Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 (21+)
Sementara itu, di belahan kota yang lain, kondisi pikiran Fadhlan benar-benar berada di titik nadir. Sikap dingin dan penolakan terang-terangan yang ditunjukkan Syifa malam kemarin hingga pagi tadi di rumah sakit terus saja berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Hal itu sukses membuat fokus dan konsentrasi Fadhlan buyar total sepanjang hari ini.
Padahal, sejak siang hari tadi, ia dituntut untuk menghadiri rapat koordinasi yang teramat krusial bersama Rektor, Wakil Rektor, dan jajaran dosen senior lainnya di gedung rektorat utama. Rapat tersebut membahas persiapan teknis pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) yang sudah di depan mata, sekaligus mematangkan agenda studi banding internasional untuk mahasiswa semester 5 yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Beberapa kali Fadhlan kedapatan melamun dan salah memberikan tanggapan saat dimintai pendapat oleh rektor, sesuatu yang sangat tidak mencerminkan sikap profesional seorang Fadhlan Ganendra selama ini.
Begitu rapat besar itu akhirnya dibubarkan pasca ashar, Fadhlan melangkah dengan sisa tenaga yang ada menuju ruang kerja pribadinya di kubikal dosen. Karena rasa lelah fisik akibat kurang tidur berhari-hari ditambah tekanan pikiran yang teramat berat memikirkan sikap Syifa, Fadhlan menjatuhkan tubuh tegapnya di atas sofa kulit panjang di dalam ruangannya. Berniat hanya memejamkan mata selama lima menit, ia justru langsung terlelap masuk ke dalam tidur yang teramat nyenyak karena kelelahan.
Waktu terus bergulir, hingga sore hari menjelang berkumandangnya adzan Maghrib, keheningan ruangan itu mendadak terpecah oleh suara ketukan pintu dan derit engsel yang dibuka. Sosok Salim, sahabat karib Fadhlan semasa di Pondok Pesantren dulu, melangkah masuk ke dalam ruangan membawa beberapa berkas mahasiswa.
Salim baru-baru ini resmi direkrut dan diangkat menjadi asisten dosen pribadi untuk membantu Fadhlan mengajar di Kampus B. Keputusan itu diambil Fadhlan karena intensitas kesibukannya yang kian menggila dalam mengelola manajemen rumah sakit Ganendra, sehingga ia membutuhkan sosok terpercaya seperti Salim untuk menghandle tugas-tugas kampus atau menggantikannya jika ia sedang ada urusan mendadak ke luar kota.
Melihat sahabatnya masih duduk dan tertidur dengan posisi tidak nyaman di atas sofa, Salim menggelengkan kepala prihatin. Ia berjalan mendekat lalu menepuk agak keras bahu tegap Fadhlan.
"Fad... Kamu tidak pulang, Fad? Ini waktu sudah hampir masuk Maghrib," ujar Salim mengingatkan sembari melirik jam dinding ruangan yang sudah menunjukkan pukul setengah enam.
Fadhlan tersentak, kelopak matanya terbuka lebar. Ia langsung terduduk tegak di atas sofa dengan napas yang sedikit memburu, mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat melayang. "Astaghfirullah... saya ketiduran, Lim?" tanya Fadhlan dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Salim mengangguk mantap, menaruh beberapa berkas di atas meja kerja Fadhlan. "Iya, kamu tidur pulas sekali dari sore. Saya sampai tidak tega mau membangunkan dari tadi."
Fadhlan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara gusar, mencoba mengusir rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini tampak sedikit acak-acakan.
"Kamu sedang banyak pikiran ya, Fad? Tidak biasanya kamu sampai ketiduran di kampus begini. Ada masalah di rumah sakit atau soal istrimu?" tanya Salim beruntun penuh perhatian seorang sahabat, sembari tangannya bergerak merapikan tas kerja miliknya di atas meja.
Fadhlan terdiam sejenak, enggan membagi masalah rumah tangganya yang terlalu privasi. "Tidak ada, Lim. Hanya kelelahan saja," bohong Fadhlan tipis. Ia bangkit berdiri, menyambar jas dan kunci mobilnya di atas meja. "Kalau begitu saya duluan ya, Lim. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Fad! Jangan melamun sambil menyetir!" teriak Salim dari dalam ruangan.
...----------------...
Fadhlan melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor kampus yang sudah mulai sepi menuju area parkiran mobil. Ia segera masuk ke dalam mobil SUV hitamnya dan mengemudikan kendaraan tersebut membelah jalanan kota yang mulai padat oleh pekerja yang pulang kantor.
