Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 35
Malam mulai turun dengan tenang. Angin berembus pelan melewati halaman restoran, sementara lampu-lampu di luar memancarkan cahaya kekuningan yang membuat suasana terasa hangat. Meski demikian, kehangatan itu tidak sepenuhnya mampu mengusir kelelahan yang tergambar jelas di wajah Gayatri. Hari demi hari yang dipenuhi berbagai persoalan keluarga membuat pikirannya nyaris tidak pernah benar-benar beristirahat.
Restoran pun mulai lengang. Para pelanggan terakhir telah meninggalkan tempat itu, sedangkan para karyawan sibuk merapikan meja, menyusun kembali kursi, dan membersihkan area makan sebelum restoran ditutup.
Di ruang kerjanya, Gayatri masih duduk di balik meja sambil memeriksa laporan penjualan hari itu. Sesekali ia mengusap pelipisnya yang terasa pegal akibat terlalu lama berkutat dengan pekerjaan.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan.
Keandra masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat. Senyum tipis menghiasi wajahnya ketika meletakkan salah satu cangkir di hadapan Gayatri.
"Aku membuatkan teh. Ibu sepertinya sudah terlalu lama bekerja."
Gayatri menghentikan kegiatannya sejenak. Ia menatap putranya dengan senyum penuh rasa syukur. "Terima kasih, Nak. Kau sangat perhatian."
Keandra menarik kursi di depan meja kerja lalu duduk berhadapan dengan ibunya. Untuk beberapa saat, keduanya menikmati keheningan sambil menyeruput teh hangat yang mengepulkan aroma menenangkan.
"Apa pekerjaan Ibu masih banyak?" tanya Keandra akhirnya.
Gayatri menggeleng pelan. "Tidak. Ibu hanya tinggal menyelesaikan sedikit laporan."
Keandra mengangguk. Pandangannya sempat beralih ke luar jendela sebelum akhirnya kembali menatap Gayatri.
"Ibu."
"Iya, Nak? Kenapa?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
Gayatri langsung menutup map laporan di hadapannya.
"Tanyakan saja."
Keandra tampak ragu selama beberapa detik. Ia seperti sedang menyusun keberanian sebelum akhirnya membuka suara.
"Bagaimana keadaan Ayah?"
Pertanyaan itu membuat Gayatri sedikit terkejut. Ia tidak menyangka putranya akan lebih dulu menanyakan kabar Mahesa. Gayatri mengembuskan napas pelan sebelum menjawab.
"Keadaannya baik. Hanya saja akhir-akhir ini ayahmu kelihatannya sedang banyak pikiran."
"Karena masalah pekerjaannya?" tanya Keandra penasaran.
"Itu salah satunya," jawab Gayatri. "Masalah keuangan, keluarga, dan banyak hal lainnya datang hampir bersamaan."
Keandra mengangguk pelan sambil menatap permukaan teh di dalam cangkirnya. "Apakah Ayah pernah bertanya tentangku?"
Gayatri menggeleng perlahan. "Belum."
Senyum tipis muncul di wajah Keandra, tetapi senyum itu menyimpan rasa pahit yang sulit disembunyikan. "Aku sudah menduganya."
Gayatri perlahan menggenggam tangan putranya yang berada di atas meja. "Keandra."
Pemuda itu mengangkat wajahnya. "Ibu tenang saja. Aku tidak membenci Ayah."
Kalimat itu diucapkannya dengan tenang, tanpa sedikit pun nada kebencian. "Aku hanya belum tahu bagaimana harus bersikap jika nanti bertemu dengannya," lanjutnya lagi dengan sendu.
Gayatri mengusap punggung tangan putranya dengan lembut. "Ibu mengerti."
"Aku sudah memaafkannya," lanjut Keandra lirih. "Tetapi untuk kembali sedekat dulu, mungkin aku masih membutuhkan waktu."
Gayatri hanya mengangguk pelan. Ia memahami bahwa memaafkan bukan berarti luka yang pernah ada langsung menghilang. Ada hati yang membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih.
