Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Bagas dan Putri yang mendengar itu mereka saling menatap satu sama lain, dan mengangguk kecil.
“Baik pak” kedua nya pun langsung melangkahkan kaki mereka serempak sambil memanggil nama Alfin dan bunga.
Sedangkan di belakang pak Bayu mengeluarkan tasbih, dan meminta semua orang membaca ayat kursi dengan lantang.
“Alfin!!”
“Bunga!!”
Putri dan Bagas tidak henti-hentinya meneriaki nama kedua teman nya itu, diiringi bacaan doa pak Bayu dan yang lainnya dari belakang.
Sampai Bagas menghentikan langkahnya saat melihat jejak kaki manusia di jalan,ia menoleh sebentar ke putri.
“Kenapa Bagas?” Tanya putri yang melihat apa yang dilihat oleh dirinya.
Bagas mengerutkan keningnya ini kali kedua ia melihat jejak itu, tanpa berpikir panjang Bagas menggenggam tangan putri dan mulai mengikuti jejak kaki.
Pak Bayu dan Arga yang melihat itu langsung paham dan semakin keras membacakan ayat kursi.
Sampai jejak kaki itu berhenti di depan sebuah gubuk rumah almarhum pak gusto. Melihat itu Arga terdiam sejenak.
“Loh, kok kita malah ke rumah almarhum pak gusto ini?” Tanya para warga yang kebingungan.
Padahal jelas-jelas mereka tadi berjalan keluar kampung, bukan kembali kedalam kampung.
“Nak Bagas apa kamu yakin dengan apa yang kamu lihat tadi?” Tanya pak Bayu merasa ucapan Arga tadi benar adanya, jika mata batin Bagas mulai terbuka.
“Saya sangat yakin pak, saya melihat jejak kaki itu … jejak kaki yang sama seperti yang pertama kali saya lihat”. Jawab Bagas benar benar yakin dengan apa yang ia lihat.
Mendengar itu pak Bayu dan Arga terdiam sejenak membuat suasana hening seketika.
“Kalau kamu percaya kalau begitu kamu coba buka pintu gubuk rumah almarhum bapak saya itu” tutur Arga melangkah maju dan menuntun Bagas seorang untuk membuka mata tersebut.
Bagas terus berdoa dalam hati nya meyakinkan dirinya bahwa semua ini adalah jalan nya.
Para warga, guru serta beberapa murid yang melihat itu menahan nafas mereka berharap Alfin dan bunga bisa langsung ditemukan.
Dan tepat saat pintu itu terbuka bau amis yang busuk langsung keluar memenuhi sekitar mereka, sampai membuat perut terasa mual.
Bagas melihat isi gubuk tersebut hanya ruangan kosong, hati nya langsung terpuruk seketika. Namun saat Bagas melihat lebih jeli.
“Pak … itu kayak ada orang” ujar Bagas langsung memanggil yang lain, Arga yang berada tepat di belakang nya.
Menjadi orang pertama yang langsung masuk, dan saat ia masuk matanya tertuju pada dua sosok remaja yang meringkuk di dekat pintu belakang.
Pintu yang biasa nya dipakai untuk ke lahan belakang gubuk. “ Lailahailallah … ini Alfin dan bunga”
Seru Arga dengan ekspresi yang begitu terkejut sekali sedih melihat keadaan kedua nya.
Para warga dan yang lainnya langsung berbondong bondong masuk kedalam gubuk, bau di dalam membuat semua orang langsung menutup hidung mereka masing-masing.
“Ayo langsung diangkat mereka, jangan sampai sosok itu datang” cecar pak Bayu menyuruh para warga langsung menggendong Alfin dan bunga.
Para warga langsung dengan sigap menggendong kedua nya, berjalan keluar gubuk.
“Bagas dan Putri kalian yang memimpin jalan pulang” perintah Arga dengan tegas.
Melihat tidak ada pilihan Arga dan Putri hanya bisa berdoa dalam hati, dan berjalan paling depan tanpa yakin apakah jalan yang mereka ambil adalah jalan yang benar.
Sedangkan pak Bayu dan lainnya kembali membacakan ayat kursi dengan suara yang lantang, sebagai tameng untuk mengusir sosok pamali itu agar tidak datang.
Langkah demi langkah mereka lewati perjalanan pulang yang seharusnya terasa cepat, justru terasa begitu lama namun tidak ada yang berani mengeluh sedikitpun.