Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
***
Di saat Paris sedang terlelap dalam romansa yang megah, di belahan bumi lain, tepatnya di sebuah vila tersembunyi di perbukitan Bogor yang berkabut, sebuah pertemuan yang sanggup mengubah peta kekuatan nasional sedang berlangsung. Vila itu tidak terdaftar dalam catatan publik mana pun. Penjagaan di sana tidak main-main; regu penembak jitu dari satuan elit militer bersiaga di balik pepohonan pinus, sementara intelijen berpakaian sipil menyisir radius dua kilometer.
Di teras belakang yang menghadap ke jurang berkabut, dua pria paling berpengaruh di Indonesia duduk berhadapan. Di satu sisi, Jenderal Agus, Sang Panglima yang masih mengenakan seragam dinas harian namun tanpa atribut lengkap, memegang tongkat komandonya dengan jemari yang kokoh. Di sisi lain, Pak Tommy, representasi hidup dari klan Cendana yang legendaris, duduk santai sambil menyesap cerutu Kuba yang aromanya memenuhi udara malam yang dingin.
Dua macan dari dua dunia yang berbeda militer dan konglomerasi sedang berbagi meja.
Seorang ajudan berpangkat Kolonel mendekat dengan langkah sangat hati-hati, menyerahkan sebuah map merah ke atas meja jati di depan Jenderal Agus.
"Lapor, Jenderal. Kami mendeteksi adanya pergerakan digital secara masif dari arah faksi oposisi. Mereka mencoba menggali kembali isu lama mengenai keterlibatan Nyonya Darma dalam kasus bullying di Korea, namun kali ini mereka menyisipkan narasi baru bahwa pernikahan ini adalah upaya pencucian uang untuk pendanaan politik 2029," lapor ajudan tersebut dengan suara bergetar.
Jenderal Agus tidak langsung menjawab. Ia membuka map tersebut, membaca poin demi poin dengan mata yang sedingin es. Suasana di teras itu mendadak turun beberapa derajat. Tekanan aura dari sang Panglima membuat ajudan itu menunduk dalam.
"Siapa dalangnya?" tanya Jenderal Agus singkat, namun nadanya seperti dentuman meriam yang siap meledak.
"Beberapa media independen yang didanai oleh pihak luar, Jenderal. Kami juga menemukan jejak digital yang mengarah ke beberapa mantan petinggi yang merasa terancam dengan aliansi ini."
Jenderal Agus menutup map itu dengan suara brak yang keras. Ia menoleh ke arah ajudannya. "Bereskan. Saya tidak mau mendengar nama putri saya dikaitkan dengan narasi murahan itu lagi besok pagi. Gunakan Protokol Operasi Senyap. Jika mereka ingin bermain kotor di tengah bulan madu anak saya, maka saya akan menunjukkan betapa kotornya tangan seorang Panglima untuk melindungi darah dagingnya."
"Siap, laksanakan!" Ajudan itu segera mundur dan menghilang ke dalam bayang-bayang.
Pak Tommy hanya terkekeh pelan, menghembuskan asap cerutunya ke udara Bogor yang lembap. "Tenanglah, Agus. Amarahmu bisa membuat kabut di sini semakin tebal. Tekanan publik itu seperti ombak, kita hanya perlu tahu kapan harus berselancar di atasnya."
Jenderal Agus menatap besannya itu dengan tajam. "Anak saya bukan papan selancar untuk ambisi politik Anda, Tommy. Ayin adalah satu-satunya alasan saya setuju dengan kesepakatan serbet itu."
"Tentu saja," sahut Pak Tommy tenang. "Tapi kita harus realistis. Anak-anak kita sedang bersenang-senang di Paris sekarang. Laporan yang saya terima, Darma sangat menikmati perannya. Pernikahan ini adalah pengalih perhatian yang paling sempurna dalam sejarah politik kita. Biarkan publik sibuk membahas mas kawin, jet pribadi, dan Menara Eiffel, sementara kita di sini bisa menyusun kabinet bayangan dan strategi pemenangan tanpa perlu diawasi oleh kamera penjilat."
Pak Tommy menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah Jenderal Agus. "Ini adalah merger paling menguntungkan yang pernah saya tanda tangani. Kekuatan senjata di tanganmu dan kekuatan modal di tangan saya. Siapa yang bisa menghentikan kita? Apalagi jika tahun depan namamu tertulis di surat suara sebagai calon tunggal Presiden."
