Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
Getaran di lantai kristal semakin hebat, bukan lagi karena aktivasi sistem pertahanan, melainkan karena ledakan yang terjadi di lantai bawah. Layar-layar holografik di sekeliling Alesia mulai berkedip-kedip merah, mengeluarkan bunyi peringatan yang menyakitkan telinga.
"WARNING: LIFE SUPPORT SYSTEM COMPROMISED. OXYGEN LEVELS DROPPING. VENTILATION SHAFT BLOCKED BY UNKNOWN CORROSIVE AGENT."
"Waduh, si Bram beneran niat mau bikin kita jadi mumi di sini!" seru Alesia sambil terbatuk. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa berat dan berbau logam terbakar.
Magnus mencoba membuka pintu menuju tangga bawah, namun panelnya tidak merespon. "Siti! Pintunya terkunci dari luar. Sepertinya mereka menggunakan sesuatu untuk merusak mekanisme pintunya!"
Jenderal Kael berlari mendekat setelah memeriksa celah udara. "Yang Mulia, mereka menggunakan 'Cairan Penghancur Jiwa'—racun korosif dari gudang rahasia Ibu Suri. Cairan itu memakan logam dan kristal, sekaligus mengeluarkan gas yang menyerap udara bersih!"
Alesia berlari kembali ke meja konsol. Jarinya menari-nari di atas papan ketik virtual. "Sialan! Si Bram bawa jammer ya? Sistemnya stuck! Bang Magnus, Kael, kalian berdua jangan banyak gerak! Makin banyak gerak, makin cepet oksigen abis!"
"Gusti... hamba... hamba mulai pusing," bisik Lily. Ia terduduk di lantai sambil memegangi dadanya. Wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen.
"Lily! Jangan tidur! Tarik napas pelan-pelan lewat hidung, buang lewat mulut. Jangan panik!" perintah Alesia, meski dadanya sendiri mulai terasa sesak.
Tiba-tiba, suara tawa yang pecah terdengar dari speaker di dinding. Itu suara Bram, tapi terdengar lebih serak dan gila.
"Selamat tinggal, Yang Mulia Raja... dan Permaisuri palsu. Ibu Suri benar, kau hanyalah gangguan yang harus dihapus. Nikmatilah kematian kalian di dalam makam teknologi dewa yang kalian puja ini!"
"Bram! Lu pengecut!" teriak Alesia ke arah konsol. "Sini lu masuk kalau berani! Gue kasih liat teknologi dewa versi Depok, gue geprek lu jadi sambel!"
"Terlambat, Permaisuri. Dalam lima menit, ruangan ini akan menjadi hampa udara. Tidak ada sihir, tidak ada 'anatomi' yang bisa menyelamatkanmu dari kekosongan."
Klik. Suara komunikasi terputus.
Magnus mendekati Alesia, ia tampak tenang meskipun napasnya mulai pendek. Ia memegang tangan Alesia. "Siti... jika ini akhirnya, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak menyesal menghabiskan saat-saat terakhirku bersamamu."
"Dih, jangan mulai deh Bang drama sedihnya! Gue belom mau mati jadi mumi kristal!" Alesia memutar otak. Ia menatap layar yang menampilkan diagram sirkulasi udara. Ada satu titik kuning yang berkedip di bawah meja konsol.
"Kael! Bang Magnus! Bantuin gue angkat panel lantai yang ini!" Alesia menunjuk sebuah lempengan kristal di bawah kakinya. "Ini jalur manual override untuk ventilasi darurat. Biasanya di setiap gedung canggih ada jalan pintas buat teknisi kalau sistem eror!"
Dengan sisa tenaga yang ada, Magnus dan Kael menarik panel tersebut. KRAKK! Kristal itu terangkat, menyingkap sebuah lubang sempit yang penuh dengan kabel-kabel bercahaya biru.
"Gue harus masuk ke bawah buat muter tuas manualnya," ucap Alesia sambil melepas jubah hitamnya agar lebih lincah.
"Jangan, Siti. Biar aku atau Kael saja!" larang Magnus.
"Kagak bisa! Badan kalian gede-gede kayak binaragawan, mana muat masuk lobang tikus begini!" Alesia sudah setengah badan masuk ke dalam lubang. "Lagian, cuma gue yang ngerti mana kabel yang harus dicabut dan mana yang jangan. Kalau kalian salah cabut, bisa-bisa pulau ini meledak beneran!"
Alesia merayap masuk ke dalam lorong sempit yang panas dan pengap. Oksigen di bawah sana bahkan lebih tipis. Kepalanya mulai berdenyut hebat, dan pandangannya sesekali menggelap.
Ayo Siti, fokus! Jangan pingsan sekarang. Lu pernah tahan napas dua menit pas lomba renang di sekolah, masa sekarang kaga bisa! batinnya menyemangati diri sendiri.
Di ujung lorong, ia menemukan sebuah tuas besar berwarna merah dengan tulisan kuno: EMERGENCY VENTILATION - MANUAL RELEASE.
Alesia menarik tuas itu dengan seluruh tenaganya.
BERAT BANGET!
"Ugh... ayolah... terbuka dong!" Alesia mengerahkan seluruh tenaganya sampai urat-urat di lehernya menonjol. Ia membayangkan tuas itu adalah leher Bram yang sedang ia cekik.
