kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Hari berganti hari, kini kondisi Anna semakin membaik seperti saat sekarang ini, Dean tak henti-hentinya mengucap syukur karena masih bisa hidup dengan Anna di dunia yang sama.
Dan kini Dean membawa Anna ke taman rumah sakit menggunakan kursi roda untuk mencari udara segar setelah beberapa bulan di dalam ruangan yang membosankan.
Dean duduk bersimpuh di hadapan Anna memberi senyuman pemikatnya ia sangat bahagia orang yang sangat dicintainya kini sudah ada dihadapannya.
"Kak Dean ih kok rambutnya kayak gini." Ucap Anna sambil merapikan rambut suaminya yang panjang dan acak-acakan itu.
"Kamu sih tidurnya lama banget jadi gak ada yang ngurus." Jawab Dean sambil menatap wajah istrinya yang masih pucat itu.
"Kamu tau gak dek? Kak Dean takut banget kalo kamu benar-benar ninggalin kak Dean, tapi maaf .." Ucap Dean menggantung kalimatnya.
"Maaf kenapa?"
"Saya gak bisa selamatkan anak kita." Lanjut Dean sambil menunduk sangat berat jika harus mengatakan hal itu pada Anna.
Anna yang terkejut langsung meraba-raba perutnya dan kemudian matanya berkaca-kaca mengingat kejadian saat Adit menusuknya hingga nyawa calon anaknya melayang.
"Maafkan saya." Ucap Dean lagi sambil memeluk istrinya yang sedang menangis itu.
"Adit jahat, Adit udah bunuh anak kita. Anna takut kak, jangan tinggalin Anna." Racau Anna sesenggukan.
"Saya disini, gak akan ninggalin kamu. Adit udah pergi selamanya dan gak akan balik lagi." Jawab Dean menghapus air mata Anna.
Anna lalu mencoba tersenyum menghilangkan rasa takutnya karena benar Adit sudah tidak ada lagi untuk mengganggunya, ia sudah melihat sendiri Dean yang menembak kepala Adit tapi sementara Anggi? Apakah si perawan tua itu masih berkeliaran bebas? Oh tentu saja tidak.
"Dokter Anggi?"
"Husst jangan panggil dia dokter, dia gak pantes dengan gelar itu, Anggi udah dipenjara kamu jangan takut. Apapun akan saya lakukan demi kamu." Ucap Dean sungguh-sungguh.
"Kak Dean Anna mau pulang, bang Satya 2 hari lagi udah mau nikah kan?"
"Hmm nanti bilang sama dokter dulu, kalo kondisi kamu udah benar-benar pulih ya kita pulang."
"Anna udah sembuh kok nih." Ucap Anna berusaha bangkit dari kursi roda untuk membuktikan pada Dean bahwa ia sudah bisa berdiri namun baru sebelah kakinya menyentuh tanah tubuhnya sudah ambruk untung saja Dean sigap menangkapnya.
"Hmm udah dibilang, makanya jangan ngeyel." Omel Dean sambil membantu Anna duduk kembali.
Namun Anna hanya senyum-senyum sendiri saat melihat suaminya itu mengomel.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Dean yang berdiri dihadapan Anna sambil memperhatikannya.
"Anna kangen kak Dean!!" Ucap Anna tiba-tiba memeluk pinggang Dean dengan erat.
Dean mengusap puncak kepala Anna, bukan hanya Anna yang rindu padanya, ia juga sangat merindukan saat-saat kebersamaan mereka.
Beberapa menit mereka dalam posisi tersebut, tiba-tiba seorang anak remaja laki-laki datang yang masih menggunakan seragam SMA menenteng rantang dan tanpa mereka sadari ia duduk di salah satu gazebo berdekatan dengan Dean dan Anna. Ia memperhatikan Anna yang sedang memeluk Dean sambil senyum-senyum sendiri entah apa yang ia pikirkan.
