Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Aroma kopi hitam menyeruak di teras rumah pagi itu. Abi Musthofa duduk tenang, jemarinya melingkari cangkir hangat, sementara matanya menatap lurus ke halaman depan tempat mobil Fadhlan terparkir. Di sampingnya, sang menantu duduk dengan sikap takzim yang tak pernah luntur.
"Kapan kalian akan berangkat, Nak?" tanya Abi, memecah keheningan pagi.
"Insya Allah sore ini, Abi," jawab Fadhlan lembut namun pasti.
Abah Musthofa menghela napas pendek, menyunggingkan senyum maklum. "Abi kira besok, Nak? Ya sudah, kalau memang ini sudah menjadi keputusan kalian."
"Maafkan Fadhlan, Abi. Sebenarnya Fadhlan juga masih ingin tinggal di sini lebih lama. Tapi karena cuti mengajar saya sudah habis dan tidak bisa ditinggal terlalu lama, jadi—"
"Tidak apa-apa, Nak. Abi mengerti," potong Abi hangat, menepuk pundak kokoh Fadhlan. "Nanti kalian masih bisa datang ke sini kapan pun kalau ada waktu senggang. Abi hanya titip pesan... jaga Syifa baik-baik. Bimbing dia. Kamu sekarang sudah menjadi nakhoda di hidupnya."
"Insya Allah, Abi. Fadhlan akan selalu mengingat dan mengamalkan pesan Abi."
...----------------...
Sementara di dalam kamar, suasana terasa jauh lebih mendung. Bagi Syifa, melangkah keluar dari rumah ini bukan sekadar berpindah tempat tinggal, melainkan babak baru yang memotong jarak dengan separuh jiwanya, kedua orang tua, kakek, dan adik-adiknya.
Jemari Syifa bergetar saat melipat gamis terakhirnya ke dalam koper. Setetes air mata lolos, jatuh membasahi kain katun di tangannya. Ia buru-buru menyekanya, namun dada sesaknya tak bisa berbohong.
Cklek!
Suara pintu terbuka membuat Syifa tersentak. Fadhlan melangkah masuk dengan ritme tenang. Menyadari kehadiran suaminya, Syifa dengan gerakan cepat menghapus sisa basah di pipinya dan membelakangi Fadhlan, berpura-pura sibuk mengunci resleting koper. Namun, mata sembab dan bahu yang sedikit berguncang tidak bisa menipu penglihatan tajam Fadhlan.
Fadhlan berjalan mendekat, lalu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, tepat di samping istrinya.
"Dek, are you okay?" tanya Fadhlan pelan. Suaranya begitu rendah, sarat akan kekhawatiran.
Syifa hanya mengangguk tanpa berani menatap mata Fadhlan.
"Kalau kamu masih berat dan ingin tinggal di sini beberapa hari lagi, tidak apa-apa, Dek. Jangan dipaksa," tutur Fadhlan lembut, mengulurkan tangan untuk menyentuh jemari Syifa. "Kamu bisa di sini dulu. Nanti saya yang akan menjemputmu minggu depan."
Syifa terdiam sejenak, lalu menatap suaminya dengan tatapan beralih tegas. "Tidak, saya akan ikut Pak Fadhlan tinggal di kota."
Fadhlan mengerjapkan matanya, sedikit tertegun. 'Ini anak kenapa kembali panggil 'Bapak' lagi? Padahal cuma ada kita berdua di kamar ini,' gumam Fadhlan dalam hati, merasa geli sekaligus gemas dengan pertahanan gengsi istrinya.
Syifa yang merasa diperhatikan secara intens langsung salah tingkah. "Kenapa lihatin saya begitu, Pak?"
Fadhlan menahan senyumnya, lalu bangkit berdiri. "Tidak ada. Saya ke kamar mandi dulu."
Selesai berkemas, momen yang paling dihindari Syifa akhirnya tiba. Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang tamu untuk melepas kepergian mereka. Langkah Syifa terasa seberat timah saat mendekati sang ibu.
"Hati-hati di jalan ya, Nak. Berbaktilah pada suamimu," bisik Ummi Salwa, langsung mendekap tubuh putrinya erat-erat. Air mata wanita paruh baya itu menetes di pundak Syifa. "Dia pria yang baik, sholeh. Ummi yakin Nak Fadhlan bisa menjagamu dan membimbingmu menjadi istri yang sholehah."