Di tengah perjalanan pulang, gema lantunan adzan Maghrib terdengar saling bersahutan berkumandang dari berbagai sudut kota. Menyadari waktu ibadah yang sangat terbatas, Fadhlan segera memutar kemudinya, menepikan mobilnya masuk ke halaman parkir sebuah masjid jami' yang terletak di pinggir jalan raya. Ia turun dari mobil, mengambil wudhu, dan menunaikan ibadah sholat maghrib berjamaah di sana demi menenangkan hatinya yang terus-menerus dirundung gelisah.
......................
Sementara itu, di tempat lain, Syifa sudah berada di dalam kamar tidur utama rumah Fadhlan sejak satu jam yang lalu. Masih dengan perasaan yang sulit ditebak dan hati yang berdegup tidak karuan, Syifa terus-menerus melirik ke arah jam dinding kamarnya yang merayap naik melewati pukul enam sore. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa suaminya jam segini belum juga menampakkan batang hidungnya di rumah?
‘Apa mungkin Mas Fadhlan merajuk dan sengaja menunda pulang karena sewaktu di rumah sakit tadi pagi aku terus-menerus bersikap cuek dan menghindarinya?’ tebak Syifa dalam hati, ada secercah rasa bersalah yang pelan-pelan mulai menyelinap masuk ke dadanya.
Begitu mendengar gema adzan Maghrib berkumandang dari masjid komplek rumah, Syifa lekas membuang seluruh pikiran buruknya. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat Maghrib di atas sajadahnya dengan khusyuk. Di akhir sujud dan doanya, Syifa tidak pernah absen untuk menyelipkan nama Kakek Ali, memohon mukjizat kesembuhan bagi sang kakek.
Selesai berdoa dan melipat mukenanya, Syifa berniat untuk merapikan tempat tidur. Namun, tepat saat ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh sosok Fadhlan yang ternyata sudah berada di dalam kamar. Suaminya itu tampak langsung merebahkan tubuh lelahnya, telentang di atas tempat tidur empuk, masih lengkap mengenakan pakaian kerja kemeja dan celana panjang hitam, bahkan sepatu dan kaos kakinya pun belum sempat dilepas. Fadhlan tampak memejamkan mata erat dengan satu tangan menutupi dahinya, terlihat sangat kepayahan.
Melihat pemandangan suaminya yang tampak begitu rapuh dan kelelahan demi mengurus keluarganya, benteng pertahanan ego Syifa mendadak goyah. Di dalam benaknya, tiba-tiba terngiang kembali rentetan memori percakapannya yang lalu bersama Tante Silvi mengenai nasehat pernikahan, serta keinginan terdalam Kakek Ali yang sempat ia dengar semalam, keinginan besar sang kakek yang ingin segera melihat dan menimang seorang cicit dari pernikahan mereka sebelum menutup mata.
Dengan jemari yang mendadak dingin dan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, Syifa melangkah ragu-ragu menuju walk in closet. Tangannya terjulur ke bagian laci paling bawah, mengambil sebuah kotak kado berisi lingerie sutra tipis berwarna merah marun, pemberian hadiah pernikahan dari Tante Silvi yang baru kemarin sampai dan belum pernah berani ia sentuh, apalagi ia gunakan. Dengan tekad yang bulat bercampur rasa nekat yang tinggi, Syifa bergegas masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Syifa melangkah keluar dengan tubuh yang gemetar hebat karena rasa gugup yang luar biasa di ubun-ubun. Sejenak, ia menghentikan langkahnya di depan cermin rias besar, memandangi pantulan dirinya sendiri.
Malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, Syifa melepas seluruh pakaian longgarnya. Di balik cermin, kini terpampang nyata sosok dirinya yang hanya mengenakan selembar lingerie tipis nan menerawang dengan potongan dada rendah, dan rambut panjangnya yang biasa tersembunyi rapi di balik khimar syar'i kini terurai bebas melintasi bahu dan punggung mulusnya, mengekspos setiap lekuk dan kemolekan tubuh indahnya yang selama ini terjaga rapat.
Syifa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan langkah tanpa suara, ia berjalan mendekati tepi tempat tidur tempat Fadhlan masih terpejam. Syifa membungkuk sedikit, memberanikan diri untuk melepaskan sepatu pantofel dan kaos kaki hitam yang masih melekat di kedua kaki suaminya secara perlahan agar tidak mengganggu tidur pria itu.