"Uwwu so sweet banget sih om." Ucap anak itu yang membuat Anna terkejut lalu menoleh ke arah sumber suara itu sementara Dean sudah tau suara siapa itu pasti ponakan rese'-nya, anak dari sepupunya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Dean pada ponakannya yang bernama Ilham itu.
"Nih disuruh nenek Laila bawa ini." Jawab Ilham sambil memperlihatkan rantang yang dibawanya.
"Oh terus kenapa masih disini? Itu juga kamu belum ganti baju." Ucap Dean mengusir halus Ilham namun mata anak itu tak henti-hentinya menatap Anna sementara Anna hanya bengong.
"Istri om cantik dapat di mana?"
"Kenapa? Istri om mau diembat juga?"
"Gak, cuma heran aja kok ada sih yang mau sama om Dean yang galak." Ucap Ilham dengan nada mengejek.
"Hustt anak kecil diam aja." Balas Dean yang membuat Ilham mencebik tak suka dipanggil anak kecil.
"Bentar ya, saya mau temuin dokter dulu!" Pit Dean pada Anna.
" Hey Jagain istri om awas kalo ngomong macam-macam." Ucap Dean lagi yang kini mengancam Ilham dengan melirik ke arah kunci motor yang ada di tangan Ilham.
"Iya, iya." Jawab Ilham yang sudah tau ancaman Dean yang pasti akan menyita sepeda motornya, setelah puas menikmati wajah kesal Ilham, Dean pun beranjak pergi dari sana sembari tertawa jahat untuk Ilham.
"Halo, namanya siapa?" Tanya Anna pada Ilham yang kini hanya diam, takut jika nanti keceplosan hingga akhirnya motor kesayangannya lah yang menjadi sasaran.
"Kenapa diam?" Tanya Anna lagi.
"Takut sama om Dean, nanti motor aku ditahan lagi." Jawab Ilham kemudian kembali menutup mulutnya.
"Gak usah takut, kan om kamu lagi gak ada disini."
"Nama aku Ilham Tante, ponakannya om Dean yang paling ganteng." Jawab Ilham dengan gaya coolnya persis seperti Dean yang terang-terangan menyatakan dirinya ganteng. Anna hanya tersenyum menanggapinya ternyata Ilham tidak jauh berbeda dengan pamannya itu.
"Eh bentar, kayaknya aku pernah liat Tante tapi dimana ya?" Ungkap Ilham sambil berusaha mengingat kembali.
"Oh iya aku ingat, bukannya Tante ini anak SMA yang dibucinin om Dean ya?" Ucap Ilham lagi.
"Maksudnya?"
"Iya, gara-gara ikut om Dean mata-matain Tante aku jadi telat ke sekolah waktu itu aku masih kelas 6 SD."
"Beneran?"
"Iya, jadi ceritanya gini ..."
Flashback
"Om kita ngapain kesini? Kan kata mami anterin Ilham ke sekolah lagian ini rumah siapa sih? Pacar om?" Tanya Ilham kecil yang cerewet.
"Diam dulu Ilham, om cuma sebentar kok." Jawab Dean sambil mengintip di balik pagar sebuah rumah, Ilham dengan tingkat penasaran yang tinggi ikut mengintip.
Lalu seorang gadis berseragam putih abu-abu keluar sambil menenteng tas dan sepatunya dia terlihat mengomel.
"Bang Sat cepetan! Aku udah telat nih." Teriak gadis itu sambil melirik ke arah jam tangannya kemudian disusul keluar seorang pria yang memakai seragam kepolisian.
"Ihh gak sopan, kok manggil kakaknya bangsat." Ucap Ilham.
"Nama abangnya itu Satya jadi dia manggilnya bang Sat." Jelas Dean yang membuat Ilham manggut-manggut mengerti.
"Oh kalo kak Keenan Ilham bisa manggil dia bang Ke dong?"
Ungkap Ilham mencontohkan jika memanggil kakaknya dengan sebutan istimewa itu.
"Nah coba aja, nanti kamu digeplak sama Keenan."
