Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : RATU ES YANG MENOLAK MATI
THE ORIGIN : ZERO
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
BAB 24 : RATU ES YANG MENOLAK MATI
Hening yang mematikan menyelimuti lorong Blok Isolasi Penjara Tartarus. Cahaya lampu darurat berwarna merah masih berkedip statis, memantul di atas genangan darah yang mulai mendingin di lantai baja.
Elara masih berlutut, tangan kirinya mencengkeram bahu kanannya yang kini hanya menyisakan lubang menganga akibat proyektil ketiadaan milik sang Ketua Asosiasi. Napasnya tersengal, pendek dan berat. Setiap tarikan udara terasa seperti menelan belati yang mengoyak paru-parunya.
Namun, bukan rasa sakit fisik yang membuat pupil mata Elara bergetar hebat.
Tepat di detik itu, sebuah ikatan spiritual yang selama ini melekat erat di relung batinnya mendadak terputus. Aura Mana yang luar biasa masif dari permukaan, aura milik pria yang selama ini menjadi pusat dunianya tiba-tiba lenyap tanpa sisa. Seolah-olah eksistensinya baru saja dihapus paksa dari dunia.
Bukannya menangis histeris atau meratap putus asa, wanita yang kejam dunia bawah itu justru mendengus pelan. Ia meludah, memuntahkan sisa darah dari mulutnya ke lantai baja.
"Cih..." desis Elara parau, menggertakkan giginya menahan campuran antara rasa sakit dan kekesalan yang memuncak.
"Dasar abang kurang ajar..."
Ketua Asosiasi yang berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya perlahan menurunkan tangan kanannya. Alis pria berjas rapi itu bertaut samar. Arogansinya sedikit terusik melihat reaksi Elara yang sama sekali di luar prediksinya.
Ia tidak perlu melihat ke permukaan untuk mengetahui apa yang terjadi, karena sensor sihir fasilitas telah mengonfirmasi fluktuasi Mana Pemimpin Black Cross telah mencapai angka nol.
"Abang?" ulang Ketua Asosiasi dengan nada dingin, merasa ada bagian dari puzzle malam ini yang keliru.
"Jadi Ketua Black Cross yang selama ini kau agungkan itu adalah kakakmu sendiri?"
Pria itu melangkah maju, bayangannya yang panjang menelan tubuh mungil Elara yang tak berdaya.
"Sungguh drama keluarga yang menyedihkan. Kakak kebanggaanmu itu sudah musnah di tangan Arlandi Varga," lanjut sang Ketua Asosiasi, kembali mengangkat jari telunjuknya dan membidiknya tepat ke dahi Elara.
"Sekarang, pergilah menyusulnya."
Jauh di bawah, di tingkat terdalam Penjara Tartarus yang seharusnya mustahil untuk ditembus, suara langkah kaki menggema dengan ritme yang lambat dan elegan.
Tap... Tap... Tap...
Lorong di Sektor ini seharusnya dijaga oleh pasukan Guardian Kelas Beta atau pensiun para Guardian Kelas Alpha dan sistem pertahanan otomatis yang bisa melelehkan tubuh manusia dalam hitungan detik. Namun, tidak ada satu pun alarm yang berbunyi.
Rey berjalan dengan santai, kedua tangannya tersimpan rapi di dalam saku celana. Ekspresinya sedatar air danau yang tenang. Di belakangnya, sosok siluet manusia, itu adalah AS 2 mengikuti dalam diam.
Setiap langkah yang diambil oleh pemuda itu meninggalkan jejak kengerian yang sunyi.
Di sepanjang lorong baja tersebut, puluhan mayat Guardian elit bergelimpangan di lantai. Tidak ada luka sayatan, tidak ada bekas luka bakar, dan tidak ada tanda-tanda perlawanan.
Mereka semua mati begitu saja saat Rey berjalan melewati mereka. Bahkan, para tahanan bertaraf bencana yang dikurung di dalam sel isolasi kaca berlapis Mana pun ikut terkapar tak bernyawa, bola mata mereka memutih.
Nyawa mereka seolah dicabut paksa oleh kehadiran yang melampaui batas dimensi.
"Satu semut di permukaan baru saja mati, Master," lapor AS 2 dengan suara mekanisnya yang berat memecah keheningan. Sensor di dalam helm zirahnya berkedip merah.
"Dan wanita di lorong atas sana... hidupnya hanya tinggal menghitung detik. Apakah kita akan ikut campur?"
Rey tidak menghentikan langkahnya. Matanya tetap menatap lurus ke ujung lorong gelap di hadapannya.
"Tidak perlu," jawab Rey, suaranya terdengar sangat tenang, mengalir layaknya melodi kematian.
"Biarkan saja."
"Tapi Master, jika dia mati—"
"Dia tidak membiarkan adiknya untuk mati semudah itu di tempat kotor seperti ini," potong Rey pelan. Seulas senyum tipis yang tak terbaca mengembang di bibirnya.
