NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis di Praha yang Memiliki Wajahku

📖 BAB 27: Gadis di Praha yang Memiliki Wajahku

Angin malam di balkon terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Qingyan menatap layar ponsel Beichen tanpa berkedip. Foto gadis muda itu memenuhi pandangannya—rambut pendek gelap, tubuh ramping, sebuah kotak biola tergantung di punggung, dan mata yang... terlalu familiar.

Bukan hanya bentuk wajahnya.

Bukan hanya garis rahangnya.

Ada sesuatu di sorot matanya yang membuat dada Qingyan sesak.

Kesepian.

Kewaspadaan.

Dan kebiasaan hidup sambil siap kabur kapan saja.

“Dia mirip aku,” bisik Qingyan.

Han mengangguk sambil menatap laptop.

“Mirip versi Eropa yang lebih suka musik.”

“Diam.”

“Baik.”

Beichen belum memalingkan pandangan dari layar.

“Jejak digitalnya tipis. Pesan masuk lewat server berpindah, tiga lapis enkripsi.”

Han menoleh.

“Yang artinya pengirim ini sangat pintar... atau sangat takut.”

Qingyan mengambil napas panjang.

“Aku ingin ke Praha.”

“Tidak,” kata Beichen otomatis.

Ia menoleh tajam.

“Kau bahkan belum pikir.”

“Aku sudah.”

“Kapan?”

“Detik pertama kau bilang ingin ke Praha.”

“Dan langsung menolak?”

“Efisien.”

Han mengangkat tangan.

“Saya mulai percaya itu kata favoritnya.”

---

Qingyan merebut ponsel dari tangan Beichen dan menatap foto itu lebih dekat.

Di sudut belakang gambar, ada papan jadwal kereta.

Tulisan asing.

Lampu kuning tua.

Salju tipis di luar jendela.

Foto diambil tergesa-gesa.

Atau diam-diam.

“Kalau dia benar saudaraku, berarti dia tahu siapa aku.”

“Belum tentu,” kata Mira yang baru masuk membawa map. “Pesan itu bisa jebakan.”

Xue ikut muncul sambil membawa semangkuk mie instan.

“Kalau jebakan, pelakunya punya selera framing bagus.”

“Kenapa kau selalu muncul saat makanan ada?” tanya Han.

“Insting bertahan hidup.”

Qingyan menatap semua orang.

“Aku tidak peduli jebakan atau bukan. Aku tidak akan duduk diam.”

Beichen menjawab tenang.

“Kau tidak duduk diam. Kau akan menunggu verifikasi.”

“Aku bukan bawahanmu.”

“Dan aku bukan sopirmu ke Eropa.”

“Bagus. Aku bisa pergi sendiri.”

“Coba saja.”

---

Mereka saling menatap beberapa detik.

Atmosfer di ruangan berubah tegang.

Han berbisik ke Xue,

“Taruhan berapa lama sampai salah satu mencium atau menembak?”

“Dua menit.”

“Optimis.”

Qingyan memalingkan wajah duluan.

“Aku pergi besok.”

Beichen berjalan mendekat.

Langkahnya tenang, namun selalu terasa menguasai ruang.

“Kau pergi kalau aku bilang aman.”

“Dan kalau tidak?”

“Aku akan tahan paspormu.”

“Itu ilegal.”

“Aku kaya.”

Qingyan hampir melempar gelas teh ke kepalanya.

---

🛰️ Ruang Operasi Digital – Tengah Malam

Han mengetik cepat di depan tiga monitor.

“Baik, mari kita lihat apakah gadis misterius ini musisi, mata-mata, atau influencer.”

“Kalau influencer?” tanya Xue.

“Saya menyerah.”

Mira menyerahkan hasil pembesaran foto.

“Ada logo kecil di kotak biola.”

Han memperbesar gambar.

Tulisan samar muncul:

Vltava Conservatory

“Sekolah musik,” kata Mira.

“Praha memang penuh sekolah seni,” tambah Han. “Tapi ini lembaga privat.”

Beichen berdiri di belakang mereka.

“Cari daftar murid.”

“Sedang.”

Beberapa detik kemudian, layar menampilkan database setengah rusak.

Han bersiul.

“Ada satu nama cocok.”

Ia membaca perlahan.

Liora Vale

Qingyan menegang.

“Vale?”

“Nama belakang Adrian.”

Han menatap Qingyan.

“Kalau ini asli... kemungkinan besar dia memang terkait.”

Beichen berkata pendek,

“Pesawat dua jam lagi.”

Semua menoleh.

Qingyan menyipitkan mata.

“Kau tadi bilang tidak.”

“Aku berubah pikiran.”

“Kenapa?”

“Karena kalau itu jebakan, lebih baik aku ada di sana saat mereka mencoba.”

Han mengangguk.

“Romantis dan mengancam. Ciri khas.”

---

✈️ Dalam Jet Privat Gu Group

Mesin berdengung lembut menembus langit malam.

Qingyan duduk di kursi kulit dekat jendela. Kota mengecil di bawah awan. Di seberangnya, Beichen membaca laporan sambil sesekali melihat tablet.

Ia tampak tenang seperti orang yang pergi rapat biasa.

Qingyan benci itu.

“Kau selalu seperti ini?”

“Seperti apa.”

“Pergi ke negara lain jam tiga pagi seolah normal.”

“Cukup sering.”

“Tidak sehat.”

“Aku kaya. Banyak hal tak sehat jadi mungkin.”

