NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diam Yang Tidak Lagi Menenangkan

POV Kanaya

Malam telah larut ketika Fatan pulang.

Aku mendengar suara pintu terbuka dari dapur.

Pelan. Berat.

Seperti langkah seseorang yang membawa sesuatu yang tidak terlihat

namun terlalu berat untuk disembunyikan.

Aku sedang menyeduh teh.

Kebiasaan kecil yang entah sejak kapan menjadi caraku menyambutnya.

Bukan karena ia meminta.

Tapi karena… aku ingin ada sesuatu yang hangat di antara kami.

Walau hanya secangkir teh.

Aku menoleh.

Dan di sana

Fatan berdiri.

Wajahnya kusut.

Rahangnya mengeras.

Matanya… kosong.

Aku tidak bertanya.

Aku sudah terlalu sering melihat ekspresi itu.

“Kamu tampak lelah,” kataku pelan.

“Aku membuatkanmu teh.”

Aku menyodorkan cangkir itu dengan dua tangan.

Seperti biasa.

Dengan hati-hati.

Dengan niat baik yang sederhana.

Namun sebelum jemariku benar-benar melepasnya

“Aku tidak butuh itu.”

Dingin.

Pendek.

Menusuk tanpa perlu ditinggikan.

Aku tertegun.

“Aku hanya,,,,”

“Sudah kubilang aku tidak butuh apa pun!” potongnya, kali ini lebih keras.

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Untuk sementara… jangan ganggu aku.”

Tangannya terayun.

Tidak sengaja.

Namun cukup untuk membuat cangkir itu goyah di tanganku.

Teh panas itu bergoyang—

dan sebagian menyentuh kulitku.

“Aww,,,”

Aku meringis.

Panasnya menyengat.

Namun yang lebih terasa… justru yang lain.

Fatan hanya melirik.

Sekilas.

Tanpa benar-benar melihat.

Aku diam.

Tanganku gemetar.

Bukan karena takut.

Aku hanya… tidak mengerti.

“Maaf,” ucapku lirih.

“Aku tidak tahu kamu sedang marah.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Seperti refleks.

Seolah-olah… aku yang harus memperbaiki semuanya.

Namun justru itu membuatnya semakin kesal.

“Aku tidak meminta kamu mengerti,” katanya tajam.

“Berhenti bersikap seolah semuanya baik-baik saja.”

Aku menunduk.

Dadaku terasa sesak.

Namun aku tidak menangis.

Belum.

Aku hanya meletakkan cangkir itu perlahan di meja.

Berusaha agar tidak ada suara.

Seolah suara sekecil apa pun… bisa membuat semuanya lebih buruk.

“Jika aku mengganggumu…” kataku pelan,

“aku akan ke kamar.”

Ia tidak menjawab.

Tidak menahan.

Tidak juga memanggil.

Ia hanya memalingkan wajah.

Dan aku… mengerti.

Aku berjalan menjauh.

Langkahku pelan.

Ringan.

Hampir tak terdengar.

Namun setiap langkah itu

seperti meninggalkan sesuatu di belakangku.

Sesuatu yang semakin lama… semakin hilang.

Begitu pintu kamar tertutup

aku berhenti.

Tubuhku terasa lemas.

Aku duduk di tepi ranjang.

Memeluk lututku.

Dan di situlah

air mataku akhirnya jatuh.

Aku tidak menangis karena dibentak.

Bukan.

Aku menangis karena… mulai menyadari sesuatu.

Bahwa rumah ini

tidak lagi menjadi tempatku pulang.

Melainkan tempat… aku belajar bertahan.

Sendirian.

Sejak malam itu

hari-hari berjalan dengan pola yang sama.

Fatan menjadi lebih mudah marah.

Hal kecil

menjadi besar.

Hal sepele

menjadi alasan.

Dan keheningan

menjadi jarak yang tidak bisa lagi aku jembatani.

Aku memilih diam.

Setiap kali ia meninggikan suara

aku menunduk.

Bukan karena aku kalah.

Tapi karena aku… lelah.

Lelah mencari kata yang tidak pernah sampai.

Lelah mencoba menjelaskan sesuatu

yang tidak pernah ingin ia dengar.

Di pagi hari

aku tetap menyiapkan sarapan.

Seperti biasa.

Walau sering kali… tidak disentuh.

Di sore hari

aku memastikan rumah tetap rapi.

Walau tidak ada yang benar-benar melihat.

Di malam hari

aku menutup pintu kamar dengan hati-hati.

Agar isakku… tidak terdengar.

Aku menangis dalam diam.

Tanpa suara.

Tanpa saksi.

Kadang aku berdiri di depan cermin.

Menatap diriku sendiri.

Wajahku terlihat… baik-baik saja.

Tidak ada luka.

Tidak ada lebam.

Tidak ada jejak pertengkaran.

Namun di mataku

aku melihat sesuatu yang tidak bisa aku sembunyikan.

Kelelahan.

Yang perlahan… menggerogoti.

“Aku hanya ingin menjadi istri yang baik…”

Bisikku pada bayanganku sendiri.

“Apakah itu terlalu sulit?”

Aku mengingat Ayah.

Pesan terakhirnya.

Tentang bertahan.

Tentang menjaga.

Tentang menjadi perempuan yang kuat dalam pernikahan.

Dulu… pesan itu terasa seperti pelukan.

Sekarang

terasa seperti beban.

Setiap kali aku ingin berbicara

aku mengingatnya.

Dan aku memilih diam.

Setiap kali aku ingin mengeluh

aku mengingat wajahnya.

Dan aku menahan semuanya.

Fatan tidak pernah benar-benar tahu.

Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Dengan pikirannya.

Dengan amarahnya.

Dengan sesuatu yang tidak pernah ia jelaskan.

Kadang

setelah ia marah

ia akan diam.

Menjauh.

Seolah-olah jarak bisa memperbaiki segalanya.

Namun bagiku

jarak itu bukan solusi.

Itu hanya cara lain untuk… menghindar.

Aku mulai memahami sesuatu.

Sesuatu yang menyakitkan.

Kesabaranku…

tidak menyembuhkan apa pun.

Ia hanya membuat luka ini

terlihat lebih rapi.

Lebih tersembunyi.

Suatu malam

aku duduk sendirian di ruang tamu.

Lampu temaram.

Rumah sunyi.

Terlalu sunyi.

Aku menggenggam ponselku.

Menatap satu nama.

Amira.

Sahabatku.

Tempatku pulang… sebelum semua ini terjadi.

Aku ingin menghubunginya.

Ingin bercerita.

Ingin berkata bahwa aku… tidak baik-baik saja.

Namun jariku tidak bergerak.

Aku hanya menatap nama itu.

Lama.

Sangat lama.

“Aku tidak ingin menjadi cerita sedihmu…”

Bisikku pelan.

Akhirnya

aku meletakkan ponsel itu.

Dan memeluk diriku sendiri.

Seperti biasa.

Aku bertahan.

Bukan karena aku kuat.

Tapi karena… aku belum tahu ke mana harus pergi.

Dan di balik semua diam yang terlihat anggun itu

ada satu kebenaran yang perlahan tumbuh di dalam diriku:

Tidak semua perempuan yang diam…

adalah perempuan yang baik-baik saja.

Kadang

diam hanyalah cara paling sunyi…

untuk tetap hidup.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!