Setelah selesai dengan urusan kaki, Syifa menaikkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia mendudukkan diri tepat di samping pinggang Fadhlan. Dengan napas yang mulai memburu memburu dan jari-jari kecil yang sedikit gemetar hebat, Syifa mulai menyentuh bagian dada Fadhlan, membuka satu per satu kancing kemeja putih suaminya dari atas ke bawah.
‘Maafkan aku, Kak Fadhlan... malam ini aku hanya ingin tahu dan memastikan satu hal di dalam hatiku. Apa kamu akan langsung menolakku setelah melihatku berpakaian seperti ini karena kamu masih menganggapku sebagai Syifa kecil, adik angkatmu dulu? Atau apakah kamu memang benar-benar sudah jatuh cinta padaku sebagai seorang wanita dewasa pemilik hatimu?’ batin Syifa berbisik lirih penuh tanya, air matanya hampir menetes menahan gejolak rasa ingin tahu yang membakar egonya.
Walaupun selama beberapa minggu menikah ini Syifa sudah pernah beberapa kali tidak sengaja melihat Fadhlan bertelanjang dada saat baru selesai mandi, namun tetap saja dalam posisi sedekat dan seintim ini, wajah Syifa seketika memerah padam memanas hingga ia terpaksa memalingkan wajahnya beberapa kali ke arah lain demi meredakan debaran jantungnya yang menggila.
Hingga seluruh kancing kemeja Fadhlan terbuka sempurna menampilkan dada bidang dan perut rata suaminya yang kokoh, Syifa mendadak didera kebingungan yang teramat sangat. Langkah selanjutnya apa? Haruskah ia memberanikan diri untuk melepaskan celana panjang yang masih dikenakan suaminya?
Butiran peluh dingin mulai membasahi dahi dan pelipis Syifa. Di dalam isi pikirannya saat ini benar-benar saling berbenturan dan terngiang-ngiang pembicaraan Fadhlan dengan Paman Romi, nasehat pernikahan dari Tante Silvi, hingga keinginan besar Kakek Ali yang sedang terbaring sakit.
Syifa memantapkan hatinya. Tangannya bergerak turun, mulai melepas kancing ikat pinggang kulit yang dikenakan Fadhlan. Namun, tepat ketika jemari kecilnya hendak bergerak turun lebih jauh untuk membuka resleting celana panjang suaminya, sebuah gerakan kilat seketika menghentikan aksinya. Syifa terkejut setengah mati ketika sebuah telapak tangan kekar dan hangat milik Fadhlan mendadak mencengkeram kuat pergelangan lengannya, mengunci pergerakannya di tempat.
"Dek?" panggil Fadhlan dengan nada suara yang teramat parau dan berat khas orang yang baru saja tersadar dari tidur pendeknya.
"Hah!—" Syifa yang terkejut bukan main seketika memekik kecil, refleks menarik tubuhnya mundur menjauh hingga terduduk di sisi ranjang yang lain, memutuskan kontak fisik di antara mereka.
Fadhlan yang baru saja membuka mata sepenuhnya, langsung didera rasa syok dan tidak percaya yang luar biasa melihat kondisi dirinya saat ini. Ia menunduk, mendapati kemeja putihnya sudah terbuka lebar berantakan, dan ikat pinggangnya pun sudah terlepas setengah jalan.
Namun, yang semakin membuat seluruh sistem saraf dan kerja otak Fadhlan berhenti berfungsi secara mendadak malam itu adalah saat sepasang matanya beralih menatap lurus pada penampilan Syifa yang duduk di depannya saat ini. Fadhlan membelalakkan matanya sempurna, menelan salivanya berat. Di hadapannya, sang istri tercinta yang biasanya selalu tampil tertutup rapi, kini hanya mengenakan selembar lingerie tipis berwarna merah marun yang sangat menerawang. Di bawah temaram lampu kamar, Fadhlan bisa melihat dengan teramat jelas setiap jengkal lekuk tubuh indah, kulit putih bersih, dan aura sensual yang terpancar dari diri Syifa. Sebagai seorang lelaki dewasa yang normal, pemandangan super seksi di depannya itu jelas langsung membuat gairah dan syahwatnya bergejolak hebat dalam hitungan detik.
"A-anu... maaf, m-maafkan saya, Mas..." lirih Syifa dengan suara mencicit ketakutan, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena menyadari pandangan mata Fadhlan yang sama sekali tidak berkedip menatap intens tubuhnya dari atas ke bawah.
