Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Hari pertama bekerja di posko kesehatan darurat langsung memberikan gambaran nyata bagi Nada tentang seberapa besar pengaruh suaminya di mata publik. Di tengah kesibukan menata peralatan medis dan memeriksa tensi para pekerja, telinga Nada tidak bisa mengabaikan obrolan yang berseliweran di antara para perawat dan dokter muda yang menjadi rekan relawannya.
"Eh, kalian lihat Tuan Kelvin tadi, kan? Gila, aslinya jauh lebih tampan daripada di majalah bisnis!" bisik seorang perawat berambut pendek saat mereka sedang merapikan kain kasa di sudut tenda.
"Jangan mimpi ketinggian," timpal dokter muda di sebelahnya sambil terkekeh. "Semua orang di ibu kota juga tahu kalau Tuan Kelvin itu sudah ada yang punya. Kekasihnya itu Catalina, model papan atas yang wajahnya sering terpajang di papan reklame pusat kota. Kudengar mereka sudah pacaran bertahun-tahun sejak zaman sekolah, dan kabarnya hubungan mereka sangat direstui keluarga besar."
"Ah, iya! Catalina yang cantik dan elegan itu, kan? Mereka benar-benar pasangan yang serasi, sama-sama dari keluarga terpandang. Bagai pangeran dan putri dongeng," sahut perawat itu dengan nada kagum sekaligus iri.
Nada yang sedang mencatat inventaris obat di dekat mereka hanya mendengarkan dalam diam. Wajahnya tetap tenang, tangannya tidak berhenti menulis, namun setiap kata yang menyebut nama 'Catalina' terasa seperti jarum halus yang menusuk ulu hatinya, memicu kembali percikan api dendam yang sempat meredup tadi siang. 'Nikmatilah pujian itu selagi bisa, Catalina,' batin Nada dingin.
Obrolan itu terputus saat tirai posko disingkap. Seorang pekerja konstruksi paruh baya melangkah masuk dengan bahu merosot, wajahnya pucat karena kelelahan setelah seharian mengangkut material di bawah terik matahari. Di lengan kanannya, terdapat luka goresan panjang yang tampak kemerahan akibat tergesek ujung besi pembatas.
"Permisi, Dokter... kepala saya pusing sekali, dan lengan saya tadi tidak sengaja tersenggol besi," ujar pekerja itu dengan suara lemas.
"Mari, Pak, silakan duduk di sini," sambut Nada dengan senyuman hangat yang seketika memberikan rasa nyaman. Sifat dokter desanya yang penuh empati langsung keluar secara alami.
Nada dengan cekatan mengambil tensimeter dan memeriksa tekanan darah sang pekerja, disusul dengan memeriksa denyut nadinya. Setelah itu, ia mengambil alkohol, cairan antiseptik, dan kain kasa bersih untuk mengobati luka di lengan pria tersebut. Dengan gerakan yang sangat lembut dan telaten, Nada membersihkan darah kering di kulit pekerja itu agar tidak menimbulkan rasa perih yang berlebihan.
"Luka goresnya untungnya tidak terlalu dalam, Pak, jadi tidak perlu dijahit. Tapi harus tetap dibersihkan secara teratur agar tidak infeksi," ucap Nada sembari membalut luka tersebut dengan rapi menggunakan perban.
Setelah selesai membungkus luka, Nada mengambil segelas air hangat dan sebotol vitamin, lalu menyerahkannya kepada sang pekerja. Ia menatap mata pria paruh baya itu dengan pandangan yang penuh perhatian dan ketulusan.
"Pak, ini vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Tekanan darah Bapak agak rendah karena kelelahan dan kurang cairan," tutur Nada dengan nada suara yang lembut namun tegas. "Pesan saya, tolong jangan memaksakan diri di bawah terik matahari tanpa minum yang cukup. Pekerjaan ini memang penting untuk menghidupi keluarga, tapi kesehatan Bapak adalah modal paling berharga untuk mereka yang menunggu di rumah. Jika sudah merasa pusing atau lemas, segera istirahat di tempat yang teduh, ya?"
Mendengar pesan yang begitu tulus dan menyentuh dari sang dokter muda, mata pekerja itu berkaca-kaca karena terharu. Jarang sekali ada tenaga medis dari perusahaan besar yang mau berbicara selembut dan sepeduli ini pada pekerja rendahan seperti dirinya.
"Terima kasih banyak, Dokter Nada... Terima kasih atas kebaikan dan nasihatnya," ucap pekerja itu berulang kali sambil membungkuk takzim sebelum meninggalkan posko dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Nada menatap kepergian pekerja itu dengan senyuman tipis. Di tempat yang penuh dengan ketegangan bisnis dan ambisi suaminya ini, ia bertekad untuk tetap menjadi pelindung bagi mereka yang lemah, sekaligus menjadi badai yang siap menghancurkan mereka yang telah merenggut kebahagiaannya.