Jenderal Agus tidak tampak terkesan dengan retorika itu. Ia meletakkan tongkat komandonya di atas meja, lalu condong ke depan. "Saya tidak pernah haus akan tahta, Tommy. Jika saya maju ke Istana, itu karena saya ingin memastikan negara ini tidak jatuh ke tangan pecundang. Tapi ingat satu hal... Saya memberikan putri saya kepada Darma bukan sebagai 'aset' pelengkap portofolio bisnis Cendana."
Suara Jenderal Agus merendah, namun penuh dengan ancaman emosional yang nyata. "Ingatkan putramu itu. Jika seujung rambut Ayin terluka, atau jika saya mendengar dia menangis karena kelalaian atau permainan kotor Darma di luar sana, tidak ada jumlah triliunan rupiah di rekening Hutomo yang bisa menyelamatkannya dari amarah seorang Panglima. Saya bisa meratakan kerajaan bisnismu hanya dengan satu perintah operasi kalau itu menyangkut kehormatan putri saya."
Suasana mendadak menjadi sangat tegang.
Dua kekuatan besar ini saling mengunci tatapan. Pak Tommy tidak gentar, namun ia bisa merasakan bahwa Jenderal Agus tidak sedang menggertak.
"Saya jamin, Agus. Darma tahu nilai seorang Karina. Dia tidak akan sebodoh itu merusak berlian yang sudah susah payah kita amankan," jawab Pak Tommy akhirnya, sedikit meredakan tensi. "Lagipula, bayangkan kelancaran bisnis kami jika besan kami adalah seorang Presiden. Saya akan memastikan setiap inci jalan menuju Istana teraspal dengan modal yang tak terbatas, asalkan stabilitas ini terjaga."
Jenderal Agus kembali bersandar, menatap jauh ke arah lembah yang gelap. Di balik ketegasannya sebagai orang nomor satu di militer, ada gumpalan kegelisahan di hatinya. Ia sadar betul bahwa dunia militer yang ia geluti sangat kotor—penuh dengan pengkhianatan, darah, dan intrik. Ia merasa lega telah memberikan "benteng" baru bagi Karina berupa perlindungan dari klan Cendana yang memiliki pengaruh hukum dan finansial hingga ke ujung dunia.
"Saya tidak mau menumbalkan dia, Tommy," bisik Agus pelan. "Pernikahan ini adalah tameng untuknya, bukan umpan. Dunia militer ini berdarah, dan saya tidak ingin dia melihat bau mesiu yang selama ini menempel di baju saya."
"Maka dari itu kita ada di sini," sahut Pak Tommy. "Kita membangun masa depan di mana anak-anak kita tidak perlu lagi memegang senjata untuk berkuasa. Mereka hanya perlu memegang kontrol atas ekonomi dan narasi. Darma akan menjaga Ayin, dan Ayin akan menjadi wajah manis dari kekuasaan yang kita bangun."
Pertemuan di Bogor itu berakhir saat fajar mulai menyingsing. Dua pria itu bangkit, bersalaman dengan cengkeraman yang kuat—sebuah tanda bahwa kesepakatan maut ini tetap berlanjut.
Jenderal Agus melangkah menuju helikopter kepresidenan yang sudah menunggunya di helipad pribadi vila tersebut. Saat mesin helikopter mulai menderu, ia menatap ponselnya, melihat foto terbaru yang diunggah Karina di Paris foto tangan Karina yang menggandeng lengan Darma dengan latar belakang Menara Eiffel.
"Jaga diri baik-baik, Ayin," bisik sang Jenderal di tengah bisingnya baling-baling helikopter. "Papa akan pastikan jalan pulangmu bersih dari segala duri, siapa pun yang menghalangi akan Papa ratakan dengan tanah."
Helikopter itu pun melesat menembus kabut pagi, membawa Sang Panglima kembali ke Jakarta untuk mengeksekusi perintah "pembersihan" yang telah ia titahkan. Sementara di Paris, Karina dan Darma sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keindahan bulan madu mereka, ada tangan-tangan besi yang sedang berdarah-darah demi menjaga kedamaian semu yang mereka nikmati.
****
Bersambung....