NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Angin sore di kawasan Rawamangun berhembus cukup kencang, membawa aroma tanah kering dan keringat dari puluhan siswa yang sedang mengambil nilai olahraga. Di tengah lintasan atletik Velodrome yang legendaris itu, suasana riuh rendah dengan bunyi peluit guru penjas dan teriakan semangat para siswa.

Sandi, dengan napas yang memburu setelah menyelesaikan lari estafet, baru saja menyerahkan tongkat kayu kusam itu ke tangan rekannya. Ia membungkuk, memegangi lututnya yang gemetar, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Namun, gerakannya terhenti. Pandangannya terpaku pada sebuah keributan kecil di pinggir trek lari.

Di sana, tiga orang siswi SMP dengan seragam olahraga putih-biru tampak terpojok. Mereka dikelilingi oleh tiga remaja laki-laki berseragam SMA dengan celana abu-abu yang sengaja dikecilkan—khas anak tongkrongan tahun 2002. Salah satu siswi yang berada di tengah tampak pucat, bahunya gemetar, dan matanya berkaca-kaca menatap ujung sepatunya sendiri.

Deg.

Sandi merasa jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena lari, tapi karena wajah gadis itu. "Kayak kenal..." gumamnya. Memori masa SD di Bhayangkara berkelebat, namun nama gadis itu masih tersangkut di ujung lidah. Tanpa pikir panjang, insting protektif yang diajarkan kakeknya bangkit. Sandi melangkah tegak menghampiri gerombolan itu.

"Maaf abang-abang sekalian, ada urusan apa ganggu mereka?" suara Sandi terdengar tenang namun tegas.

Salah satu siswa SMA berambut jabrik menoleh dengan tatapan meremehkan. "Lah, lo sapa njing! Jangan sok jagoan di sini!"

Sandi tidak berkedip. "Lah yang sok jagoan itu situ, blok! Ditanya baik-baik malah nyolot. Beraninya sama anak cewek."

Mendengar kata 'goblok' yang disamarkan namun jelas tertuju padanya, siswa SMA itu meradang. Ia mencengkeram kerah kaos olahraga SMP Pejuang Bangsa milik Sandi hingga terangkat. "Ngajak ribut lo?!"

"Lah, ayo! Jangan berani karena lo bertiga. One by one sini kalau berani," tantang Sandi.

Dua rekan siswa SMA itu malah tertawa, mengejek teman mereka sendiri yang ditantang anak SMP. Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum, siswa itu melayangkan tinju mentah ke arah wajah Sandi.

Sandi sudah siap. Bekal silat dari sang kakek mengalir di darahnya. Dengan gerakan luwes, ia menggeser posisi kaki, menghalau pukulan itu dengan lengan kiri, dan langsung membalas dengan rangkaian serangan kilat.

Bugh! Bugh! Bugh!

Satu sodokan telapak tangan ke dada, disusul dua pukulan telak ke ulu hati dan perut. Siswa SMA itu terhuyung, napasnya seolah terputus, lalu tumbang berlutut sambil memegangi perutnya yang mulas luar biasa.

"Sape lagi? Sini maju, gue ladenin," tantang Sandi dingin ke arah dua sisanya.

Satu lagi mencoba maju karena merasa terhina, namun nasibnya tak jauh beda. Sebuah tangkisan dan satu pukulan hulu hati yang presisi membuatnya terkapar di aspal kasar pinggir trek. Siswa ketiga, yang melihat dua temannya tumbang hanya dalam hitungan detik, langsung mengangkat tangan.

"Gue... gue nggak ikutan! Gue cabut, gue cabut!" teriaknya sambil lari terbirit-birit meninggalkan teman-temannya yang masih mengerang kesakitan.

Sandi mengatur napasnya kembali, lalu menoleh ke arah tiga gadis itu. "Udah, udah aman. Lebih baik lo bertiga pergi dah, daripada ada lagi yang gangguin lo pada."

Dua teman gadis itu mengangguk cepat dan saat mulai beranjak, gadis yang di tengah tetap diam. Ia menatap Sandi lekat-lekat, matanya yang tadi ketakutan kini berubah penuh selidik.

"Kamu... kamu Sansan bukan? Dari SD Bhayangkara Jakarta?" tanyanya ragu.

Sandi tersentak. Nama panggilan masa kecilnya disebut. "Iya, kenapa?"

"Kamu nggak inget sama aku?"

Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bentar... gue dari tadi emang merasa familiar, tapi sori gue nggak inget nama lo."

Gadis itu mendadak cemberut, bibirnya mengerucut lucu. "Iiihh, Aku Saskia. Saskia Fiana Putri. Masa kamu lupa?!"

Seketika, sebuah memori konyol muncul di kepala Sandi. "Oh! Yang duduk di depan meja guru dan selalu kejedot pintu kelas?"

Wajah Saskia langsung merah padam. Ia memukul lengan Sandi dengan gerakan manja yang tidak bertenaga. "Iiihhh Sandiiiii!! Giliran yang itu kamu inget!"

Tawa Sandi pecah. "Sori, sori Sas! Soalnya cuma itu memori paling epik yang gue inget."

"Au'ah, males sama kamu, San!" Saskia melipat tangan di dada, namun kemudian ia tertunduk. Suaranya mengecil, penuh rasa tulus. "San... makasih ya udah nolongin."

"Woles, Sas. Gue juga nggak sengaja liat lo lagi ketakutan. Makanya gue nyamperin. Taunya si bangsat ini..." Sandi mendaratkan satu tendangan ringan ke perut siswa SMA yang masih tergeletak di bawah. Bugh! "...nggak bisa diajak kooperatif. Mentang-mentang anak SMA dikira gue takut."

Saskia tertawa kecil melihat tingkah tengil Sandi yang tidak berubah. "Oh iya San, kamu sekolah di mana sekarang?"

Sandi melirik arloji digital murah di tangannya. "Lebih baik kita pindah dulu yuk, sembari jalan aja ngobrolnya. Nggak enak dilihatin orang di sini."

Dua rekan Saskia, berkata, " Sas, aku duluan ya! Kayaknya kamu mau reunian sedikit sama ...

"Sandi," singkat Sandi.

"Aku Ananda dan ini Nabila, salam kenal san. Kalo begitu aku duluan ya, Sas." ucap Ananda.

Ananda dan Nabila, berpamitan dengan senyum penuh arti, membiarkan dua teman lama itu melakukan "reuni" kecil.

Sambil berjalan meninggalkan area lintasan, Sandi menjawab, "Gue masuk SMP Pejuang Bangsa, Sas. Lo sendiri?"

"Aku masih di tempat yang sama, SMP Bhayangkara. Papa nggak izinin ke sekolah lain, biar deket dari rumah katanya."

Sandi terkekeh getir. "Emang beda ya kalau orang kaya. Palingan SMA-nya lo juga di sana lagi nih."

Saskia tersipu. "Kamu tau aja, San. Soalnya kakekku kan purnawirawan polisi, cuma Papaku aja yang beda jalur jadi pebisnis."

Sandi terdiam sejenak, menatap lurus ke depan. "Enak ya jadi lo. Hidup lo kayak nggak ada kurangnya. Sedangkan gue... harus usaha sendiri. Lo tau kan pas kelas 6, bokap gue meninggal. Sekarang cuma gue sama Nyokap. Nyokap kerja apa aja, jadi tukang cuci, bantuin orang hajatan... apa aja demi sekolah gue. Makanya gue nggak bisa lanjut di Bhayangkara, biayanya udah di luar jangkauan keluarga gue."

Suasana mendadak hening. Saskia merasa bersalah. "San... maaf ya. Karena aku tanya, kamu jadi harus cerita itu."

Sandi berhenti melangkah, menatap Saskia, lalu... Tuk! Sebuah jitakan lembut mendarat di dahi gadis itu. "Lo nggak berubah ya, selalu minta maaf. Gue yang mau cerita, bukan lo yang maksa."

"Iya San, maaf ya..."

Tuk! Sekali lagi jitakan lembut mendarat. "Baru dibilangin! Jangan kebiasaan minta maaf. Udah ah, kalau minta maaf lagi, gue cabut pulang nih."

Saskia terkekeh sambil memegangi dahinya. "Iya, iya... makasih ya San. Kamu itu dari dulu emang tengil, tapi perhatian sama hal kecil."

"Udah ah jangan dibahas. Sekarang lo mau ke mana?"

Saskia terkejut dan mendadak panik. "Aduh! Tadi aku mau foto-foto pake kamera digital sama Ananda dan Nabila, tapi gara-gara anak SMA tadi, mereka malah udah pulang duluan. Terus... terus... terus aku pulang naik apa? Rumahku di mana ya? Duh, aku lupa arahnya!"

Sandi menghela napas panjang, menatap Saskia yang mulai mondar-mandir panik. "Tuk!" Kali ini jitakan Sandi sedikit lebih bertenaga. "Auw! Sakit San!"

"Lo itu bener-bener ya... ceroboh, pelupa, panikan. Ampe rumah sendiri aja lupa kalau udah panik."

Saskia nyaris menangis. "San, gimana dong? Aku nggak tau jalan pulang!"

"Lah emang lo kemari pake apa tadi?" tanya Sandi.

"Tadi aku mau di antar-jemput sama mama, tapi karena tadi aku barengan sama Ananda dan Nabila, aku bilang ke mama ga usah antar-jemput." lirih Saskia yang sudah mulai berkaca-kaca.

Sandi menghela nafas dan berkata, "Yaudah gue yang anterin. Lo tau alamat rumah lo kan?"

"Bentar San," Saskia membuka dompet mungilnya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak kumal. "Ini... alamat rumahku."

Sandi tertawa geli sampai bahunya terguncang. "Gila lo, ampe nyatet alamat rumah sendiri!"

"Aku kan suka lupa, San..." Saskia nyengir malu.

Sandi menggelengkan kepala, tersenyum tipis. "Yaudah, gue anterin. Untung gue bawa motor kemari."

"Beneran San! Ga ngerepotin kamu nih?" nada Saskia yang sedikit tenang.

"Ho'oh! Lagian kalo gue ga anterin lo, lo pasti ngintilin gue, kan?" ucap Sandi yang mulai inget kelakuan teman SDnya itu.

Saskia mengangguk malu dan memainkan ujung pakaiannya.

"Yaudah ayo, ngapain bengong!" ujar Sandi yang hendak beranjak.

Saskia tersenyum manis dan mengangguk.

Mereka berdua berjalan menuju parkiran motor. Di bawah langit sore Jakarta Timur yang mulai menguning, Saskia berjalan tepat di belakang Sandi, tangannya menggenggam erat ujung kaos olahraga Sandi, persis seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya di tengah keramaian.

Area parkiran Velodrome sore itu riuh dengan suara knalpot dan obrolan remaja. Debu tipis beterbangan saat ban-ban motor menggilas aspal panas.

"Lo tunggu sini, gue ambil motor dulu," ujar Sandi sambil menunjuk sebuah tiang listrik yang agak teduh.

Saskia mengangguk patuh, tangannya masih memegang tali tas olahraga. Namun, baru empat langkah Sandi menjauh, ia merasakan tarikan lembut di ujung kaosnya. Sandi berhenti dan menoleh, mendapati Saskia yang ternyata masih mengekor di belakangnya dengan langkah ragu.

Sandi menghela napas panjang, menatap gadis di depannya dengan heran. "Kan gue nyuruh lo diam di tempat, Sas. Ngapain ngintilin lagi?"

Saskia tertunduk, ujung sepatunya memainkan kerikil di aspal. "Aku... aku takut, San. Banyak banget orang lalu lalang."

"Lah, namanya tempat umum, pasti rame lah, oneng! Kalau mau sepi, noh di kuburan," seloroh Sandi asal.

Tanpa merasa tersinggung, Saskia menjawab polos, "Nggak juga kok. Di kamarku juga sepi."

Sandi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepolosan teman SD-nya itu yang sepertinya tidak mempan dengan sindiran. "Yaudah, ayo."

Mereka tiba di barisan motor. Sandi menarik sebuah motor sport yang menjadi primadona di era 2002: Kawasaki Ninja 150R warna hijau. Motor 2-tak itu tampak mengkilap, tanda dirawat dengan sangat baik. Begitu Sandi menginjak kick starter, suara knalpotnya yang garing dan cempreng langsung memecah suasana parkiran. Teng-teng-teng-teng!

