NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 Pernikahan Ulang.

"Ya terus jika kamu mengetahui semuanya? Memang kenapa?" tanya Dewi

"Maksud Anda bagaimana?" tanya Emir.

"Saya hanya menuruti apa yang dikatakan Oma kamu, saya juga mempertimbangkan untuk menerima tawaran itu karena jujur awalnya saya tidak punya keinginan untuk membiarkan putri saya menikah, tetapi Oma kamu bisa jamin Ayana menikah dan tidak menikah maka akan sama saja tetap akan bertanggung jawab pada keluarga, Oma kamu menawarkan tawaran yang cukup fantastis membuat saya tidak perlu berpikir ulang," jawab Dewi dengan santai dan bahkan tidak merasa bersalah sama sekali.

"Apa Anda tidak menyadari bahwa apa yang Anda lakukan sama saja menjual putri Anda sendiri!" tegas Emir.

"Meski menjualnya, bukankah kamu menikmatinya," sahut Dewi tersenyum miring.

Tatapan mata Emir semakin tajam seolah tidak pernah menduga bahwa ada seorang Ibu seperti Dewi.

"Kenapa tidak menceraikannya? Oma kamu mengatakan jika pada akhirnya pernikahan itu terjadi dan jika kamu mengambil keputusan untuk berpisah secara langsung, maka uang tidak akan dikembalikan dan pada nyatanya kamu tidak menceraikannya dan sekarang malah ingin menikahinya secara resmi, bukankah ketika saya menjual dan artinya kamu membeli," lanjut Dewi.

"Keterlaluan..." hanya kata-kata itu yang bisa diucapkan Emir, karena sudah tidak tahu bagaimana cara menghadapi Ibu mertuanya.

"Emir, Ayana merupakan satu-satunya putri saya dan selama ini saya butuhkan untuk memenuhi kebutuhan saya di rumah ini, jika dia sudah menikah dan maka selanjutnya tanggung jawabnya kamu yang melakukannya!" tegas Dewi.

"Saya tahu pernikahan ini masih rahasia dan meski sudah melakukan pernikahan secara resmi dan tetap saja ini bentuk privat, ini artinya akan menjadi masalah besar jika orang-orang tahu. Lalu saya kurang yakin bisa menjamin semua itu," lanjut Dewi sekarang seolah-olah memberi ancaman.

"Apa maksud Anda? Apa Anda sekarang ingin memeras saya menggunakan Ayana dengan ancaman omong kosong seperti ini?" sahut Emir.

"Kamu menganggap ancaman ini hanya omong kosong, yakin...?" tanyanya dengan tersenyum miring.

Krekkk

Pintu kamar terbuka membuat pembicaraan itu seketika menjadi terhenti. Emir seolah-olah tidak ingin mengetahui bahwa Ayana ternyata menikah dengannya dijebak oleh ibu kandungnya sendiri demi uang.

"Maaf, pak saya lama," ucap Ayana.

"Tidak apa-apa," sahut Emir berdiri dari tempat duduknya.

"Ma, kedatangan Ayana ke rumah ini hanya untuk menyampaikan tentang pernikahan yang akan dilaksanakan. Ayana berharap mama bisa datang! Ayana permisi!" ucap Ayana berpamitan secara singkat.

Ayana baru saja menyeret koper tersebut tetapi tiba-tiba melihat Emir mengeluarkan dompet dari saku celananya dan meletakkan kartu ATM di atas meja itu membuat Ayana kebingungan apa yang dilakukan suaminya itu.

"Jangan pernah hubungi saya dan juga Ayana, jangan pernah mengganggu saya. Saya akan mentransfer setiap bulan ke dalam rekening tersebut!" ucap Emir membuat Dewi tersenyum miring dengan tidak sabar mengambil kartu ATM tersebut.

"Pak..." Ayana mencoba untuk mencegah Emir agar tidak melakukan hal itu.

"Ayo kembali!" ajak Emir berjalan terlebih dahulu dan Ayana masih kebingungan melihat suaminya sudah keluar dari rumah dan melihat ibunya hanya mengekspresikan wajah senangnya sudah tidak sabar akan berbelanja setelah itu.

"Mama meminta apalagi dengan Pak Emir?" tanya Ayana.

"Kamu jangan berlebihan Ayana. Emir menantu mama dan tidak ada yang salah jika harus memberi bulanan kepada Ibu mertuanya, berhubung kamu sudah menjadi istrinya dan sudah menjadi kewajibannya untuk menggantikan tugas kamu," jawab Dewi dengan santai.

"Mama seharusnya tidak melibatkan dengan urusan uang terhadap pak Emir. Mama keterlaluan dan hanya membuat Ayana mendapat masalah!" tegas Ayana.

"Kamu jangan drama dan sebaiknya pergilah menyusul suamimu," sahut Dewi dengan yang sudah pasti tidak akan mendengar perkataan dari putrinya itu.

"Aisss!" Ayana kesal sendiri kemudian langsung menyusul Emir.

*****

Ayana dan Emir sudah sampai di rumah dengan keduanya memasuki kamar.