KLAK!
Suara desisan udara terdengar. Angin segar mulai berhembus masuk melalui celah-celah kecil. Alesia menghirup udara itu dalam-dalam, merasa paru-parunya kembali hidup. Namun, kegembiraannya terhenti saat ia melihat bayangan seseorang di ujung lorong bawah tanah yang lain.
Itu Bram. Ia sedang memegang sebuah botol berisi cairan hijau pekat, hendak menyiramkannya ke kabel utama pulau.
"Woi! Mau ngapain lu, Cepu?!" teriak Alesia dari dalam lubang sempit.
Bram tersentak. Ia menatap Alesia dengan benci. "Kau masih hidup?! Dasar iblis ulet!"
Bram melemparkan botol itu ke arah Alesia. Dengan gerakan refleks yang gila, Alesia menangkap botol itu di udara sebelum pecah.
"Hampir aja! Lu mau ngerusak kabel fiber optik ribuan tahun pake ginian? Kagak level, Mas!" Alesia keluar dari lubang dengan gerakan salto yang tidak elegan tapi efektif, mendarat tepat di depan Bram.
"Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" Bram menerjang dengan belati yang sudah diolesi racun.
Alesia berkelit ke samping. "Duh, lambat bener! Kebanyakan ngerokok ya lu?"
Alesia menggunakan teknik kuncian siku yang ia pelajari dari video bela diri di ponselnya dulu. KRAK! Belati Bram jatuh. Alesia tidak berhenti di situ, ia memberikan tendangan "sapu jagat" ke kaki Bram hingga pria itu terjatuh, lalu mendudukinya.
"Pilih mana, Mas? Gue serahin ke Bang Magnus buat dipenggal, apa lu mau jujur siapa lagi mata-mata di kapal?" tanya Alesia sambil mengunci leher Bram dengan lengannya.
"Aku... aku tidak akan bicara!" geram Bram.
Tiba-tiba, dinding di samping mereka hancur. Magnus dan Kael melompat masuk dengan wajah penuh amarah. Rupanya setelah udara kembali normal, mereka berhasil menjebol pintu darurat.
"Siti! Kau tidak apa-apa?" Magnus langsung menghampiri Alesia, menariknya menjauh dari Bram.
"Aman, Bang. Cuma agak sesek napas dikit sama kena debu kristal," sahut Alesia sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Jenderal Kael langsung meringkus Bram dengan kasar. "Pengkhianat! Kau akan membayar setiap napas yang hampir kau ambil dari kami!"
Magnus menatap Bram dengan tatapan yang bisa membekukan air laut. "Bawa dia ke kapal. Pastikan dia hidup sampai kita tiba di ibu kota. Aku ingin seluruh rakyat melihat wajah orang yang mencoba menghancurkan pelindung mereka."
"Siap, Yang Mulia!"
Setelah Bram diseret pergi, suasana di ruangan bawah tanah itu kembali tenang, meski bau gas masih tersisa sedikit. Magnus menoleh ke arah Alesia, menariknya ke dalam pelukan yang sangat kencang.
"Jangan pernah lakukan itu lagi," bisik Magnus, suaranya bergetar. "Jangan pernah masuk ke lubang maut itu sendirian."
Alesia tertawa kecil, menyandarkan wajahnya di dada Magnus yang masih naik-turun. "Ya elah Bang, kalau gue kaga masuk, kita semua udah jadi pajangan di sini. Lagian, gue kan udah bilang, gue ini lincah. Lubang segitu mah kecil buat mantan juara lomba lari karung di Depok."
Magnus melepaskan pelukannya, menatap mata Alesia. "Lari karung? Apa lagi itu?"
"Nanti gue ajarin pas kita udah aman, Bang. Kita bikin lomba tujuh belasan di istana, pasti seru!" Alesia nyengir lebar.
Lily muncul dari atas, masih sedikit sempoyongan tapi sudah bisa tersenyum. "Gusti... hamba rasa hamba butuh makan sepiring nasi liwet lagi untuk mengembalikan nyawa hamba yang tadi sempat melayang."
"Setuju! Gue juga laper bener!" seru Alesia. "Bang, yuk balik ke kapal. Urusan di pulau ini udah beres. Rahasia kebongkar, portal ketutup, sistem pertahanan nyala, dan si Cepu ketangkep. Paket lengkap!"
Magnus menggenggam tangan Alesia, menuntunnya keluar dari piramida kristal yang kini mulai bercahaya dengan pola yang stabil—tanda bahwa sistem pertahanan yang diatur Alesia sudah aktif sepenuhnya.
"Orizon berhutang nyawa padamu, Siti," ucap Magnus saat mereka menuruni bukit menuju pantai.
"Kagak usah bayar hutang pake emas, Bang. Cukup jangan kasih gue urusan berat lagi buat seminggu ke depan. Gue mau tidur siang sepuasnya!"
Magnus tertawa, suaranya menggema di sepanjang pantai kristal yang indah itu. Di balik cakrawala, kapal Candra Kirana menanti mereka, membawa harapan baru bagi kerajaan Orizon yang kini memiliki perisai terkuat di dunia—baik secara teknologi maupun jiwa permaisurinya.
semangat truus permaisuri bar2 ,,
kebenaran lebih kuat dri fitnahan ibu timun Suri 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
lanjuut kak
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii