NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Hari demi hari berlalu, Kayla mulai berdamai dengan keadaan dan juga dengan dirinya. Kayla percaya setiap orang pasti bisa berubah, ia tidak mau tertinggal lagi dari yang lainnya. Libur telah selesai, kini Kayla masuk ke SMP. Hari pertama di SMP bukan hanya tentang sekolah baru. Bagi Kayla ini adalah awal dari versi dirinya yang baru. Pagi itu, Kayla berdiri di depan cermin. Ia merapikan seragam putih birunya. Menatap dirinya sendiri lebih lama dari biasanya. Ia teringat semua yang pernah ia lalui nilai yang dulu rendah, rasa malu, dan perkataan orang lain yang sempat menjatuhkannya. Namun kali ini ia tidak menunduk. Ia tersenyum kecil.

"Aku gak akan jadi Kayla yang dulu lagi."

Langkahnya masuk ke sekolah terasa lebih mantap. Lingkungan SMP memang berbeda. Lebih besar. Lebih ramai. Lebih menantang.

Tapi yang paling berbeda adalah cara Kayla menghadapi semuanya. Di kelas, guru mulai menjelaskan pelajaran. Materinya lebih sulit. Penjelasannya lebih cepat. Beberapa siswa mulai terlihat bingung. Kayla juga sempat merasa tertinggal. ,Namun ia tidak diam. Ia langsung membuka catatan. Menulis poin-poin penting. Saat tidak mengerti, ia tidak menunggu.

"Bu, bagian ini maksudnya bagaimana?" tanyanya.

Beberapa siswa menoleh. Kayla sempat merasa gugup. Tapi ia tidak menyesal. Guru tersenyum.

"Bagus, Kayla. Pertanyaan yang baik."

Hatinya terasa hangat. Sepulang sekolah, Kayla langsung duduk di meja belajar. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang memaksa. Ia membuka kembali pelajaran hari itu. Kadang ia mengerti, kadang tidak. Tapi ia tidak berhenti. Suatu sore, ia menemukan soal yang sulit. Ia menatap lama. Dulu, ia pasti langsung menyerah. Dulu, ia pasti langsung menyerah. Sekarangia mencoba lagi.

"Pelan-pelan aja…" katanya pada dirinya sendiri.

Beberapa kali salah hingga akhirnya...

Oh… ternyata gini."

Ia tersenyum kecil. Perubahan itu mungkin tidak terlihat besar bagi orang lain. Tapi bagi Kayla itu segalanya. Di sekolah, ia mulai dikenal sebagai siswa yang rajin. Bukan karena ia paling pintar. Tapi karena ia selalu berusaha. Suatu hari, guru memberikan tugas kelompok. Kayla ditunjuk sebagai salah satu yang memimpin diskusi. Ia sempat kaget.

"Aku?"

Namun kali ini ia tidak menolak.

"Iya, Bu… saya coba."

Ia mulai mengatur teman-temannya. Mengajak berdiskusi. Mendengarkan pendapat. Tidak sempurna tapi cukup. Dan itu membuatnya bangga. Malam itu, Kayla menulis di bukunya:

"Aku tidak harus menjadi yang terbaik…

tapi aku harus menjadi lebih baik dari kemarin."

Perjalanan Kayla di SMP baru dimulai. Masih banyak tantangan masih banyak ujian. Tapi satu hal sudah pasti Kayla sekarang tidak lagi takut untuk berkembang. Hari-hari di SMP terus berjalan. Pelajaran semakin sulit tugas semakin banyak. Namun ada satu hal yang mulai berbeda. Kayla mulai menyukai matematika. Awalnya, ia sendiri tidak menyadarinya. Semua dimulai dari kebiasaannya mengulang pelajaran setiap hari. Suatu sore, Kayla duduk di meja belajarnya. Ia membuka buku matematika.

"Aduh… dulu aku paling gak suka ini," gumamnya.

Namun kali ini ia tidak menutup bukunya. Ia mencoba satu soal. Salah. Coba lagi. Masih salah. Kayla menghela napas. Dulu, ia pasti sudah berhenti di sini. Sekarang ia mencoba lagi. Ia mengingat cara guru menjelaskan mengingat langkah-langkahnya. Perlahan…

"Oh… ternyata harusnya gini…"

Jawabannya benar. Kayla tersenyum kecil. Perasaan itu aneh tapi menyenangkan. Hari berikutnya di kelas, guru memberikan soal.

"Siapa yang mau mencoba di depan?"

Kelas hening.Biasanya, Kayla juga akan diam. Namun kali ini ia mengangkat tangan.

"Saya, Bu."

