang sopir sudah berdiri di samping mobil sambil membukakan pintu untuk mereka.

“Silakan, Tuan.”

Niel terlebih dahulu membantu Diana masuk ke dalam mobil dengan hati-hati, lalu ia ikut masuk sambil tetap menggendong Reyhan.

Sepanjang perjalanan, Diana tampak gelisah. Tangannya saling bertaut erat di atas pangkuannya.

Niel meliriknya sekilas.

“Kamu tegang sekali.”

Diana tertawa kecil, tapi terdengar hambar.

“Aku mau bertemu orang tua pengusaha besar… tentu aku tegang.”

Niel menatapnya datar.

“Orang tuaku manusia biasa.”

Diana memukul pelan lengan Niel.

“Aku serius.”

Niel langsung menggenggam tangan Diana erat.

“Mereka hanya perlu mengenal kamu, itu saja.”

“Kalau mereka nggak suka aku?”

“Mereka akan suka.”

“Kalau—”

Niel memotong ucapannya.

“Kalau mereka menolak…” tatapannya serius. “Aku tetap memilih kamu dan Reyhan.”

Deg!

Diana langsung menatap Niel dengan mata berkaca-kaca.

“Niel…”

“Jadi berhenti overthinking.”

Diana mengangguk pelan.

Tak selang lama, mobil akhirnya berhenti.

Diana yang awalnya menatap keluar jendela langsung membeku.

Mansion besar nan megah berdiri di depan matanya. Halamannya sangat luas dengan taman yang tertata rapi, air mancur besar berada tepat di tengah, dan deretan mobil mewah terparkir di area samping.

Mata Diana membulat sempurna.

“Ya Tuhan…”

Niel menoleh.

“Kenapa?”

Diana menatap mansion itu tak percaya.

“Kamu bilang ini cuma rumah.”

Niel mengangguk santai.

“Memang rumah.”

Diana menatapnya datar.

“Rumah siapa? Raja?”

Niel tertawa kecil untuk pertama kalinya dengan sangat lepas.

Sopir membukakan pintu mobil.

Niel turun lebih dulu sambil menggendong Reyhan, lalu mengulurkan tangannya pada Diana.

Diana menatap tangan itu beberapa detik.

Jantungnya berdegup sangat cepat.

Dengan ragu, ia meraih tangan Niel lalu turun dari mobil.

Namun begitu berdiri di depan mansion megah itu, lutut Diana terasa lemas.

“Aku ingin pulang…” bisiknya panik.

Niel menahan tawanya lalu merangkul bahu Diana lembut.

“Sudah terlambat, Sayang.”

Pintu mansion perlahan terbuka dari dalam.

Dan seseorang mulai berjalan keluar.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan berjalan keluar lebih dulu dengan langkah cepat.

Diana refleks meremas tangan Niel lebih erat.

“Niel…” bisiknya panik.

Niel menoleh singkat.

“Itu Mamiku.”

“Mamimu?” suara Diana hampir tak terdengar.

Wanita itu berhenti tepat di hadapan mereka.

Tatapannya langsung tertuju pada Reyhan yang ada dalam gendongan Niel.

Dan…

mata wanita itu langsung membesar.

“Ya Tuhan…” lirihnya.

Diana menelan ludah gugup.

"Selesai sudah," batinnya panik.

Namun detik berikutnya, wanita itu justru menepuk lengan Niel kesal.

“Kenapa kamu baru membawa cucu tampan ini sekarang?!”

Deg!

Diana terdiam.

“Hah?” Diana reflek bersuara.

Wanita itu langsung mengambil Reyhan dari gendongan Niel dengan sangat hati-hati.

“Lihat pipinya! Lihat hidungnya! Ya ampun lucu sekali!” ucapnya gemas sambil menciumi wajah Reyhan berkali-kali.

Reyhan malah tertawa kecil.

Wanita itu langsung meleleh.

“Aduh… Oma bisa pingsan.”

Diana membeku di tempat.

Ini jauh di luar bayangannya.

Niel hanya menghela napas pasrah.

“Aku sudah bilang mami akan suka.”

Wanita itu akhirnya menoleh pada Diana.

Diana langsung menegang lagi.

Tatapan wanita itu melembut.

“Kamu pasti Diana.”

Diana mengangguk gugup.

“I-iya, Tante…”

Wanita itu langsung mengernyit.

“Tante?”

Diana langsung pucat.

“Maaf saya—”

“Saya lebih suka dipanggil Mami.”

Mata Diana membulat sempurna.

“Apa?”

Wanita itu tersenyum hangat.

“Kalau kamu bersama anak saya, buat apa panggil tante?”

Air mata Diana hampir jatuh saat itu juga.

“Niel…” bisiknya tak percaya.

Niel tersenyum tipis sambil menggenggam tangannya lebih erat.

“Welcome to the chaos.”

Belum sempat Diana mencerna semuanya, seorang pria paruh baya dengan aura tegas berjalan keluar dari dalam mansion.