Syifa terisak pelan di pelukan ibunya. "Aamiin... Syifa pasti akan selalu ingat nasihat Ummi. Syifa janji akan sering-sering ke sini untuk menjenguk Ummi, Abi, dan Kakek."
Di sisi lain, Fadhlan mendekati Kakek Ali yang duduk di kursi rodanya. Fadhlan membungkuk dalam, lalu mencium punggung tangan kakek dengan penuh rasa hormat.
"Kakek, Fadhlan pamit pulang ke kota, ya. Kakek tolong jaga kesehatan, jangan lupa rutin minum obatnya. Kalau nanti Kakek mau jadwal kontrol ke rumah sakit, hubungi Fadhlan saja ya, Kek? Biar Fadhlan yang urus semuanya."
Kakek Ali tersenyum teduh, menepuk-nepuk punggung tangan cucu menantunya. "Iya, Nak. Kakek akan beritahu kamu nanti. Datanglah ke sini kalau ada waktu luang. Kakek titip Syifa ya, Nak Fadhlan."
"Insya Allah, Fadhlan akan menjaga Syifa dengan seluruh jiwa saya, Kek."
Abi Musthofa melangkah mendekat, menatap Fadhlan dengan pandangan mata seorang ayah yang sedang menyerahkan harta paling berharganya.
"Nak, Abi titip Syifa," ujar Abi Musthofa dengan suara yang bergetar menahan haru. "Jaga dia, sayangi dan cintai dia dengan sabar. Jangan pernah sakiti dia, apalagi sampai bertindak kasar padanya. Abi mohon... jangan pernah membuatnya menangis karena kekecewaan."
Fadhlan menatap balik mata Abi Musthofa dengan keyakinan penuh. "Insya Allah, Fadhlan akan selalu menyayangi dan menghormatinya sampai kapan pun, Abi. Mohon doakan yang terbaik untuk keluarga kecil kami."
Tangis ruangan itu pecah saat kedua adik Syifa, Reyhan dan Tasya, ikut menghambur memeluk kakaknya.
"Kak Syifa..." tangis Tasya pecah.
Syifa berlutut menyamakan tinggi badannya, mengusap air mata kedua adiknya bergantian. "Kalian yang pintar ya sekolahnya. Zaki, kamu enggak boleh bolos kelas lagi, ya? Harus jadi contoh yang baik buat adikmu. Tasya juga, bantuin Ummi, Abah, sama Kakek di rumah. Jadi anak yang penurut, jangan nakal."
"Kakak bakal sering kesini, kan?" tanya Tasya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Insya Allah. Kakak pasti pulang."
"Kita sayang Kakak," ujar Zaki, kini memeluk erat leher kakak perempuannya, disusul oleh Tasya.
"Kakak juga sangat sayang kalian," bisik Syifa lembut, mengecup kening kedua adiknya bergantian sebelum akhirnya melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu.
...----------------...
Selama satu jam pertama perjalanan, kabin mobil mewah Fadhlan diselimuti keheningan. Syifa lebih banyak melempar pandangannya keluar jendela, menatap deretan pohon yang bergerak mundur, berusaha keras menyembunyikan sisa kesedihan di matanya.
Fadhlan yang sedang menyetir sesekali melirik ke arah kiri. Ia tahu istrinya sedang rindu rumah. Untuk mencairkan suasana kaku itu, jemari Fadhlan bergerak menyalakan pemutar musik di dasbor. sebuah lagu melow bertema romantis mengalun lambat mengisi keheningan.
Kerinduan.. Yang kini ku rasakan
Terjawab sudah dengan hadirmu
Membawa kehangatan..
Sekian lama kau do'a yang ku pinta kan
Tuhan kirimkan engkau padaku.. Mengisi kisah hidupku..
Dalam sepiku kaulah candaku, dalam gelapku kaulah pijarku..
Dalam hatiku engkaulah cintaku..