‘Apa Syifa yang membuka kemejaku? Dan pakaian yang dia kenakan sekarang—’ batin Fadhlan menjerit tak percaya, ada gemuruh gairah yang menuntut untuk dilepaskan. Namun, menyadari ada yang aneh dengan situasi ini, Fadhlan dengan sekuat tenaga menggerakkan lehernya, memalingkan wajahnya ke arah lain demi meredakan gejolak dalam dadanya.
Melihat Fadhlan yang justru memalingkan wajah dan menolak untuk terus menatapnya, hati Syifa seketika mencelos jatuh. Pikiran buruknya kembali menguasai logika.
‘Hmm... kenapa Kak Fadhlan malah memalingkan wajahnya dariku? Apakah memang seperti itu reaksi dingin seorang suami saat melihat istrinya berpakaian seksi di depannya? Apa dia benar-benar menganggapku sebagai adiknya hingga merasa risih melihatku seperti ini?’
Entah dorongan keputusasaan apa yang merasuki isi kepala Syifa malam itu, melihat Fadhlan yang hendak beranjak turun dari tempat tidur, Syifa langsung bergerak cepat dari belakang. Ia melompat maju dan memeluk erat tubuh tegap suaminya dari arah belakang, menenggelamkan wajahnya di punggung kokoh Fadhlan.
"Maaf..." ujar Syifa pelan dengan nada suara yang mulai terisak, mempererat kuncian lengannya di pinggang Fadhlan.
Fadhlan seketika membelalakkan matanya terkejut mendapat serangan pelukan mendadak yang begitu intim dari belakang. Melalui lapisan kulit punggungnya yang tanpa sekat kemeja, Fadhlan bisa merasakan dengan teramat jelas ada sesuatu yang terasa sangat lembut dan kenyal menempel ketat pada punggungnya. Darahnya seketika berdesir hebat, bergolak panas seolah siap meledak kapan saja.
‘Tahan, Fadhlan! Tahan dirimu, jangan sampai lepas kendali sekarang! Belum waktunya... rileks, Fad, rileks...’ batin Fadhlan merapalkan mantra penenang dalam hati, mencoba mengendalikan napasnya yang mulai memburu berat.
"Saya mau mandi dulu ya, Dek. Tubuh saya sangat kotor setelah seharian di kampus," pungkas Fadhlan dengan nada suara yang terdengar sedikit gugup dan bergetar menahan gejolak gairahnya.
Bukannya melepaskan, Syifa justru semakin mengeratkan pelukan lengannya di pinggang Fadhlan, seolah enggan membiarkan pria itu pergi menjauh darinya malam ini. Aksi nekat Syifa itu akhirnya membuat pertahanan Fadhlan goyah. Pria itu memutar tubuhnya dengan cepat, berbalik menghadap ke arah Syifa sepenuhnya hingga jarak di antara wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
Tanpa diduga dan diprediksi oleh Fadhlan sebelumnya, Syifa tiba-tiba berjinjit. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat, lalu langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Fadhlan. Dengan gerakan yang terasa sangat kaku, canggung, namun sarat akan keputusasaan, Syifa berusaha keras mempraktikkan kembali apa yang sudah pernah Fadhlan lakukan padanya tempo hari, mencoba m******t lembut b*****n bibir suaminya demi memancing reaksi pria itu.
‘Ada apa dengan istriku malam ini? Kenapa dia mendadak berubah menjadi sangat agresif dan berani seperti ini? Padahal tadi pagi di rumah sakit dia terus-menerus membuang muka dan menghindariku seperti musuh, tapi sekarang dia malah dengan sengaja memancing syahwat dan gairah laki-lakiku hingga ke batas tertinggi,’ batin Fadhlan kelimpangan, akal sehatnya seketika terbang entah kemana terbius oleh sentuhan bibir Syifa.
Tidak ingin tersiksa lebih lama dalam posisi berdiri, Fadhlan dengan gerakan maskulin yang teramat sigap langsung menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah lipatan lutut Syifa. Ia mengangkat tubuh ringan istrinya itu ala bridal style menuju bagian tengah tempat tidur. Tanpa memutus tautan bibir mereka yang kian memanas, Fadhlan merebahkan tubuh Syifa di atas kasur empuk, lalu dengan cepat memosisikan tubuh tegapnya menindih di atas tubuh ringkih istrinya.