Di tengah percakapan mereka, terdengar ketukan pelan di pintu. Shaka masuk ke dalam ruangan dengan senyum hangat.
"Maaf mengganggu waktu kalian berdua," katanya seraya menunjukkan senyum ramahnya seperti biasa.
"Kami baru selesai mengobrol," jawab Gayatri sambil tersenyum.
Shaka melangkah mendekat, lalu memandang Keandra. "Tadi aku menerima telepon."
"Dari siapa?" tanya Keandra.
"Dari Mahesa."
Keandra sontak terdiam. Sorot matanya berubah, meski ia tetap berusaha terlihat tenang.
"Dia bertanya apakah kau benar-benar sudah pulang ke Indonesia."
"Lalu apa yang Ayah katakan?" tanya Keandra pelan.
Shaka duduk di kursi kosong yang berada di samping mereka. "Aku mengatakan bahwa kau sedang bersama ibumu." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Sebelum telepon ditutup, Mahesa menitipkan satu pesan."
Keandra perlahan mengangkat kepalanya. "Pesan apa?"
Shaka menatapnya dengan penuh ketulusan. "Dia berkata, 'Kalau Keandra belum siap bertemu denganku, tidak apa-apa. Tolong katakan kepadanya bahwa Ayahnya sangat bangga kepadanya.'"
Ruangan itu seketika diliputi keheningan. Keandra membeku di tempat duduknya. Tatapannya perlahan kosong, sementara kedua matanya mulai dipenuhi air mata.
Selama bertahun-tahun, kalimat itu adalah satu-satunya pengakuan yang selalu ia nantikan dari ayahnya. Ia tidak pernah menginginkan pujian dari siapapun. Keandra hanya ingin ayahnya percaya pada pilihan hidupnya.
Kini, ketika kalimat itu akhirnya benar-benar sampai kepadanya, perasaannya justru bercampur aduk. Ada kelegaan dan rasa haru, namun di saat yang sama, masih ada luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Keandra mengembuskan napas panjang sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Aku tidak pernah menyangka," ucapnya dengan suara bergetar.
"Ayah akhirnya mengatakan itu." Keandra mengusap wajahnya pelan.
Gayatri bangkit dari kursinya, lalu memeluk putranya erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pelukan itu seolah menjadi tempat bagi Keandra untuk meluapkan seluruh emosi yang selama ini ia simpan sendiri.
Shaka memandang keduanya dengan senyum tipis. Ia tahu, hubungan antara seorang ayah dan anak tidak mungkin pulih hanya dalam satu malam. Luka yang terbentuk selama bertahun-tahun tentu membutuhkan waktu untuk sembuh.
Shaka tersenyum hangat setelah Gayatri perlahan melepaskan pelukannya dari Keandra. Ia memandang ibu dan anak itu bergantian sebelum sebuah ide terlintas di benaknya.
"Bagaimana jika malam ini kita merayakan kepulangan Keandra dengan makan malam di rumah Mahesa?" usulnya.
Gayatri menoleh. "Di sana? Kau yakin?" tanya balik Gayatri seolah tak yakin, lalu menatap putranya sendiri cukup lama.
Shaka mengangguk pelan. "Sudah terlalu lama keluarga ini tidak duduk bersama tanpa pertengkaran atau kabar buruk. Mungkin malam ini adalah waktu yang tepat. Bagaimana, Andra? Kau setuju, kan?"
Keandra sempat terdiam. Ada keraguan yang tersirat di wajahnya. Namun setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya menganggukkan kepala. "Baik. Aku ikut."
Melihat persetujuan putranya, Gayatri pun tersenyum lega. "Kalau begitu, Ibu akan menelepon Mahesa lebih dulu."
Menjelang malam, mobil Shaka memasuki halaman rumah Mahesa. Belum sempat mereka turun, pintu rumah sudah lebih dulu terbuka. Mahesa berdiri di ambang pintu bersama Wira, Sarita, Nadya, dan Kaluna. Seolah-olah mereka telah menunggu kedatangan tamu istimewa itu sejak beberapa menit yang lalu.