"Bapak seharusnya tidak memberikan apa-apa kepada Mama. Mama tidak akan pernah berhenti meminta jika terus dibei," ucap Ayana.

"Uang-uang saya dan semua itu urusan saya," jawab Emir dengan ketus sembari membuka jasnya.

Dia masih kesal dengan ancaman yang diberikan Ibu mertuanya, secara terang-terangan memanfaatkannya dan lebih kesal lagi karena dia tidak bisa mengendalikan Ibu mertuanya itu untuk tidak mengancamnya.

"Ya Allah, jika begini terus maka aku yang akan mendapatkan masalah. Mama tidak akan pernah berhenti mengga pak Emir, sudah pasti akan memberi ancaman untuk memberitahu pernikahan kami kepada banyak orang. Kenapa Mama tidak pernah mengerti posisiku," batin Ayana dengan raut wajah sendu.

*****

Hari Pernikahan.

Langit cerah membentang tenang di atas sebuah halaman yang disulap menjadi ruang penuh keindahan. Seluruh dekorasi didominasi warna putih bersih, lembut, dan menenangkan.

Tirai-tirai tipis menjuntai anggun, berpadu dengan rangkaian mawar dan melati yang tersusun rapi, menyebarkan aroma harum yang menyatu dengan suasana sakral.

Di pelaminan, nuansa putih tampak begitu hidup. Bunga-bunga yang tertata seperti awan, lampu-lampu hangat yang memantul lembut, serta kursi-kursi tamu yang dilapisi kain putih menciptakan kesan sederhana namun elegan.

Emir sudah berada di sana, sangat tampan menggunakan setelan jas berwarna putih, ditambah dengan mawar putih berada di sakunya, layaknya seperti calon pengantin, wajahnya tampak berseri aura pengantinnya terlihat kuat.

Acara pernikahan tetap diadakan secara privat, hanya keluarga besar yang menghadiri acara pernikahan itu. Davina juga hadir yang duduk di salah satu bangku, terlihat cantik menggunakan dress berwarna merah. Sama halnya dengan Dewi yang ternyata juga hadir sendiri tanpa membawa pria yang telah melecehkan putrinya.

Pembawa acara sudah memberi informasi, bahwa acara sakral itu akan segera dimulai. Oma membantu Emir untuk duduk berhadapan dengan penghulu saling berjabat tangan dengan satu tarikan nafas.

"Kita mulai?" tanya penghulu membuat Emir menganggukkan kepala.

Proses ijab kabul kembali dimulai.

"Saya terima nikahnya Ayana putri Hapsari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," sahut Emir akhirnya mengucapkan ijab kabul tersebut.

"Sah!"

"Sah!"

Akhirnya untuk yang kedua kalinya Emir mengucapkan ijab kabul dengan wanita yang sama.

"Alhamdulillah," sahut penghulu memulai dengan doa.

Emir merasa ini jauh berbeda dari sebelumnya, hari ini terasa begitu tenang, tanpa ada desakan seolah-olah dia yang menginginkannya, proses juga sangat cepat dan berjalan dengan lancar, tidak terlalu gugup dan mungkin saja karena tidak ada pengantin wanita di sebelahnya.

Doa selesai, detik-detik pengantin wanita akan memunculkan diri dengan posisi Emir berdiri menghadap suatu arah,

Alunan musik terdengar pelan, menambah ketenangan di setiap sudut.

Lalu, semua mata tertuju ke satu arah, bukan hanya Emir saja.

Sosok pengantin wanita melangkah perlahan.

Ayana mengenakan gaun putih yang menjuntai indah, dipadukan dengan hijab yang terpasang rapi dan anggun, membingkai wajahnya dengan kelembutan.

Hiasan kecil yang berkilau di hijabnya menangkap cahaya, memantulkan kilau halus yang menambah pesonanya tanpa berlebihan.

Wajahnya memancarkan ketenangan, dengan senyum yang begitu tulus, kegugupannya tertutupi dengan senyum tipis yang dia berikan.

Setiap langkahnya terasa ringan namun penuh makna. Udara seolah ikut diam, memberi ruang bagi momen sakral itu untuk terasa lebih dalam.

Para tamu terhanyut dalam suasana, merasakan kehangatan yang mengalir tanpa perlu banyak kata.

Di tengah dominasi warna putih itu, kehadiran Ayana justru menjadi pusat keindahan yang utuh memadukan kesucian, keanggunan, dan keteduhan dalam satu momen yang akan dikenang sepanjang waktu.

Oma adalah orang yang paling bahagia di acara pernikahan itu. Awalnya cucunya itu hanya menikah dengan desakan warga dan siapa sangka hari ini pernikahan mereka akan dilakukan secara ulang, kalau kata Oma ini hanya akal-akalan Emir saja yang mengaitkan dengan pekerjaan, tetapi mungkin sesungguhnya Emir ingin mengikat Ayana dalam pernikahan yang resmi secara agama dan negara.

Mata Emir sejak tadi tidak berhenti melihat ke arah Ayana yang tanpa dia sadari sudah berada di di depannya, tidak bisa dipungkiri jika keduanya sama-sama gugup.

Bersambung....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!