"Eh om itu kakaknya mau kemana tuh?" Ucap Ilham saat melihat Anna masuk ke mobil Satya.
"Ya ke sekolah lah, ayo ngumpet." Jawab Dean kemudian menarik tangan Ilham bersembunyi di balik tanaman.
"Om, Ilham udah telat nih om." Rengek Ilham kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Kita ikutin dulu mereka." Dean kembali menarik tangan Ilham untuk segera naik ke motornya setelah memastikan Anna dan Satya sudah pergi. Dean mengikuti mobil Satya menuju sekolahan Anna.
Sementara Ilham sesenggukan di belakang Dean.
"Om, Ilham takut dimarahin Bu guru om." Ucap Ilham sambil menarik-narik ujung jaket Dean.
"Bentar aja Ilham, udah jangan nangis nanti om bicara sama Bu gurunya Ilham." Ucap Dean berusaha menghibur Ilham.
Setelah memastikan Anna sudah sampai dengan selamat, Dean bernafas lega kemudian membelokkan motornya menuju ke sekolahan Ilham.
"Om Ilham takut om." Ucap Ilham saat sudah tiba di depan gerbang sekolahnya.
"Kamu sih ngeyel mau ikut om, kan jadi gini jadinya." Ujar Dean merapikan rambut Ilham yang berantakan karena angin sebab Dean tadi mengebut.
"Ayo om!" Ilham mengajak Dean untuk masuk agar ia yang menjelaskan pada gurunya.
"Gak bisa Ilham, ini om udah telat ngantornya." Tolak Dean karena memang saat ini kantor membutuhkan kehadirannya segera.
"Tapi kan kata om tadi ..." Ilham tak bisa melanjutkan kata-katanya air matanya sudah jatuh.
"Lah kok nanges, udah ini om tambahin uang jajannya." Dean memberi Ilham selembar uang dua puluh ribuan.
Ilham yang melihat itu tentu saja berbinar ia pun menghapus air matanya.
"Kok cuma segini om?"
"Kurang? Ini om tambahin lagi." Dean kembali memberikan selembar uang berwarna merah pada Ilham yang membuat Ilham tersenyum.
"Makasih om, Ilham masuk dulu ya!" Pamit Ilham kemudian meninggalkan Dean masuk ke lingkungan sekolahnya.
Baru saja Dean kembali naik ke motornya, Ilham tiba-tiba berteriak dari dalam gerbang.
"OM NANTI ILHAM ADUIN OM KE MAMI!!"
Flashback end
"Om Dean tuh sering ceritain Tante Anna ke Ilham, bahkan Ilham udah bosan dengerin puisi-puisi bucin dari om Dean."
Ucap Ilham bercerita panjang lebar.
"Om kamu mata-matain tiap hari?" Tanya Anna penasaran.
"Kayaknya gak deh, om Dean sempat cerita kalo dia ngikutin tante cuma sampai tamat SMA, terus berhenti karena sibuk jadi dokter plus polisi." Jawab Ilham dan kemudian menyadari bahwa ia telah menceritakan semua pada Anna, kini nasib bagaimana nanti nasib motornya itu.
"Tante jangan kasih tau om Dean ya Tante! Please!!" Ilham memohon pada Anna dengan penuh harap agar tak mengadukannya pada Dean.
Lalu Dean kembali membuat nyali Ilham menciut.
"Tuh om Dean udah dateng, Ilham balik dulu, Assalamualaikum." Ucap Ilham buru-buru meninggalkan tempat itu sebelum Dean berhasil menyita motornya.
"Waalaikumsalam." Jawab Anna tertawa melihat tingkah Ilham.
"Jangan lupa itu dimakan" Ucap Ilham lagi dari kejauhan.
"Itu anak kenapa?" Tanya Dean
"Aneh, kayak kak Dean, oh ya kata dokter Anna udah bisa pulang kan?"
"Iya dek, nanti sore dokter udah bolehin kamu pulang tapi harus banyakin istirahat, udah nih kamu makan dulu abis itu minum obat."
To be Continued ....
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