NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum di Tengah Keributan

Suasana makin mencekam. Birowo dan kedua temannya membawa semacam raket baseball, kunci roda, dan rantai sepeda. Randy menelan ludah dan berpikir cepat. Dilihatnya ada sebatang besi bekas para pekerja pelabuhan yang diletakkan di depan warung itu, dan ia segera memungutnya dan bersiap menghadapi Birowo dan teman-temannya.

“Birowo, aku yang kamu cari ada di sini!” Tiba-tiba seorang pemuda berteriak lantang dan muncul dari kerumunan penonton.

“Bangsat, lu Bram!” bentak Birowo lalu mengayunkan raket baseballnya ke arah Bram.

“Mas Birowo, jangan!” teriak Maya ketakutan. Tapi Birowo tak perduli dan sudah gelap mata.

Beberapa penonton yang melihat keributan itu segera menangkap Birowo dan kedua teman-temannya sebelum kejadian makin besar.

“Lepaskan aku, urusan aku dengan si bangsat itu,” teriak Birowo sambil meronta-ronta.

“Jangan bikin onar di tempat ini!” Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh kekar dan tinggi besar menyeruak dari kerumunan itu. Tampaknya dia seseorang yang cukup disegani di kawasan itu. Orang-orang pun mundur ketika dia maju ke depan.

Randy memperhatikan kejadian yang menimpanya itu dari depan warung sambil masih menggenggam kayu.

“Kalau lu masih mau bikin onar di sini habis lu!” bentak si lelaki kekar itu.

“Maaf, cewek saya selingkuh dengan dia, bang,” jawab Birowo yang tampaknya takut juga dengan pria kekar itu.

“Jangan banyak omong lu, gua gampar juga lu,” kata si kekar sebal dengan kelakuan Birowo. “Gua tahu sejak lu ribut sama mas itu!” Lelaki kekar itu menunjuk ke arah Randy.

“Bukan gitu, bang,” kata Birowo coba membela diri.

“Kalau lu nggak minggat dari sini sekarang, gua habisin lu!” kata si kekar sambil melotot ke arah Birowo. “Ajak antek-antek lu ini minggat juha sekarang, sebelum lu dapat masalah yang lebih besar!”

Kemudian Birowo dan kedua temannya meninggalkan tempat itu, tapi sambil memandang tajam ke arah Bram.

“Kalian tenang aja, kalau dia masih petingkah, nggak ada ampun lagi,” kata si kekar kepada Randy, Bram, dan Maya.

“Terima kasih, bang. Mari duduk dulu di warung sambil kenalan,” kata Maya.

“Maaf, mbak, aku masih ada kerjaan,” mendadak pria kekar itu bersikap lembut dan sopan. “Kalau dia masih cari gara-gara, panggil saja aku, namaku Curu.”

Setelah bersalaman dengan Maya, Randy, dan Bram, Curu langsung meninggalkan tempat itu, dan orang-orang yang menonton juga membubarkan diri, kembali ke pekerjaan masing-masing, tinggal Randy, Bram, dan Maya yang masih berdiri di depan warung itu.

“Mari kita masuk,” kata Maya. “Kita menenangkan diri sebentar di warung sambil kenalan.”

Mereka bertiga lalu masuk ke dalam warung. Randy mengambil gelasnya yang masih berisi air kelapa muda yang baru sempat diminum separuh tadi.

“Pak, 1 es kelapa muda lagi buat teman saya yang baru datang ini,” kata Maya kepada Bapak penjual es kelapa muda. “Sekalian gelas-gelas yang pecah nanti akan saya ganti.”

Randy, Maya, dan Bram kemudian duduk semeja, lalu Randy dan Bram berjabat tangan, kenalan.

“Kita lu gua aja, ya, biar akrab,” kata Bram sambil tersenyum ramah. “Gua dan Maya ini mahasiswa jurusan sejarah Universitas Mitra Bangsa lagi bikin penelitian tentang Pelabuhan Sunda Kelapa untuk skripsi.”

“Gua Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester 2 Universitas Satya Buana,” jawab Randy.

“Wah, kampus elit tuh,” kata Bram menanggapi.

“Ah, biasa aja,” jawab Randy.

“Omong-omong, ngapain ke Sunda Kelapa ini?” tanya Bram.

“Cuma hunting foto. Gua hobi fotografi, ini Instagram gua.” Randy kemudian menunjukkan Instagramnya, dan mereka saling follow.

“Cakep-cakep fotonya,” Maya menimpali setelah menyaksikan Instagram Randy.

“Ah, masih belajar kok,” tukas Randy merendah.

“Gua kecilnya di Lebak, nggak jauh dari desa suku Baduy,” cerita Bram. “Kapan-kapan ke sana yok, sekalian gua nostalgia masa kecil dan bertualang ke Desa Suku Baduy.”