BUGH!
Suara kasur yang tertekan beban tubuh mereka berdua terdengar jelas di keheningan kamar. Syifa yang tadinya bertindak begitu berani dan agresif, justru saat ini nyalinya seketika menciut drastis hingga ke titik nol. Rasa takut dan panik yang teramat sangat mendadak menyerang pertahanan batinnya begitu menyadari posisi tubuh Fadhlan yang begitu besar dan berat kini mengurung pergerakannya tepat di atas tubuhnya.
Fadhlan menghentikan ciumannya sejenak. Ia merendahkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Syifa dengan tatapan mata yang gelap, tajam, dan penuh dengan binar gairah yang pekat, sebuah tatapan mata predator lapar yang belum pernah Syifa lihat atau temui dari sosok Fadhlan sebelumnya selama mereka hidup bersama.
"Kamu sendiri yang datang menyerahkan diri padaku malam ini. Jadi, kamu pasti sudah tahu dan paham betul apa resikonya sekarang, bukan? Saya tidak akan segan-segan lagi untuk menundanya malam ini, Sayang," pungkas Fadhlan dengan suara rendah berkharisma yang teramat seksi di telinga Syifa.
Sembari berbicara, Fadhlan bergerak cepat melepas kemeja putihnya yang sudah tak berkancing hingga menyisakan tubuh bertelanjang dadanya yang kokoh. Ia kembali menundukkan kepala, mencium paksa dan m*****t bibir istrinya dengan intensitas yang jauh lebih menuntut, sebelum perlahan kecupan hangat itu bergerak turun menyusuri rahang dan m******t lembut area leher jenjang istrinya yang harum.
Mendapat serangan seintens itu, seluruh tubuh Syifa seketika bergetar hebat layaknya orang yang sedang ketakutan di tengah badai. Ketika ia merasakan telapak tangan hangat Fadhlan mulai bergerak menyusup ke ujung kain lingerie-nya, berniat untuk menurunkan pakaian minim yang dikenakannya, sebuah reaksi penolakan alami seketika muncul dari dalam diri Syifa. Secara refleks, kedua lengan kecil Syifa bergerak naik, menyilangkan tangannya erat di depan dada demi menutupi tubuhnya, menghalangi pergerakan tangan suaminya.
‘Kenapa, Dek? Kenapa kamu menunjukkan reaksi ketakutan seperti ini? Kamu sendiri yang merencanakan dan memulai semua permainan ini sejak awal, tapi kenapa di saat aku sudah mulai merespon dan akan mulai menyentuhmu lebih jauh, kamu justru menarik diri dan menolakku seperti ini?’ tanya Fadhlan dalam hati, ada rasa bingung sekaligus kecewa yang sedikit melintas di dadanya melihat inkonsistensi sikap istrinya.
Fadhlan menahan kedua tangan Syifa yang menyilang di dada, mencoba menurunkannya perlahan dengan tatapan mata yang sedikit menuntut. "Biarkan saya melihatnya, Sayang... Buka tanganmu, saya ini suamimu," bisik Fadhlan dengan nada suara yang sedikit memaksa, menekan pergelangan tangan Syifa ke kasur.
Syifa yang sudah berada di ambang batas ketakutan dan rasa bersalahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat sembari air mata beningnya mulai menetes deras membasahi pipi sembabnya, menahan isak tangis yang akhirnya pecah juga.
Melihat air mata istrinya yang mengalir deras, binar gairah yang sempat menguasai isi kepala Fadhlan seketika sirna menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa iba dan penyesalan yang amat sangat. Meski niat awal Fadhlan hanya ingin melihat sejauh mana respon dan keberanian Syifa, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia sempat benar-benar terpesona dan terbius oleh keindahan pemandangan tubuh istrinya yang ada di depannya sekarang. Fadhlan terlihat meneguk salivanya berkali-kali untuk menekan sisa gairahnya yang masih bergejolak di bawah sana.
Fadhlan menghentikan seluruh pergerakannya. Ia menarik tubuhnya mundur, beranjak dari atas tubuh Syifa lalu memilih untuk duduk bersandar di tepi tempat tidur membelakangi istrinya, mencoba mengatur kembali ritme napasnya yang berantakan.
Suasana kamar tidur utama itu seketika berubah menjadi teramat hening dan canggung, hanya menyisakan suara isak tangis lirih dari Syifa yang masih berbaring di atas kasur dengan posisi tangan yang menutupi wajahnya.