Langkahnya tenang namun berwibawa.

Diana langsung kembali gugup.

Pria itu berhenti di depan mereka dan menatap Diana tanpa berkedip, membuat Diana menunduk gugup.

“Niel.”

“Iya, Pa?”

Pria itu menunjuk Reyhan yang sedang tertawa dalam gendongan istrinya.

“Kenapa kamu baru mengajak Diana ke sini, hah? Papi dan Mami sudah menantinya, tapi kamu selalu menundanya.”

Niel menghela napas pasrah.

“Papi tahu sendiri aku ingin semuanya di waktu yang tepat.”

Pria itu mendengus pelan.

“Alasan.”

“Mami juga sudah capek menunggu,” sahut sang mami sambil terus menciumi Reyhan yang mulai tertawa geli.

Diana berdiri canggung di tempatnya.

Ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Pria itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada Diana.

Membuat Diana refleks menunduk sopan.

“Selamat siang, Om…” ucap Diana pelan.

Pria itu langsung mengernyit.

“Om?”

Diana panik seketika.

“S-saya minta maaf—”

“Kalau istri saya di panggil Mami,” potong pria itu cepat.

“Berarti saya dipanggil apa?”

Diana menatap pria itu gugup.

“P-papi?”

Seketika wajah pria itu melunak.

“Bagus.”

Diana merasa dirinya benar-benar bisa pingsan sekarang.

Papi Niel melangkah mendekat, membuat Diana makin tegang.

“Terima kasih karena sudah membuat anak saya akhirnya jatuh cinta dengan benar.”

“Pa…” gumam Niel malu.

Maminya langsung tertawa kecil.

“Benar juga. Dulu dia dingin banget, kayak kulkas berjalan.”

“Mami.”

“Sekarang lihat…” lanjut Maminya santai. “Dia bahkan hafal jadwal minum susu bayi.”

Wajah Diana langsung menoleh ke arah Niel tak percaya.

“Serius?”

Niel berdeham kecil.

“Masuk yuk.”

“Dia malu!” goda Maminya.

“Mami…”

Diana tak bisa menahan tawanya untuk pertama kali sejak datang.

Rasa takutnya perlahan benar-benar hilang.

°°••°°

“Maaf, Tuan. Saya baru ada kesempatan hari ini.”

Samuel hanya mengangguk pelan, lalu mempersilakan Dokter Rangga untuk duduk. Hari ini ia sengaja menemuinya karena ingin menanyakan sesuatu yang terus mengusik pikirannya akhir-akhir ini.

“Silakan pesan,” ucap Samuel.

Dokter Rangga mengangguk, lalu mulai memesan.

Hening.

Suasana di antara keduanya terasa canggung.

“Tuan Samuel ingin membicarakan apa?” tanya Rangga.

Samuel tak langsung menjawab. Ia menatap dokter itu dengan sorot mata dingin.

“Aborsi itu… apa kamu benar-benar melakukannya?”

Deg!

1
WHATEA SALA
yang kecil bandel...yang tua gak tau diri,rasain dapat hadiah dari neil👍
Piyah
tp jngn diapa apain ya Samuel kasian kasih pelajaran aja jngn di bikin cacat
Prafti Handayani
Anakmu wedok Niel...😊😊😊
Eka
samuel salah lawan...
Prafti Handayani
hmm,, gag kapok juga.bntr lgi lok gag masuk jeruji ya msok rsj.
Eka
🤣🤣🤣nikmati saja niel🤣🤣😄😄
Prafti Handayani
knpa gag 22nya az sih thor.Nanggung" karmanya...
Nona Jmn: Sabar😋😍
total 1 replies
Eka
kenapa ndak dikasih tau kasih tau saja samuel biar merasakan sakitnya tdk biaa diakui anaknya yg mau dibuang itu
Prafti Handayani
Mampuss Bayu..Bodoh!Mana peremluan muda yg mau setia sm laki"tua kalau bkn krna satu alasan'HARTA'!!
Piyah
Samuel jngn macem2 biar Slamet
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣niel rasain lhooooo🤣🤣🤣🤣👍
Nona Jmn: /Smirk/😋
total 1 replies
Eka
semoga zetelah di usg hasilnya kembar ya tjor karena ada keturunan kembar
Ifana
Samuel gk tau diri ya kamu, dlu minta Diana buat gugurin skrng anak udh gede dibawa kabur 😡😡
Nona Jmn: Sabar😭😂🤭🙏
total 1 replies
aku
kok masuk polisi? 😁🙏
Dilla Fadilla
seharusnya citra juga mendapatkan karma yg berat😡
Lee Mba Young
yakin nnti Citra masih setia kl bayu dah gk bisa ngapa ngapa in dan gk berharta🤣. Citra masih muda butuh kepuasan kn 🤣
Dilla Fadilla
nunggu kehancuran bayu😡
Sapna Anah
kadihan samuael
Sapna Anah
waa citra punya suaminya aki"
Sapna Anah
yee bener dugaanku ppanya samuel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!