“Wah, boleh juga tuh,” kata Randy antusias. “Tapi jangan minggu depan, gua minggu depan ujian semester.”

“Nggak usah buru-buru, kalau liburan aja,” sergah Bram. “Gua juga lagi sibuk-sibuknya ngurus skripsi kok.”

“Ikut,” kata Maya yang tertarik mendengar percakapan akrab Randy dan Bram.

“Janganlah, ntar Birowo cemburu lagi,” ujar Bram.

“Ih, si toxic itu,” jawab Maya sambil mengaduk es kelapa mudanya. “Gua mau putusin abis kelar skripsi.”

“Eh, ambil keputusan jangan sambil emosi, pikirin baik-baik,” potong Bram memberi nasehat.

“Sudah gua pikir dari tahun lalu, gua pikir itu bukan keputusan emosi,” jawab Maya.

Kemudian ponsel Randy berdering, dari Mulan.

“Halo, ada di mana sekarang, Rand?” tanya Mulan di telepon.

“Halo, ini aku masih di Sunda Kelapa, udah pulang?” jawab Randy mesra. “Sebentar lagi mampir rumahmu ya, soalnya rute dari Sunda Kelapa ke rumahku lewat Glodok dan Petak Sembilan.”

“Boleh-boleh, diapelin siapa nolak?” kata Mulan centil, sampai Randy tertawa dibuatnya.

“Ya udah, sampai nanti.” Lalu telepon ditutup.

“Dari cewek lu ya?” ujar Bram kepo, yang dibalas dengan anggukan Randy dengan senyum penuh arti. “Pantesan mesra.”

“Udahan dulu, ya, gua harus pulang cepet-cepet, rumah gua jauh.” Randy berdiri dan segera pamitan. “Bram, keep in touch ya. Omong-omong berapa habisnya, nih kelapa muda?”

“Nggak usah, sekalian gua ganti rugi gelas-gelas yang pecah gara-gara si toxic itu,” kata Maya.

Randy buru-buru pulang setelah ditelpon ceweknya, goda Bram sambil ketawa. “Salam buat cewek lu, ya.”

Randy hanya tertawa mendengar godaan Bram lalu berjalan dan mengambil motornya yang diparkir di sebelah warung es kelapa muda itu, lalu meluncur ke rumah Mulan di Petak Sembilan.

Pria asing yang mengikutinya saat di Glodok malam-malam kemarin tampak mengikuti lagi dari jauh, tanpa sepengetahuan Randy yang memacu motornya dengan santai.

“Permisi,” kata Randy saat tiba di rumah Mulan yang tidak ditutup itu.

“Eh Randy, yo masuk,” sapa Cu Niang ramah. “Mulan, nih ada yang nyari.”

“Mau ketemu semua kok om, bukan cuma Mulan aja,” kelit Randy sambil tertawa.

Mulan keluar dengan t-shirt berwarna pink fresh dengan celana blue jeans sedengkul yang bikin tambah segar nampaknya. “Halo Rand, dapat apa di Sunda Kelapa?”

“Cuma foto-foto, kayanya nggak ada yang spesial di sana,” jawab Randy pelan. “Aku nggak bisa lama-lama ya, udah masuk musim ujian semesteran.”

“Minum dulu liang teh ini, tadi aku beliin waktu habis bantuin papa di toko,” kata Mulan. “Habis panas-panasan di Sunda Kelapa kan seger, minum liang teh dingin.”

Setelah ngobrol dan minum liang teh dingin yang segar, Randy pamitan pulang ke Mulan dan papa mamanya.

“Omong-omong Suwanto ke mana?” tanya Randy.

“Biasa, ngelayap ke rumah temennya sampai malam,” kata Cu Niang. Dan akhirnya Randy menstarter motornya dan pulang, dan pria asing itu tetap menguntit Randy dari jauh.

Sekitar jam 10 malam Suwanto baru pulang.

“Masukin motornya, Wan,” kata Papa Suwanto.

“Nggak pa, nanti jam dua pagi Wanto mau keluar sama teman, ada kerjaan sebentar,” jawab Suwanto.

“Lagi dapat kang tao apa lu?” tanya Cu Niang alias Papa Suwanto.

“Nggak pa, cuma bantu-bantu teman lagi dapat proyek kecil-kecilan.”

Suwanto sedikit berbohong, karena dia akan menyebar beras kuning sebelum jam 4 pagi dari Ki Sembur Getih waktu itu untuk nyantet Randy.

1
Anonymous
semangat kak
Anonymous
semsngst kak
sitanggang
gak ada gregetnya ,masih polos monoton gitu2 saja
jc: ada masukan, biar greget?
total 1 replies
sitanggang
mcnya kok lemah yaa, parah siih ini🤦
jc: lemahnya dimananya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!