"Lagipula, AS 2... kau harus paham satu hal. Mereka menggelar panggung kehancuran ini, membakar semua kartu as mereka, bukan untuk menelan kekalahan."
Rey menghentikan langkah kakinya. Ujung lorong gelap fasilitas terdalam itu akhirnya menemui jalan buntu.
Dihadapkan pada sebuah gerbang baja raksasa setinggi sepuluh meter. Gerbang itu dipenuhi oleh ribuan ukiran sirkuit sihir segel pengekang tingkat tinggi yang memancarkan pendaran cahaya keemasan secara berdenyut. Ini adalah jantung dari Penjara Tartarus, ruang isolasi paling absolut yang dirancang hanya untuk menahan satu orang.
Di tengah keheningan lorong yang dipenuhi mayat tersebut, Rey hanya berdiri diam. Ia membiarkan pendaran cahaya keemasan dari sirkuit segel itu memantul di sepasang matanya yang sedatar air danau yang tenang.
Di balik gerbang tak tertembus itu, sebuah aura eksistensi yang sangat pekat, sunyi, dan menyalahi akal sehat berdenyut pelan, seolah merespons kedatangannya.
Seulas senyum tipis perlahan mengembang di bibir Rey. Ia menatap lurus ke permukaan gerbang raksasa itu, seakan pandangannya telah menembus baja murni tersebut dan menyapa sang monster yang terbelenggu di dalamnya.
Di ujung telunjuk Ketua Asosiasi, ruang mendadak terdistorsi. Sebuah sihir tercipta yang siap menghapus kepala Elara dari eksistensi.
WUSSSHH!
sihir itu melesat tanpa suara, membelah udara lurus menuju dahi Elara dengan kecepatan yang mustahil dihindari mata telanjang.
Namun, di sepersekian milidetik sebelum peluru itu menyentuh kulitnya...
KRAAAK... TING!
Langkah Ketua Asosiasi terhenti. Alisnya yang selalu tenang kini bertaut tajam.
Sihir miliknya berhenti di udara, tepat dua sentimeter di depan wajah Elara.
Sihir itu tidak menembus daging, melainkan terjebak di dalam bongkahan kristal es berwarna merah pekat yang tiba-tiba mekar layaknya bunga teratai dari genangan darah Elara di lantai.
Sihir sang Ketua Asosiasi terus berusaha menghapus es tersebut, namun kristal es darah itu meregenerasi dan membeku kembali lebih cepat daripada daya hapus peluru itu sendiri.
Di balik bongkahan es darah yang menahan maut itu, Elara perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada ekspresi putus asa di sana. Sepasang mata birunya kini menyala terang, memancarkan hawa dingin yang luar biasa mengerikan.
"Sihir yang bisa menghilangkan benda apapun..." Elara tersenyum sinis, memperlihatkan giginya yang berlumuran darah. Napasnya berubah menjadi kabut putih tebal.
"Sungguh..... Sihir yang sangat merepotkan."
Wanita itu perlahan bangkit berdiri. Kristal es darah mulai merambat menutupi luka menganga di bahu kanannya, bertindak sebagai penahan rasa sakit dan pembuluh darah buatan. Suhu di lorong itu merosot tajam hingga dinding baja mulai membeku.
"Aku memang belum tahu sihir jenis apa yang kau pakai, Tuan.... Ketua," lanjut Elara, menatap lurus ke mata pria nomor satu di Asosiasi itu.
"Tapi saat kau menghancurkan bahuku tadi, aku menyadari satu hal. Sihirmu butuh waktu sepersekian detik untuk melenyapkan mana miliki mu itu, yang membuat ku lengah"
Mata Ketua Asosiasi sedikit melebar. Otak jeniusnya baru menyadari bahwa Elara tidak sekadar pasrah menerima serangannya tadi, melainkan sengaja mengumpankan bahunya untuk mengukur batas sihir tersebut.
"Dan selama sihirmu masih terikat oleh waktu..."
Elara merentangkan sisa tangan kirinya. Ribuan partikel es melayang di udara, membekukan bahkan kelembapan di sekeliling mereka.
"...suhu nol mutlakku bisa menghentikannya."
Ketua Asosiasi mendengus pelan, raut wajahnya kembali mengeras. Hawa membunuh murni kini menguar dari tubuhnya.
"Tikus betina yang keras kepala."
"Selamat datang di babak kedua, Anjing Pemerintah," tantang Elara. Ribuan tombak es darah terbentuk di sekelilingnya, membidik setiap titik vital sang Ketua.
"Mari kita lihat, apakah sihir mu itu bisa menelan badai salju yang diwarnai oleh nyawaku sendiri!"
BAB 24 SELESAI
~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~
~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~
~•KARYA : R14•