"San! Motor kamu berisik banget!" teriak Saskia, mencoba mengalahkan suara mesin.

Sandi terkekeh sambil memakai helm full face-nya. "Ya motor peninggalan bokap! Daripada nggak dipake, mending gue yang rawat. Maaf ya kalau berisik!"

Saskia mengangguk sambil berusaha naik ke jok belakang yang posisinya agak nungging. "Iya gapapa! Cuma susah aja kalau mau ngobrol di motor!"

"Ya ini kan motor 2-tak, suaranya emang lebih cempreng daripada lo, kan?" goda Sandi.

Cubit!

"Aduh, Sas! Sakit sumpah!" Sandi meringis, merasakan cubitan maut Saskia di pinggangnya.

Saskia menjulurkan lidahnya dengan jenaka. "EGP (Emang Gue Pikirin)!"

Sandi hanya bisa geleng-geleng kepala karena kata EGP 'Emang Gue Pikirin' itu memang lagi hype pada era 2002. Sandi menghirup nafas sambil memasukkan gigi satu. "Yaudah, pegangan yang kenceng."

Saskia mengangguk patuh. Namun, di luar dugaan Sandi, gadis itu langsung melingkarkan kedua tangannya dengan erat ke perut Sandi.

Deg.

Sandi yang terkejut secara refleks melepas tuas kopling terlalu cepat. Akibatnya, motor itu tersentak dan langsung mati. Jrebbb. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara napas Sandi yang tiba-tiba terasa berat. Ia menoleh ke belakang dengan wajah bingung.

"Sas? Tangan lo?"

Saskia mengerjapkan mata, tampak tidak berdosa. "Kenapa, San? Tanganku?"

"Iya, tangan lo... melingkar di perut gue."

"Kenapa? Kekencangan ya?" Saskia sedikit melonggarkan pelukannya, tapi tangannya tetap tertaut di depan perut Sandi.

Sandi berdehem, mencoba menetralkan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. "Bukan kekencangan, tapi posisi lo itu seakan... meluk gue."

Seketika, rona merah menjalar di pipi Saskia. Ia segera menarik tangannya dengan gugup. "Tadi... tadi kan kamu nyuruh aku pegangan erat-erat!"

Sandi menggaruk pipinya yang tidak gatal, membuang muka ke arah jalan raya. "Iya sih, nggak salah... tapi kesannya gimana ya. Agak canggung guenya."

"Canggung gimana, San? Aku kan cuma ikutin yang kamu suruh," gumam Saskia, suaranya melemah karena malu.

Sandi menghela napas panjang, mencoba bersikap biasa saja agar suasana tidak semakin aneh. "Yaudah, terserah lo aja deh, selama lo nggak apa-apa."

Saskia terdiam sejenak, lalu dengan perlahan dan ragu, ia kembali melingkarkan tangannya di perut Sandi. Kali ini lebih lembut, tapi pasti. Sandi merasakan kehangatan yang asing menjalar di punggungnya. Sebagai remaja laki-laki yang belum pernah berurusan dengan perasaan seperti ini, ini adalah pertama kalinya ia merasakan pelukan seorang wanita selain ibunya.

Dengan jantung yang masih berdebu, Sandi menyalakan kembali mesin Ninjanya. Asap putih tipis keluar dari knalpot saat mereka perlahan meninggalkan area Velodrome Rawamangun, membelah kemacetan sore Jakarta menuju alamat di kertas kumal itu.

Sore itu, kebisingan Jakarta Timur seolah meredup, menyisakan frekuensi rendah dari mesin Ninja 2-tak yang menderu stabil. Di atas jok motor yang nungging itu, Sandi merasakan beban di punggungnya terasa berbeda. Bukan lagi sekadar sandaran ringan, melainkan tekanan lembut yang konstan. Saskia benar-benar membenamkan wajahnya di sana, menghirup aroma sabun bercampur keringat sisa olahraga dari kaos Sandi yang tipis.

Untuk seorang remaja laki-laki yang baru menginjak usia 15 tahun, sensasi ini adalah wilayah asing. Ada desir aneh yang menjalar dari tulang punggungnya langsung menuju jantung. Sandi merasa seolah ada ribuan jarum halus yang menusuk kulitnya, memberikan rasa hangat yang membuat bulu kuduknya meremang. Refleks, jemari Sandi melonggarkan genggaman pada selongsong gas. Ia tidak ingin melaju cepat; ia butuh ruang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh tak beraturan.

Sandi meminggirkan motor hijaunya ke bahu jalan yang agak teduh di bawah pohon angsana. Ia menoleh sedikit ke belakang, mencoba mengintip gadis yang sejak tadi diam membisu.

"Sas? Lo gapapa?" tanya Sandi, suaranya agak serak.

Tidak ada jawaban. Saskia tetap bergeming, wajahnya masih tertanam sempurna di punggung Sandi. Karena penasaran, Sandi memutar badannya lebih lebar. Ia mendapati kelopak mata Saskia terpejam rapat dengan napas yang teratur. Bulu matanya yang lentik tampak tenang, dan bibirnya sedikit terbuka.

Sandi tersentak, lalu sedetik kemudian tawanya pecah tertahan. "Bisa-bisanya nih anak molor," bisiknya geli. Ia tak habis pikir, di tengah suara knalpot yang memekakkan telinga dan guncangan motor sport, Saskia bisa-bisanya terlelap seolah sedang di atas kasur empuk.

Tuk!

Sandi menjitak dahi Saskia dengan tenaga yang pas—cukup untuk mengejutkan tapi tidak untuk menyakiti. Saskia mengerjap-erjapkan matanya, tampak linglung dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.

"Sudah sampai kah, San?" tanya Saskia dengan suara parau khas orang bangun tidur, sembari mengusap matanya yang masih lengket.

Sandi tertawa lepas, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Nyampe pala lo! Gue lupa alamat rumah lo, mana tadi kertasnya? Gue tadi agak blank di lampu merah."

Saskia terkekeh malu, menyadari keteledorannya yang tertidur di pundak orang. Ia merogoh kantong jaket olahraganya yang berwarna biru muda, lalu menyerahkan kembali carikan kertas alamat yang sudah agak lecek itu kepada Sandi.

Sandi membacanya dengan saksama, matanya menyipit fokus. "Oke, oke... berarti gue ambil jalur barat ya, lewat Mampang kayanya biar cepet. Nih, simpen lagi alamatnya, jangan sampe ilang."

Saskia mengambil kembali kertas itu dan menyimpannya hati-hati. Saat Sandi menghentakkan kick starter dan mesin kembali menderu garing, Sandi sempat ragu sejenak. Ia menarik napas panjang sebelum memanggil.

"Sas?"

"Iya, San?" Saskia refleks memajukan kepalanya, menempelkan pipinya tepat di bahu Sandi agar suaranya terdengar jelas.

Seketika tubuh Sandi menegang. Ia bisa merasakan kehangatan napas Saskia yang mengenai lehernya. Tubuh gadis itu menempel sempurna tanpa sekat di punggung atletis Sandi yang terbentuk karena latihan silat bertahun-tahun. Sandi gemetar hebat, sebuah sensasi listrik statis seolah menyengat sarafnya.

Saskia yang merasakan perubahan gestur Sandi menjadi bingung. "Kenapa, San? Kok diem?"

Sandi tersentak, buru-buru membuang muka ke depan dan membetulkan posisi duduknya yang mendadak kaku. "Ngg... nggak! Gapapa. Cuma... kalau lo mau tidur lagi, bilang gue ya. Biar gue bawa motornya lebih stabil, nggak zig-zag. Bahaya kalau lo oleng pas gue lagi nikung."

Saskia tersenyum lebar, sebuah senyuman manis yang sayangnya tidak bisa dilihat Sandi. Ia mengangguk mantap, lalu kembali melingkarkan kedua tangannya di perut Sandi, bahkan kali ini jemarinya saling bertautan erat. Ia kembali menyandarkan wajahnya di punggung lebar itu, merasa sangat aman di bawah perlindungan laki-laki yang baru saja ia temukan kembali.

Ninja hijau itu pun kembali membelah aspal Jakarta Timur ke arah Barat meninggalkan sisa asap putih tipis dan aroma oli samping yang khas, membawa dua remaja itu menuju sebuah simfoni yang mulai kehilangan keteraturannya.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!