Mendengar lirik lagu yang terlalu 'pas' dengan situasi mereka, pipi Syifa mendadak memanas. 'Duh, kenapa dari sekian banyak lagu, harus lagu ini sih yang diputar?' gerutu Syifa dalam hati, mendadak salah tingkah sendiri.
Tepat saat bait lagu berpindah, Fadhlan menoleh ke arah Syifa. Di saat yang sama, Syifa juga sedang melirik suaminya. Pandangan mereka bertemu, terkunci selama beberapa detik sebelum akhirnya Syifa membuang muka dengan gugup.
Fadhlan tersenyum tipis, kembali fokus pada jalanan di depannya. "Kenapa? Kamu tidak suka dengan lagunya?"
"S-suka kok, Mas," jawab Syifa singkat, berusaha menetralkan suaranya yang mendadak gugup.
Fadhlan memutar setir ke arah sebuah jalan yang agak melipir dari rute utama menuju kota. "Kita mampir dulu sebentar."
Syifa mengernyit heran. "Hmm.. kemana, Mas?"
"Lihat saja nanti," jawab Fadhlan menggunakan kalimat andalannya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah area yang tampak tenang. Fadhlan sempat menghentikan mobilnya sebentar di pinggir jalan untuk membeli beberapa ikat bunga mawar putih dan melati yang masih segar. Syifa hanya mengikuti langkah Fadhlan dari belakang tanpa banyak bertanya, hingga langkah kaki mereka membawa mereka masuk ke sebuah gerbang besi bertuliskan area pemakaman.
'Pemakaman? Mau ke makam siapa? Bukannya makam orang tua Mas Fadhlan ada di kota P?' batin Syifa penuh tanda tanya.
Langkah Fadhlan berhenti di depan sebuah makam yang tampak sangat terawat, dinaungi oleh sebuah pohon kamboja yang rimbun. "Sudah sampai," tutur Fadhlan pelan.
Syifa melangkah maju sedikit, matanya tertuju pada barisan huruf di batu nisan marmer hitam itu.
Maulana Nizar Ganendra
Syifa tersentak kecil dalam hatinya. 'Maulana Nizar Ganendra? Kakek? Jadi ini makam Kakek Nizar, sahabat karib Kakek Ali?'
Fadhlan berlutut di samping makam, dengan telaten jemarinya membersihkan beberapa daun kering yang gugur di atas gundukan tanah, lalu meletakkan beberapa ikat bunga yang dibelinya tadi dengan sangat lembut.
"Assalamu’alaikum, Kek. Cucu Kakek datang lagi," ujar Fadhlan berbisik pada batu nisan itu, suaranya terdengar begitu emosional. "Tapi kali ini, tentu saja Fadhlan sudah tidak sendirian. Cucu Kakek datang bersama istrinya... istri yang sangat cantik, Kek."
Syifa tertegun mendengar ucapan Fadhlan. Ada sisi rapuh dan penuh kasih dari suaminya yang baru pertama kali ia lihat hari ini.
"Kita berdoa dulu untuk Kakek, ya, Dek?" ajak Fadhlan mendongak menatap Syifa.
Syifa mengangguk khusyuk. Dengan beralaskan rumput hijau yang bersih, keduanya menadahkan tangan. Fadhlan memimpin doa dengan suara baritonnya yang mengalun indah dan bergetar, merapalkan bacaan surat Yasin dan do'a untuk almarhum kakek, nenek dan juga orang tuanya.
Setelah selesai mengusap wajahnya, Fadhlan terdiam cukup lama, menatap lekat batu nisan itu.
"Kakek Ali sering bilang ke saya, kalau Kakek Nizar ini orangnya sangat baik dan sudah dianggap seperti saudara," pungkas Syifa mencoba menghibur.
Fadhlan menarik napas dalam, matanya masih menerawang. "Sebelum Kakek meninggal..." Fadhlan menjeda ucapannya, seolah ingatan masa lalu kembali berputar di otaknya. "Dia ingin sekali melihat saya segera menikah. Beliau bahkan sampai beberapa kali menjodohkan saya dengan anak rekan bisnisnya, tapi... saya selalu menolaknya secara mentah-mentah."
Syifa memiringkan kepalanya, rasa penasarannya mulai terusik. "Hmm, iya... Mas sudah bilang soal itu kemarin. Tapi, memangnya waktu itu sama sekali tidak ada wanita yang ingin Mas nikahi atas keinginan Mas sendiri?"