"M-mas... Mas Fadhlan" panggil Syifa dengan suara yang teramat lirih dan bergetar di antara sisa tangisnya.
Fadhlan tidak menoleh, namun telinganya tetap fokus mendengarkan. "Ya, Dek?"
"Itu... s-saya melakukan semua ini. Saya hanya berusaha untuk bisa memenuhi keinginan terbesar Kakek...saya hanya ingin segera memberinya seorang cicit dari pernikahan kita, Mas..." lanjut Syifa jujur dengan suara menunduk, tidak berani sama sekali untuk mengangkat wajahnya menatap punggung tegap Fadhlan karena didera rasa malu yang teramat sangat atas tindakan bodohnya.
Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari bibir mungil istrinya, Fadhlan mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, seolah ada beban batu besar yang meluruh dari pundaknya. Ia meremas jemarinya sendiri.
"Dek... dengarkan saya baik-baik," ujar Fadhlan dengan nada suara yang teramat tenang, dalam, dan berwibawa, namun sarat akan makna mendalam yang menyejukkan hati. "Niat untuk melakukan hubungan suami istri di dalam syariat agama kita itu dinilai sebagai sebuah ibadah yang agung, semata-mata karena kita melakukannya tulus, lillahi ta'ala karena Allah, dan juga harus didasari atas kerelaan bersama tanpa ada unsur paksaan sedikit pun dari salah satu pihak."
Fadhlan menjeda kalimatnya sejenak, menolehkan kepalanya sekilas ke arah belakang untuk menatap sosok Syifa yang masih meringkuk di atas kasur.
"Tetapi, ketika kita memutuskan untuk melakukannya hanya karena terdorong oleh tujuan tertentu, atau karena merasa terpaksa demi menyenangkan hati orang lain, maka percayalah... apa yang sebenarnya kita inginkan dan berkah yang kita cari justru akan terasa semakin menjauh dari hubungan kita," pungkas Fadhlan tegas namun lembut, memberikan pandangan teologis yang rasional bagi istrinya.
Fadhlan memutar posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Syifa sepenuhnya, menatap wajah sembab istrinya dengan sorot mata yang telah kembali melembut penuh kasih sayang. "Saya kan sudah pernah bilang kepadamu sebelumnya, Dek... Kalau soal urusan ranjang dan kedekatan emosional, kita lakukan proses pendekatan ini pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru karena tuntutan orang lain. Saya akan selalu setia menunggu di sini sampai kamu benar-benar siap seutuhnya lahir dan batin, hmm?"
Mendengar penuturan suaminya yang begitu bijak dan sama sekali tidak menyudutkan tindakan agresifnya yang gagal, Syifa semakin menenggelamkan wajahnya di balik bantal, didera rasa bersalah yang kian menggunung. "Maaf... maafkan saya yang sudah bertindak bodoh malam ini, Mas..." lirih Syifa menunduk malu.
Fadhlan tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang teramat tampan. Ia mengulurkan tangan kanannya, mengusap lembut puncak kepala Syifa yang rambut indahnya masih terurai bebas.
"Saya juga minta maaf ya, Dek... Tadi di awal saya sempat sedikit kasar dan memaksa dirimu karena terbawa suasana gairah. Ya sudah... kalau begitu saya masuk ke kamar mandi dulu untuk membersihkan diri," ujar Fadhlan sembari bangkit berdiri dari tepi ranjang.
Tepat sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Fadhlan menghentikan langkahnya di dekat pintu, berbalik menatap Syifa dengan kedipan mata yang kilat dan jahil. "Oh ya, selama saya mandi di dalam, jangan lupa ganti pakaian ya? Takutnya, kalau saya keluar dan melihatmu masih berpakaian seseksi ini, saya bisa khilaf dan lepas kendali lagi untuk yang kedua kalinya," goda Fadhlan dengan kekehan halusnya yang menggoda.
Begitu sosok Fadhlan menghilang di balik pintu kamar mandi dan terdengar suara gemericik air shower mulai menyala, Syifa perlahan mendudukkan diri di atas kasur. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, sembari kedua tangannya bergerak memukul kepalanya sendiri pelan. Dalam keheningan kamar itu, Syifa terus-menerus merutuki dan menyesali tindakan nekatnya yang dirasa sangat memalukan, sekaligus merasa bersalah karena telah membuat suaminya terjebak dalam situasi yang mengecewakan akibat ego egoisnya sendiri.
...****************...