Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Yang Tidak Lagi Menenangkan
POV Kanaya
Malam telah larut ketika Fatan pulang.
Aku mendengar suara pintu terbuka dari dapur.
Pelan. Berat.
Seperti langkah seseorang yang membawa sesuatu yang tidak terlihat
namun terlalu berat untuk disembunyikan.
Aku sedang menyeduh teh.
Kebiasaan kecil yang entah sejak kapan menjadi caraku menyambutnya.
Bukan karena ia meminta.
Tapi karena… aku ingin ada sesuatu yang hangat di antara kami.
Walau hanya secangkir teh.
Aku menoleh.
Dan di sana
Fatan berdiri.
Wajahnya kusut.
Rahangnya mengeras.
Matanya… kosong.
Aku tidak bertanya.
Aku sudah terlalu sering melihat ekspresi itu.
“Kamu tampak lelah,” kataku pelan.
“Aku membuatkanmu teh.”
Aku menyodorkan cangkir itu dengan dua tangan.
Seperti biasa.
Dengan hati-hati.
Dengan niat baik yang sederhana.
Namun sebelum jemariku benar-benar melepasnya
“Aku tidak butuh itu.”
Dingin.
Pendek.
Menusuk tanpa perlu ditinggikan.
Aku tertegun.
“Aku hanya,,,,”
“Sudah kubilang aku tidak butuh apa pun!” potongnya, kali ini lebih keras.
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Untuk sementara… jangan ganggu aku.”
Tangannya terayun.
Tidak sengaja.
Namun cukup untuk membuat cangkir itu goyah di tanganku.
Teh panas itu bergoyang—
dan sebagian menyentuh kulitku.
“Aww,,,”
Aku meringis.
Panasnya menyengat.
Namun yang lebih terasa… justru yang lain.
Fatan hanya melirik.
Sekilas.
Tanpa benar-benar melihat.
Aku diam.
Tanganku gemetar.
Bukan karena takut.
Aku hanya… tidak mengerti.
“Maaf,” ucapku lirih.
“Aku tidak tahu kamu sedang marah.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Seperti refleks.
Seolah-olah… aku yang harus memperbaiki semuanya.
Namun justru itu membuatnya semakin kesal.
“Aku tidak meminta kamu mengerti,” katanya tajam.
“Berhenti bersikap seolah semuanya baik-baik saja.”
Aku menunduk.
Dadaku terasa sesak.
Namun aku tidak menangis.
Belum.
Aku hanya meletakkan cangkir itu perlahan di meja.
Berusaha agar tidak ada suara.
Seolah suara sekecil apa pun… bisa membuat semuanya lebih buruk.
“Jika aku mengganggumu…” kataku pelan,
“aku akan ke kamar.”
Ia tidak menjawab.
Tidak menahan.
Tidak juga memanggil.
Ia hanya memalingkan wajah.
Dan aku… mengerti.
Aku berjalan menjauh.
Langkahku pelan.
Ringan.
Hampir tak terdengar.
Namun setiap langkah itu
seperti meninggalkan sesuatu di belakangku.
Sesuatu yang semakin lama… semakin hilang.
Begitu pintu kamar tertutup
aku berhenti.
Tubuhku terasa lemas.
Aku duduk di tepi ranjang.
Memeluk lututku.
Dan di situlah
air mataku akhirnya jatuh.
Aku tidak menangis karena dibentak.
Bukan.
Aku menangis karena… mulai menyadari sesuatu.
Bahwa rumah ini
tidak lagi menjadi tempatku pulang.
Melainkan tempat… aku belajar bertahan.
Sendirian.
Sejak malam itu
hari-hari berjalan dengan pola yang sama.
Fatan menjadi lebih mudah marah.
Hal kecil
menjadi besar.
Hal sepele
menjadi alasan.
Dan keheningan
menjadi jarak yang tidak bisa lagi aku jembatani.
Aku memilih diam.
Setiap kali ia meninggikan suara
aku menunduk.
Bukan karena aku kalah.
Tapi karena aku… lelah.
Lelah mencari kata yang tidak pernah sampai.
Lelah mencoba menjelaskan sesuatu
yang tidak pernah ingin ia dengar.
Di pagi hari
aku tetap menyiapkan sarapan.
Seperti biasa.
Walau sering kali… tidak disentuh.
Di sore hari
aku memastikan rumah tetap rapi.
Walau tidak ada yang benar-benar melihat.
Di malam hari
aku menutup pintu kamar dengan hati-hati.
Agar isakku… tidak terdengar.
Aku menangis dalam diam.
Tanpa suara.
Tanpa saksi.
Kadang aku berdiri di depan cermin.
Menatap diriku sendiri.
Wajahku terlihat… baik-baik saja.
Tidak ada luka.
Tidak ada lebam.
Tidak ada jejak pertengkaran.
Namun di mataku
aku melihat sesuatu yang tidak bisa aku sembunyikan.
Kelelahan.
Yang perlahan… menggerogoti.
“Aku hanya ingin menjadi istri yang baik…”
Bisikku pada bayanganku sendiri.
“Apakah itu terlalu sulit?”
Aku mengingat Ayah.
Pesan terakhirnya.
Tentang bertahan.
Tentang menjaga.
Tentang menjadi perempuan yang kuat dalam pernikahan.
Dulu… pesan itu terasa seperti pelukan.
Sekarang
terasa seperti beban.
Setiap kali aku ingin berbicara
aku mengingatnya.
Dan aku memilih diam.
Setiap kali aku ingin mengeluh
aku mengingat wajahnya.
Dan aku menahan semuanya.
Fatan tidak pernah benar-benar tahu.
Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Dengan pikirannya.
Dengan amarahnya.
Dengan sesuatu yang tidak pernah ia jelaskan.
Kadang
setelah ia marah
ia akan diam.
Menjauh.
Seolah-olah jarak bisa memperbaiki segalanya.
Namun bagiku
jarak itu bukan solusi.
Itu hanya cara lain untuk… menghindar.
Aku mulai memahami sesuatu.
Sesuatu yang menyakitkan.
Kesabaranku…
tidak menyembuhkan apa pun.
Ia hanya membuat luka ini
terlihat lebih rapi.
Lebih tersembunyi.
Suatu malam
aku duduk sendirian di ruang tamu.
Lampu temaram.
Rumah sunyi.
Terlalu sunyi.
Aku menggenggam ponselku.
Menatap satu nama.
Amira.
Sahabatku.
Tempatku pulang… sebelum semua ini terjadi.
Aku ingin menghubunginya.
Ingin bercerita.
Ingin berkata bahwa aku… tidak baik-baik saja.
Namun jariku tidak bergerak.
Aku hanya menatap nama itu.
Lama.
Sangat lama.
“Aku tidak ingin menjadi cerita sedihmu…”
Bisikku pelan.
Akhirnya
aku meletakkan ponsel itu.
Dan memeluk diriku sendiri.
Seperti biasa.
Aku bertahan.
Bukan karena aku kuat.
Tapi karena… aku belum tahu ke mana harus pergi.
Dan di balik semua diam yang terlihat anggun itu
ada satu kebenaran yang perlahan tumbuh di dalam diriku:
Tidak semua perempuan yang diam…
adalah perempuan yang baik-baik saja.
Kadang
diam hanyalah cara paling sunyi…
untuk tetap hidup.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?