Fadhlan menoleh, menatap lekat-lekat mata cokelat Syifa. "Ada."
Jantung Syifa mencelos mendengar jawaban itu. Ada perasaan tidak nyaman yang mendadak mencubit hatinya. "Lalu... kenapa Mas tidak menikahinya saja? Kenapa akhirnya Mas malah menerima perjodohan ini?" tanya Syifa beruntun, menuntut penjelasan.
Fadhlan mengubah posisi duduknya menghadap Syifa, matanya melembut. "Dulu... saya mengenal seorang anak perempuan. Umur kami terpaut lumayan jauh saat itu. Dia itu anak yang sangat manja, keras kepala, dan hobi sekali mengikuti ke mana pun saya pergi. Ya... mungkin bisa dibilang, waktu itu dia lebih pantas menjadi adik atau keponakan kecil saya."
Fadhlan menjeda sejenak, senyum tipis terukir di bibirnya. "Tapi karena saya harus terpaksa pindah ke luar kota ke kampung halaman ummi, kami berpisah kurang lebih tiga belas tahun lamanya. Sepertinya kalau dihitung sekarang, dia seumuran denganmu. Dan... mungkin sekarang dia sama sekali tidak mengingat saya lagi," lanjut Fadhlan sembari menatap Syifa intens, seolah mencari sesuatu di wajah istrinya.
Syifa yang mendengar cerita itu mendadak mengerucutkan bibirnya. Ada rasa cemburu samar yang membakar dadanya karena menyangka suaminya mencintai wanita lain di masa lalu.
Syifa membuang muka, mendengus sinis. "Ehm... menurut saya, Anda sedikit tidak normal ya, Pak. Masa suka dengan anak kecil?" cibir Syifa ketus, mengembalikan panggilan formalnya sebagai tanda ia sedang kesal.
Fadhlan menahan tawa melihat raut cemburu yang gagal disembunyikan istrinya. "Itu artinya... kamu juga masih anak kecil?"
Syifa menoleh cepat, wajahnya memerah. "Bisa jadi! Hehe..." jawabnya dengan senyum canggung yang dipaksakan.
"Anak kecil... tapi sudah pintar merayu dan menjahili dosennya sendiri," sindir Fadhlan halus dengan tatapan menggoda.
"Ish! Siapa juga yang merayu? Kan Bapak sendiri yang datang ke rumah dan menikahi saya?" sangkal Syifa tidak mau kalah, wajahnya makin memanas.
Fadhlan hanya tersenyum misterius dalam hati. 'Dek... kalau saja kamu tahu, anak kecil yang keras kepala dan selalu mengikutiku tiga belas tahun lalu itu adalah kamu, Asyifa Humaira.'
"Sudah, ayo pulang sekarang," ujar Fadhlan tiba-tiba bangkit berdiri dari rumput, membersihkan celananya dari serpihan tanah.
Syifa yang masih penasaran setengah mati langsung ikut berdiri, menahan lengan kemeja Fadhlan. "Tunggu dulu, Pak! Lanjutkan dulu ceritanya! Siapa anak kecil itu? Terus sekarang dia di mana? Cerita dulu baru kita pulang!" bujuk Syifa setengah merengek.
Namun, tidak ada respons. Fadhlan sudah kembali melangkah menuju mobil dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Huh... mode kulkasnya kambuh lagi! Menyebalkan!" gerutu Syifa kesal, mengentakkan kakinya ke tanah.
Sebelum berbalik menyusul langkah suaminya yang mulai menjauh, Syifa kembali menatap nisan Kakek Nizar, lalu berbisik dalam hati.
'Kakek Nizar... pasti cucu Kakek ini sayang banget sama Kakek, ya. Walaupun sifatnya kadang mirip kulkas dua pintu. Syifa pamit pulang dulu ya, Kek. Nanti kalau ada waktu, Syifa pasti main ke sini lagi menemani Mas Fadhlan.'
Syifa tersenyum manis, lalu berlari kecil menyusul Fadhlan yang sudah menunggunya di dekat pintu mobil dengan membukakan pintu untuknya.
...****************...