Begitu Keandra turun dari mobil, suasana mendadak dipenuhi kehangatan. Mahesa melangkah maju lebih dulu. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap putranya tanpa mampu berkata apa-apa. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bertemu.
Kini, Keandra berdiri di hadapannya dengan penampilan yang lebih dewasa dan penuh percaya diri. Mahesa menarik napas panjang sebelum akhirnya tersenyum.
"Selamat datang di rumah."
Keandra membalas senyum itu dengan sopan. "Terima kasih."
Meski masih ada kecanggungan di antara keduanya, setidaknya tidak ada lagi dinding setinggi sebelumnya.
Sarita menjadi orang pertama yang memecah suasana. Wanita tua itu langsung menghampiri Keandra lalu memeluk cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Nenek bangga sekali padamu."
Keandra tersenyum haru sambil membalas pelukan tersebut. "Terima kasih, Nek."
Sarita mengusap kedua pipinya dengan lembut. "Wajahmu memang sedikit lebih kurus, tapi kau terlihat jauh lebih matang."
Keandra terkekeh pelan. "Mungkin karena aku terlalu banyak latihan."
Wira yang berdiri di samping mereka ikut tersenyum bangga. "Kakek sudah melihat penampilanmu di televisi dan internet."
Keandra menoleh. "Kakek juga melihatnya?" tanyanya tak percaya.
"Tentu saja." Wira menganggukkan kepala mantap. "Semua orang membicarakan cucu Kakek. Kakek benar-benar bangga padamu, Nak."
Keandra tersenyum malu-malu sambil menundukkan kepala, tak terbiasa menerima pujian-pujian itu.
Sorot mata Wira dipenuhi kebanggaan. "Kau sudah membawa nama bangsa ini ke panggung internasional. Tidak semua orang mampu melakukannya."
Keandra semakin menundukkan kepala dengan rendah hati. "Aku hanya menjalankan pekerjaanku dengan sebaik mungkin."
"Justru itu yang membuat kami semakin bangga," sahut Wira sambil menepuk bahu cucunya. "Orang yang benar-benar hebat biasanya tidak pernah merasa dirinya hebat."
Tak jauh dari sana, Kaluna ikut menghampiri kakaknya.
"Selamat ya, Kak."
Keandra tersenyum lalu mengacak pelan rambut adiknya. "Terima kasih."
Kaluna tersenyum lebar. "Teman-temanku bahkan sempat menunjukkan videomu. Mereka tidak tahu kalau penari itu kakakku."
"Benarkah?"
Kaluna mengangguk dengan penuh semangat. "Aku juga ikut bangga, karena berkatmu, secara tidak langsung aku jadi ikut terkenal," katanya sambil terkekeh pelan.
Ucapan sederhana itu membuat Keandra tersenyum semakin lebar.
Sementara itu, Mahesa masih berdiri beberapa langkah dari putranya. Ia memperhatikan bagaimana seluruh anggota keluarga menyambut Keandra dengan penuh kebanggaan. Dadanya terasa sesak.
Namun kali ini bukan karena penyesalan semata. Melainkan karena akhirnya ia dapat melihat sendiri bahwa putra yang dahulu sering ia ragukan kini benar-benar telah tumbuh menjadi seseorang yang membanggakan.
Dengan langkah perlahan, Mahesa kembali mendekati Keandra. Ia menatap putranya dalam-dalam sebelum berkata dengan suara yang tenang. "Ayah juga sudah melihat penampilanmu."
Keandra mengangkat pandangannya.
Mahesa tersenyum tipis. "Kau tampil sangat luar biasa."
Hanya satu kalimat, namun bagi Keandra, kalimat tersebut terasa jauh lebih berharga daripada ribuan tepuk tangan yang pernah ia terima di atas panggung. Untuk pertama kali itu, dalam hidupnya, ia mendengar ayahnya mengakui hasil perjuangan yang telah ia tempuh.
Keandra tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. "Terima kasih."
kehancuran menantimu..