Beberapa siswa menoleh kaget. Kayla maju ke depan. Tangannya masih sedikit gemetar Ia mulai menulis. Langkah demi langkah. Ia sempat berhenti. Kayla maju ke depan. Tangannya masih sedikit gemetar Ia mulai menulis. Langkah demi langkah. Ia sempat berhenti. Namun tidak mundur. Dan jawabannya benar.

"Bagus, Kayla!" kata guru.

Kelas mulai bertepuk tangan. Salsa yang duduk di belakang berbisik,

"Wih… keren banget!"

Kayla tersenyum. Sejak saat itu nama Kayla mulai dikenal di kelas. Bukan karena ia paling pintar. Tapi karena ia tidak menyerah. Suatu hari, Raka (yang sekarang satu sekolah juga) mendekat.

"Kay, ajarin gue dong yang ini," katanya.

Kayla sedikit kaget.

"Aku?"

"Iya, kamu kan ngerti."

Kayla tersenyum. Untuk pertama kalinya ia berada di posisi membantu orang lain. Ia mulai menjelaskan. Pelan, sederhana.

"Jadi gini… kita pecah dulu langkahnya…"

Raka mengangguk.

"Ohh… ngerti sekarang!"

Kayla tersenyum lebar. Perasaan itu lebih membahagiakan dari sekadar dapat nilai bagus. Malam itu, Kayla menulis di bukunya:

"Dulu aku takut matematika…

sekarang aku justru menikmatinya."

Ia menatap buku itu.

"Ternyata… aku juga bisa."

Sejak saat itu matematika bukan lagi pelajaran yang menakutkan. Tapi menjadi tempat di mana Kayla membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu. Dan tanpa ia sadari perjalanan ini baru saja dimulai.

Hari-hari di SMP mulai terasa lebih sibuk. Kayla mulai terbiasa dengan pelajaran…

teman-teman baru dan rutinitasnya. Suatu siang, saat jam istirahat, Kayla berjalan menuju kantin. Namun tiba-tiba, seseorang memanggilnya.

"Kayla…"

Kayla menoleh. Seorang kakak tingkat berdiri tidak jauh darinya. Kulit kecoklatan maniz, tinggi jangkung, idola sekolahan. Setiap siswi berebutan untuk menjalin hubungan dengannya. Namanya Arga, siswa kelas 9 yang cukup dikenal di sekolah.

"Iya, Kak?" jawab Kayla sedikit gugup.

Arga mendekat.

"Aku mau ngomong bentar, boleh?"

Kayla ragu sejenak. Namun akhirnya mengangguk. Mereka berdiri di sudut koridor yang agak sepi. Arga terlihat sedikit canggung.

"Kayla… aku sering lihat kamu di kelas."

Kayla terdiam.

"Kamu… beda," lanjutnya.

Kayla mulai merasa tidak nyaman.

"Aku suka sama kamu," kata Arga langsung.

Jantung Kayla langsung berdegup kencang. Ia tidak menyangka.

"Jadi… kamu mau gak… kita pacaran?" tanya Arga.

Kayla terdiam. Pikirannya kosong sesaat. Ini pertama kalinya ia berada di situasi seperti ini. Di satu sisi, ia merasa kaget. Di sisi lain… ia juga merasa bingung harus menjawab apa. Namun perlahan ia teringat sesuatu. Tentang tujuannya masuk SMP, tentang usahanya untuk berubah tentang dirinya yang ingin fokus. Kayla menarik napas dalam.

"Kak… makasih ya," katanya pelan.

Arga menatapnya.

"Tapi… aku belum mau pacaran."

Suasana hening beberapa detik.

"Aku mau fokus belajar dulu," lanjut Kayla.

Arga terdiam.

"Lagian… aku masih mau kenal diri aku sendiri dulu," tambahnya.

Jawaban itu sederhana tapi jujur. Arga akhirnya tersenyum kecil.

"Iya… aku ngerti."

"Makasih sudah jujur," katanya.

Kayla mengangguk.

"Maaf ya, Kak…"

"Gak apa-apa," jawab Arga.

Mereka pun berpisah. Kayla berjalan kembali ke kantin. Jantungnya masih berdegup cepat. Salsa (yang kebetulan satu sekolah) langsung bertanya,

"Itu siapa tadi?"

Kayla sedikit tersenyum.

"Cuma… kakak kelas."

Namun di dalam hatinya ia merasa bangga. Bukan karena ada yang menyukainya. Tapi karena ia bisa memilih dengan bijak. Malam itu, Kayla menulis di bukunya:

"Aku gak harus ikut apa kata orang…

aku bisa memilih jalan aku sendiri."

Dan untuk pertama kalinya Kayla merasa benar-benar memegang kendali atas hidupnya.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!