Ia mendesah.

Beberapa menit hening.

Lalu Qingyan bertanya pelan,

“Kalau dia benar saudaraku... menurutmu kenapa dia kabur?”

Beichen menutup tablet.

“Karena orang yang dibesarkan dalam rahasia belajar satu hal.”

“Apa?”

“Lebih aman pergi dulu daripada dipercaya nanti.”

Qingyan menatapnya.

“Itu tentang dirimu atau tentang dia?”

“Ya.”

Jawaban menyebalkan.

Dan terlalu jujur.

---

Ia memejamkan mata sesaat.

“Aku tak tahu harus berkata apa saat bertemu.”

“Katakan halo.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Ia menatap lurus padanya.

“Qingyan, kau tak berutang apa pun pada orang yang baru kau temui. Bahkan kalau dia darahmu.”

Kalimat itu masuk lebih dalam dari dugaan.

“Dan kalau dia membenciku?”

“Masalah selera.”

“Beichen.”

“Dia salah.”

Qingyan tak bisa menahan senyum kecil.

Pria ini benar-benar tak tahu cara menghibur dengan normal.

---

❄️ Praha – Pagi Hari

Salju tipis turun di kota tua.

Atap merah, jalan batu, menara gereja, dan sungai yang membelah kota membuat Praha tampak seperti lukisan yang dingin.

Mobil hitam berhenti di depan gedung tua elegan bertuliskan:

Vltava Conservatory

Han turun duluan sambil menggigil.

“Kenapa kota indah selalu dingin?”

“Karena kau banyak mengeluh,” kata Mira.

Xue memakai mantel putih dan kacamata hitam.

“Kalau ada drama Eropa, aku ikut.”

“Tak ada yang mengundangmu,” kata Qingyan.

“Aku mengundang diriku. Sangat eksklusif.”

Beichen memandang gedung itu.

“Masuk cepat. Kita tak tahu siapa lagi yang membaca pesan semalam.”

---

Interior konservatori hangat dan sunyi.

Nada piano terdengar dari kejauhan.

Seorang resepsionis tua tersenyum ramah sampai melihat rombongan mereka yang tampak seperti datang merebut negara.

“Bisa kami bantu?”

Han maju dengan senyum profesional.

“Tentu. Kami mencari murid bernama Liora Vale.”

Wanita itu langsung menegang.

“Tidak ada murid dengan nama itu.”

“Menarik,” kata Han. “Karena foto promosi sekolah kalian menyebut sebaliknya.”

Ia menunjukkan tablet.

Resepsionis pucat.

“Mohon tunggu.”

Ia buru-buru pergi ke belakang.

Beichen menatap koridor kanan.

“Seseorang sedang berlari.”

Tanpa penjelasan lebih jauh, ia langsung bergerak.

---

Qingyan berlari mengejarnya.

Mereka melewati ruang kelas, lorong kayu, dan tangga sempit menuju sayap belakang gedung.

Di ujung koridor, sesosok gadis berjaket gelap membuka jendela samping dan melompat ke atap rendah.

“Berhenti!” teriak Qingyan.

Gadis itu menoleh.

Wajah mereka bertemu jelas untuk pertama kali.

Mata yang sama.

Bibir yang hampir sama.

Dan keterkejutan yang sama besar.

Ia berbisik,

“Tidak mungkin...”

Lalu berbalik dan berlari di atas atap bersalju.

---

Qingyan mengejar tanpa pikir panjang.

“Qingyan!” teriak Beichen dari belakang.

Terlambat.

Ia sudah naik ke atap.

Salju licin. Udara menggigit paru-paru.

Gadis itu lincah, melompat antarbagian bangunan dengan kebiasaan orang yang sering kabur.

Qingyan mengejar sejauh bisa.

“Liora! Tunggu!”

“Aku bukan Liora!”

“Kalau begitu siapa namamu?”

“Bukan urusanmu!”

Ia melompat ke balkon gedung sebelah.

Qingyan mencoba mengikuti—dan kakinya terpeleset.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Dunia berputar.

Sebelum jatuh, sebuah tangan menarik pinggangnya kuat dari belakang.

Beichen.

Ia menahan tubuh Qingyan di tepi atap, napas berat.

“Aku benar-benar mulai lelah menyelamatkanmu.”

“Bisa pilih waktu lain untuk mengeluh?”

“Tidak.”

Mereka terlalu dekat.

Salju jatuh di rambutnya.

Mata pria itu gelap dan marah... juga cemas.

Jantung Qingyan kacau total.

---

Di kejauhan, gadis itu berhenti di ujung balkon lain.

Ia menatap mereka berdua.

Tatapannya berubah aneh—seperti sedih, iri, dan takut sekaligus.

Lalu ia berteriak dalam bahasa Inggris,

“Kalau kalian ingin hidup... pergi dari kota ini sekarang!”

Suara tembakan memecah udara.

Kaca di dekat kepalanya pecah.

Sniper.

Gadis itu langsung menghilang ke balik bangunan.

Beichen mendorong Qingyan turun ke lantai atap dan menutup tubuhnya.

Peluru kedua menghantam cerobong bata.

Han berteriak dari bawah lewat earpiece:

“Kita diserang! Saya ulangi, saya sangat membenci Eropa!”

Beichen mengangkat kepala sedikit, mata mematikan.

“Semua tiarap.”

Qingyan menatap arah gadis itu menghilang.

Saudaranya ada di sini.

Dan seseorang ingin membunuh mereka semua.

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!